Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 ( fourteen)
Suara tembakan pertama dari pistol Siska menghantam bingkai pintu tepat di samping kepala Teguh. Phut! Suaranya teredam, namun serpihan kayu yang terpental menunjukkan betapa mematikannya peluru itu.
"Lompat, Teguh! Sekarang!" teriak Ratna.
Tanpa sempat berpikir dua kali, Ratna menghantamkan kursi besi ke arah jendela kaca besar di belakang mereka. Kaca tempered itu pecah menjadi ribuan kristal kecil yang berkilauan. Di bawah sana, sebuah truk tronton bermuatan karung-karung pupuk organik sedang melintas perlahan.
Ratna dan Teguh meluncur ke udara, jatuh bebas dari ketinggian sepuluh meter sebelum mendarat dengan dentuman keras di atas tumpukan karung pupuk yang empuk namun berbau menyengat. Punggung Ratna terasa berderak, namun adrenalin menghapus rasa sakitnya seketika.
"Teguh! Kau aman?" Ratna merangkak di atas tumpukan karung sambil menoleh ke atas. Di jendela lantai tiga, siluet Siska berdiri diam, menatap mereka dengan tatapan yang dingin, seolah sedang melihat mangsa yang hanya tinggal menunggu waktu untuk ditangkap.
"Aman, Bu! Tapi truk ini menuju ke arah dalam perkebunan, bukan keluar!" sahut Teguh seraya memeriksa senjatanya yang tersembunyi di balik kemeja.
Benar saja, truk itu berbelok masuk ke jalur inspeksi yang dikelilingi oleh ribuan pohon sawit yang identik satu sama lain. Di belakang mereka, suara sirine mulai bersahut-shutan. Dua mobil off-road hitam milik keamanan Agro-Santara muncul dari arah gerbang belakang, mengejar dengan kecepatan tinggi.
"Ratna, dengarkan aku!" suara Hendra terdengar pecah di earpiece. "Kalian menuju ke Sektor 4. Itu area rawa yang belum dibuka sepenuhnya. Aku akan meretas sistem navigasi truk itu untuk membuatnya berhenti di titik koordinat yang aman. Kalian harus turun dan masuk ke dalam blok sawit sebelum mobil pengejar mengepung kalian!"
"Lakukan, Hendra!" jawab Ratna.
Truk itu tiba-tiba mengerem mendadak, membuat karung-karung pupuk bergeser. Ratna dan Teguh melompat turun dan langsung berlari masuk ke dalam barisan pohon sawit. Di sini, sinar matahari sulit menembus kanopi daun sawit yang rapat, menciptakan suasana remang-remang yang membingungkan.
"Teguh, kita berpencar dua jalur lalu bertemu di titik jam dua belas!" perintah Ratna.
Mereka bergerak lincah di antara batang-batang sawit yang kasar. Namun, musuh mereka bukan amatir. Para pengejar turun dari mobil dan melepaskan dua ekor anjing pelacak jenis Belgian Malinois yang langsung menyalak ganas, mencium aroma "tamu tak diundang" di wilayah mereka.
DOR! DOR!
Tembakan laras panjang mulai menyalak dari kejauhan, menembus pelepah-pelepah sawit.
"Bu! Di depan ada parit besar!" teriak Teguh.
Mereka sampai di tepi parit pembuangan air yang lebar dan dalam. Airnya berwarna cokelat pekat dan berbau bahan kimia pertanian. Tidak ada jalan memutar. Ratna melihat ke belakang para pengejar sudah terlihat sekitar seratus meter di belakang mereka, dipimpin oleh seorang pria bertubuh raksasa dengan luka parut di wajahnya kepala keamanan yang dikenal sebagai Si Jagal.
"Masuk ke air!" perintah Ratna.
Mereka menceburkan diri ke dalam parit, menggunakan akar-akar pohon sawit di pinggiran untuk berpegangan. Mereka membenamkan tubuh hingga hanya hidung yang muncul di permukaan. Beberapa saat kemudian, rombongan Si Jagal sampai di tepi parit.
"Mereka tidak mungkin melompat ke seberang," suara Si Jagal terdengar berat dan parau tepat di atas kepala mereka. "Anjing-anjing ini kehilangan jejak di sini. Mereka pasti ada di dalam air."
Ratna menahan napasnya, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa suaranya bisa terdengar oleh orang di atasnya. Seekor anjing pelacak menggonggong tepat di depan wajah Ratna yang tertutup dedaunan air yang membusuk.
Tiba-tiba, sebuah suara ledakan terdengar dari arah gedung administrasi yang mereka tinggalkan tadi. Asap hitam membubung tinggi di kejauhan.
"Perhatian seluruh unit! Sektor gudang meledak! Segera kembali dan amankan area dokumen!" suara dari radio panggil Si Jagal berbunyi.
Pria raksasa itu mengumpat keras. "Sial! Ini pengalihan! Tinggalkan parit ini, kita kembali ke gedung utama! Cepat!"
Suara langkah kaki menjauh. Ratna dan Teguh perlahan muncul ke permukaan, terengah-engah menghirup oksigen.
"Hendra... itu kau?" tanya Ratna lewat mikrofonnya yang sudah basah.
"Ya, Bu. Aku meledakkan tangki pemanas di ruang kantin lewat sistem kontrol jarak jauh. Itu akan memberi kalian waktu sepuluh menit untuk mencapai batas hutan di ujung perkebunan. Tapi cepatlah, Siska tidak akan tertipu lama."
Ratna membantu Teguh naik dari parit. Tubuh mereka kini kotor oleh lumpur dan bau pupuk, namun mata mereka menyala. Di tangan Ratna, kepingan logam 'S' itu masih tergenggam erat kunci yang baru saja membuka rahasia tentang industri senjata ilegal di tanah air mereka sendiri.
"Teguh, kau dengar apa yang dibilang Hendra soal Project Kemuning?" tanya Ratna sambil terus berlari.
"Industri senjata... itu gila, Bu. Pantas saja Bambang begitu berani. Dia didukung oleh kekuatan yang jauh lebih besar dari sekadar mafia kayu."
"Kita harus membawa data ini ke Jakarta, Teguh. Tapi tidak lewat jalur biasa. Kita akan menemui Jenderal Arman. Dia satu-satunya orang di Mabes yang belum terkontaminasi oleh jaringan Sangkala."
Namun, saat mereka hampir mencapai batas hutan, sebuah helikopter kecil muncul dari balik bukit sawit. Di pintu yang terbuka, Siska berdiri sambil memegang senapan runduk (sniper rifle).
DOR!
Peluru menghantam tanah tepat di depan kaki Ratna, menciptakan lubang kecil yang berasap.
"Maya! Eko! Atau haruskah aku memanggilmu Detektif Ratna?!" suara Siska menggelegar melalui pengeras suara helikopter. "Kalian membawa sesuatu yang bukan milik kalian. Kembalikan kepingan itu, dan aku akan membiarkan kalian mati dengan cepat!"
Ratna menatap ke atas, ke arah moncong senjata Siska. Mereka terjebak di area terbuka tanpa perlindungan.
"Teguh, ambil tas medis di kantongmu!" perintah Ratna tiba-tiba.
"Untuk apa, Bu?"
"Kita akan membuat kabut sendiri."