Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Plot Twist: Kematian Karakter Favorit
Ke esokan harinya, Kantor Aksara Muda setelah balik dari Bandung harusnya suasananya sibuk buat klarifikasi skandal plagiarisme, tapi buat gue, ada misi lain yang jauh lebih penting, getes sampai mana batas kesabaran seorang Genta. Gue berasa kayak sutradara film horor yang lagi nyiapin adegan paling sadis buat tokoh antagonisnya.
"Oke, Pak Editor. Kalau Bapak pikir taksi premium dan matiin AC bisa bikin saya lupa sama revisi-revisi kejam Bapak, Bapak salah besar," gumam gue sambil natap layar laptop.
Gue buka draf terbaru novel gue di NovelToon. Jemari gue menari dengan indah dan mematikan. Gue nggak lagi bikin Kastara bangkrut atau masuk selokan. Kali ini, gue mau ngelakuin sesuatu yang final. Sesuatu yang bakal bikin pembaca nangis sesenggukan, atau minimal bikin Genta tersedak kopi buat kedua kalinya.
“Kastara melangkah ke tengah jalan dengan tatapan kosong. Dunianya yang kaku sekarang runtuh. Kacamata yang selalu nangkring di hidungnya jatuh ke jalan, pecah jadi serpihan kecil, persis kayak hatinya yang nggak pernah sempet terucap. Sebuah truk besar melaju tanpa sempet ngerem. Braakk! Segalanya jadi gelap. Nggak ada lagi efisiensi, nggak ada lagi spasi, yang sisa cuma hening yang abadi. Kastara sudah pergi, bawa rahasianya ke dalam tanah.”
Gue tekan tombol PUBLISH dengan senyum kemenangan yang agak jahat.
Senja_Sastra: “Bye-bye karakter sombong. Saatnya lo hilang dari cerita gue. Kadang, kematian itu satu-satunya cara buat ngakhirin kepura-puraan yang nggak ada ujungnya.”
Cuma butuh tiga menit. Gue ngitung dalam hati. Satu... dua... Terdengar suara kursi didorong kasar di seberang ruangan. Gue tetep fokus ke layar, pura-pura sibuk edit naskah antologi. Tapi dari sudut mata, gue lihat sepatu kulit yang disemir mengkilap itu jalan cepet ke meja gue. Langkahnya nggak beraturan kayak biasanya. Ada kegelisahan yang bocor di setiap derapnya.
Genta berdiri di depan meja gue. Bayangannya nutupin laptop gue. Pria itu nggak ngomong apa-apa selama beberapa detik, tapi napasnya kedengaran memburu.
"Kenapa?" tanya Genta. Suaranya nggak tinggi, tapi bergetar. Gue bisa ngerasain ketegangan yang merambat dari meja kayu ini.
Gue mendongak, pasang wajah paling polos sejagat raya. "Kenapa apanya, Pak? Naskahnya ada yang kurang? Atau Bapak mau minta saya revisi daftar isi lagi?"
Genta ngepalin tangannya di samping paha. "Kenapa kamu bunuh karakter itu, Aruna? Dia... dia lagi berusaha. Dia sudah mulai berubah. Kenapa kamu nggak kasih dia kesempatan? Dia masih punya harapan buat perbaikin segalanya!"
Gue natap mata Genta yang sekarang kelihatan gelisah banget di balik kacamatanya. Ada luka yang nyata di sana, seolah gue baru saja nusuk Genta di dunia nyata. "Bapak kenapa sih? Sampai gemeteran gitu cuma gara-gara plot? Lagian, tokoh itu cuma fiksi, Pak. Terserah penulisnya mau dibikin mati tersedak kerupuk atau ketabrak truk, kan?"
"Tapi dia nggak pantes mati kayak gitu!" potong Genta cepet, suaranya agak tinggi.
Seluruh orang di kantor mendadak menoleh. Suasana jadi canggung parah. Genta sadar hal itu, dia langsung berdeham dan benerin kacamatanya yang sebenarnya sudah lurus. "Maksud saya... secara struktur narasi, itu... itu buruk."
Gue tersenyum miring, senyum tipis yang penuh sindiran. "Mungkin Bapak terlalu baper. Atau mungkin, Bapak merasa terlalu mirip sama dia?"
Genta terdiam, natap gue dengan tatapan yang susah diartiin, seolah dia baru saja lihat malaikat maut yang pakai daster dan hobi makan seblak. Dia balik badan tanpa sepatah kata pun, ninggalin gue yang sekarang mulai merasa sedikit bersalah, tapi tetep ngerasa puas karena misi gue berhasil seratus persen.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻