Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Kenzo nggak langsung melepas rangkulannya.
Justru makin erat, seolah sengaja nunjukin ke siapa pun yang masih melirik ke arah mereka.
Beberapa anak di lorong langsung saling pandang.
Ada yang berbisik, ada yang pura-pura nggak lihat tapi jelas kepo.
“Nay,” Kenzo manggil pelan.
“Hm?” Naya menoleh.
“Kalo ada yang bikin lo nggak nyaman,” suara Kenzo turun, tegas tapi tetap lembut,
“itu urusan gue sekarang.”
Naya menatap Kenzo. Ada sesuatu di matanya—bukan godaan, bukan main-main.
Protektif. Nyata.
“Lo nggak capek?” tanya Naya lirih.
“Pasang badan mulu.”
Kenzo nyengir tipis.
“Capek kalo nggak penting.”
“Lo penting.”
Deg.
Jantung Naya langsung lari nggak karuan.
Bel masuk berbunyi, memecah suasana.
Kenzo akhirnya menurunkan tangannya, tapi jemarinya sempat nyenggol tangan Naya—sengaja.
“Kelas lo,” kata Kenzo.
“Nanti gue jemput.”
“Hah? Kenapa harus—”
Kenzo mencondongkan badan sedikit, cukup dekat buat bikin Naya refleks mundur setengah langkah.
“Soalnya sekarang gue males kalo lo jalan sendirian.”
Dari ujung lorong, Reno melirik sekilas.
Alisnya naik, curiga.
Kenzo santai mengangkat tangan, kode aman.
Reno mendengus tapi lanjut jalan.
Naya berdiri bengong beberapa detik sebelum sadar.
‘Ini cowok… udah nggak malu-malu lagi,’ batinnya.
Dan yang bikin makin kacau—
Dia nggak keberatan. Sama sekali.
Di dalam kelas, Naya duduk sambil menatap buku kosong.
Bayangan Kenzo pasang badan barusan terus muter di kepalanya.
‘Ini bahaya,’ pikirnya.
‘Tapi kenapa gue ngerasa… dilindungi?’
Sementara itu, di luar kelas, Kenzo bersandar di dinding lorong.
Tatapannya dingin saat melihat Arsen dari jauh.
Pelan, nyaris nggak kedengeran, Kenzo bergumam:
“Selama dia sama gue,
jangan ada yang berani ganggu.”
Arsen nggak langsung pulang.
Dari seberang lapangan, matanya masih ngikutin Naya yang keluar kelas sendirian buat ke perpustakaan.
“Nay,” Arsen nyamperin lagi, kali ini nadanya lebih rendah.
“Kita ngobrol bentar. Berdua.”
Naya berhenti.
“Gue udah bilang—”
Belum sempat selesai, satu tangan lebih dulu nyelip di antara mereka.
Kenzo.
Datangnya tenang. Terlalu tenang buat ukuran cowok yang jelas-jelas lagi naik api.
“Berdua?” Kenzo mengulang pelan, senyum tipis tapi dingin.
“Kayaknya nggak.”
Arsen mendengus.
“Ini urusan gue sama Naya.”
Kenzo geser setengah langkah, posisinya sekarang tepat di depan Naya.
Bahu Kenzo sedikit nyenggol dada Arsen—nggak keras, tapi cukup buat jadi peringatan.
“Sekarang jadi urusan gue.”
Naya refleks megang ujung jaket Kenzo dari belakang.
Jantungnya deg-degan bukan karena takut—tapi karena cara Kenzo berdiri, pasang badan penuh.
“Ken—” Naya mau ngomong.
Kenzo angkat satu tangan, tanpa nengok.
“Tenang.”
Lalu matanya balik ke Arsen.
“Gue nggak peduli lo suka sama dia dari kapan,” suara Kenzo datar.
“Tapi denger baik-baik.”
Kenzo mendekat sedikit.
“Naya itu bukan opsi. Bukan rebutan. Dan jelas bukan buat lo tekan-tekan.”
Arsen mencibir.
“Lo emang siapa?”
Kenzo tersenyum kecil—bahaya.
“Yang dia pilih.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Tapi efeknya keras.
Kenzo lalu melakukan sesuatu yang bikin sekitar langsung hening.
Tangannya meraih tangan Naya.
Bukan narik. Bukan maksa.
Cuma menggenggam—jelas, tegas, publik.
“Nay,” Kenzo menoleh ke Naya, suaranya langsung berubah lembut.
“Lo mau ikut gue?”
Naya nggak ragu kali ini.
“Iya.”
Kenzo menatap Arsen terakhir kali.
“See?”
Arsen terdiam. Rahangnya mengeras, tapi langkahnya mundur setengah.
“Gue nggak nyerah,” Arsen menggeram.
Kenzo cuma tertawa pelan.
“Silakan.”
“Tapi jangan ganggu milik gue.”
Milik.
Kata itu bikin Naya kaget.
Tapi anehnya… dia nggak menarik tangannya.
Mereka jalan pergi.
Kenzo nggak melepas genggaman itu sampai benar-benar jauh.
“Nekat amat lo,” Naya akhirnya ngomel lirih.
Kenzo melirik, senyum santai balik muncul.
“Lo aman?”
Naya mengangguk.
“Yaudah.”
“Itu tugas gue.”
Naya menelan ludah.
“Lo barusan… nge-claim gue.”
Kenzo berhenti jalan. Menunduk sedikit, sejajar sama mata Naya.
“Gue tau,” katanya pelan.
“Dan gue nggak akan tarik kata-kata gue.”
Deg.
Bahaya.
Serius.
Dan entah kenapa… bikin Naya ngerasa dipilih.
Naya duduk diam di bangku taman sekolah, tasnya masih dipeluk seperti tameng.
Matanya kosong, tapi napasnya berat.
Kenzo datang tanpa suara.
Nggak langsung duduk.
Nggak nanya apa-apa.
Dia cuma berdiri di samping Naya sebentar, lalu pelan-pelan duduk.
Jarak mereka dekat… tapi aman.
Beberapa detik hening.
Angin geser rambut Naya ke wajahnya.
Kenzo refleks mengangkat tangan—berhenti di tengah jalan—lalu menurunkannya lagi.
Dia memilih cara yang paling pelan:
menggeser bangkunya setengah senti lebih dekat.
“Nay,” suaranya rendah, lembut.
“Kalau capek… nggak apa-apa diem.”
Naya nggak jawab.
Tapi bahunya turun sedikit, seolah kalimat itu membuka kunci yang ketat.
Kenzo meletakkan tangannya di bangku, telapak menghadap atas.
Nggak memaksa.
Nggak meminta.
Beberapa detik kemudian, jari Naya bergerak.
Ragu.
Lalu menyentuh ujung jarinya.
Kenzo nggak menggenggam.
Dia cuma membiarkan.
Seolah berkata: aku di sini. segini aja cukup.
Naya menunduk, napasnya gemetar.
“Ken…”
“Iya,” jawab Kenzo cepat.
Bukan menyela.
Menjawab sebelum Naya sempat takut ditinggal.
Mereka diam lagi.
Tapi kali ini, sunyinya nggak dingin.
Kenzo sedikit mencondongkan tubuhnya, cukup dekat sampai bahu mereka bersentuhan.
Hangat.
Tenang.
Naya bersandar.
Pelan.
Seolah takut dunia pecah kalau terlalu berat.
Kenzo menahan napas, lalu menghembuskannya pelan.
“Tenang,” bisiknya.
“Ada gue.”
Dan untuk pertama kalinya hari itu,
Naya merasa…
boleh lelah.
boleh rapuh.
boleh disandari.
Hujan turun pelan, ngetuk jendela kamar Naya dengan ritme tenang. Lampu kamar diredupkan, cuma nyala lampu meja yang bikin bayangan lembut di dinding. Naya rebahan setengah duduk, selimut ditarik sampai dada, ponsel disandarkan di bantal.
Layar menampilkan wajah Kenzo. Rambutnya masih sedikit basah, kaos hitam, ekspresi capek tapi senyum nggak pernah absen.
“Belum tidur?” suara Kenzo rendah, lembut.
“Belum. Hujannya bikin susah merem,” Naya ngedumel kecil.
Kenzo nyengir. “Atau karena lo nungguin gue?”
Naya mendengus pelan. “Ge-er.”
“Padahal iya,” Kenzo balas cepat, nadanya playful.
Naya memutar mata, tapi senyumnya nggak bisa disembunyiin. Di luar kamar, suara langkah Mommy sempat terdengar. Naya otomatis mengecilkan volume, refleks yang sudah mendarah daging.
Kenzo tertawa pelan, ditahan. “Tenang. Gue anak baik.”
“Hah,” Naya nyengir sinis.
Kenzo mendekatkan wajah ke kamera. “Gue cuma mau pastiin lo aman, hangat, sama nggak mikirin yang bikin capek.”
Naya terdiam sebentar. Hujan makin deras. “Sok dewasa deh.”
“Tapi suka,” jawab Kenzo santai.
Naya menarik selimut lebih tinggi. “Ken… makasih ya.”
“Makasih kenapa?”
“Udah nemenin. Padahal kamu juga capek.”
Kenzo menghela napas kecil, senyumnya melembut. “Kalau aku capek, justru kamu obatnya.”
Naya mencubit bantal. “Gombal.”
“Tapi mujarab.”
Hening sebentar. Cuma suara hujan dan napas mereka. Kenzo memperhatikan layar, matanya fokus ke Naya.
“Dingin?” tanyanya.
“Sedikit.”
Kenzo mengangkat bahu. “Kalau aku di situ, aku pinjemin jaket.”
“Bohong. Jaket kamu pasti kamu ambil lagi.”
“Enggak,” Kenzo tertawa. “Aku bakal bilang: ‘Pakai aja. Aku kuat.’”
Naya mendengus, tapi matanya menghangat. “Ken…”
“Hm?”
“Jangan kemana-mana ya.”
Nada Naya pelan, hampir tenggelam sama hujan.
Kenzo berhenti bercanda. Suaranya jadi serius tapi tetap lembut.
“Aku di sini. Dan kalau ada yang macem-macem, aku pasang badan. Tapi ke kamu… aku gak pergi.”
Naya menelan ludah, jantungnya berisik sendiri.
“Tidur, Nay,” lanjut Kenzo. “Gue temenin sampai lo beneran merem.”
Naya menggeser posisi, memeja
mkan mata. “Kalau gue ketiduran duluan?”
Kenzo tersenyum kecil. “Berarti tugas gue berhasil.”
Hujan terus turun. Layar masih menyala. Kenzo tetap di sana—diam, jagain, tanpa perlu banyak kata.
Malam turun pelan, hujan masih setia jatuh di luar jendela kamar Naya. Lampu kamar diredupkan, hanya cahaya layar ponsel yang menyala hangat di wajahnya.
Di layar, Kenzo bersandar di bantal, hoodie hitamnya agak kebesaran.
“Ngantuk?” tanyanya, suaranya rendah tapi lembut.
Naya menggeleng kecil, meski matanya sudah setengah terpejam.
“Enggak… dikit doang,” jawabnya ngotot.
Kenzo senyum, senyum yang keliatan jelas meski cuma lewat layar.
“Dikit tapi kelopaknya udah berat gitu?” godanya.
Kenzo langsung angkat tangan.
“Okay, okay. Mode anak baik,” katanya playful. “Tidur. Aku di sini.”
Naya nggak jawab lagi. Napasnya mulai teratur, bulu matanya jatuh sempurna. Beberapa detik kemudian, layar hanya menampilkan wajah tidur yang tenang—rapuh tapi cantik.
Kenzo menatap lama. Tangannya refleks mengambil screenshot.
Cantik.
Dari segi mana pun, tetap cantik.
Ia tersenyum kecil, suaranya hampir cuma jadi bisikan, takut kalau-kalau hujan pun bisa iri.
“Nice dream, my princess.”
Ponsel tetap di genggamannya, layar masih menyala, seolah ia berniat berjaga sampai pagi—meski hanya lewat jarak dan sinyal.
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...