Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Belum Ada Pacarnya
Aruna tak bisa tenang. Gaya Rio membaca pesan dan mengirim pesan dicurigainya sedang chatingan dengan orang terdekatnya.
Rasanya aku tak siap kecewa jika Rio ternyata sudah ada yang punya.
Ah sebaiknya aku bertanya saja dengan siapa dia chatingan kok sambil senyum-senyum, tekat Aruna. Namun satu detik kemudian dia surut untuk tahu khawatir kecewa.
"Tapi kalau aku nggak nanya aku kok nggak tenang juga," batin Aruna, tapi kalau nggak aku penasaran, duh gimana ini ya?
Maka dengan modal nekat dan hati deg deg gan keluar juga pertanyaan yang siap membuat hatinya terbelah jika Rio sudah punya kekasih.
"Ri ..."
"Hem,"
"Tadi dapat pesan dari kekasih atau calonmu?" Pertanyaan bernada getir dan menunggu jawab dengan was was.
Rio tertawa kecil mendengar pertanyaan Aruna dan dia tak tahu kalau gadis di sebelahnya bakalan pulang nangis membuat bantalnya nanti basah oleh air mata, kalau seandainya dirinya punya pacar. Karena perasaan lama Aruna yang lama dan siap dikembangkan bakalan menemukan rintangan dan juga tantangan.
"Teman kuliahmu atau ..." tak bisa meneruskan dada Aruna terasa sesak. Tapi penasaran.
"Aku itu gak punya waktu untuk yang begitu, Runa, pulang kuliah langsung bantu kakek di kantor, apalagi sejak enam bulan lalu kakek resmi mundur dari kantor dan perusahaan aku yang handle secara penuh." ujar Rio membuat dunia Aruna sangat berwarna.
Jadi Rio memang betulan tak punya kekasih?
"Aku tak mau yang jadi pacarku kecewa nanti, pasti dia protes dan sedih serta marah karena aku tak bisa membawanya jalan-jalan .." lanjut Rio.
Aruna tersenyum sempurna. Ada peluang dan dia tak akan menyia-nyiakan mantan teman sekolah yang dulu begitu diharapkannya itu.
"Makanya aku pendam rasa ingin jatuh hati hingga nanti aku lulus kuliah, paling tidak aku hanya fokus ke kantor ..." terbayang pernikahannya dengan gadis berumur delapan belas tahun. Ah, pernikahan itu toh akan berakhir setelah gadis itu sadar dia bukan pilihanku.
Aruna menatap takjub pada Rio, "Rio aku gadis yang siap dengan kesibukanmu, aku pasti bisa mengerti," batinnya.
Rio menatap Aruna.
Aruna tersenyum teramat manis.
Pagi-pagi Rio mendapatkan pesan menggoda dari Didit.
(Kak bagaimana kencanmu dengan gadis blaster Jakarta Tokyo itu, happy tentunya. Jangan lupa pulang bawa, ya)
Rio hanya tersenyum dan tak perlu meladeni anak itu.
Handphonenya bergetar.
Rio melirik. Ternyata pesan dari Aruna. Segera dia buka.
(Pagi, Ri pasti kamu akan menjalani rutinitas ke pabrik ya)
Rio langsung membalas
(Hari ini aku hanya menerima laporan dari kegiatan kantor di Jakarta. Jadi hanya di kamar saja. Besok baru kembali aktif)
Datang pesan dari Aruna lagi.
(Kebetulan ini musim dingin bagaimana kalau kita rekreasi ke Sapporo untuk melihat festival patung salju)
Rio tertarik untuk berkunjung ke Sapporo mumpung bertepatan dengan diselenggarakannya festival patung es dari salju
Datang pesan dari Aruna lagi.
(Jaraknya cukup jauh dari Tokyo perjalanan udara bisa memakan waktu hampir satu setengah jam, mungkin melelahkan ya)
Tiba-tiba saja Rio langsung membalas pesan Aruna
(Aku akan segera bersiap kita akan melihat patung salju, are you ready, oke)
Aruna terbelalak membaca balasan dari Rio. Oh dia mau ke Sapporo, ya Tuhan aku akan bersamanya dalam waktu seharian. Tak terkirakan bahagianya Aruna.
Segera membalas pesan Rio, tak boleh terlambat ayo Aruna cepat bertindak. Sebagai pihak yang mengajak segera Aruna memesan tiket pesawat untuk mereka
(Aku ready dan kusiapkan dua tiket pesawat untuk kita, oke)
Rio tersenyum membaca balasan Aruna. Dia mentraktirku aku tak boleh menolak biar saja dia bertindak sebagai tuan rumah sementara.
(Oke aku juga akan pesan tiket pesawat untuk kita balik ke Tokyo, oke)
Aruna membaca pesan itu. Oh berarti Rio sudah memperhitungkan kapan dia mau kembali ke Tokyo.
Dan Aruna sudah memprediksi kapan Rio mau bertolak dari Sapporo. Mungkin sore hari, pikirnya.
Di Jakarta di rumah Rayi terjadi kesibukan bibik menyiapkan sarapan pagi non majikannya yang sejak kemarin siang non majikan pulang. Itu membuat bibik sangat senang bisa melayaninya.
Saat Rayi ke meja makan semua sudah tersedia. Sengaja si bibik membuat pilihan sendiri untuk sarapan pagi ini, karena semalam saat ditanya mau sarapan apa tapi Rayi menjawab terserah.
Maka di atas meja terhidang sepiring nasi goreng spesial kesukaannya, selain itu ada segelas susu panas dan roti tawar isi keju.
Rayi tersenyum saat memandang nasi goreng kesukaannya pasti lezat. Nasi goreng buatan bibik sudah tak diragukan lagi rasanya.
Makanya langsung saja Rayi duduk di kursi dan menarik lebih dekat lagi sepiring nasi goreng yang menggugah seleranya.
Tapi sebelum makan dia mengirim pesan pada kakek Brata.
(Selamat pagi Kakek, apa kakek sudah sarapan, Rayi mau sarapan nih Kek sebelum ke kampus)
Rayi tersenyum saat pesannya langsung contreng biru, artinya si kakek yang dangat perhatian itu sudah membaca. Bahkan kini sedang mengetik.
Ting.
Benar datang balasan.
(Ya Nak sarapan sebelum berkegiatan harus. Kakek juga mau ke meja makan, apa suamimu sudah memberi kabar)
Saat membaca pertanyaan tentang Rio apakah memberi kabar bibir Rayi mengerucut. Lalu teringat kemarin pagi telepon protes dari Rio.
"Hey cewek nggak usah ngebohong sama kakek aku ya, udah gitu fitnah aku lagi yang memberi kamu nginep di rumahmu. Kecil-kecil kang tipu ..."
Enak ajah udah aku bantuin supaya kakeknya senang hati, malah dia ngatain aku kang fit ah, kang tipu.
Parah!
Biar aku jujur ajah kali ini.
(Mungkin dia sibuk Kek. Sejak semalam mungkin dia lelah. Emang kudu ya, Kek kirim kabar tiap pagi)
Rayi tersenyum sinis sambil menekan tanda panah.
Tak lama kemudian datang balasan. Bibirnya senyum-senyum saat membaca pesan dari kakek Brata.
(Wah nggak benar Rio ini sampai lupa kirim kabar pada istri. Sangat penting dan harus menelepon istri jika ada di luar rumah. Pagi, siang dan malam harusnya kalian intens bertukar kabar, biar Kakek tegur dia)
Rasain Rio Hadi Subrata makanya jangan sok kepedean jadi orang!
Bibik yang masuk ke ruang makan salah mengartikan senyum bahagia Rayi, dia mengira non majikannya sedang bertukar kabar dengan suaminya.
"Ah pengantin baru kasihan harus terpisah karena tugas," batin si bibik.
"Bik ..." panggil Rayi saat mengunyah nasi goreng.
"Ya, Non ..."
Rayi menelan nasi goreng di mulutnya, "Wah berapa hari nggak makan nasi goreng kesayangan ini kok rasanya makin yumi ajah ..." lalu tangannya menyuap lagi.
"Wah kehormatan bagi Bibik karena si Non nggak berubah masih suka nasi goreng buatan bibik ..." tersenyum lebar bibik melihat non majikannya menikmati nasi gorengnya dengan lahap.
"Wah ini nasi rasanya buatan restauran dari hotel bintang tujuh, Bik, pokoknya nggak terkalahkan ..." dan Rayi menyuap lagi.
"Non ini bisa saja," ujar bibik senang jika nonnya masih suka dengan nasi goreng buatannya.
Karena Rayi tak mengijinkan sopir Amat mengantar dan jemput ke kampus, maka gadis itu menyetir mobil pribadinya yang dibelikan kakek Satya saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas ke kampusnya.
"Bawa mobil sendiri Ray," sapa Yuni menyambut Rayi di luar parkir kampus.
"Ya aku lagi banyak kegiatan, sekali-sekali mengistirahatkan sopir bagus juga supaya dia istirahat."
"Ya juga, sih, yuk," lengan Yuni langsung melingkar di lengan Rayi, keduanya melangkah menuju ke kelas mereka.
Handphone Rayi berbunyi pelan, menandakan ada pesan yang masuk.
Rayi mengeluarkan handphonenya. Kedua matanya melebar sekaligus menghentikan langkah kakinya.
Di layar handphonenya nama Kepedean yang diperuntukkan Rio jelas terbaca. Ada notif sebagian pesan terbaca pula.
(Hai bocah kamu ...
"Huh dia pesan apa, ya"
Sekali klik terbukalah pesan dari Rio.
(Hai bocah kamu menghasut apa ke kakek aku, pagi-pagi dia udah negur aku!)
Rayi menahan kesal membaca pesan dari Rio.
Tentu saja Yuni yang melangkah sambil merangkul lengan Rayi ikutan menghentikan langkahnya, tapi dia type sahabat yang tak mau kepo, makanya tak ingin tahu Rayi sedang menerima pesan dari mana. Tapi dari perubahan wajah sahabatnya dia mengerti jika pesan itu membuatnya marah.
"Dasar cowok songong!" Gerutu Rayi.
Yuni hanya menahan senyum.
suka banget alurnya