Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
"Alice…!!" teriak Danzel sambil berlari menghampiri tubuh Alice yang terbaring lemah di lantai.
"Hei… bangunlah!"serunya sambil mengguncang tubuh Alice perlahan.
"Alice… buka matamu."
Namun tak ada respons. Napas Danzel terasa semakin berat, kegelisahan menghantam dadanya. Dengan cepat ia melepas seragam nya dan membungkus tubuh Alic,
berusaha melindungi gadis itu dari tatapan siapapun. Ia kemudian mengangkat tubuh Alice ke dalam gendongannya, hati-hati, seolah setiap sentuhan bisa memecahkan sesuatu yang rapuh.
Dengan Alice yang terkulai di pelukannya, Danzel berjalan keluar dari gudang.
Mike dan Stella masih berdiri kaku di tempat, wajah mereka pucat, tak tahu harus berbuat apa. Di sisi lain, Megan yang baru saja tiba, terperanjat melihat Rey terkapar tak berdaya di lantai, wajahnya babak belur.
Saat Danzel hampir mencapai pintu, tatapannya bertemu dengan seseorang yang tak ia sangka akan ada di sana.
Rachel.
Ia berdiri di ambang pintu, diam tanpa sepatah kata, tapi matanya menyimpan seribu perasaan. Rachel sudah berada di sana cukup lama—menyaksikan semuanya: ketakutan Alice, kemarahan membara di wajah Danzel, dan betapa dalamnya kekhawatiran yang memancar dari tatapan lelaki itu.
Tatapan Rachel perlahan turun, menatap Alice yang terbaring di pelukan Danzel.
Hatinya terasa aneh—ada rasa iba, namun di balik itu, terselip perih dan cemburu yang menusuk. Alice tampak begitu rapuh, dan Danzel… ia memeluk gadis itu seolah dunia di sekitarnya tak lagi ada.
Rachel sempat menggeleng pelan, berusaha menyingkirkan pikirannya untuk saat ini. Ia melangkah maju, hendak menanyakan kondisi Alice. Ada sedikit rasa prihatin di hatinya untuk gadis malang itu.
Namun sebelum ia sempat mendekat, Danzel berkata dengan nada tegas, "Aku harus segera membawa Alice pergi dari sini."
Danzel melangkah melewati Rachel, namun tanpa sengaja bahunya menyenggol tubuh kekasihnya itu cukup keras. Danzel bahkan tak menoleh—seluruh pikirannya hanya tertuju pada Alice, ya Alice yang di ketahui adalah sahabatnya hanya sahabatnya yang tak sadarkan diri di pelukannya.
Rachel memandang punggung Danzel yang menjauh dengan mata terbelalak. Ada rasa tak percaya, bercampur sedikit luka, menyelinap di hatinya. setelah itu ia melangkahkan kakinya pergi.
"Stella, Mike… apa yang terjadi pada Rey?"tanya Megan
"Dan… apakah rencana kita gagal?" lanjutnya dengan nada bingung.
"Tidak,"jawab Stella, menatap Megan dengan ekspresi tenang namun penuh makna.
"Rencana kita tetap berhasil."
Stella melanjutkan, "Rachel sudah melihat sendiri betapa besar kekhawatiran Danzel kepada Alice. Akan tetapi…" ucapannya terhenti di tengah jalan.
"Tetapi apa?"desak Megan.
Stella menghela napas kasar. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada Rey selanjutnya. Kemarahan Danzel… aku rasa tidak akan berhenti sampai di sini."
Stella memiliki insting yang kuat jika akan terjadi sesuatu kepada Rey bahkan pada pertemanannya akibat kejadian ini.
Megan terdiam. Matanya melirik ke arah Rey yang masih meringkuk di lantai, wajahnya pucat dan tubuhnya lemah.
"Mike, bantu temanmu yang keras kepala itu, bawa pergi dari sini. Kita akan mengobatinya nanti," ujar Stella tegas sambil menatap lurus ke arah Mike sebelum bergegas meninggalkan tempat itu.
Mike hanya mengangguk, lalu segera membantu Rey berdiri.
Kejadian itu sama sekali tak terdeteksi oleh para guru, karena semuanya berlangsung tepat pada jam istirahat.
Sementara itu…
Danzel berjalan cepat menyusuri koridor sekolah, napasnya berat namun ritmenya tetap terjaga. Tubuh Alice yang tak sadarkan diri terkulai di gendongannya, kepala gadis itu bersandar lemah di bahunya.
Para siswa yang melihatnya menatap penuh kebingungan, beberapa bahkan saling berbisik di antara desahan kaget. Mereka tak hanya terkejut melihat Danzel tanpa pakaian atasnya, tetapi juga penasaran dengan gadis berparas cantik yang tubuhnya dipenuhi luka di pelukannya.
Namun Danzel tak memedulikan mereka. Satu-satunya tujuannya saat ini adalah mencapai ruang kesehatan secepat mungkin… dan memastikan Alice tetap bernapas.
Setelah beberapa saat kemudian…
Alice terbaring di ranjang ruang kesehatan, perban putih membalut dahinya. Tubuhnya tampak lemah dan rapuh, wajah cantiknya pucat dan sembab—membuat siapa pun yang melihatnya akan merasakan iba yang menusuk.
Dalam tidurnya, Alice mulai menggeliat resah. Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengucapkan sesuatu.
“Jangan… jangan mendekat,” bisiknya lirih. Lalu suaranya meninggi, penuh ketakutan, “Tidak…!”
Ia terbangun mendadak, napasnya tersengal-sengal, matanya terbuka lebar dan dipenuhi kepanikan—seolah dirinya masih terjebak dalam mimpi buruk itu.
“Alice? Kamu baik-baik saja?” suara Danzel terdengar di sampingnya, penuh kekhawatiran.
Alice menoleh, menatap Danzel dengan mata yang masih dibayangi rasa takut. “Danzel…” lirihnya, hampir seperti rintihan.
Tatapannya kosong, seperti terseret kembali ke dalam ingatan mengerikan yang baru saja menimpanya. Tubuhnya bergetar hebat, pundaknya sesekali tersentak setiap kali bayangan tangan Rey yang kasar dan senyumannya yang penuh arti melintas di benaknya.
Danzel mengerutkan kening. Dengan lembut, ia menangkupkan kedua telapak tangannya di sisi wajah Alice, berusaha menenangkan.
“Tenanglah, Alice. Aku ada di sini… kamu aman bersamaku,” ujarnya dengan suara lembut namun tegas.
Detik berikutnya, Alice langsung memeluk Danzel erat-erat, seolah hanya pelukan itu yang bisa mengusir rasa takutnya.
Danzel membalas pelukan itu, menepuk punggungnya perlahan. Namun di dalam hatinya, muncul perasaan yang sulit ia jelaskan—campuran hangat yang aneh dan rasa marah yang membara.
Bayangan Rey yang mencoba menyakiti Alice kembali memenuhi pikirannya, dan amarah itu semakin menguat, mendesak untuk dilampiaskan.
Dari balik pintu yang terbuka sedikit, Rachel berdiri mematung. Ia menyaksikan semuanya—ketakutan Alice, pelukan erat itu, dan tatapan penuh proteksi yang Danzel tujukan hanya untuk Alice.
Namun bukannya merasa iba, hati Rachel justru mengeras. Kata-kata Megan dan Stella terngiang kembali di kepalanya, mengingatkan bahwa kedekatan Danzel dan Alice mungkin bukan sekadar persahabatan.
Rachel menatap lama pemandangan itu, matanya menyipit, bibirnya terkatup rapat. “Jadi… memang seperti itu,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Ada rasa panas menjalar di dadanya—campuran cemburu, marah, dan keinginan untuk membuktikan bahwa ia benar.