Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan pada Thaddeus
Brak!
Gelas itu jatuh dan pecah. Suara itu memecah keheningan. Pintu terbuka dengan cepat. Grace berdiri di ambang, matanya tajam seperti pisau.
Dan Thaddeus melihatnya. Wajah mereka saling berhadapan.
Hanya keheningan yang berat.
Thaddeus tahu bahwa ia baru saja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar.
Dan Grace tahu bahwa rahasianya mungkin tidak lagi aman. Untuk beberapa detik, tak satu pun bergerak.
Lalu Grace tersenyum tipis. Senyum yang sama seperti kemarin. Namun kini Thaddeus tahu, itu bukan senyum kebaikan. Itu senyum seseorang yang terpojok dan seseorang yang mungkin akan melakukan apa pun untuk melindungi rahasianya.
Beberapa detik setelah gelas itu pecah, Grace akhirnya berbicara.
"Apa yang dilakukan Pangeran di sini?" tanyanya lembut.
Nada suaranya halus, nyaris ramah. Seolah-olah tidak ada amarah dalam kalimat yang tadi ia ucapkan.
Thaddeus tidak menjawab.
Dadanya naik turun cepat. Telinganya masih berdengung oleh kata-kata yang ia dengar.
"Ia tidak pantas hidup."
Ia ingin berteriak. Ingin menarik Grace dan memaksanya mengulang kalimat itu di depan semua orang tapi tubuhnya kaku.
Grace melangkah satu langkah. "Apakah Pangeran mencari sesuatu?"
Thaddeus mundur selangkah. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari.
Thaddeus berlari hingga menggema di lorong batu, napasnya terengah. Ia tidak peduli jika terlihat seperti pengecut. Yang ia tahu, jika ia tinggal lebih lama di sana, ia mungkin akan melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Di belakangnya, Grace berdiri diam dan wajahnya berubah.
"Kalaupun kau mengadu," gumamnya lirih, "tidak akan ada yang percaya padamu."
Ia tahu Arion. Raja itu sudah memilih sisi dan selama Arion masih membelanya, ia aman.
...****************...
Thaddeus berhenti di aula utama, mencoba mengatur pikirannya. Ia harus memberi tahu ayahnya. Tapi bagaimana jika tidak ada bukti.
Dan ketika ia mencari-cari sosok ayahnya, ia justru menyadari sesuatu.
Castle terasa kosong. Ia bertanya pada pelayan yang lewat.
"Dimana Yang Mulia Raja dan Ratu?"
"Mereka keluar sebentar, Pangeran. Bersama Putri Greta."
Thaddeus terkejut.
"Keluar?" tanyanya
"Iya, Pangeran." jawab pelayan itu
Biasanya Greta bahkan hampir tidak diizinkan untuk keluar dari castle.
Ia berjalan mondar-mandir di aula, gelisah. Waktu terasa lambat. Setiap menit terasa seperti satu jam.
Ketika sore hari, akhirnya pintu besar castle terbuka.
Greta masuk lebih dulu, wajahnya bersinar.
"Kakak!" serunya.
Di belakangnya, Arion berjalan pelan sambil menopang Chelyne. Wajah Ratu terlihat lelah, tapi ada warna yang berbeda di bibirnya, warna itu agak kebiruan.
"Kami hanya berjalan di sekitar castle." kata Arion ketika melihat tatapan Thaddeus.
Greta berlari menghampiri kakaknya. Di tangannya ada seekor capung berwarna merah
"Lihat!" katanya bangga. "Dia teman baru ku!"
Capung itu berkilau di bawah cahaya sore. Sayapnya tipis, transparan, dan bergerak pelan.
Thaddeus menatapnya. Untuk sesaat, semua kekacauan dalam pikirannya terhenti. Ia mengambil capung itu dengan hati-hati. Namun mungkin tangannya terlalu tegang. Capung itu terlepas dan terbang.
Greta menatap ke arah langit, mengikuti bayangan kecil yang menjauh.
Thaddeus pikir adiknya akan marah atau menangis. Tapi Greta hanya tersenyum kecil dan melambaikan tangan.
"Selamat jalan," ucapnya pelan.
Thaddeus menatap adiknya heran.
"Kau tidak marah?"
Greta menggeleng. "Dia mau pergi."
Arion menatap keduanya dengan ekspresi tenang.
"Dia sangat suka keluar." ujar Arion.
Chelyne tersenyum tipis.
"Sudah lama aku tidak berjalan seperti tadi."
Untuk beberapa saat, Thaddeus hampir melupakan apa yang ia dengar di ruang ramuan.
Mereka berjalan masuk ke dalam istana bersama-sama. Di lorong utama, Thaddeus melihat Grace. Ia membawa mangkuk besar di tangannya. Uap tipis mengepul dari dalamnya.
Seperti biasa, itu adalah obat Chelyne.
Langkah Grace teratur, menuju kamar Chelyne. Jantung Thaddeus berdetak keras. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah sedikit ke depan. Ia memajukan satu kakinya hingga Grace tersandung.
Mangkuk itu terlepas dan pecah.
Cairan panas tumpah di lantai batu. Uapnya mengepul cepat, tapi karena masih panas, bau tajamnya belum sempat menyebar.
"Thaddeus!" suara Arion menggelegar.
"Apa yang kau lakukan pada Bibi Grace?!"
Grace terduduk, wajahnya terkejut. Tangannya sedikit memerah karena cipratan panas.
Thaddeus tidak mundur.
"Ada sesuatu yang beracun dalam obat itu!" teriaknya.
"Ia mencampurkan cairan ungu! Aku melihatnya sendiri!"
Lorong menjadi sunyi.
Arion menatap putranya seolah-olah tidak mengenalnya.
"Thaddeus!" katanya dingin.
"Ayah tidak mendengar aku!"
Plak!
Telapak tangan mengenai pipi Thaddeus dan suara itu menggema di lorong batu. Thaddeus mundur satu langkah. Untuk beberapa saat, ia tidak merasakan apa-apa. Lalu pipinya terasa panas dan berdenyut.
Ia menatap ayahnya, tidak percaya.
Arion berdiri tegang, napasnya sedikit tersengal.
"Kau sudah keterlaluan."
Grace menunduk, pura-pura gemetar. Ia segera berlutut, mengumpulkan pecahan mangkuk dan membersihkan cairan yang tumpah sebelum benar-benar menguap.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia," katanya pelan.
"Mungkin Pangeran hanya terlalu cemas."
Thaddeus menoleh ke arah ibunya dan Greta.
Untungnya, mereka sudah berjalan lebih dulu ke kamar. Mereka tidak melihat kekerasan itu.
Ia kembali menatap Arion. Tidak ada lagi kemarahan di matanya. Hanya sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Thaddeus sangat kecewa pada Arion.
Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan pergi, Ia keluar dari istana dengan pikiran kosong.
Ia berhenti di lapangan latihan memanah. Hanya cahaya bulan yang menerangi sasaran kayu. Ia menyalakan satu lilin kecil dan berdiri di sana, sendirian.
Angin malam terasa dingin di pipinya yang masih perih. Ia menarik busur untuk melepaskan kekesalannya
Anak panah menancap tidak tepat di tengah walau dengan tangan gemetar.
...****************...
Di dalam istana, Arion berdiri diam. Ia menatap lantai yang sudah dibersihkan.
"Aku minta maaf," katanya pelan pada Grace.
Grace mengangguk. "Saya mengerti. Ia hanya khawatir pada Ratu."
Arion menghela napas panjang. Ia tidak tahu lagi siapa yang harus ia percaya.
"Saya permisi, Yang Mulia."
Grace menunduk hormat lalu pergi. Begitu ia berbelok ke lorong kosong, wajahnya berubah.
Amarah meledak.
"Anak itu..." desisnya.
Thaddeus bukan lagi ancaman kecil.
Apakah ia harus menyingkirkannya dulu? Atau langsung keduanya saja?
...****************...
Di kamar Ratu, Chelyne sudah tertidur.
Greta meringkuk di sampingnya. Arion berdiri di dekat ranjang, memandang keduanya dalam diam.
Cahaya lilin membuat wajah mereka tampak bersinar.
"Tahun depan Greta sudah lima tahun," gumamnya pelan.
"Ia seharusnya tidur sendiri."
Kalimat itu terdengar sederhana tapi ada sesuatu di baliknya. Waktu berjalan dan anak-anak akan tumbuh.
Arion duduk di kursi dekat ranjang. Ia menutup wajahnya dengan tangan.
Raja itu terlihat lelah bukan sebagai pemimpin, tetapi sebagai seorang ayah yang mungkin telah membuat kesalahan yang tidak bisa diperbaiki dengan mudah.
jangan bilang putrinya dikuring atau diasingkan
kesiann 😭