"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Jantung Seruni berdetak tidak karuan. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat ia tiba di rumah orang tua nya nanti. Selama menikah, ia tidak pernah pulang. Sibuk mengurus suami, keluarga nya dan juga anak-anak nya sendiri.
Entah apa yang dikatakan Hamdan saat bertemu dengan kedua orang tua nya. Seruni begitu kesal karena Hamdan malah membawa masalah mereka pada orang tua yang kini tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
Ya. Mereka memang orang tua nya Seruni. Namun, mereka juga tidak bersalah dalam hal ini. Seruni dan Hamdan bercerai karena banyak hal yang di timbulkan oleh Hamdan. Seruni sudah tidak sanggup lagi untuk menahan semua nya sendirian.
Setelah lama mereka berada di dalam perjalanan, akhirnya rumah orang tua Seruni terlihar dari jauh. Mobil milik Hamdan pun sudah berada di sana.
"Apa kakak tidak mau turun?" Tanya Adel yang melihat Seruni yang masih saja terdiam.
"Entah lah. Kakak takut bang Hamdan berbicara yang tidak-tidak pada orang tua kakak."
"Kak, kalau kakak tidak berani, biar Adel yang menemani. Kita ajak anak-anak juga untuk bertemu dengan kakek dan juga nenek nya. Bagaimana? Pasti mereka sangat merindukan cucu-cucu mereka. Apalagi kakak sudah lama tidak bertemu dengan orang tua kakak."
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita turun.. Anak-anak, ini adalah rumah kakek dan nenek dari ibu."
Seruni dan yang lainnya pun turun. Hanya Pak Adam yang masih berada di dalam mobil. Tidak enak rasa nya jika pria itu turun. Takut nya nanti akan merepotkan Seruni.
Seruni masuk dan mengucapkan salam. Ternyata kedua orang tua nya sedang duduk berhadapan dengan Hamdan di kursi tua yang ada di rumah tamu.
"Assalamualaikum, Mak. Bapak. Ini Runi. Runi pulang bawa anak-anak." Ucap nya dengan suara bergetar.
"Tu dia orang nya, Pak. Perempuan tidak bersyukur. Dia terlalu pencemburu dan tidak becus. Masih berani nya dia menceraikan saya." Ucap Hamdan dengan nada ketus. Adelia ingin sekali menjawab. Namun, ia tahu saat ini, ia tidak bisa ikut campur.
Bapak nya Seruni masih diam dan menunduk. Sedangkan Mak nya hanya menangis dan terus menatap Seruni dan anak-anak nya.
"Nenek, kakek." Ucap anak ke empat Seruni yang bernama Sari.
Anak berumur tiga tahun itu langsung menghampiri Mak nya Seruni dan memeluk wanita tua itu dengan penuh kasih sayang.
"Iya cucu nenek. Siapa nama kamu?"
"Nama tu Cari nek."
"Cari?"
"Bukan, nek. Sari. Tapi adek belum bisa bilang S." Rima pun menimpali.
"Oh begitu. Yaudah, sini sama nenek."
Ke empat anak-anak itu menghampiri Mak nya Seruni dan duduk di samping beliau. Ia ciumi satu persatu cucu-cucu nya itu dengan penuh kasih sayang.
"Jadi, kedatangan nak Hamdan ke sini hanya untuk menghina anak saya?"
Hamdan terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Bapak nya Seruni. Sejak tadi, beliau hanya diam saja dan menunduk. Hamdan mengira jika pria tua itu sangat malu.
"Bukan begitu, Pak. Tapi apa yang saya katakan, memang benar ada nya."
"Benar apa yang dikatakan oleh Hamdan, Seruni?"
"Itu tidak benar, Pak. Selama ini, aku sudah menjadi istri yang baik untuk nya. Hanya karena aku terus melahirkan anak perempuan, ia marah pada ku dan terus menyuruh ku hamil hingga memiliki anak laki-laki. Asal bapak tahu, dua anak ku meninggal dunia karena Bang Hamdan yang membu-nuh nya."
"Apa?"
"Tidak. Aku tidak membunuh mereka. Anak itu meninggal tenggelam di pantai. Dan yang satu lagi meninggal ketika di lahirkan."
"Tapi saat itu, Bang Hamdan sibuk berpacaran dengan janda di pantai. Anak-anak ku yang masih kecil, sama sekali tidak di awasi dalam bermain. Bang Hamdan yang sibuk pacaran dengan janda itu juga tidak memperdulikan aku yang mau melahirkan. Dan akhir nya,.."
Seruni tidak bisa lagi melanjutkan perkataan nya. Ia terlalu sakit. Tanpa di duga, Rima anak sulung nya yang tiba-tiba saja menceritakan bagaimana perlakuan Ayah mereka selama di rumah.
Mak nya Seruni hanya bisa mengurut dada saat tahu bagaimana anak satu-satunya di perlakukan.
"Jadi, apa kalian akan bercerai?"
"Itu benar, Pak. Aku ingin bercerai dari Bang Hamdan. Aku sudah tidak sanggup lagi."
"Dan kau Hamdan?"
"Aku......"
"Sejak awal, aku memang tidak pernah setuju kau menikah dengan anak ku. Dia kembang desa. Banyak yang menyukai dan mencintai dia. Kau dulu hanya lah orang miskin. Kau kaya karena menikah dengan anak ku. Tapi sekarang, kau malah menginjak-injak harga diri nya dengan cara seperti ini. Seruni, cepet berpisah dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab ini. Bapak tidak sudi dia jadi menantu kami."
"Bapaaaak."
Seruni memeluk Bapak nya sambil menangis. Ia tidak menyangka jika Bapak nya mau membela diri nya.
"Tapi, Pak. Anda tidak bisa begitu. Anda telah membela anak anda yang salah."
Hamdan masih saja tidak terima dengan perlakuan keluarga Seruni. Saat ini, Mak nya Seruni malah membuang muka dan tidak ingin lagi melihat wajah Hamdan.
"Walaupun Seruni salah, dia tetap lah anak ku. Bukan kah keluarga mu juga begitu? Pergi lah dari sini. Aku muak melihat wajah munafik mu. Dan kau Seruni, jika saja saat itu kau tidak menikah dengan nya, pasti saat ini kau sudah bahagia dengan pilihan Bapak."
"Maafkan aku, Pak."
Seruni terdiam dan menunduk. Setidak nya ia bisa lega karena orang tua nya tidak memihak Hamdan. Pria itu langsung pergi tanpa berpamitan. Rencana nya gagal kali ini. Padahal ia berharap jika orang tua nya Seruni mau membujuk anak mereka untuk tidak bercerai.
Sebelum pergi, Hamdan sempat melihat sebuah mobil yang sangat ia kenal. Mobil itu sering di pakai oleh bos nya. Ia ingin melihat siapa yang ada di dalam mobil. Namun, panggilan dari ponsel nya membuat nya segera pergi dari sana.
Sesudah Hamdan pergi, Seruni langsung memeluk kedua orang tua nya dan menumpah kan segala rasa sakit yang selama ini ia rasakan.
Ia pun mulai menceritakan semua penderitaan nya selama menjadi istri Hamdan. Kedua orang tua nya hanya mendengar dan sesekali berterima kasih pada Adelia yang selama ini sudah membantu anak nya.
"Bu, Pak. Bagaimana kalau Ibu dan Bapak ke kota ikut kami. Aku ingin membawa Ibu dan Bapak ke sana."
"Hmmm, kami sih tidak masalah. Hanya saja, apa tidak merepotkan mu?"
"Tidak sama sekali. Aku malah senang. Apalagi anak-anak. Di sana, aku tidak was-was lagi dengan kalian."
"Baiklah kalau begitu. Kami akan ikut kamu, nak."
bersinar 😮