Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.
Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?
Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.
Sementara di sisi lain.
Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.
Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bosan
Baru kali ini semenjak Nina menginjak usia dewasa, dia menjadi pengangguran dan benar-benar tak melakukan apapun dalam arti mencari uang.
Bahkan saat dirinya belum selesai masa nifas, Nina tetap bekerja membantu saudaranya di desa demi bisa tetap menghasilkan uang untuknya makan.
Meskipun keluarga dari pihak ayah kandung si kembar adalah keluarga terpandang di desa. Nyatanya tidak menjamin dirinya bisa makan dengan kenyang, apalagi Nina butuh asupan nutrisi dua kali lipat mengingat harus menyusui dua anak sekaligus.
Lalu soal keluarga Nina sendiri, hanya paman dari pihak ibu yang sayangnya kurang peduli padanya.
Selama seminggu ini, Nina hanya melakukan aktivitas di Penthouse. Bersih-bersih tapi sudah ada petugas yang datang dua hari sekali. Paling hanya memasak bahan yang ada di lemari pendingin dan penyimpanan. Di sana isinya penuh. Baru kali ini, Nina melihat stok makanan sebanyak itu. Bahkan stok di warung Bu Darmi tidak sebanyak yang ada di tempat tinggalnya saat ini.
Bosan ...
Nina mulai bosan. Namun belum berani protes pada asisten suami kontraknya. Mungkin dia harus mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan lelaki yang memiliki aura intimidasi begitu kuat. Nina merasa ngeri.
Ngomong-ngomong, sepeninggal Ammar. Damian memberikan sebuah ponsel canggih. Merk dan tipe yang pernah lihat Nina lihat di drama.
Sementara ponsel lamanya, Damian sita. Lelaki blasteran itu hanya mengambil kartu SIM dan memindahkan pada ponsel barunya.
Lalu soal uang yang waktu itu dipinjamkan oleh Nanik padanya, sudah Nina kembalikan. Sahabatnya sempat bertanya, tapi Nina memilih tidak menjawab dan langsung mengakhiri panggilannya.
Entah mengapa, kali ini Nina ingin merahasiakan dulu soal kesepakatan yang sudah terlanjur terjalin dengan Ammar.
***
Seminggu, dua Minggu dan kini sudah satu bulan suami kontraknya belum juga kembali. Nina benar-benar sudah sangat bosan. Dia ingin kembali sibuk, tak ingin menjadi pengangguran seperti sekarang.
Sepertinya Nina harus segera menyampaikan keinginannya pada Damian. Setidaknya, dia diizinkan untuk jalan-jalan di luar.
"Anda sedang menjalani program kehamilannya, nyonya! Apa anda lupa pesan dokter Asha?" Damian mengingatkan.
Pada akhirnya, Nina memberanikan diri mengungkapkan unek-uneknya selama sebulan ini. Setelah sebelumnya, mengumpulkan keberaniannya.
Seperti biasa, Damian akan datang setiap hari Sabtu. Memenuhi isi lemari pendingin dan penyimpanan, dengan makanan serta stok kebutuhan.
"Tapi saya mulai bosan." Nina mengungkapkan alasannya juga. "Setidaknya izinkan saya berinteraksi dengan manusia."
"Saya manusia, kalau anda lupa. Lalu bukankah Bibi Mini juga manusia." Damian sedang menata dalam keranjang. "Sudahlah Nyonya. Nikmati apa yang sedang anda jalani sekarang."
"Tapi Mister ..."
"Semakin sedikit anda berinteraksi dengan orang lain, itu semakin bagus untuk kehidupan anda setelah masa kontrak habis." Damian mengingatkan.
Nina sedang duduk di stool, dia hanya melihat gerak lelaki blasteran itu. Bukan Nina tidak mau membantu, tapi Damian memang melarangnya. "Kapan Tuan Ammar kembali?" Mungkin jika Nina berbicara dengan lelaki itu, dia akan diizinkan.
"Tuan Ammar sedang berada di Amerika."
"Ohhh ..." Nina tersenyum kecut. "Apa beliau tidak memberi tau anda, mister?"
Damian mulai membersihkan sampah plastik pembungkus buah. Pria itu begitu Lues, seolah sudah terbiasa. "Semakin sedikit anda tau tentang Tuan Ammar, itu akan baik untuk anda. Anda ingat bukan, anda hanya disewa untuk mengandung pewaris beliau." Sekali lagi, Damian mengingatkan.
"Iya saya tau, saya hanya bertanya." Merasa sia-sia, Nina memilih beranjak menuju kamarnya. Kamar yang ada di lantai satu Penthouse.
Namun belum sempat menutup pintu kamar, ucapan Damian membuatnya terdiam.
"Selama sebulan kedepan, Bibi Mini akan menggantikan saya untuk mengisi stok makanan dan kebutuhan anda." Damian merasa perlu memberitahu. "Ingat jangan mencoba-coba untuk melarikan diri. Karena sampai di lubang semut sekalipun anda bersembunyi, saya pasti akan menemukan anda."
Nina tak menanggapi, dia lebih memilih menutup pintu kamarnya. Sepertinya apa yang diinginkan akan sulit tercapai. Padahal keinginannya simpel, ingin keluar dari Penthouse dan berjalan-jalan di sekitar gedung tempatnya tinggal.
Meskipun soal udara luar, Nina tetap bisa mendapatkannya. Dia hanya perlu keluar menuju balkon. Intinya, semua ada di tempatnya tinggal.
***
Dua pekan sekali, Nina memiliki kesempatan untuk melakukan panggilan telepon pada dua anaknya. Meskipun tidak bisa menelepon secara bersamaan.
Tempat Asrama Aby dan Anin dipisah, beda gedung bahkan beda wilayah rukun tetangga.
Sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh pihak musyrifah, jadi Nina hanya perlu mengikuti waktunya saja.
Pertama-tama, Nina menelepon Anin terlebih dahulu. Jangan bayangkan, Nina bisa melihat wajah putrinya. Peraturan asrama melarang adanya panggilan video, karena hanya diperbolehkan melakukan panggilan suara melalui pulsa telepon.
"Ibu ... Terima kasih banyak ya! Temen-temen Anin juga. Mereka seneng banget dapet banyak stok camilan." Suara cempreng itu menyapanya, usai sebelumnya menjawab salam dari ibunya.
"Sama-sama, nak!" Nina tersenyum. Mata cokelatnya sedang mengintip kedalam oven, memastikan kue mulai matang. "Apa ada yang kurang?" Tanyanya.
"Enggak Bu! Ini cukup banget kok!"
Obrolan sempat terhenti, ketika Anin diajak bicara oleh teman asramanya. Nina juga sempat disapa dan mendapatkan ucapan terima kasih.
"Bu, lebaran besok aku sama Aby pulang kemana?"
Sebuah pertanyaan yang membuat Nina seketika tersadar satu hal. Keputusannya soal mengandung benih suami kontraknya, belum memikirkan sampai hal kecil itu.
Bagaimana jika anak-anaknya bertanya soal ini? Apa yang harus Nina jawab, nanti?
Nina mengaku sudah pindah dari warung Bu Darmi, dia mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi.
Mungkin anak-anaknya menangkap, Nina sudah mengontrak rumah. Tapi nyatanya setelah hampir dua bulan, dia bahkan tertahan di Penthouse tanpa keluar dari gedung ini.
"Apa ibu udah dapet kontrakan? Atau mungkin ibu dapat mess?"
"Ibu tinggal di rumah bos, nak!" ini Fakta. Nina tinggal di Penthouse Tuannya.
"Yah ... Jadi aku sama Aby, pulang kemana Bu? Masa lebaran kita nggak ngumpul."
Nina benar-benar tidak berpikir sampai sana. Tapi tidak mungkin juga anak-anaknya datang ke tempat ini.
"Entar coba ibu omongin sama bos dulu, ya nak!"
"Anin nggak mau lebaran di asrama, Bu!" rengek bocah yang tahun ini berusia lima belas tahun itu.
"Ibu usahain ya, Nak!" panggilan diakhiri. Nina menghela napas.
Sudah beberapa Minggu, Damian tidak datang. Memang lelaki itu sempat berbicara tidak akan datang. Tapi Nina tidak menyangka bisa selama ini.
Pembicaraan dengan putranya, kurang lebih sama. Intinya anak kembarnya, menanyakan tentang tempat tinggal selama libur puasa dan lebaran.
"Kalau sampai Minggu depan, Mister belum Dateng juga. Aku mau keluar dan cari kontrakan." Monolognya, usai mengakhiri panggilan dengan Aby, putranya.
Yang penting di hari raya nanti, Nina bisa berkumpul dengan anak-anaknya. Bukankah dia melakukan semua ini, juga untuk kebahagiaan Aby dan Anin?