Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.10 retak dalam keheningan
Pagi hari di Rumah Sakit Wijaya terasa seperti sebuah panggung teater yang sunyi namun penuh dengan mata yang mengawasi.
Sekar berjalan melewati lorong departemen bedah dengan punggung tegak, meskipun matanya terasa panas akibat kurang tidur.
Di dalam tas kulitnya, sebuah tablet berisi foto anak laki-laki dari Hamburg itu seolah-olah membakar seleranya. Nama anak itu, yang tertulis dalam dokumen adopsi sebagai Lukas Von Hess, terus berulang di kepalanya seperti doa yang menyakitkan.
Ia baru saja akan memasuki ruangannya saat ia melihat pemandangan yang membuat langkahnya terhenti. Viona, yang baru dua hari pasca-operasi besar, sudah berada di luar ruang ICU.
Ia duduk di kursi roda, dibalut jubah rumah sakit berbahan sutra yang mewah, dengan Rahman yang setia mendorongnya dari belakang.
Wajah Viona masih pucat, namun bibirnya yang dipulas lip-gloss tipis mengulas senyum kemenangan saat melihat Sekar.
"Dokter Sekar," panggil Viona, suaranya sengaja dikeraskan agar para perawat yang sedang berlalu-lalang menoleh. "Aku ingin secara resmi berterima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku. Sungguh, sebuah keajaiban medis yang dilakukan oleh tangan yang... begitu penuh dengan sejarah."
Sekar berhenti tepat di depan mereka. Ia menatap Viona datar, mengabaikan tatapan Rahman yang penuh permohonan agar ia tidak terpancing.
"Itu tugasku, Viona. Sebagai dokter, aku menyelamatkan siapa pun yang terbaring di meja operasiku, tanpa memandang seberapa buruk karakter mereka di luar sana," jawab Sekar, suaranya tenang namun memiliki ketajaman yang membuat senyum Viona sedikit goyah.
"Tentu saja," Viona terkekeh, meskipun ia sempat meringis karena luka di perutnya masih terasa nyeri. "Mas Rahman, bisakah kamu meninggalkanku berdua saja dengan Dokter Sekar? Aku ingin membicarakan sesuatu yang... bersifat 'perempuan'."
Rahman ragu. "Viona, kamu baru saja pulih. Sebaiknya jangan terlalu banyak bicara."
"Hanya sebentar, Sayang. Aku berjanji tidak akan membuat pahlawanku ini marah," Viona mengedipkan mata pada Rahman.
Dengan berat hati, Rahman melepaskan pegangan kursi roda itu dan berjalan menjauh, namun matanya tetap mengawasi dari kejauhan.
Begitu Rahman berada di luar jangkauan pendengaran, raut wajah Viona berubah seketika. Kelembutan palsu itu menghilang, digantikan oleh sorot mata predator yang telah menemukan kelemahan mangsanya.
"Aku sudah tahu semuanya, Sekar," bisik Viona, jemarinya yang lentik memain-mainkan ujung selimut di pangkuannya. "Klinik Schwarzwald. Berlin. Sepuluh tahun lalu. Kamu pikir kamu bisa menyembunyikan 'noda' itu selamanya?"
Sekar merasa jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat, namun ia tidak membiarkan otot wajahnya bergerak sedikit pun. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."
"Jangan bermain bodoh denganku. Mas Rahman mungkin buta karena rasa bersalahnya, tapi aku tidak," Viona mencondongkan tubuhnya ke depan, mengabaikan rasa perih pada jahitannya.
"Anak haram hasil hubungan sedarah antar saudara angkat. Bayangkan jika berita ini sampai ke telinga publik. Bukan hanya izin praktikmu yang dicabut, tapi keluarga Wijaya akan hancur menjadi debu. Dan aku? Aku akan tetap menjadi korban yang dikhianati, memenangkan simpati dunia," ucap Viona penuh dengan nada cemoohan.
"Apa maumu, Viona?" tanya Sekar, suaranya kini sangat rendah, hampir seperti desisan.
"Aku ingin kamu pergi. Bukan hanya dari rumah sakit ini, tapi dari negara ini. Dan jangan pernah berani mencari anak itu," Viona tersenyum licik.
"Karena jika kamu berani melangkah ke Jerman untuk mencarinya, aku akan memastikan keluarga Von Hess tahu bahwa ibu kandung anak mereka adalah seorang wanita dengan skandal yang menjijikkan. Mereka keluarga terpandang di Hamburg, Sekar. Mereka tidak akan sudi anak mereka dikaitkan denganmu," imbuhnya.
Sekar mengepalkan tangannya di samping tubuh hingga kukunya menusuk telapak tangan. "Kamu mengancam anak kecil yang tidak berdosa?"
"Aku hanya melindungi posisiku," jawab Viona tanpa rasa bersalah. "Pilihan ada di tanganmu. Pergi dengan tenang dan biarkan rahasia ini terkubur, atau tetap di sini dan saksikan bagaimana aku menghancurkan segalanya yang kamu sayangi, termasuk kenangan tentang anak itu."
Satu jam kemudian, Sekar mendapati dirinya berdiri di kantor Rahman. Ia tidak mengetuk pintu, ia masuk dengan amarah yang meluap. Rahman, yang sedang mempelajari laporan keuangan, tersentak melihat kehadiran Sekar.
"Rahman, katakan padaku!" seru Sekar sambil melempar tasnya ke atas meja kerja Rahman. "Apa Viona sudah tahu tentang Lukas?"
Rahman terbelalak mendengar nama itu disebut. "Lukas? Dari mana kamu tahu nama itu?"
"Jadi itu benar? Namanya Lukas?" Sekar tertawa pahit, air mata mulai menggenangi kelopak matanya. "Selama ini kamu tahu namanya, kamu tahu di mana dia berada, dan kamu tetap diam melihatku menangis setiap malam di Berlin?"
Rahman berdiri, wajahnya menunjukkan kepedihan yang luar biasa. "Aku baru mengetahuinya setahun yang lalu, Sekar! Ibu baru memberitahuku setelah Ayah terkena serangan jantung pertama kali. Aku mencarinya, aku menemukan keluarga Von Hess, tapi mereka sangat tertutup. Mereka mengancam akan menuntut kita jika kita berani mendekati anak itu!"
"Dan kamu membiarkannya?" Sekar memukul dada Rahman. "Dia anakmu, Rahman! Darah dagingmu!"
Rahman menangkap tangan Sekar, menariknya ke dalam pelukan yang erat. Sekar mencoba meronta, namun tenaga Rahman jauh lebih kuat. Rahman membenamkan wajahnya di rambut Sekar, terisak pelan.
"Aku takut, Sekar... Aku takut jika aku memberitahumu, kamu akan melakukan sesuatu yang nekat dan mereka akan melenyapkan anak itu. Keluarga Von Hess punya koneksi gelap dengan industri farmasi global. Mereka bukan orang sembarangan."
Sekar berhenti meronta. Ia menyandarkan kepalanya di dada Rahman, merasakan detak jantung pria itu yang tidak beraturan. Untuk sesaat, dendamnya mereda, digantikan oleh rasa putus asa yang menyatukan mereka.
"Viona tahu," bisik Sekar di sela isakannya. "Dia mengancam akan menghancurkan karirku dan membawa Lukas ke dalam skandal ini."
Rahman melepaskan pelukannya, menatap mata Sekar dengan sorot mata yang dingin dan tajam. "Viona tidak akan bisa menyentuhmu, Sekar. Tidak setelah apa yang akan aku lakukan."
"Apa maksudmu?"
"Dia pikir dia punya kendali atas aku karena pertunangan ini. Tapi dia lupa bahwa di rumah ini, aku adalah Wijaya yang asli," kata Rahman dengan nada yang mengerikan. "Jika dia ingin bermain api, aku akan memberinya kebakaran yang tidak akan pernah bisa ia padamkan."
Di luar ruangan, Ibu Wijaya berdiri mematung. Ia mendengar setiap kata yang diucapkan putra dan anak angkatnya. Wajahnya yang awet muda karena berbagai prosedur kecantikan kini tampak mengerut dalam kemarahan yang murni.
Ia segera berjalan menuju ruangannya sendiri dan memanggil asisten pribadinya.
"Siapkan keberangkatan ke Hamburg besok pagi," perintah Ibu Wijaya. "Dan hubungi Tuan Von Hess. Katakan padanya bahwa ada 'gangguan' dari masa lalu yang sedang mencoba mendekati investasinya. Kita harus memastikan Sekar tidak pernah sampai ke Jerman."
Ibu Wijaya tahu, jika rahasia adopsi ini terbongkar sepenuhnya, maka bukan hanya skandal moral yang akan meledak, tapi juga korupsi besar-besaran di yayasan Wijaya yang melibatkan transaksi 'anak untuk saham' sepuluh tahun lalu. Sebuah rahasia yang ia bawa ke liang lahat jika perlu.
Sekar kembali ke apartemennya dengan perasaan hampa. Ia membuka tablet-nya lagi, menatap foto Lukas. Anak itu sedang memegang bola sepak, tersenyum lebar ke arah kamera. Di latar belakang foto itu, terlihat sebuah taman yang luas dengan pepohonan ek yang besar.
Hanya sebentar lagi, Sayang, batin Sekar.
Tiba-tiba, bel apartemennya berbunyi. Sekar melihat melalui lubang intip dan terkejut melihat Alvin berdiri di sana dengan penampilan yang kacau. Rambutnya berantakan dan pakaiannya tidak rapi seperti biasanya.
Begitu Sekar membuka pintu, Alvin langsung masuk.
"Kita dalam bahaya, Sekar," kata Alvin dengan napas tersengal. "Keluarga Von Hess... mereka sudah tahu kita menggali data mereka. Ayahku baru saja menelepon. Semua akses rekening bank keluarga Pratama dibekukan sore ini. Ini bukan lagi soal Wijaya, Sekar. Ini soal monster yang jauh lebih besar."
Sekar menatap Alvin dengan bingung. "Apa maksudmu?"
"Anakmu... Lukas... dia bukan hanya jaminan bisnis," Alvin menelan ludah, wajahnya menunjukkan ketakutan yang nyata. "Dia adalah subjek penelitian. Itulah sebabnya Von Hess mengadopsinya. Mereka membutuhkan sampel genetik dari garis keturunan yang memiliki kelainan vaskular langka seperti yang dimiliki orang tuamu. Keluarga Wijaya menjual anakmu sebagai bahan percobaan medis!"
Dunia Sekar seolah berhenti berputar. Rasa mual yang hebat menghantam ulu hatinya. Ia jatuh terduduk di lantai, menatap Alvin dengan tatapan kosong.
"Bahan... percobaan?"
Alvin mengangguk lemah. "Itulah sebabnya mereka memberimu beasiswa ke Jerman. Mereka ingin memantau perkembangan genetikmu juga, sementara anakmu dijadikan kelinci percobaan di laboratorium rahasia mereka di Hamburg."
Malam itu, di apartemen yang sunyi, Sekar menyadari bahwa cintanya pada Rahman, dendamnya pada Ibu Wijaya, dan karirnya yang cemerlang, hanyalah butiran debu dalam konspirasi yang jauh lebih gelap dan mengerikan.
Ia tidak punya waktu untuk menangis lagi. Jika ia ingin menyelamatkan Lukas, ia tidak bisa hanya menjadi seorang dokter bedah. Ia harus menjadi seorang pejuang yang siap menghancurkan sistem yang telah mencuri sepuluh tahun hidupnya.