Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan
Setelah percakapan itu berakhir, Arka menutup telepon dengan tangan sedikit gemetar.
Tanpa banyak kata, ia berbalik dan kembali masuk ke ruang rapat. Semua mata langsung tertuju padanya.
Arka tidak duduk.
Ia melangkah ke arah asistennya dan berbisik cepat, nyaris tanpa jeda napas,
“Kamu ambil alih rapat ini. Urusannya lanjutkan tanpa saya.”
Asistennya terkejut. “Pak Arka, tapi—”
“Saya harus kembali ke Jakarta. Sekarang.”
Tidak ada penjelasan tambahan, Arka kemudian menyambar jasnya, dan keluar dari ruangan itu dengan langkah yang cepat.
Dalam benaknya saat ini hanya terpusat pada satu nama,serta rasa bersalah yang kembali menghantamnya tanpa ampun.
"Seharusnya aku tidak pergi." batinnya.
Di ruang UKS yang sunyi, hanya terdengar dengungan pendingin ruangan dan detak jam dinding yang berjalan terlalu lambat. Lara terbaring di ranjang periksa dengan wajah pucat, plester kecil menempel di jidatnya.
Di sisi kiri dan kanan ranjang itu, Axel dan Revan duduk berhadapan, sama-sama menunggu—namun dengan kegelisahan yang berbeda.
Axel menatap Lara cukup lama, lalu melirik Revan sekilas. Sejak kejadian di lapangan tadi, satu pertanyaan terus mengusik pikirannya.
“Aku boleh tanya sesuatu?” ucap Axel akhirnya, memecah keheningan.
Revan menoleh, mengangguk singkat. “Tanya saja”
“Kamu… sejak kapan kenal Lara?”
Revan terdiam sepersekian detik. Pandangannya sempat melayang ke wajah Lara yang masih terpejam sebelum kembali ke Axel. Ia mengangkat bahu santai, seolah pertanyaan itu tidak penting.
“Baru saja,” jawabnya ringan.
Nada Revan terdengar biasa, tapi matanya tidak sepenuhnya jujur.
Axel mengernyit tipis. Jawaban itu terlalu singkat dan terkesan untuk menghindar.
Ia membuka mulut, berniat mengejar pertanyaan lain—Namun tepat saat itu, Lara mengerang pelan.
Axel dan Revan refleks bangkit hampir bersamaan.
Lara meringis sambil meraba jidatnya, alisnya berkerut seolah kepalanya masih terasa berat. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka.
“Lara?” panggil Axel cepat.
“Kamu nggak apa-apa?” Revan menyusul, suaranya tak kalah cemas.
Lara berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangan. Matanya bergerak ke kanan—Axel. Ke kiri—Revan. Ekspresinya jelas bingung.
“Kenapa… kalian di sini?” gumamnya lirih. “Ini… di mana?”
Axel menghela napas lega. “Kamu pingsan,tadi.”
Revan mencondongkan tubuh sedikit. “Nggak sengaja kepalamu kena bola. Lumayan keras.”
Lara terdiam beberapa detik, mencoba mengingat. Lalu wajahnya berubah kaget. “Oh—iya… aku ingat… sakit banget.”
Axel tersenyum kecil, tapi masih menyimpan kekhawatiran. “Dokter bilang kamu kecapekan dan belum makan.”
“Pantes…” Lara meringis pelan. “Aku memang nggak sarapan tadi.”
Revan terkekeh kecil, berusaha mencairkan suasana. “Tuh kan. Untung aja kepalamu keras.”
Lara melirik Revan dengan tatapan datar. “Hei.”
Namun detik berikutnya, sudut bibirnya terangkat tipis—senyum kecil yang membuat Revan tanpa sadar ikut tersenyum.
Axel memperhatikan interaksi itu dalam diam. Ada sesuatu yang menggelitik perasaannya, tapi ia memilih fokus pada Lara.
“Kamu jangan banyak gerak dulu,” katanya lembut. “Duduk pelan-pelan aja.”
Lara mengangguk, masih terlihat sedikit linglung. “Makasih… kalian berdua.”
Masih di ruang UKS, Lara menggeser tubuhnya sedikit dan refleks meraih ponsel yang tergeletak di sisi bantal. Layarnya hitam. Ia menekan tombol samping beberapa kali, berharap ada cahaya yang muncul, tapi nihil.
“Mati total ya…” gumamnya pelan.
Axel yang duduk di sisi kiri langsung menoleh.
“Habis baterai?”
“Iya. Aku lupa bawa charger,” jawab Lara sambil menghela napas kecil.
Axel mengangguk pelan, lalu raut wajahnya berubah sedikit ragu sebelum akhirnya bertanya, suaranya diturunkan hati-hati,
“Kenapa sih kamu nggak sarapan tadi pagi? Di rumah… nggak ada makanan?”
Lara menoleh, sedikit heran dengan pertanyaan itu.
“Ada kok. Banyak malah.”
“Terus kenapa?” Axel mengernyit kecil. “Bibimu pergi ya?”
Ia menyebutnya spontan, karena di kepalanya, rumah sebesar apa pun pasti ada seseorang yang memasak—seperti art yang ada di rumahnya.
Mendengar itu, Lara justru tertawa kecil. Bukan mengejek, lebih ke refleks yang ringan.
“Di apartemen nggak ada bibi,” katanya santai.
Axel terdiam sesaat. “Hah?”
“Di rumah cuma ada aku sama pamanku,” lanjut Lara tanpa beban. “Dan… yang nyiapin semuanya ya dia. Aku tadi hanya bangun kesiangan aja.jadi nggak sempat bikin sarapan.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa Lara sadari efeknya.
Axel tidak langsung menanggapi. Pandangannya turun sesaat, pikirannya berputar dengan cepat.
Fakta bahwa Pamannya yang masak, menyiapkan sarapan, dan mengurus kebutuhan sehari-hari,terdengar agak lain di telinga Axel.
Apa mereka memang sedekat itu?
Sekilas, ingatannya melayang pada ucapan temannya kemarin—tentang sosok pria yang menjemput Lara. Bukan pria paruh baya,ataupun tipikal “om-om” seperti bayangannya selama ini.
Belum sempat Axel menyusun pertanyaan lanjutan, pintu UKS tiba-tiba terbuka agak keras.
“Permisi.”
Revan muncul dengan napas sedikit terengah, di kedua tangannya masing-masing menenteng kantong plastik. Isinya jelas terlihat—minuman, cemilan, dan beberapa kotak makanan.
“Maaf lama,” katanya cepat sambil melangkah masuk. “Aku nggak tahu kamu suka makan apa, jadi beli agak banyak.”
Lara membelalakkan mata. “Hah? Revan—ini .....”
“Kamu pingsan karena belum makan, kan?” Revan memotong santai. “Jadi sebelum kamu kenapa-kenapa lagi, makan aja dulu.”
Ia meletakkan semua bungkusan di meja kecil dekat ranjang. Axel menatap pemandangan itu dalam diam— perasaan aneh tercampur jadi satu dalam benaknya,antara kaget,heran,dan penasaran.
Lara menatap kantong-kantong itu, lalu menatap Revan.
“Makasih… kebanyakan tau.”
Revan tersenyum ringan. “Daripada kurang.”
Untuk sesaat, ruang UKS itu terasa penuh. Bukan hanya oleh makanan dan minuman, tapi oleh tiga perasaan berbeda yang bertemu di satu titik yang sama—Dan semuanya berpusat pada Lara.
Pesawat yang ditumpangi Arka akhirnya mendarat setelah pukul lima sore. Begitu roda menyentuh landasan, dadanya justru terasa makin sesak. Ia nyaris tidak menunggu lama—langkahnya panjang dan tergesa saat keluar menuju lobi bandara.
Begitu sampai di depan pintu otomatis, Arka langsung mengeluarkan ponsel dan menekan nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala.
Nada sambung.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu suara datar operator menyela.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”
Arka menghentikan langkahnya. Alisnya langsung berkerut. Ia mencoba lagi. Hasilnya sama. Sekali, dua kali, hingga jari-jarinya terasa membeku.
“Kenapa sih…” gumamnya resah.
Tanpa berpikir panjang, Arka mengganti nomor tujuan. Ia menelepon pihak kampus—nomor yang tadi siang menghubunginya. Kali ini panggilannya tersambung.
Setelah menjelaskan identitasnya, Arka langsung bertanya dengan nada yang sulit disembunyikan kegelisahannya,
“Lara sekarang di mana?”
“Oh, mahasiswi itu sudah pulang, Pak,” jawab suara di seberang.
Arka menghela napas lega setengah. “Pulang sendiri?”
“Ada yang mengantar.”
Jantung Arka kembali berdegup tak tenang. “Siapa?”
“Mahasiswa bernama Revan, Pak.”
Arka terdiam.
“Revan?” ulangnya pelan, seolah nama itu asing sekaligus mengganggu.
Ia menurunkan ponsel dari telinganya, menatap kosong ke arah pintu keluar bandara yang ramai lalu-lalang. Kepalanya dipenuhi tanda tanya.
Siapa lagi itu Revan?
Sejak kapan Lara dekat dengan seseorang bernama Revan?
Tanpa menunggu lebih lama, Arka langsung melangkah cepat ke tepi jalan dan mencegat taksi yang melintas.
“Ke apartemen di Jakarta Selatan. Sekarang,” katanya singkat begitu masuk.
Mobil melaju, sementara Arka bersandar ke kursi, tangannya mengepal pelan. Di kepalanya, bayangan Lara terus muncul—Lara yang sakit, Lara yang pingsan, Lara yang ponselnya mati.
Dan Lara… yang diantar pulang oleh pria lain.
Beberapa jam sebelumnya.
Keputusan diambil tanpa banyak perdebatan. Axel sebenarnya ingin mengantar Lara pulang, tapi motor bukan pilihan aman untuk seseorang yang masih tampak oleng dan baru saja sadar dari pingsannya.
“Pakai mobil aja,” kata Revan akhirnya. “Hari ini aku bawa mobil. Sekalian mau ke bengkel buat servis.”
Axel terdiam sesaat, lalu mengangguk. Kali ini ia mengalah—bukan karena tidak peduli, justru karena terlalu peduli. Kalau Lara akhirnya pulang dengan aman.
Mobil Revan melaju dengan kecepatan sedang, tidak terburu-buru. Lara bersandar di kursi penumpang, tangannya masih memegangi tas dengan longgar. Kepalanya memang sempat nyeri, tapi rasa lelahnya perlahan berkurang—bukan karena kondisi fisiknya membaik sepenuhnya, melainkan karena suasana di dalam mobil itu..
Sejak mobil keluar dari area kampus, mulut Revan hampir tidak pernah benar-benar diam. Ia bercerita tentang hal-hal acak—tentang dosen yang salah sebut nama mahasiswa, tentang temannya yang salah masuk kelas lalu baru sadar setelah setengah jam duduk, bahkan tentang pengalaman servis mobil yang menurutnya selalu berakhir lebih mahal dari rencana awal.
“Intinya,” kata Revan sambil memutar setir, “bengkel itu tempat di mana niat cuma ganti oli bisa berubah jadi ganti masa depan.”
Lara yang sedari tadi hanya mendengarkan akhirnya terkekeh. Tawanya kecil, tapi tulus.
Revan melirik sekilas. “Nah, ketawa kan? Berarti masih hidup.”
“Revan,” Lara menahan senyum, “itu bercandanya nggak lucu.”
“Tapi kamu ketawa.”
Lara terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. “Iya… makasih.”
Sepanjang perjalanan, Revan seperti tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Saat Lara tampak menikmati cerita, ia melanjutkan. Saat Lara terlihat menatap keluar jendela, Revan membiarkan radio memutar lagu pelan tanpa komentar.
Tanpa disadari Lara, rasa pusingnya benar-benar mereda.
Ketika mobil berhenti di depan gedung apartemennya, Revan mendongak menatap bangunan tinggi itu.
“Wah,” ujarnya santai. “Ini apartemen apa markas rahasia tokoh utama drama Korea?”
Lara tertawa lagi, kali ini lebih lepas. “Lebay.”
“Serius. Tinggal di sini tuh auranya mahal. Aku kalau berdiri lama-lama takut tiba-tiba disuruh bayar parkir .”
Lara membuka pintu mobil sambil menggeleng. “Terima kasih ya, Rev. Udah nganterin.”
Revan ikut turun dan refleks melangkah mendekat. “Aku anter sampai atas aja, nggak apa—”
Lara langsung menoleh, senyumnya tetap ada tapi nadanya halus dan tegas.
“Gak usah. Sampai sini aja. Aku nggak apa-apa kok.”
Revan terdiam sesaat, lalu mengangguk. Tidak ingin memaksa,apalagi bertanya lebih jauh.
“Oke. Batas aman diterima,” katanya ringan.
Lara tersenyum lega. “Makasih pengertiannya.”
“Jangan pingsan lagi ya,” tambah Revan sambil setengah bercanda.
Lara tertawa kecil. “Doain aja.”
Mereka berpisah di sana—Lara masuk ke gedung apartemen dengan langkah pelan tapi stabil, sementara Revan kembali ke mobilnya dengan perasaan aneh yang sulit dijelaskan.