"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Mie Ayam dan Maut yang Mengintai
Gelap. Dingin. Dan bau logam yang sangat tajam.
Alana masih memegang sumpitnya saat lampu jalanan padam total, menyisakan kegelapan pekat yang hanya ditembus oleh lampu motor yang sesekali lewat di kejauhan. Mie ayam yang tadinya terasa nikmat mendadak terasa seperti pasir di mulutnya. Sesuatu yang bulat, dingin, dan keras menekan tengkuknya dengan sangat mantap.
"Jangan bergerak, Nyonya Besar. Satu teriakan, dan mie ini akan jadi makanan terakhirmu," sebuah suara serak berbisik tepat di lubang telinganya.
Jantung Alana berdegup kencang, saking kencangnya sampai ia takut penculiknya bisa mendengarnya. Namun, di tengah ketakutan yang mencekam, sisi "julid" Alana masih sempat-sempatnya protes dalam hati. Ya ampun, mau nyulik kok bau badannya kayak nggak mandi tiga hari? Minimal pakai parfum isi ulang kek!
"Mas Arkan..." panggil Alana lirih, suaranya bergetar.
Di seberang meja plastik yang reyot itu, Arkan membeku. Ia melihat bayangan seorang pria bertopeng berdiri di belakang Alana dengan pistol yang mengarah ke kepala istrinya. Tangan Arkan yang tadinya memegang botol kecap kini mengepal kuat sampai buku-bukunya memutih.
"Lepaskan dia," suara Arkan rendah, lebih dingin dari es di kutub utara. "Kalian mau uang? Sebutkan angkanya. Saya kasih dua kali lipat sekarang juga, asal kalian menjauh dari istri saya."
Pria di belakang Alana tertawa serak, tawa yang terdengar sangat tidak menyenangkan. "Uang? Uang Tuan Arkan memang banyak, tapi klien kami lebih suka melihat Tuan hancur pelan-pelan. Kehilangan wanita ini akan jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan saham, bukan?"
Alana menelan ludah. Ia melirik Arkan. Dalam kegelapan itu, mata Arkan berkilat penuh amarah yang tertahan. Arkan sedang menghitung langkah. Alana tahu itu. Pria ini perfeksionis, dia tidak akan menyerang tanpa perhitungan matang.
"Oke, oke, dengerin ya, Mas Penculik yang terhormat," Alana mulai bicara, mencoba mengalihkan perhatian si pelaku. "Mas kalau mau bunuh saya, mending sekarang aja daripada saya makin enek sama bau badan Mas. Tapi sebelum itu, boleh nggak saya selesaikan satu suapan lagi? Sayang nih, mienya enak banget, ayamnya asli bukan karet."
"Diam!" bentak pria itu sambil menekan moncong pistolnya lebih keras.
"Eh, santai dong! Jangan ngegas! Mas tahu nggak, pistol yang Mas pegang itu kayanya seri lama ya? Kok agak karatan? Hati-hati lho kalau meledak malah kena tangan Mas sendiri, nanti kena tetanus mau bayar pakai apa? BPJS Mas aktif nggak?"
Pria itu tampak bingung sesaat. Ia tidak menyangka korbannya akan seberani—atau setolol—ini. "Kamu... berisik sekali! Ikut saya!"
Pria itu menarik kasar bahu Alana agar berdiri. Saat itulah, Arkan bergerak. Bukan dengan serangan frontal, melainkan dengan melempar mangkuk mie ayamnya yang masih panas tepat ke arah wajah si penculik.
Pyarr!
"Aaargh! Mataku!" teriak pria itu saat kuah panas dan sambal merah menyengat matanya.
Alana tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menggunakan ilmu bela diri "darurat" yang pernah ia tonton di YouTube: ia menginjak kaki pria itu dengan tumit sepatunya sekuat tenaga, lalu menyikut perutnya.
"Makan tuh mie ayam pedas!" teriak Alana.
Arkan melompati meja plastik, menerjang pria itu hingga tersungkur ke aspal. Terjadi pergulatan sengit. Arkan yang biasanya rapi kini berguling-guling di tanah, memukul penculik itu dengan kemarahan yang meluap-luap.
"Berani-beraninya kamu menyentuhnya!" geram Arkan sambil mendaratkan tinju telak di rahang si penjahat.
Namun, drama belum berakhir. Mobil hitam yang tadi terparkir di kejauhan tiba-tiba melesat ke arah mereka dengan kecepatan tinggi. Lampu jauhnya menyilaukan mata.
"Lana! Lari ke gang itu!" perintah Arkan sambil menarik Alana berdiri.
Mereka berlari menyusuri gang sempit di antara rumah-rumah warga. Alana yang memakai sandal jepit terpaksa mencopotnya dan berlari tanpa alas kaki. Dinginnya aspal tidak lagi terasa, yang ada hanya insting untuk bertahan hidup.
Mereka berhenti di balik tumpukan kayu bekas konstruksi. Napas mereka terengah-engah. Arkan merangkul bahu Alana, menariknya ke dalam pelukan pelindung.
"Kamu terluka?" tanya Arkan, tangannya meraba wajah Alana dalam kegelapan, mencari tanda-tanda cedera.
"Cuma kaki lecet dikit, Mas. Tapi jantung saya kayak mau copot," bisik Alana. "Mas... siapa mereka? Kenapa mereka sebut 'klien'? Tante Sofia kan sudah kalah?"
Arkan menghela napas panjang. "Sofia mungkin cuma pion kecil, Lana. Di dunia bisnis saya, ada musuh yang lebih besar. Mereka yang tidak suka saya membawa orang luar ke dalam lingkaran kekuasaan Arkananta. Dan mereka... sepertinya tahu kelemahan terbesar saya sekarang adalah kamu."
Alana terdiam. Ia menatap wajah Arkan yang kini terkena sedikit cahaya bulan. Wajah yang biasanya kaku itu kini dipenuhi kecemasan yang tulus.
"Mas Arkan," panggil Alana pelan. "Jadi sekarang saya beneran jadi 'biaya kerugian' ya?"
Arkan menggeleng, ia mengecup dahi Alana dengan lembut. "Tidak. Kamu adalah alasan saya untuk tetap bertarung. Saya tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi. Kita harus ke rumah aman. Apartemen sudah tidak aman."
Arkan merogoh ponselnya dan menelepon tim keamanannya yang paling terpercaya. "Jemput kami di titik koordinat gang 12. Sekarang. Bawa tim medis."
Dua puluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil lapis baja menuju sebuah mansion tersembunyi di pinggiran kota. Di dalam mobil, Alana hanya terdiam sambil memeluk Mochi—yang untungnya tadi ditinggal di dalam mobil pengawal yang menyusul di belakang.
"Mas Arkan," ucap Alana memecah keheningan. "Besok saya mau belajar karate. Atau muay thai. Atau silat. Pokoknya saya nggak mau cuma jadi beban yang bisa disandera pakai pistol karatan."
Arkan menoleh, menatap istrinya dengan bangga. "Saya akan panggilkan instruktur terbaik untukmu besok pagi. Tapi untuk sekarang... istirahatlah."
"Mas juga. Mas kelihatan kacau banget. Jas mahal Mas udah kayak lap pel," celetuk Alana mencoba mencairkan suasana.
Arkan tertawa rendah, tawa yang terdengar sangat lega. "Asal kamu selamat, jas ini tidak ada harganya, Lana."
Namun, saat mereka sampai di rumah aman yang dikelilingi pagar tinggi dan penjaga bersenjata, Alana menemukan sebuah surat yang terselip di bawah pintu gerbang utama. Penjaga memberikannya kepada Arkan.
Arkan membukanya, dan wajahnya mendadak kaku kembali. Di dalam amplop itu ada sebuah foto lama. Foto masa kecil Arkan bersama seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengan... Bayu.
Di belakang foto itu tertulis: "Darah tidak pernah bohong, Arkan. Kamu pikir kamu menyelamatkan Alana dari orang asing? Bayu adalah saudaramu yang tidak pernah kamu akui. Dan dia kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya—termasuk istrimu."
Alana ikut membaca tulisan itu. Dunianya kembali berguncang. "Apa? Bayu... saudara Mas?!"
Arkan meremas foto itu sampai hancur. Ia menatap Alana dengan tatapan yang penuh dengan rahasia gelap yang lebih dalam dari sebelumnya. "Ada bagian dari sejarah keluarga saya yang sengaja saya kubur, Lana. Dan sepertinya... Bayu adalah hantu yang berhasil bangkit dari kubur itu."
Siapakah sebenarnya Bayu dalam silsilah keluarga Arkan? Dan apakah hubungan darah ini yang menjadi alasan utama Arkan membayar Bayu di masa lalu?