Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.
Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20 ketakutan Vania
Vania buru buru masuk ke dalam rumah, membuat Gio merasa heran melihatnya. Pria itu berjalan cepat menyusul sang istri yang ternyata sedang minum di dapur. Gelagat Vania terlihat aneh, dan Gio bisa memastikan ada yang tidak beres.
"Ada apa?" tanyanya sembari memeluk mesra pinggang ramping sang istri.xa
"Aku hanya sedikit pusing, mungkin kelelahan."
"Ya sudah, kalau begitu aku akan mengantarmu ke kamar." Gio menuntun Vania menuju ke kamar mereka.
"Ada yang ingin ku tanyakan padamu," Gio menggenggam jemari Vania. "Aku merasa kau begitu gelisah. Apa ada yang membuatmu takut? Dengar, Vania. Sekarang kau istri dari seorang pengusaha terkenal dan terkaya, Gio Abraham. Kau tidak perlu takut untuk mengatakan semuanya padaku."
Vania memeluk tubuh Gio dengan sangat erat. Air matanya mengalir begitu saja, dia begitu ketakutan. "Tadi, sewaktu aku keluar dari toilet, aku merasa seperti ada yang mengawasiku dari kejauhan, Gio. Aku takut sekali, tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu." isaknya. Gio pun mengelus kepala Vania dengan penuh cinta.
Gio memeluk Vania dengan lebih erat, mencoba menenangkan wanitanya itu. "Tidak apa-apa, Vania. Aku ada di sini. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu," katanya dengan suara lembut.
Vania mengangguk, masih menempelkan wajahnya di dada Gio. "Aku tahu. Aku hanya merasa sangat trauma."
Gio mengelus punggung Vania. "Aku akan memanggil bodyguard untuk menjagamu 24 jam. Aku tidak ingin kau sendirian lagi, oke?"
Vania mengangguk, masih menangis. Gio memegang wajahnya dan mengangkatnya, lalu mengusap air mata itu dengan lembut. "Aku ada di sini, Vania. Aku tidak akan pergi kemana-mana."
Vania tersenyum haru, lalu memeluk Gio lagi. "Aku mencintaimu."
Gio membalas pelukan itu dengan lebih erat. "Aku juga mencintaimu."
.......
Malam hari tiba. Axel berada di rumah kakek neneknya, mereka sengaja memberikan waktu pada Gio dan Vania agar mereka menikmati bulan madu hanya berdua.
Tepat pukul dua belas malam, Vania merasa perutnya keroncongan karena Gio yang terus-terusan meminta jatah. Dia terbangun dan pergi ke dapur, mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Pertama, wanita itu membuka kulkas dan mengambil sepotong roti yang dia beli tadi siang di supermarket. Lalu, kemudian dirinya membuat teh hangat untuk teman roti tersebut. Vania duduk di depan TV, menyalakan benda kotak persegi empat itu. Saat sedang santai menikmati teh hangatnya, tiba-tiba lampu padam. Vania pun gelagapan.
"Gio! Gio!" Teriaknya sekencang mungkin.
"Kenapa tiba-tiba lampunya padam?" Vania berjalan sambil meraba, mencari penerangan agar bisa kembali ke kamar.
Brugh!
"Aw," pekiknya memegangi pundak, seperti ada yang memukulnya menggunakan balok. Vania merasa punggungnya sangat sakit.
"Siapa disana?" teriaknya, meraba kegelapan.
Suara tawa menggelegar di rumah mewah itu.
"Kau harus ma*ti!" ucap suara menyeramkan tersebut.
"Siapa itu? Hei! Jangan main-main, ya. Aku tidak takut denganmu," Vania berusaha berdiri, tetapi seseorang yang ada di hadapannya itu dengan cepat kembali memukul Vania hingga pingsan.
Seiring kepergian sosok misterius tersebut, lampu pun kembali menyala.
Gio yang seperti mendengar suara Vania langsung terbangun, dia pikir itu hanyalah mimpi. "Vania, dimana dia?" dirinya khawatir dan berjalan cepat keluar dari kamar.
Saat sampai di lantai bawah, Gio melihat Vania yang tergeletak di lantai.
"Sayang!" Teriaknya berlari mendekati Vania. Dia membopong wanita itu dan membawanya ke kamar. Gio membaringkan Vania di atas tempat tidur. Dia memeriksa kondisi sang istri, memastikan bahwa dia masih bernapas. Gio kemudian mengambil handuk hangat dan membersihkan dahi Vania yang mengeluarkan darah.
"Vania, sayang, bangunlah," Gio memanggil-manggil istrinya, tapi Vania tidak bergerak.
Gio merasa panik, dia tidak tahu apa yang terjadi pada Vania. Dia memeriksa sekeliling dapur, mencari tanda-tanda apa pun yang bisa menjelaskan kejadian ini.
Tiba-tiba, Gio melihat sesuatu di lantai. Sebuah potongan kain hitam dengan simbol aneh di atasnya. Gio mengambil kain itu dan memeriksanya, dia merasa ada yang tidak beres.
"Apa ini?" Gio bertanya pada dirinya sendiri, memahami apa yang terjadi.
Pria itu kemudian memutuskan untuk memanggil dokter dan beberapa orang suruhannya untuk mencari informasi tentang kejadian yang menimpa istrinya, dia tidak ingin mengambil risiko lagi. Dia akan melakukan apa pun untuk melindungi Vania.
Vania masih terbaring di tempat tidur, tidak bergerak. Gio mengelus kepala wanita itu, berharap bahwa dia akan segera bangun.
......
BERSAMBUNG