NovelToon NovelToon
Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Menjadi Pengusaha / Cinta Murni
Popularitas:25.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arias Binerkah

Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.

Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.

Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.

Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..

Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14.

“Yah…” ucap Aurely sambil terus melangkah.

“Hm?” Pak Baskoro menoleh sedikit, tetap berjalan di sampingnya.

“Bu Wiwid itu… dulu juga dari kota. Sekarang kelihatannya hidupnya tenang. Usahanya jalan,” ucap Aurely lirih, seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Pak Baskoro tersenyum kecil, tapi kali ini bukan senyum tahu segalanya. Lebih ke senyum orang yang pernah jatuh dan bangun sendiri.

“Ayah nggak tahu cerita Bu Wiwid,” katanya jujur. “Tapi Ayah tahu satu hal.”

Aurely menoleh.

“Desa itu bukan tempat orang kalah,” lanjut Pak Baskoro pelan. “Desa itu fondasi. Penopang.”

Langkah mereka melambat. Lampu-lampu kios di dalam pasar sudah banyak yang mulai mati. Suasana makin hening.

“Beras yang dimakan orang kota, sayur di meja makan, kopi yang mereka banggakan, itu semua dari desa,” ujar Ayahnya. “Kalau desa berhenti, kota ikut goyah. Negara juga.”

Aurely terdiam. Kata-kata itu masuk perlahan, tapi dalam.

“Ayah dulu juga terlalu lama menganggap kota segalanya,” lanjut Pak Baskoro. “Pabrik, jaringan, ekspor. Ayah kejar semua itu. Sampai lupa pijakan.”

Tangannya mengepal sebentar, lalu mengendur.

“Waktu bangkrut, Ayah sempat pula berpikir hidup Ayah selesai. Malu pulang. Merasa gagal,” katanya tanpa emosi berlebih, justru tenang. “Tapi ayah ingat… desa itu penopang. Maka ayah bilang ayah mau usaha dari desa...”

Aurely menelan ludah.

“Di sini, Ayah belajar lagi dari nol. Bukan jadi bos. Tapi kuli, cari cari informasi. Dan Ayah akan jadi penghubung. Jadi orang yang bisa dipercaya,” ucap Pak Baskoro. “Petani nggak butuh janji besar. Mereka butuh kepastian.”

Aurely mengangguk pelan.

“Rel,” Ayahnya menoleh menatapnya, “hidup nggak selalu soal naik. Kadang soal bertahan. Dan desa itu tempat orang-orang bertahan… supaya negara tetap jalan.”

Hening menyelimuti mereka sejenak.

“Aurely takut dibilang gagal,” ucapnya akhirnya, jujur.

Pak Baskoro tersenyum, menepuk bahu putrinya.

“Gagal itu kalau kamu berhenti berguna,” katanya lembut. “Selama kamu masih mau bekerja jujur, mau belajar, mau berkontribusi—di mana pun itu—kamu tidak gagal.”

Aurely menghembuskan napas panjang. Beban di dadanya terasa sedikit terangkat.

Motor terus melaju menuju ke jalan pulang ke rumah.

Aurely memandang jalan desa di depan mereka. Tidak gemerlap. Tidak megah. Tapi nyata.

Dan untuk pertama kalinya, Aurely tidak lagi melihat desa sebagai tempat pelarian. Melainkan sebagai tempat berdiri.

Malam itu hujan turun gerimis kecil, Aurely baru saja selesai makan malam. Ayahnya tertidur lebih awal, di balai balai ruang tengah. Karena kelelahan setelah seharian bekerja.

Ibunya membereskan dapur dengan langkah pelan. “Kamu tidak usah bantu Bunda beresin ini.” Ucap lembut Ibunya sambil menatap Aurely, “Bunda tahu kamu capek seperti Ayah.”

“Terimakasih Bun..” ucap Aurely lalu melangkah ke kamar.

Aurely duduk di kamar, ponselnya tergeletak di atas kasur.

Sudah lama ia tidak benar-benar membuka grup kampus. Ia tahu apa yang biasanya ada di sana. Tapi entah kenapa malam ini… hatinya gelisah. Karena tadi siang ada yang nge-tag namanya.

Tangannya meraih ponsel.

Grup: Elite Class 22

Ratusan notifikasi belum terbaca.

Jarinya bergetar saat membuka.

Riko: 😂😂😂 ( meneruskan kiriman foto foto)

Nadya: Itu beneran bokapnya Aurely???

Maya: Serius itu ayahnya?

Riko: Katanya sekarang jadi kuli pasar 😬

Foto itu muncul di layar.

Satu.

Dua.

Tiga.

Pak Baskoro. Mengenakan kaus lusuh. Celana gelap. Mengangkat karung di pasar. Di dekat truk yang sedang bongkar muatan. Keringat membasahi pelipisnya.

Sudut pengambilan foto jelas dari arah jalan raya di depan pasar.

Aurely merasa napasnya berhenti.

Nadya: Gila sih… dari pengusaha ke gitu.

Riko: Hidup emang lucu ya 😂

Maya: Jangan gitu dong…

Riko: Ya tapi fakta kan?

Nadya: Pantesan Aurely ngilang. Malu kali ya.

Dada Aurely terasa diremas kuat. Tangannya gemetar. Matanya panas.

Dulu… satu ejekan saja sudah cukup membuatnya ingin menghilang.

Dulu… ia pasti langsung keluar grup, mematikan ponsel, menangis semalaman.

Ia menatap foto ayahnya lama. Wajah itu… lelah. Tapi jujur. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada topeng.

“Ayah…” bisiknya, air mata mulai meleleh satu per satu.

Pintu kamar terbuka perlahan. Ibunya berdiri di sana.

“Rel… kamu kenapa?”

Aurely tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan ponselnya pada Ibunya.

Ibunya melihat layar itu. Terdiam lama. Tidak marah. Tidak histeris. Hanya menarik napas panjang...

“Mereka tidak tahu,” kata ibunya pelan. “Dan mungkin… tidak perlu tahu.”

“Tapi mereka ketawain Ayah, Bun,” tangis Aurely pecah. “Seolah kerja Ayah itu hina.”

Ibunya duduk di sampingnya.

“Ayahmu tidak bekerja untuk mereka. Ayahmu bekerja untuk keluarga.”

Kalimat itu sederhana… tapi menenangkan. Air mata Aurely masih terus jatuh satu per satu.

“Aku sekarang tidak malu pada pekerjaan Ayah. Tapi aku benci mereka.”

Ibunya menggeleng pelan. “Jangan. Kalau kamu benci mereka, berarti kamu masih menggantungkan harga dirimu pada penilaian mereka.”

Aurely terdiam. Tak lama kemudian, satu chat pribadi masuk.. Kevin.

Kevin: Rel, gue lihat foto bokap lo di grup. Sungguh menyedihkan. Gue nggak nyangka aja hidup lo sekarang sejauh itu. Jatuh sejatuhnya.

Jantung Aurely berdegup keras.

Kevin: Gue cuma mau bilang… hidup emang kejam. Tapi ya… semoga lo kuat.

Tidak ada empati. Tidak ada pembelaan. Hanya jarak.

Aurely tersenyum pahit.

Ia mengetik. Lama. Lalu menghapus. Mengetik lagi.

Aurely: Ayah gue kerja jujur. Dan gue bangga sama dia.

Tiga titik muncul. Hilang. Tidak ada balasan dari Kevin.

Aurely mengunci ponsel. Ia berdiri, berjalan ke ruang tengah. Ayahnya masih tertidur di balai balai kayu, satu tangannya masih memegang buku kecil. Catatan catatan pentingnya. Wajahnya tampak damai dalam lelah.

Aurely berlutut di depannya. Menatap lama.

“Maaf… aku dulu malu sama kerja keras Ayah,” bisiknya lirih.

Ia menyelimuti ayahnya pelan. Saat kembali ke kamar, ponselnya kembali bergetar.

Chat pribadi dari Maya.

Maya: Rel… gue jujur nggak setuju sama yang lain. Foto itu keterlaluan. Kalau lo butuh temen ngobrol… gue ada.

Aurely membaca lama.

Lalu membalas singkat.

Aurely: Makasih. Tapi sekarang gue lagi belajar berdiri sendiri.

Ia menutup ponsel.

Di luar, suara motor berhenti di depan rumah. Aurely mengintip dari jendela.

Rizky.

Mengantar sesuatu ke rumah tetangga.

Ia berdiri sebentar, menatap jalan.

Entah kenapa… hanya melihat punggungnya saja sudah membuat dada Aurely lebih tenang.

Ia sadar Dunia lamanya boleh menertawakan. Boleh menghakimi. Boleh menyebarkan foto. Tapi ia tidak lagi hidup di sana.

Dan besok pagi…

ia akan tetap bangun... dan akan lebih pagi lagi. Tetap memakai apron. Tetap belajar dan bekerja.

Bukan untuk membuktikan apa-apa pada mereka. Tapi untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa jatuh tidak pernah sama dengan hina.

Aurely merebahkan tubuh penatnya di atas kasur tipis.. foto foto Ayahnya masih sedikit mengganggu pikirannya.. bukan karena malu pada pekerjaan Ayahnya.. tapi.. ”Siapa yang sudah mengambil foto foto itu?” gumam Aurely dalam hati.

1
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
hayoh weee arep gpo meneh kw
hadehh licik ya kan jgn harap akan menang
Siti Naimah
hayo Nurul... kejahatan apalagi yang mau kau rencanakan buat mencelakai Aurel dan tempat kerjanya? ingat bisa jadi dirimu dan keluargamu yang bakal hancur
Lisa
Akhirnya yg punya ide jahat kalah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
malah nambah2i masalah mu loh Nurul 😋
Ai Emy Ningrum: semua akan menyesal pada waktu nya , ingat itu Nurul 🫵🏻😹😹😹
cemas2 kau lah sekarang
total 3 replies
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
lha dalah kenapa mlh jd 2 orang yg menjatuhan sih
ohh ndak kapok2 nya
apa mau dekam di pe jara lebih lama lagi
boar di intilin om wowo di teroro bru tau
Arieee
😡😡😡Nurul si biang kerok yang gak kapok kalo belum masuk penjara
Arias Binerkah: Iya tuh Nurul anak Pak Sastro pelit bin licik
total 1 replies
Lisa
Moga setelah diadakan pengajian org² yg biasa makan.di warung itu lebih yakin bahwa warung itu bersih dr hal² mistis
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
ini si Nenek Lyncah kenapa jadi ikut2an Nurul 🙄🙄
Ai Emy Ningrum: bikin duet maut 😹😹 nyanyi dangdut sambil ngedebus 👻👻
total 12 replies
Siti Naimah
woalah..itu kok ada aja orang yg mau disuruh sama Nurul dan Nelly..maklum mungkin diberi upah yg banyak ya?
nurul supiati
masuk penjara om wowo sekalian 🤣🤣🤣 nurul dan bpknya🤣🤣
Arieee
Nurul kalo gak masuk penjara gak mungkin kapokkkkkkK 😡😡😡😡😡
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
lahfalah piye too iki
mlh dadi kocar kacir
mg2 wae dang di out ben dang kapok
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ehhh hayoo siapa neror itu

nahh udh di pringatin kok mlh ttp ngeyel aja
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
lhaaa udh mimpi kek gtu malah masih di terusin lagi mau nyebar rumor klo pake pesugihan .blm kapok rupanya
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ehh di bilang om wowo nanti ya kok pake pesugihan segala hadehh cari mati rupanya
udh kalah tp g ngaku mlah mau bikin masalh baru lagi wis iki fix dek e ora waras utek e
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pas para mahasiswa ngecek dapur dan gudang harusnya sekalian di videoin, biar ada bukti tuuh /Shy/
Ai Emy Ningrum: hmm 🧐🤔 ada mungkin seksi video2 nya ...sungguh sangat ngeselin 😕🫤
total 1 replies
Lisa
Moga rumor itu terkalahkan oleh pernyataan dr mahasiswa² yg udh liat ke dapur.
Lisa
Wah jgn sampe para mahasiswa itu percaya pd rumor itu..
Lisa
Pak Sastro ini udh tau anaknya salah eh malah dibelain dgn cara spt itu..liat aj tuh mana yg akhirnya kalah..
Siti Naimah
hari gini masih percaya sama hal2 klenik.ingat lho Nurul..kamu itu mahasiswi.. seharusnya logika dipakai😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!