Kehilangan anak saat melahirkan adalah penderitaan terbesar bagi Azelva Raquel Shawn. Bak jatuh tertimpa tangga, Azelva diceraikan, diusir dari rumahnya, dan semua hartanya dicuri oleh suami dan selingkuhannya.
Namun di tengah-tengah penderitanya, Kellano Gavintara, hadir menawarkan pekerjaan untuk wanita malang itu.
"Jadilah Ibu susu putraku. Sebagai imbalannya, aku akan membantumu mengambil kembali semua milikmu." Kellano Gavintara.
Tekadnya untuk balas dendam semakin kuat, tapi di sisi lain, Azelva tidak ingin berhubungan lagi dengan Kellano, yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Apalagi jika Kellano tahu rahasia yang Azelva sembunyikan selama ini.
Namun setelah menatap baby Arlend, perasaan Azelva mulai goyah.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘭𝘦𝘯𝘥?"
Seiring berjalannya waktu, tabir rahasia mulai terkuak. Identitas Arlend mulai dipertanyakan.
Apa yang akan Kellano lakukan saat mengetahui fakta mengejutkan tentang putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
"Mas..."
Setelah memastikan Azelva pergi ke kamarnya, Venya berjalan menghampiri Zidan yang sedang duduk di ruang tamu. Wanita itu ingin memastikan sendiri kecurigaannya, menurutnya Zidan diam-diam memiliki perasaan pada Azelva.
Zidan sedikit terkejut dengan kehadiran Venya. Zidan lupa beberapa saat lalu ia membawa selingkuhannya itu ke rumah ini.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" Tanya Zidan. Pria itu menoleh ke arah tangga, ia takut Azelva tiba-tiba turun dan melihat keberadaan Venya di sana.
Awalnya Zidan sangat percaya diri membawa Venya ke rumah itu. Ia sangat yakin bisa membujuk Azelva untuk menerima Venya. Namun melihat respon Azelva tadi, Zidan merasa sedikit takut.
Venya menganggukkan kepalanya. "Kamu kenapa, Mas? Kenapa wajahmu tegang begitu?"
Venya sengaja duduk di pangkuan Zidan, lalu mengalungkan tangannya di leher kekasihnya itu. Venya semakin mendekatkan wajahnya pada bibir Zidan, namun saat wanita itu hendak mencium bibir Zidan, kekasihnya itu malah memalingkan wajahnya membuat wanita itu kesal.
"Kamu menolak ku, Mas?"
Venya terlihat kesal, untuk pertama kalinya Zidan menolak ciumannya. Padahal biasanya justru Zidan lah yang selalu menyosor nya lebih dulu. Ini membuat kecurigaannya semakin kuat.
"Bukan begitu, Sayang. Ini di ruang tamu, gak enak kalau ada yang lihat," ucap Zidan. Sebenarnya itu hanya alasan Zidan saja, karena sebenarnya Zidan takut jika Azelva kembali memergokinya.
Zidan tidak ingin hubungannya dengan Azelva semakin merenggang. Apalagi jika istrinya itu benar-benar ingin berpisah.
Venya tidak menyerah begitu saja, apalagi ia tahu prianya itu hanya beralasan. Venya merapatkan tubuhnya pada Zidan, ia juga sengaja menggesekkan miliknya di bawah sana. Wanita itu menyeringai saat merasakan belut listrik milik Zidan mulai bereaksi.
"Mas... anak kita minta dijenguk," bisik Venya di telinga Zidan.
Zidan memejamkan matanya, ia juga sudah tidak tahan, ditambah lagi miliknya di bawah sana sudah berkedut. Zidan memang termasuk pria yang sensitif dan bisa dibilang hiper. Apalagi Venya yang sengaja menggodanya, membuat Zidan yang memiliki iman setipis tisu itu selalu terbujuk rayuannya.
"Kita ke kamar."
Zidan bersiap untuk membawa Venya ke kamar. Namun ucapan Venya membuat Zidan mengurungkan niatnya.
"Mas, aku mau coba di sini," rengek Venya. Wanita itu sengaja meminta Zidan melakukannya di ruang tamu supaya Azelva memergokinya. Dengan begitu Azelva tidak akan berpikir lagi, dia akan langsung menceraikan Zidan.
Zidan sedikit ragu, ia takut Azelva turun dan kembali memergokinya.
"𝘗𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘈𝘻𝘦𝘭𝘷𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳, 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘥𝘪," 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘡𝘪𝘥𝘢𝘯.
Venya tersenyum menyeringai saat Zidan menganggukkan kepalanya. Wanita itu membuka kancing dressnya satu persatu hingga gundukannya menyembul di depan wajah Zidan.
Zidan melahap rakus gundukan favoritnya itu membuat Venya tak kuasa menahan desahannya.
"Ahh...."
Venya sengaja mendesah kencang supaya Azelva mendengar desahannya.
Dan benar saja entah sejak kapan Azelva sudah berada di sana. Menatap jijik kedua pengkhianat itu.
"Apa kalian tidak punya uang untuk menyewa hotel? Dasar menjijikkan!"
Azelva merasa perutnya bergejolak saat melihat pemandangan menjijikkan di depan matanya. Hatinya sangat miris, bukan karena cemburu, tapi ia tidak rela rumah peninggalan orang tuanya dipergunakan kedua pengkhianat itu untuk berbuat mesum.
Brugh
"Mas, sakit!"
Mendengar suara Azelva, membuat Zidan reflek mendorong tubuh Venya yang berada di pangkuannya.
"A-azel---"
Zidan tidak menghiraukan rengekan Venya, ia justru menghampiri Azelva, walaupun istrinya itu menatapnya penuh kebencian.
"JANGAN MENDEKAT! Aku jijik sama Kamu, Zidan!" Teriak Azelva.
Wanita itu menghindar saat Zidan ingin menggenggam tangannya.
"Kamu mau ke mana?"
Zidan menatap Azelva yang berdiri sambil menggenggam koper.
"Bukannya Kamu yang memintaku keluar dari rumahku sendiri?" Azelva sengaja menekankan kata rumahku sendiri supaya Zidan merasa malu dan tahu diri. Namun rupanya pria itu benar-benar tidak memiliki harga diri.
"Azel, kenapa Kamu harus keras kepala? Kamu tidak perlu keluar dari rumah ini, asal Kamu tetap menjadi istriku."
Zidan terlihat panik, ia tidak menyangka Azelva akan memilih pergi daripada bertahan menjadi istrinya.
"Aku sudah bilang, aku tidak sudi tinggal satu atap dengan pengkhianat sepertimu. Lebih baik aku kehilangan semuanya daripada batinku tersiksa," ucap Azelva penuh penekanan.
Tekad Azelva sudah bulat, ia akan tetap bercerai dengan Zidan. Walaupun itu artinya, Azelva harus kehilangan semua miliknya. Rumah, mobil, perusahaan, dan aset-aset berharga lainnya. Azelva benar-benar tidak akan mendapatkan sepeserpun.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘔𝘢𝘴 𝘡𝘪𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘻𝘦𝘭?"
Sementara itu, Venya semakin yakin jika Zidan tidak ingin melepaskan Azelva. Terlihat dari ucapan pria itu yang bersikukuh meminta Azelva untuk tetap tinggal.
"𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶."
Venya terlihat menyeringai, ia akan membuat Zidan menyetujui keinginan Azelva.
"Azel---"
"JANGAN MENYENTUHKU, JALANG SIALAN!"
"Awwsshhh..." Venya meringis sambil memegang perutnya. Wanita itu menatap Azelva dengan mata berkaca-kaca. "Azel, aku tahu aku salah. Tapi Kamu tidak perlu mendorong ku, Kamu tahu kan aku sedang hamil?Apa Kamu sengaja ingin membuat aku keguguran?" Ucap Venya sambil terisak.
Azelva mengernyitkan keningnya. Ia memang menepis tangan Venya yang ingin menyentuhnya, tapi Azelva tidak merasa mendorong wanita itu. Ia pun sedikit terkejut saat Venya tiba-tiba terjatuh hanya karena tepisan tangannya yang tak seberapa. Sampai akhirnya, Azelva mulai menyadari sesuatu.
"𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘯𝘪𝘱𝘶𝘭𝘢𝘵𝘪𝘧, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳?" 𝘎𝘶𝘮𝘢𝘮 𝘈𝘻𝘦𝘭𝘷𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪. "𝘉𝘢𝘪𝘬𝘭𝘢𝘩, 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘶."
Azelva tersenyum smirk, matanya menatap tajam kekasih suaminya. Ia menantikan apa yang akan wanita itu lakukan selanjutnya.
"Kamu gak apa-apa?" Zidan menghampiri Venya dan membangunkan wanita itu. Setelah memastikan Venya baik-baik saja, pria itu mengalihkan tatapannya pada Azelva. "Jangan keterlaluan Azel! Kalau Kamu ingin bercerai, baiklah. Aku setuju. Tapi, Kamu tahu konsekuensinya."
Zidan pikir Azelva mendorong Venya karena dirinya yang enggan menceraikannya.
Venya diam-diam tersenyum puas mendengar keputusan Zidan. "𝘛𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘶𝘨𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶."
"𝘖𝘩... 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢," 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘈𝘻𝘦𝘭𝘷𝘢. 𝘞𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘝𝘦𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘡𝘪𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶𝘪 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.
Azelva mulai paham ke mana arah permainan Venya. Azelva merutuki kebodohannya selama ini karena tertipu oleh tampang polos wanita itu.
"Aku mengerti. Tapi sebelum itu, aku punya hadiah untuk jalangmu itu, Mas Zidan." Azelva menyeringai, ia lalu mendekati Venya. "Bukankah Kamu bilang tadi aku mendorongmu?"
Brugh
"Arggghhhttt..."
Azelva mendorong Venya sangat keras, membuat wanita itu tersungkur di lantai. Benturan keras di perutnya mengakibatkan cairan merah keluar dari sela-sela pahanya.
"Itu baru namanya mendorong," ucap Azelva. Wanita itu tersenyum puas melihat Venya yang terkapar di lantai.
...----------------...
Azelva berjalan menyusuri jalan raya, entah ke mana kaki akan membawanya melangkah. Ia sebatang kara, tidak punya tujuan. Sebenarnya Azelva memiliki keluarga lain selain orang tuanya, hanya saja Om dan Tantenya berada di Amerika. Sementara Azelva tidak memiliki cukup uang untuk pergi ke sana.
"Mom, Dad, aku harus ke mana?"
Azelva mulai lelah, ditambah lagi perutnya yang tiba-tiba terasa perih.
"Mungkin ini hukuman karena aku sudah membuat Daddy kecewa," sesal Azelva di tengah-tengah isak tangisnya.
Azelva melihat ada mesjid di seberang jalan, ia berniat untuk istirahat sejenak di sana. Namun saat Azelva mulai menyebrang, pandangannya tiba-tiba kabur, ia bahkan tidak mendengar suara klakson di belakangnya. Sampai akhirnya...
Tiiinnnn
Brakkk
"NONA!"
...----------------...
"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘈𝘻𝘦𝘭𝘷𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘢𝘯? 𝘈𝘩... 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩𝘭𝘢𝘩, 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘈𝘻𝘦𝘭𝘷𝘢 𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶," 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘒𝘦𝘭𝘭𝘢𝘯𝘰.
Setelah susah payah membujuk bagian resepsionis, Kellano akhirnya berhasil mendapatkan data pasien yang disebutkan Mommy Yumna, lengkap beserta nama dan juga alamatnya.
Di kertas itu tertera nama yang tidak asing untuk Kellano. Nyonya Azelva. Mengingat nama itu membuat dada Kellano terasa sesak.
"𝘈𝘻𝘦𝘭, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳? 𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶."
Huhfttt
Kellano menghembuskan napasnya kasar. "Aku tidak boleh memikirkan hal lain dulu, yang terpenting saat ini hanya Arlend."
Kellano melajukan mobilnya menuju alamat yang tertera di kertas. Ia melajukan mobilnya sedikit pelan, karena kondisi jalanan yang cukup padat dan juga hujan deras.
Saat melewati persimpangan, Kellano melihat banyak orang berkerumun di tengah jalan. Sebenarnya ia bukanlah tipe orang yang suka ikut campur ataupun ingin tahu masalah orang lain. Namun, entah mengapa kali ini rasa penasarannya terlalu tinggi.
"Maaf, Pak. Ini rame-rame ada apa, ya?" Tanya Kellano pada salah satu orang yang ikut berkerumun.
"Nona Muda kecelakaan, Tuan. Kami sedang menunggu ambulan. Tapi sudah setengah jam belum juga datang," ucap bapak itu terlihat khawatir.
Rupanya wanita yang disebut Nona muda itu terkenal sangat ramah dan suka membantu. Setiap hari dia selalu memberikan makanan atau uang pada orang-orang sekitarnya. Karena itu saat dia kecelakaan orang-orang sekitar sana berbondong-bondong membantunya.
Kellano sedikit terharu, di jaman seperti sekarang, sangat jarang ada seorang Nona muda yang ramah dan baik hati. Biasanya seorang Nona muda itu sangat arogan dan seenaknya.
"Saya boleh lihat, Pak?" Kellano semakin penasaran, ia ingin melihat wajah Nona muda itu seperti apa.
Setelah bapak itu menganggukkan kepalanya, Kellano pun mengikuti bapak itu membelah kerumunan.
"Ini Tuan, Nona Kami."
Bapak itu menunjuk pada seorang wanita cantik yang terlihat meringis, tangan dan kakinya dipenuhi luka memar. Kellano tidak melihat dengan jelas wajah wanita itu, karena helaian rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Ditambah lagi wanita itu sedang menundukkan kepalanya.
Mendengar seseorang menyebut dirinya, wanita itu pun mendongakkan wajahnya.
Deg
"𝘈𝘻𝘦𝘭..."
"𝘒𝘦𝘭𝘭𝘢𝘯... "
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
bagus pak arjuna gercepdibandingin anaknya
ayo segera kita sambut si regina 👏
ayo Zola cepet cerita jgn byk mikir 🤣