Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Rahasia di Balik Layar Ponsel
"Rina... apa ini?" tanya Gus Azkar dengan suara yang berubah sangat berat. Ia menatap Rina dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara syok dan rasa tidak percaya.
Rina yang sudah pucat pasi langsung berusaha mengelak. "Itu... itu bukan punya aku, Mas! Itu... itu HP orang lain, mungkin ketuker pas di pesantren tadi!" jawabnya asal-asalan, suaranya melengking karena panik.
Gus Azkar menaikkan satu alisnya. Ia membalikkan layar ponsel itu ke arah Rina, memperlihatkan wallpaper yang terpasang di sana. Foto Rina saat masih kecil sedang memeluk neneknya.
"Bukan punyamu? Tapi fotonya foto kamu, Rina," ujar Gus Azkar dingin, namun ada nada geli yang tertahan di sana. "Sejak kapan kamu suka menonton hal seperti ini?"
Rina menutup wajahnya dengan kedua tangan, ingin rasanya ia menghilang ke dasar bumi sekarang juga. "Aku... aku cuma penasaran, Mas. Maaf..."
Gus Azkar meletakkan ponsel itu kembali ke kasur, lalu ia kembali mendekati Rina. Bukannya marah, Gus Azkar justru mengunci tubuh Rina di antara lengan dan tembok kamar.
"Ternyata istriku tidak se-polos yang aku kira, ya?" bisik Gus Azkar dengan seringai yang membuat bulu kuduk Rina meremang. "Kalau kamu suka menontonnya, kenapa sekarang malah takut? Bukankah sekarang kamu sudah punya 'praktik' yang nyata di depan matamu?"
Gus Azkar menatap bibir Rina yang bergetar. Rasa syoknya tadi kini berubah menjadi gairah yang semakin memuncak. Ternyata Rina jauh lebih menantang dari yang ia duga.
"Mas... Mas Azkar jangan gitu..." Rina menelan ludah, benar-benar tidak bisa lagi membela diri.
"Kenapa? Kamu yang mulai dengan baju dinas dan koleksi videomu ini, Rina. Sekarang, biar saya yang selesaikan," ujar Gus Azkar seraya menunduk, wajahnya semakin dekat, siap untuk memberikan pelajaran nyata yang jauh lebih "panas" daripada video apa pun yang pernah Rina tonton.
Rina tertawa kecil melihat ekspresi suaminya yang sudah sangat gemas itu. Dengan gerakan lincah, ia memanfaatkan celah saat Gus Azkar sedikit melonggarkan kunciannya untuk mendorong pelan dada bidang suaminya.
"Eh, sabar dulu, Mas... Jangan terburu-buru," ucap Rina dengan nada menggoda yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Gus Azkar yang sudah berada di puncak keinginannya sedikit tersentak. Ia tidak menyangka Rina yang tadi sangat ketakutan sekarang bisa bersikap seberani itu setelah rahasianya terbongkar. Senyum tipis yang tersungging di bibir Rina benar-benar menjadi senjata yang lebih mematikan daripada baju tipis yang ia kenakan.
"Mau kabur lagi, hah?" tanya Gus Azkar dengan nada menantang, matanya berkilat penuh gairah yang tertahan.
Rina tidak menjawab. Ia justru memberikan kerlingan nakal sebelum berbalik dan berlari kecil menuju sisi lain kasur. Gaun tidurnya yang pendek melambai-lambai, memperlihatkan jenjang kakinya yang putih mulus. Kesadaran Rina sudah pulih sepenuhnya, dan ia menyadari bahwa ia memegang kendali atas situasi ini sekarang.
"Mas Azkar katanya ustadz yang paling sabar di pondok, kok sekarang nggak sabaran?" canda Rina dari balik kasur, nafasnya sedikit memburu namun wajahnya menunjukkan keceriaan.
.Gus Azkar melepaskan sorban yang masih melingkar di lehernya, lalu membukanya perlahan. Ia tidak marah, justru ia menikmati permainan ini. Baginya, melihat sisi Rina yang nakal seperti ini jauh lebih menyenangkan daripada melihat istrinya terus-menerus menangis ketakutan.