NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

noted: terbagi dua season

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

"Alice…!!" teriak Danzel sambil berlari menghampiri tubuh Alice yang terbaring lemah di lantai.

"Hei… bangunlah!"serunya sambil mengguncang tubuh Alice perlahan.

"Alice… buka matamu."

Namun tak ada respons. Napas Danzel terasa semakin berat, kegelisahan menghantam dadanya. Dengan cepat ia melepas seragam nya dan membungkus tubuh Alic,

berusaha melindungi gadis itu dari tatapan siapapun. Ia kemudian mengangkat tubuh Alice ke dalam gendongannya, hati-hati, seolah setiap sentuhan bisa memecahkan sesuatu yang rapuh.

Dengan Alice yang terkulai di pelukannya, Danzel berjalan keluar dari gudang.

Mike dan Stella masih berdiri kaku di tempat, wajah mereka pucat, tak tahu harus berbuat apa. Di sisi lain, Megan yang baru saja tiba, terperanjat melihat Rey terkapar tak berdaya di lantai, wajahnya babak belur.

Saat Danzel hampir mencapai pintu, tatapannya bertemu dengan seseorang yang tak ia sangka akan ada di sana.

Rachel.

Ia berdiri di ambang pintu, diam tanpa sepatah kata, tapi matanya menyimpan seribu perasaan. Rachel sudah berada di sana cukup lama—menyaksikan semuanya: ketakutan Alice, kemarahan membara di wajah Danzel, dan betapa dalamnya kekhawatiran yang memancar dari tatapan lelaki itu.

Tatapan Rachel perlahan turun, menatap Alice yang terbaring di pelukan Danzel.

Hatinya terasa aneh—ada rasa iba, namun di balik itu, terselip perih dan cemburu yang menusuk. Alice tampak begitu rapuh, dan Danzel… ia memeluk gadis itu seolah dunia di sekitarnya tak lagi ada.

Rachel sempat menggeleng pelan, berusaha menyingkirkan pikirannya untuk saat ini. Ia melangkah maju, hendak menanyakan kondisi Alice. Ada sedikit rasa prihatin di hatinya untuk gadis malang itu.

Namun sebelum ia sempat mendekat, Danzel berkata dengan nada tegas, "Aku harus segera membawa Alice pergi dari sini."

Danzel melangkah melewati Rachel, namun tanpa sengaja bahunya menyenggol tubuh kekasihnya itu cukup keras. Danzel bahkan tak menoleh—seluruh pikirannya hanya tertuju pada Alice, ya Alice yang di ketahui adalah sahabatnya hanya sahabatnya yang tak sadarkan diri di pelukannya.

Rachel memandang punggung Danzel yang menjauh dengan mata terbelalak. Ada rasa tak percaya, bercampur sedikit luka, menyelinap di hatinya. setelah itu ia melangkahkan kakinya pergi.

 

"Stella, Mike… apa yang terjadi pada Rey?"tanya Megan 

"Dan… apakah rencana kita gagal?" lanjutnya dengan nada bingung.

"Tidak,"jawab Stella, menatap Megan dengan ekspresi tenang namun penuh makna. 

"Rencana kita tetap berhasil."

Stella melanjutkan, "Rachel sudah melihat sendiri betapa besar kekhawatiran Danzel kepada Alice. Akan tetapi…" ucapannya terhenti di tengah jalan.

"Tetapi apa?"desak Megan.

Stella menghela napas kasar. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada Rey selanjutnya. Kemarahan Danzel… aku rasa tidak akan berhenti sampai di sini."

Stella memiliki insting yang kuat jika akan terjadi sesuatu kepada Rey bahkan pada pertemanannya akibat kejadian ini.

Megan terdiam. Matanya melirik ke arah Rey yang masih meringkuk di lantai, wajahnya pucat dan tubuhnya lemah.

"Mike, bantu temanmu yang keras kepala itu, bawa pergi dari sini. Kita akan mengobatinya nanti," ujar Stella tegas sambil menatap lurus ke arah Mike sebelum bergegas meninggalkan tempat itu.

Mike hanya mengangguk, lalu segera membantu Rey berdiri.

Kejadian itu sama sekali tak terdeteksi oleh para guru, karena semuanya berlangsung tepat pada jam istirahat.

 

Sementara itu…

Danzel berjalan cepat menyusuri koridor sekolah, napasnya berat namun ritmenya tetap terjaga. Tubuh Alice yang tak sadarkan diri terkulai di gendongannya, kepala gadis itu bersandar lemah di bahunya.

Para siswa yang melihatnya menatap penuh kebingungan, beberapa bahkan saling berbisik di antara desahan kaget. Mereka tak hanya terkejut melihat Danzel tanpa pakaian atasnya, tetapi juga penasaran dengan gadis berparas cantik yang tubuhnya dipenuhi luka di pelukannya.

Namun Danzel tak memedulikan mereka. Satu-satunya tujuannya saat ini adalah mencapai ruang kesehatan secepat mungkin… dan memastikan Alice tetap bernapas.

Setelah beberapa saat kemudian…

Alice terbaring di ranjang ruang kesehatan, perban putih membalut dahinya. Tubuhnya tampak lemah dan rapuh, wajah cantiknya pucat dan sembab—membuat siapa pun yang melihatnya akan merasakan iba yang menusuk.

Dalam tidurnya, Alice mulai menggeliat resah. Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengucapkan sesuatu.

“Jangan… jangan mendekat,” bisiknya lirih. Lalu suaranya meninggi, penuh ketakutan, “Tidak…!”

Ia terbangun mendadak, napasnya tersengal-sengal, matanya terbuka lebar dan dipenuhi kepanikan—seolah dirinya masih terjebak dalam mimpi buruk itu.

“Alice? Kamu baik-baik saja?” suara Danzel terdengar di sampingnya, penuh kekhawatiran.

Alice menoleh, menatap Danzel dengan mata yang masih dibayangi rasa takut. “Danzel…” lirihnya, hampir seperti rintihan.

Tatapannya kosong, seperti terseret kembali ke dalam ingatan mengerikan yang baru saja menimpanya. Tubuhnya bergetar hebat, pundaknya sesekali tersentak setiap kali bayangan tangan Rey yang kasar dan senyumannya yang penuh arti melintas di benaknya.

Danzel mengerutkan kening. Dengan lembut, ia menangkupkan kedua telapak tangannya di sisi wajah Alice, berusaha menenangkan.

“Tenanglah, Alice. Aku ada di sini… kamu aman bersamaku,” ujarnya dengan suara lembut namun tegas.

Detik berikutnya, Alice langsung memeluk Danzel erat-erat, seolah hanya pelukan itu yang bisa mengusir rasa takutnya.

Danzel membalas pelukan itu, menepuk punggungnya perlahan. Namun di dalam hatinya, muncul perasaan yang sulit ia jelaskan—campuran hangat yang aneh dan rasa marah yang membara.

Bayangan Rey yang mencoba menyakiti Alice kembali memenuhi pikirannya, dan amarah itu semakin menguat, mendesak untuk dilampiaskan.

Dari balik pintu yang terbuka sedikit, Rachel berdiri mematung. Ia menyaksikan semuanya—ketakutan Alice, pelukan erat itu, dan tatapan penuh proteksi yang Danzel tujukan hanya untuk Alice.

Namun bukannya merasa iba, hati Rachel justru mengeras. Kata-kata Megan dan Stella terngiang kembali di kepalanya, mengingatkan bahwa kedekatan Danzel dan Alice mungkin bukan sekadar persahabatan.

Rachel menatap lama pemandangan itu, matanya menyipit, bibirnya terkatup rapat. “Jadi… memang seperti itu,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

Ada rasa panas menjalar di dadanya—campuran cemburu, marah, dan keinginan untuk membuktikan bahwa ia benar.

 

1
Ophy60
Danzel....jangan datang membawa masalah untuk Alice.Selesaikan dulu hubunganmu sama Rachel...
Mundri Astuti
preeet lah danzel, kesalahan terberat kamu mengabaikan Alice saat Alice butuh bantuan kamu tuk bawa papanya ke RS, hingga papanya Alice meninggal dunia
Ophy60
Susah y Alice melupakan masa lalu..
Ophy60
Danzel jangan menemui Alice lagi. Yg ada nanti Rachel salah paham dan mengganggu Alice.
Nurhayati
ngapain jg dy dket2 sm kamu danzel, dy udh berdamai dgn diri sendiri. klo bs jgn ganggu dia deh ntar pcar mu tau rachel mlah ganggu alice. kan bahaya
Sari Nilam
up nya lama
Mundri Astuti
nih ya danzel klo kamu beneran nikah sama Rachel, kamu akan kehilangan harga dirimu, Krn kamu dibawah kuasa Rachel dan keluarganya, suatu saat kamu bermasalah sama Rachel, bisa abis harga dirimu diinjak" , secara kamu kerja di perusahaan keluarga rachel
Ophy60
Bingung kan Danzel.Ninggalin Rachel kerjaan dr keluarga Rachel,sama Rachel tapi ga benar² cinta sama Rachel.
partini
sekarang dulu masa bodoh,, mending balik deh yg dulu masih cinta biar ga terlalu banyak drama nanti kamu kerja aja lagi
Ophy60
Semangat pak Dokter...
Meski masih mengingat masa lalu paling tidak Alice sudah mulai berusaha menerima orang baru.
Ophy60
Maunya Alice sama orla thor.Enak saja udah ninggalin Alice,bahkan saat Alice dalam kondisi sangat terpuruk juga ga ada masa mau sama Alice lagi.
partini
si dokter tamvan mau bertempur dengan masa lalu ,cape loh dok harus siap kan mental dan kesabaran seluas samudra dan patah hati
Nurhayati
sperti komen ku yang eps kmrn ato yg eps sblumnya, aq gak rela klo Alice berjodoh sm danzel. klopun berjdoh aq berharap alice sm orang lain dlu bru ktemu danzel lg. klo bisa danzel lah yg berjuang u mndapatkan hati alice kmbli. bru impas pnderitaannya
partini
ye elah zel kamu jadi kacung keluarga pacar mu ,, penyesalan datang di Ahir kalau awal itu pendaftaran nama nya
hemmmm masa lalu itu berat bersaing dengan masa lalu melelahkan,jarang sih novel yg bisa move on jadi aku tebak pemenang nya masa lalu
Sari Nilam: aku sih timbya alice dengan doker ..lupakan danzel yang dengan mudah melupakanmu .
jadi pelayan kel pacar sendiri biarpun punya jabatan ...miris .tp itu pulihanmu zel..nikmatilah.
total 1 replies
Ophy60
Alice jangan sama Danzel y thor....buat Danzel menyesal.
Ophy60
Danzel cowo jd cowo ga tegas.
Mundri Astuti
yg berikutnya buat Alice bahagia dng dunia barunya thor, lebih sukses dan mandiri Thor, buat danzel tau Rachel yg aslinya
partini
S2 apa kaya gini juga Thor mengseddih terus
Nurhayati
aku kcewa smga alice tdak bejdoh sm danzel. wlo ibu danzel yg mnolong pun aq tak rela klo alice berjdoh sm danzel
partini
kamu akan menyesal seumur hidup mu zel.,semoga yg di katakan ayahmu betul nanti ada seseorang yg begitu sayang dan cinta padamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!