Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui jendela besar kamar Freya, menciptakan bayangan kotak-kotak di atas lantai marmer. Kamar mewah itu kini telah berubah fungsi menjadi studio seni dadakan. Bau harum bunga melati dari taman istana bercampur dengan aroma khas cat minyak yang tajam.
Di tengah ruangan, Freya duduk di kursi rodanya dengan gips yang masih bertengger manis. Wajahnya sangat serius, matanya fokus pada kanvas besar di depannya. Tangan kanannya menari lincah menggunakan kuas, sementara tangan kirinya memegang palet penuh warna.
Di sudut ruangan, Kholid duduk di kursi kayu yang keras dengan wajah mengantuk. Sesuai perintah Kaisar, pintu kamar harus tetap terbuka lebar untuk menjaga sopan santun, namun Kholid tetap harus berjaga di sana sebagai asisten pribadi yang siap siaga.
Terdengar langkah kaki yang dihentak-hentakkan dengan kesal dari arah koridor. Putri Sherena muncul membawa nampan perak berisi bubur ayam hangat dan segelas jus jeruk segar. Wajahnya tampak luar biasa masam, rambutnya yang biasa tertata sempurna kini hanya diikat kuda asal-asalan—efek dari bangun jam lima pagi untuk berkutat di dapur.
"Nih, sarapan lo. Makan sendiri, gue mau mandi," cetus Sherena sambil meletakkan nampan itu di meja kecil di samping Freya.
Freya bahkan tidak menoleh. Ia hanya menggoreskan warna biru kobalt ke kanvasnya sebelum berucap dengan nada datar namun mutlak.
"Suapin gue!" pintanya singkat.
Sherena melotot, napasnya tertahan di tenggorokan. "Hah? Kan lo punya tangan! Makan sendiri lah!"
Freya perlahan menoleh, mengangkat kedua tangannya yang kini penuh dengan noda cat warna-warni hingga ke pergelangan tangan. Ia menatap Sherena dengan tatapan "lo-lupa-hukuman-lo?".
"Gue bilang suapin gue, Tuan Putri Sherena. Tangan gue masih megang cat! Lo mau gue makan bubur campur pigmen kimia? Kalau gue keracunan, Kai nggak bakal cuma nyuruh lo masak, bisa-bisa lo disuruh jadi tukang sapu jalanan di depan istana," ancam Freya dengan senyum manis yang menyebalkan.
Sherena menggeram, suaranya terdengar seperti kucing yang terjepit pintu. Dengan tangan gemetar karena emosi, ia mengambil sendok dan menyuapkan sesendok bubur ke mulut Freya.
"Pelan-pelan dong suapinnya! Panas tahu!" omel Freya setelah menelan suapan pertama. "Tiup dulu! Lo niat nyuapin atau niat bikin lidah gue melepuh?"
Kholid yang melihat kejadian itu hanya bisa memijat pangkal hidungnya, berusaha menahan tawa sekaligus ngeri melihat adiknya diperlakukan seperti pengasuh anak bayi. Namun, ketenangannya tidak berlangsung lama.
"Dan lo, Kholid!" seru Freya tiba-tiba tanpa menoleh. "Ambilin kanvas baru di ruang kerja Kaisar. Yang ukuran 100 \times 100 cm. Kemarin Kai bilang dia udah beliin yang baru dan ditaruh di sana. Cepetan! Gak pake lelet! Gue lagi dapet inspirasi nih, kalau inspirasinya ilang, lo yang gue cat jadi patung!"
Kholid tersentak berdiri. "Ruang kerja Kaisar itu jauh, Freya! Di sayap bangunan sebelah!"
"Oh, jadi mau bantah? Ya udah, gue tinggal panggil Kai via intercom..." Freya baru saja akan meraih gagang telepon istana di sampingnya.
"Iya! Iya! Gue jalan sekarang!" Kholid langsung melesat keluar kamar dengan langkah seribu, menghindari drama yang lebih panjang.
Setelah seharian "menyiksa" dua bersaudara kerajaan itu, sore hari membawa suasana yang jauh lebih tenang. Kaisar muncul di depan kamar Freya tepat saat matahari mulai meredup dan langit berubah menjadi warna jingga keunguan—warna yang menurut Freya sangat sulit ditiru dengan cat manapun.
Kaisar sudah berganti pakaian. Tidak ada seragam militer atau jas kaku. Ia hanya mengenakan kemeja katun tipis berwarna putih dengan lengan yang digulung hingga siku, dan celana kain hitam santai.
"Ayo jalan-jalan. Kamu sudah seharian terkurung di sini," ujar Kaisar lembut. Ia mengambil alih pegangan kursi roda Freya yang tadi sempat dipegang oleh pelayan.
"Akhirnya! Penyelamatku datang!" seru Freya riang. "Kai, aku mau ke danau buatan di belakang paviliun. Katanya di sana teratainya lagi mekar."
Kaisar mendorong kursi roda itu perlahan melewati lorong-lorong istana yang mulai diterangi lampu dinding kuning yang temaram. Selama perjalanan, Freya tidak berhenti bercerita tentang betapa "lucunya" wajah Sherena saat harus meniup bubur panasnya tadi pagi.
Kaisar hanya mendengarkan dengan senyum tipis yang tak lepas dari bibirnya. Baginya, ocehan Freya adalah musik yang jauh lebih indah daripada orkestra kerajaan yang membosankan.
Sesampainya di tepi danau, Kaisar mengunci roda kursi tersebut dan duduk di bangku taman tepat di samping Freya. Suasana sangat sunyi, hanya ada suara kecipak air dan gesekan dedaunan.
"Kaki kamu masih sakit?" tanya Kaisar sambil menatap gips Freya.
"Dikit. Tapi dapet hiburan liat Sherena dan Kholid menderita itu obat paling ampuh sih, Kai," kekeh Freya. Ia kemudian menoleh ke arah Kaisar. "Kai, besok udah hari ke-26. Perjanjian kita... tinggal empat hari lagi."
Kaisar terdiam, menatap pantulan bulan yang mulai nampak di permukaan air danau. Ia meraih tangan Freya, mengaitkan jemarinya di antara jemari gadis itu.
"Aku sudah bicara dengan Buyut," ujar Kaisar pelan. "Status tunangan resmi ini bukan lagi soal menutupi skandal, Freya. Aku ingin ini jadi nyata. Aku tidak ingin ada hari ke-31 di mana kamu pergi meninggalkan istana ini."
Freya tertegun. Ia menatap tangan Kaisar yang menggenggamnya erat. "Tapi Kai, aku ini berisik. Aku nggak tahu aturan. Aku hobi bikin sepupu kamu menderita. Apa kamu nggak bakal capek?"
Kaisar membawa tangan Freya ke bibirnya, mengecupnya dengan penuh takzim. "Istana ini terlalu sunyi sebelum kamu datang. Aku lebih suka kebisinganmu daripada kesunyian yang sempurna. Jadi, Freya Aurelia... maukah kamu tetap di sini, bukan karena terpaksa oleh perjanjian, tapi karena kamu juga membutuhkanku?"
Freya merasakan matanya memanas. Di bawah langit sore yang romantis itu, si gadis rebel akhirnya menyadari bahwa hatinya telah benar-benar "kalah" oleh sang Pangeran Robot yang kini telah menemukan baterai jiwanya.
"Asal kamu janji..." bisik Freya.
"Janji apa?"
"Janji bakal selalu suapin aku kalau tangan aku kena cat, persis kayak yang Sherena lakuin tadi pagi," canda Freya sambil menghapus air mata di sudut matanya.
Kaisar tertawa—tawa lepas yang sangat jarang didengar oleh siapapun di istana itu. "Dengan senang hati, Tuan Putriku."