NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENEMUI SEORANG PANDAI BESI

Vion menatap wajah Meiden dengan rasa iba yang menghujam jantungnya. Gadis mana pun di dunia ini, atau di dunianya yang dulu, pasti akan merasa hancur jika kehilangan orang yang ia cintai, terlebih dalam kondisi berbadan dua dan tanpa perlindungan.

"Meiden, berhentilah menangis. Aku akan membicarakan hal ini dengan Baginda Raja," ucap vion, mencoba memberikan solusi yang menurutnya paling masuk akal. Sebagai seorang pangeran, ia pikir ayahnya bisa memberikan dispensasi.

Namun, Meiden justru menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat, wajahnya yang cantik kini pucat pasi seputih salju.

"Jangan! Jangan pernah katakan ini pada Baginda Raja! Hamba mohon, Yang Mulia! Hamba tidak siap jika harus dihukum di tiang pasung atau dibakar hidup-hidup di alun-alun kota!"

"Apa?! Di tiang pasung?!"

Kini kedua mata vion melotot dengan sangat terkejut. Tubuhnya menegang seketika. Sungguh, ia sama sekali tidak tahu tentang hukum di dunia barunya ini. Ia pikir paling-paling hanya akan diusir, tapi hukuman mati yang kejam? Itu di luar nalar logikanya sebagai orang yang hidup di zaman modern.

"Maksudmu... mereka bisa membunuhmu hanya karena ini?" tanya vion dengan suara tertahan.

"Bukan hanya hamba, Yang Mulia," bisik Meiden dengan nada ngeri.

"Jika Ratu Isabelle tahu hamba mengandung ahli waris yang tidak sah dari rahim seorang pelayan, beliau akan memastikan tidak ada satu pun dari kita yang selamat. Di mata hukum gereja dan kerajaan, ini adalah aib yang hanya bisa dicuci dengan darah."

Vion terduduk kembali ke tepi ranjang. Lututnya terasa lemas. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya terjebak di tubuh seorang pangeran, tapi ia sedang berada di tengah medan perang yang nyawanya bisa melayang kapan saja hanya karena satu kesalahan kecil.

Vion menyadari bahwa ia tidak bisa membawa masalah ini ke ayahnya sekarang tanpa risiko Meiden kehilangan nyawanya.

Meiden mengangguk lemah, jemarinya yang gemetar menyapu sisa air mata di pipi.

"Hamba hanyalah pelayan rendahan, Yang Mulia. Di mata hukum istana, hamba akan dituduh telah menggoda sang Putra Mahkota, calon penguasa masa depan. Jika Anda tidak menikahi hamba secara resmi, hukumannya adalah hukuman pasung di depan publik demi menjaga kehormatan takhta."

Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya.

Begitulah pepatah lama bergema di koridor kastel yang dingin. Sang Raja, ayah Alaric, ternyata memiliki sisi yang mirip dengan anaknya di masa lalu—penuh rahasia dan keputusan yang tak terduga.

Setelah vion melakukan perundingan yang cukup alot dengan sang Raja, sebuah keputusan akhirnya diambil demi meredam skandal yang bisa menghancurkan nama baik dinasti Valerius.

Raja akhirnya menyetujui sebuah ikatan, namun bukan pernikahan agung di katedral utama. Alaric tetap harus menikahi Meiden, tetapi bukan sebagai Permaisuri yang akan duduk di samping singgasana. Madeline dinikahi secara rahasia sebagai istri selir atau morganatic wife bagi Pangeran Alaric.

Vion kemudian menempatkan Meiden di Green Luse Manor, sebuah rumah peristirahatan yang tersembunyi namun indah di pinggiran hutan kerajaan, tepat di dekat sebuah biara kuno yang tenang.

Tempat itu terisolasi dari intrik istana, sebuah sangkar emas yang dibangun vion untuk melindungi nyawa wanita itu dan bayi yang dikandungnya.

Meskipun Meiden kini memiliki status yang lebih tinggi, ia tetap tersembunyi. Di sana, ia tinggal di bawah pengawasan ketat ksatria pilihan vion, jauh dari jangkauan mata tajam Ratu Isabelle.

Baginda Raja tidak akan pernah sanggup menjatuhkan hukuman pasung kepada Meiden. ia tahu betul rahasia kelam di balik silsilahnya sendiri; bahwa darah yang mengalir di tubuh Alaric—dan bahkan keberadaannya di dunia ini—berasal dari benih sang Raja yang dahulu juga pernah tergoda oleh pesona seorang pelayan rendahan, persis seperti apa yang terjadi pada Meiden saat ini. Menghukum Meiden sama saja dengan menghakimi masa lalu dan darah dagingnya sendiri.

Demi menghormati Meiden dan menjaga ketenangan batin wanita itu, vion akhirnya memutuskan untuk "menghilang" sejenak dari hiruk-pikuk istana utama.

 Ia pindah ke Green Luse Manor selama beberapa hari, memilih untuk mengabaikan segala protokol kerajaan.

Ia tidak menampakkan batang hidungnya dalam pertemuan politik penting yang sedang diadakan oleh Baginda Raja bersama para menteri dan Dewan ksatria di balairung kastel.

Kursi kebesaran sang Pangeran dibiarkan kosong, memicu desas-desus di kalangan bangsawan.

Vion memilih untuk berdiam diri di rumah peristirahatan yang tenang itu bersama Meiden. Di sana, hanya ada mereka berdua ditemani beberapa pelayan setia dan penjagaan minimalis.

Vion menghabiskan waktunya duduk di beranda yang menghadap ke arah danau kabut, mencoba menyesuaikan diri dengan peran barunya sebagai pelindung seorang wanita yang jiwanya sama sekali tidak ia kenal, namun nasibnya kini terikat erat padanya.

Vion duduk termenung di tepi kolam batu yang jernih di halaman belakang Green Luse Manor. Matanya menatap kosong pada beberapa ekor ikan hias berwarna keemasan yang berenang bebas, berkali-kali jemarinya menaburkan remah-remah roti ke dalam air dengan gerakan mekanis.

Pikirannya melayang jauh, menembus dimensi dan waktu. Ia teringat pada ibunya yang selalu mengomel hebat setiap kali ia membuat ulah di kampung.

Ia teringat tangannya yang selalu menengadah tanpa tahu malu, meminta uang untuk membeli apa pun yang ia mau.

Ia rindu saat-saat ia bisa dengan santai mengambil roti, rokok, atau camilan di warung.

Dan ayahnya... ayahnya yang begitu sabar mendengarkan makian dan amarahnya saat keinginan vion tak terpenuhi, atau saat motor butut kesayangannya mogok di tengah jalan.

"Cih, gue kangen mereka," gumamnya lirih. Suaranya hampir tertelan suara gemericik air kolam.

Di dunia ini ia punya segalanya, tapi rasanya kosong. Ia merindukan kebisingan dan kekacauan hidupnya yang dulu.

"Yang Mulia,"

Panggilan itu memecah lamunan vion seketika. Ia tersentak, lalu segera menegakkan posisi duduknya saat menyadari siapa yang datang. Itu adalah Von Gardo, yang tampak terengah-engah seolah baru saja memacu kudanya dengan kecepatan tinggi.

"Ada kabar?" tanya vion cepat, matanya menatap tajam mencari jawaban.

"Pandai besi yang menempa pedang itu bernama Master Hephaestus, dia berasal dari kota pelabuhan Portsmouth di ujung selatan," terang Von Gardo dengan nada serius.

Kedua mata vion seketika berbinar. Ada secercah harapan yang membuncah di dadanya. Jika simbol serigala di pedang itu sama dengan yang ia lihat di dunianya sebelum ia "mati", maka pria bernama Hephaestus ini adalah satu-satunya kunci untuk pulang.

"Bawa aku menemui pandai besi itu. Sekarang," perintah Vion tanpa ragu.

Von Gardo mengerjap beberapa kali, tampak terkejut dengan kegigihan tuannya.

"Yang Mulia, jarak dari sini ke Portsmouth sangatlah jauh. Kita harus melintasi hutan terlarang dan pegunungan berkabut. Setidaknya butuh waktu tiga hari perjalanan berkuda paling cepat. Dengan kondisi kesehatan Anda yang baru pulih, ada banyak bahaya dan pembunuh bayaran di luar sana yang mungkin sedang mengintai."

"Aku tidak peduli seberapa lama waktu yang dibutuhkan atau seberapa berbahaya jalannya," tegas Vion.

Ia berdiri dari tepi kolam, sorot matanya tajam dan penuh determinasi.

"Yang terpenting, aku harus sampai di sana dan bertemu dengan pembuat pedang itu. Ini masalah hidup dan matiku."

Vion tidak peduli pada takhta atau emas; ia hanya ingin penjelasan kenapa ia bisa terseret ke dunia ini dan bagaimana cara memutus kutukan ini.

Von Gardo tertegun melihat keberanian yang belum pernah ia lihat pada sosok Alaric yang dulu. Sang Jenderal pun melebarkan matanya, namun detik berikutnya ia membungkuk dalam dengan penuh keyakinan.

"Baik, Yang Mulia. Hamba akan menyiapkan kuda terbaik dan pengawalan rahasia. Kita berangkat saat fajar menyingsing."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!