Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matahari dalam Genggaman
Bus pagi yang membawa Aira melaju menembus kabut, membelah jalanan berkelok menuju kota. Di genggamannya, kalung perak dari Mbah Isah terasa dingin namun memberikan beban moral yang hangat. Aira tidak lagi melihat bayangan Ibu Kara sebagai hantu yang menakutkan, melainkan sebagai bagian dari badai yang harus ia lalui untuk mencapai dermaganya.
Setibanya di rumah sakit, koridor Kamar 304 tampak sepi. Hanya ada Kakek Kara yang sedang duduk di kursi tunggu sambil membaca koran kecil. Begitu melihat Aira, sang Kakek menurunkan kacamata dan tersenyum tulus.
"Dia baru saja selesai latihan," bisik Kakek. "Masuklah, Nduk. Dia sudah menunggumu tanpa perlu bertanya."
Aira membuka pintu dengan perlahan. Aroma antiseptik bercampur wangi jeruk dari pengharum ruangan menyambutnya. Di sana, Kara sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal. Tangannya meraba-raba sebuah kertas tebal di atas meja dorong, sementara dahinya berkerut penuh konsentrasi.
"Jari telunjuk ke titik satu... itu A," gumam Kara pelan pada dirinya sendiri.
Aira berdiri mematung di ambang pintu. Melihat Kara yang begitu gigih meskipun seluruh dunianya telah padam, membuat dadanya berdenyut nyeri—bukan karena kasihan, tapi karena rasa bangga yang luar biasa.
"Eyang? Itu Eyang?" Kara bertanya tanpa menoleh. Pendengarannya kini menjadi jauh lebih tajam.
"Ini aku, Kara," suara Aira keluar dengan lembut.
Gerakan tangan Kara terhenti seketika. Sebuah senyuman perlahan terbit di wajahnya yang tirus, senyum yang paling murni yang pernah Aira lihat. "Samudera? Kamu datang lebih cepat dari yang aku duga."
Aira mendekat, duduk di kursi samping ranjang. Ia meraih tangan Kara yang masih berada di atas kertas Braille itu. Tangan yang dulu kokoh memegang pena, kini terasa lebih kasar namun hangat.
"Aku membawakan sesuatu untukmu," ujar Aira. Ia meletakkan kalung matahari kecil milik Mbah Isah di telapak tangan Kara.
Kara meraba tekstur logam itu dengan jemarinya yang kini sensitif. "Matahari? Tapi... ini terasa sangat tua."
"Itu dari Mbah Isah, nenek di panti tempatku bekerja. Dia bilang, cahaya itu tidak pernah hilang, dia hanya berpindah ke hati orang-orang yang tulus." Aira menceritakan tentang masa lalu Mbah Isah yang membuang anaknya karena takut akan kutukan mata 'Ain'. "Mbah Isah kehilangan cahayanya karena dia lari, Kara. Aku tidak mau seperti dia. Aku tidak mau membuang 'matahariku' hanya karena aku takut pada gelap."
Kara menggenggam kalung itu erat-erat. Ia menarik napas panjang, seolah sedang menghirup keberanian dari logam tua tersebut.
"Aira," panggil Kara lirih. "Tadi malam dokter bilang, degenerasi sarafku mungkin akan memengaruhi kakiku juga. Mungkin suatu saat nanti, aku tidak hanya buta, tapi juga sulit berjalan."
Aira tidak tersentak. Ia menggenggam tangan Kara lebih erat. "Kalau begitu, aku akan jadi matamu sekaligus kakimu. Kita akan berjalan pelan-pelan. Kalau kamu lelah, kita berhenti. Kalau kamu gelap, aku akan bercerita tentang warna langit setiap sore."
Kara tertawa kecil, setetes air mata jatuh dari matanya yang terpejam. "Padahal aku ingin melindungimu, tapi sekarang malah aku yang jadi bebanmu."
"Kamu bukan beban, Kara. Kamu adalah porosku. Matahari itu tetap ada di tengah, meskipun planet-planet di sekitarnya tertutup malam. Tanpa porosnya, samudera tidak akan punya pasang surut yang teratur."
Di momen itu, di dalam kamar yang sunyi, mereka menyadari bahwa takdir tidak sedang menghukum mereka. Takdir hanya sedang memangkas segala hal yang tidak penting—popularitas, kesempurnaan fisik, dan logika sombong—untuk menyisakan satu hal yang paling murni: Kehadiran.
"Terima kasih sudah kembali, Samudera," bisik Kara.
"Terima kasih sudah bertahan, Matahari," balas Aira.
***
Kabar tentang kembalinya Aira ke sisi Kara tersebar cepat di grup WhatsApp OSIS, berkat laporan rutin dari Genta. Sekolah yang tadinya terasa dingin dan penuh bisik-bisik miring tentang "gadis pembawa sial", perlahan mulai berubah suasananya. Kebenaran tentang penyakit saraf Kara yang bersifat medis—bukan mistis—mulai dipahami oleh teman-temannya.
Satu per satu, dukungan mulai mengalir. Namun, karena Kara masih butuh ketenangan ekstra di ruang isolasi, teman-temannya tidak bisa datang berbondong-bondong. Di sinilah Aira mengambil peran barunya: Jembatan.
Sore itu, Aira duduk di bangku taman rumah sakit. Di depannya, Genta datang membawa sebuah kotak besar berisi ratusan surat dan lipatan kertas origami berbentuk burung bangau.
"Ini dari anak-anak kelas satu sampai kelas tiga, Ra," ujar Genta sambil menyeka keringat. "Mereka nggak tahu harus kirim apa, jadi mereka tulis pesan penyemangat. Ada juga rekaman suara dari klub radio sekolah."
Aira menyentuh tumpukan surat itu. "Makasih ya, Gen. Kara pasti seneng banget dengernya."
"Ada satu lagi," Genta merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah speaker bluetooth kecil. "Anak-anak band sekolah bikin aransemen lagu instrumental favorit Kara. Mereka bilang, kalau Kara nggak bisa baca pesan teks, dia harus denger pesan lewat nada."
Aira membawa kotak itu masuk ke kamar Kara. Suasana kamar yang tadinya hanya diisi bunyi detak jam, kini mulai terasa "hidup".
"Kara, teman-teman kirim salam," bisik Aira sambil duduk di samping tempat tidur.
"Banyak?" tanya Kara singkat. Ia sedang mencoba menggerakkan sendi-sendi lengannya yang terasa kaku.
"Banyak sekali. Genta bilang, loker OSIS-mu sampai penuh dengan cokelat dan surat," Aira terkekeh pelan. "Aku akan bacakan satu-satu untukmu, ya?"
Aira mulai membuka surat pertama. Surat dari adik kelas yang pernah dibantu Kara saat masa orientasi. Aira membacanya dengan intonasi yang lembut, mendeskripsikan setiap warna kertas dan aroma parfum yang menempel di surat-surat itu.
Kara mendengarkan dengan saksama. Senyumnya mengembang tipis. "Aku tidak menyangka... mereka masih peduli padaku meskipun aku sudah bukan Ketua OSIS yang bisa mereka andalkan lagi."
"Mereka peduli padamu karena kamu adalah kamu, Kara. Bukan karena jabatanmu," sahut Aira.
Puncak dari sore itu adalah saat Aira memutar rekaman suara dari klub radio. Suara riuh teman-teman sekelasnya yang berteriak "Semangat, Pak Pres!" dan "Cepat balik, Matahari!" memenuhi ruangan.
Mata Kara yang tertutup tampak bergetar. Ia bisa merasakan energi dari sekolahnya—dunia yang tadinya ia pikir sudah meninggalkannya.
"Ra," panggil Kara lirih di tengah suara rekaman itu. "Tolong sampaikan pada Genta. Bilang ke mereka... Matahari tidak padam. Dia hanya sedang belajar bersinar dalam frekuensi yang berbeda. Dan bilang... terima kasih sudah menjadi mataku lewat suara mereka."
Aira mengetik pesan itu di grup OSIS dengan tangan yang gemetar karena haru. Dalam hitungan detik, ratusan simbol hati dan doa memenuhi layar ponselnya.
Jembatan itu telah terbangun. Aira bukan lagi penghalang antara Kara dan dunianya; ia justru menjadi satu-satunya penghubung yang membuat Kara tetap merasa menjadi bagian dari kehidupan luar. Di balik kebutaan dan saraf yang melemah, Kara menyadari bahwa ia tidak kehilangan dunianya. Dunia itu hanya berubah bentuk, dari visual menjadi rasa.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰