Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Arion terus memikirkan pertanyaan Lydia. Ia tidak sempat menjawab saat itu, karena tidak lama pintu lift terbuka dan Lydia langsung keluar dari lift.
Kini, Arion sedang berada di ruang tengah apartemennya, menonton berita yang disiarkan salah satu stasiun televisi. Namun, meskipun sedang menonton berita, pikirannya tertuju pada Lydia.
"Kamu berhak, sangat berhak," gumamnya, berharap Lydia mendengarnya.
Lydia atau siapapun itu memiliki hak untuk protes saat menerima ketidakadilan, karena keadilan milik semua orang, tanpa peduli status ataupun latar belakang keluarga.
"Saya tidak akan memecatmu, kalau saya tahu kamu tunangan Marvin," lanjutnya.
Ibunya pemilik sebagian warisan keluarga Adhivara. Ayahnya pewaris tunggal keluarga Wijaya. Namun, ia tidak pernah diajarkan memakai kekuasaan dan nama besar keluarga untuk menindas orang lain.
Andai ia tahu Marvin sudah lebih dulu bertunangan dengan Lydia sebelum pacaran dengan Airin, ia pasti tidak akan memecat Lydia.
"Mamah pasti kecewa kalau tahu ini," Arion masih terus bicara sendiri. Ia tidak bisa berhenti memikirkan kesalahannya terhadap Lydia sejak seminggu ini.
"Oh ya, Lydia tinggal di samping apartemenku, tapi kenapa aku tidak pernah melihat dia, ya?" gumamnya baru kepikiran hal itu.
Baru minggu lalu Arion mengetahui Lydia tinggal di samping apartemennya, tapi ia tidak pernah sekali pun berpapasan dengan perempuan itu. Ia lebih sering melihat mobil Audi Lydia di pakiran, dibandingkan melihat si pemilik mobil.
Tepat saat Arion sedang memikirkan ke mana Lydia, televisi menyiarkan berita tentang seorang perempuan yang mengakhiri hidupnya sendiri setelah putus cinta. Melihat berita tersebut membuatnya teringat dengan Lydia yang baru mengakhiri hubungan dengan Marvin.
"Tidak mungkin kan kalau Lydia..." ucap Arion menggantungkan kalimatnya.
Memikirkan kemungkinan Lydia mengakhiri hidup karena hubungan kandas dan kehilangan pekerjaan, membuatnya refleks beranjak dari tempat duduknya.
"Aku harap Lydia tidak melakukan hal bodoh," ujarnya sambil berjalan keluar dari apartemennya, lalu bergegas menuju unit apartemen Lydia.
Begitu tiba di sana dan tanpa berpikir panjang, ia langsung membunyikan bel. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan saat Lydia keluar nanti, tapi yang terpenting ia bisa melihat Lydia baik-baik saja.
"Kenapa Lydia tidak keluar?" keluhnya sambil terus membunyikan bel dan sesekali mengetuk pintu.
Ia masih ingat jeritan frustasi Lydia di parkiran dan betapa hancurnya perempuan itu saat mereka berada dalam lift yang sama. Ia khawatir Lydia benar-benar melakukan hal bodoh di dalam apartemen.
"Lydia, ayolah. Tolong buka pintunya," lirihnya, bahkan matanya sudah berkaca-kaca karena khawatir.
"Maaf... maafkan saya," sesalnya. Tangannya berhenti menekan bel dan mengetuk pintu, karena merasa usahanya agar Lydia keluar percuma.
Saat Arion mulai putus asa dan berpikir telah terjadi sesuatu di dalam, sebuah suara terdengar dari belakang tubuhnya.
"Kenapa Anda di sini?" tanya Lydia bingung melihat Arion di depan apartemen.
Ternyata Lydia baik-baik saja. Alasannya tidak membuka pintu karena memang tidak ada di apartemen. Ia baru pulang setelah seminggu liburan bersama sahabatnya.
Lydia memang sedih dan hancur atas semua yang terjadi, tapi ia tidak tenggelam dalam kesedihannya dan memilih pergi liburan.
Arion langsung berbalik begitu mendengar suara Lydia. Ia merasa lega melihat perempuan itu baik-baik saja, bahkan tanpa sadar air matanya menetes.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja," ujarnya lega, lalu tubuhnya bergerak begitu saja memeluk Lydia.
Lydia tentu saja terkejut. Mereka tidak cukup dekat untuk saling berpelukan, terlebih ia hanya mantan karyawan dan Arion keponakan bosnya.
"Anda kenapa?" kata Lydia tercekat. Ia melirik Rina, sahabatnya, seolah sedang meminta bantuan agar Arion melepaskan pelukan itu.
Sayangnya, Rina tidak melakukan apa-apa, selain diam memandangi mereka. Ia tampak terkejut dengan pemandangan yang dilihat matanya.
"Maaf... maafkan saya," ucap Arion tanpa melepaskan pelukannya. Ia terlalu khawatir sampai tidak sadar telah memeluk erat tubuh Lydia.
"Saya tahu saya salah, seharusnya saya tidak asal memecat kamu," tambahnya.
Adegan itu disaksikan oleh Calvin yang datang ke sana menemani istrinya. Istri Calvin, Aletta, bersahabat dengan Lydia. Tadinya, mereka berniat mampir sebentar ke apartemen Lydia untuk memakan makanan yang mereka beli di perjalanan. Namun, tidak disangka mereka malah menyaksikan Arion yang tiba-tiba saja memeluk Lydia.
"Iya, tapi bisa tolong lepas dulu pelukannya?" pinta Lydia merasa sesak.
Bukan sekadar karena Arion memeluknya, tapi karena ia tahu Calvin sedang melihat mereka.
"Minta maaf saja sudah cukup, tidak perlu sampai pelukan," bukan Lydia yang bicara, melainkan Calvin.
Arion langsung melepas pelukannya saat mendengar suara Calvin. Ia mendadak seperti orang linglung melihat pamannya, dan bahkan bibinya juga ada di sana melihatnya memeluk Lydia.
"Kenapa Paman dan Bibi di sini?" tanya Arion spontan saat melihat ada Calvin dan juga Aletta.
"Kami mau mampir ke apartemen Lydia, sekalian paman mau ke apartemen kamu katanya," jawab Aletta, sementara Calvin hanya menatap keponakannya itu.
Calvin tahu Arion sudah menginjak usia dewasa, tapi ini pertama kalinya ia melihat keponakannya memeluk perempuan.
"Kamu sudah dewasa, ya?" tanya Calvin tiba-tiba, disertai sebuah senyuman.
Arion berdeham. Ia mengerti pamannya mengatakan itu karena tadi ia memeluk Lydia.
Selama ini, Arion tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Bahkan, setiap kali anak perempuan Haikal datang ke rumah dan mengajaknya bicara, ia selalu mengabaikannya.
Arion juga tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya. Tadi, tiba-tiba saja ia ingin memeluk Lydia setelah melihat perempuan itu baik-baik saja.
"Ah, aku lapar. Lebih baik kita masuk sekarang," ajak Aletta berusaha mencairkan suasana.
Ia tidak bisa terus berada di situasi tidak nyaman hanya karena Arion memeluk Lydia. Ia tahu betul semua orang terkejut sekarang, tapi anggap saja itu hanya sebuah kecelakaan kecil.
"Kamu juga ikut, Kak. Kebetulan sekali kamu ada di sini, tadi Paman baru saja memberi makanan kesukaan kamu," ujarnya pada Arion.
Arion tidak menanggapi. Hubungannya dengan istri pamannya cukup baik, namun ia tidak bisa bergabung dengan para orang dewasa itu. Apalagi setelah yang ia lakukan pada Lydia.
"Kenapa Lydia diam saja?" gumamnya dalam hati.
Seharusnya, perempuan itu melakukan sesuatu, bahkan Arion terima kalau Lydia menamparnya karena sudah sembarangan memeluk. Namun, yang perempuan itu lakukan hanya diam.
"Kak Lydia juga pasti tidak keberatan kamu gabung bersama kita," ucap Aletta sambil melirik Lydia sejak tadi diam.
"Iya, kak Lydia pasti tidak keberatan," ucap Rina, akhirnya bersuara.
Ia tidak memikirkan apa pun saat Arion memeluk Lydia. Alasannya diam hanya karena terlalu terkejut melihat adegan yang terjadi di depannya.
Lydia sudah cerita tentang dirinya yang dipecat oleh Arion pada Rina maupun Aletta, lalu sekarang tiba-tiba saja Arion memeluk Lydia.
Melihat Lydia diam, Rina tidak bisa menahan diri dan langsung mencubit lengannya pelan. Ia tahu Lydia sedang berhadapan dengan orang yang sudah memecatnya, tapi bukan waktunya untuk melamun di situasi seperti ini.
"Oh ya, tentu saja. Tidak mungkin juga saya merasa keberatan," sahut Lydia begitu tersadar dari lamunannya.
Sebenarnya, Lidya tidak bermaksud apa pun mengatakan itu, namun Arion mengartikannya lain.
"Kamu bisa nolak kalau memang kamu tidak suka dengan kehadiran saya, Lydia," ujar Arion dalam hati.
Ia mengerti jika Lydia tidak menginginkan kehadirannya, kesalahannya memang tidak semudah itu dimaafkan.