NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Ibu susu / Mantan
Popularitas:66.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Pelindung di Balik Badai Hinaan

     ​Pagi itu, sinar matahari masih malu-malu memasuki ke celah gorden, suasana terasa masih remang tapi damai di dalam kamar utama.

     Daviko perlahan membuka mata, merasakan kehangatan yang sudah bertahun-tahun hilang dari hidupnya. Di sampingnya, dipisahkan oleh tubuh mungil Kaffara, Saliha masih terlelap dengan sisa air mata yang mengering di sudut matanya. Pemandangan itu begitu indah, begitu rapuh, hingga Daviko takut untuk sekadar bernapas terlalu keras.

     ​Namun, kedamaian itu hancur berkeping-keping dalam sekejap.

     ​BRAK!

     ​Pintu kamar berkayu jati yang berat itu terbuka secara paksa. Suara debuman pintu yang menghantam dinding seketika membangunkan Daviko.

     Saliha tersentak hebat, ia langsung terduduk dengan napas memburu dan wajah pucat pasi. Tangisan Kaffara pun pecah, membelah keheningan pagi.

     ​"Astaga! Jadi ini kelakuanmu di belakang kami, Daviko?" Suara melengking Bu Ratna menggelegar di ambang pintu.

     ​Di belakangnya, Tari berdiri dengan wajah merah padam, matanya menatap tajam ke arah ranjang tempat Saliha dan Daviko berada. Rasa cemburu dan jijik terpancar jelas dari raut wajah wanita yang sangat ambisius ingin menjadi nyonya di rumah itu.

     ​Saliha yang merasa sangat terhina dan ketakutan segera meraih Kaffara ke dalam dekapannya. Ia hendak turun dari ranjang, berniat lari menuju kamarnya di bawah. "Maaf... saya... saya harus pergi," bisik Saliha dengan tangan gemetar.

     ​"Tetap di sini, Saliha!" Suara Daviko menggelegar, dingin dan tidak bisa dibantah. Ia bangkit dari posisinya, berdiri tegak di depan ranjang seolah menjadi perisai hidup bagi Saliha dan Kaffara.

     ​Daviko melangkah mendekati Bu Ratna dan Tari dengan tatapan mata yang bisa membekukan darah siapa pun yang melihatnya. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.

     ​"Siapa yang mengizinkan kalian masuk ke kamarku tanpa permisi?" Daviko bertanya dengan nada rendah namun mematikan.

     ​Bu Ratna mendengus, mencoba menutupi kegugupannya dengan sikap angkuh. "Mama datang ke sini karena khawatir pada Kaffara! Dan ternyata kekhawatiran Mama benar. Kamu membiarkan wanita jalang ini tidur di ranjangmu? Di ranjang mendiang istrimu! Daviko, kamu sudah kehilangan akal sehatmu karena bekas sampah ini?"

     ​"Jaga bicaramu, Bu!" bentak Daviko. Suaranya bergema di seluruh penjuru kamar. "Saliha ada di sini karena aku yang memintanya. Kaffara rewel semalaman dan hanya mau tenang jika di sampingnya. Saliha adalah ibu susu Kaffara, dia punya hak lebih besar di rumah ini daripada orang asing yang masuk tanpa izin!"

     ​Tari melangkah maju, suaranya terdengar gemetar karena marah. "Mas Daviko, bagaimana Mas bisa membela dia? Lihat dia! Dia sengaja menggunakan Kaffara untuk menggodamu. Dia wanita licik yang hanya mengincar hartamu. Pasti semalam dia yang merayu Mas agar bisa tidur di sini, kan? Dasar wanita tidak tahu malu!"

      ​Saliha yang mendengar itu hanya bisa menundukkan kepala, memeluk Kaffara lebih erat. Air mata kembali jatuh membasahi pipinya. Hinaan itu terasa seperti sembilu yang menyayat luka lamanya. Ia merasa sangat kotor, sangat tidak berharga di depan dua wanita yang selalu memandangnya rendah.

     ​Melihat Saliha kembali menangis, Daviko seolah kehilangan seluruh kesabarannya. Ia maju satu langkah lagi, membuat Bu Ratna dan Tari mundur teratur.

     ​"Cukup!" teriak Daviko. "Jangan pernah lagi kalian melontarkan tuduhan keji pada Saliha. Apa pun yang dia lakukan di ranjang ini, mau dia tidur, mau dia ngapa-ngapain, itu sekarang jadi urusanku! Bukan urusan kalian! Dia berada di bawah perlindunganku."

     ​Daviko menunjuk ke arah pintu dengan jari gemetar karena emosi. "Sekarang, keluar dari rumahku! Detik ini juga!"

     ​"Daviko! Kamu mengusir mertuamu sendiri demi wanita pungut ini?" Bu Ratna berteriak histeris, tidak percaya mantan menantunya akan bersikap sekeras itu.

     ​"Aku tidak mengusir Ibu jika Ibu bersikap layaknya seorang tamu yang beradab. Tapi jika Ibu datang hanya untuk mengusik ketenangan anakku dan menghina wanita yang sudah berjasa besar untuk Kaffara, maka Ibu tidak punya tempat di rumah ini!" Daviko membalas dengan tegas.

     ​Tari mencoba meraih lengan Daviko. "Mas, dengarkan dulu...."

     ​"Jangan sentuh aku!" Daviko menepis tangan Tari dengan kasar. "Pergilah sebelum aku memanggil penjaga untuk menyeret kalian keluar secara tidak hormat. Jangan pernah tunjukkan wajah kalian lagi di depan Saliha atau Kaffara."

     "Ini terakhir kali kalian datang ke sini. Aku peringatkan jangan datang ke sini lagi, selama kalian hanya bisa membuat fitnah dan keonaran!" lanjut Daviko keras, diiringi telunjuk yang mengayun ke arah pintu kamar agar Bu Ratna dan Tari keluar.

     ​Dengan kemarahan yang meluap-luap, Bu Ratna dan Tari akhirnya melangkah pergi meninggalkan kamar itu. Suara langkah kaki mereka yang menghentak keras di lantai terdengar menjauh, diikuti oleh suara pintu depan yang dibanting.

     ​Suasana kamar kembali hening, kecuali isakan kecil dari Saliha. Daviko berbalik, ia mendekati ranjang dan hendak menyentuh bahu Saliha untuk menenangkannya. Namun, sebelum tangannya sampai, Saliha sudah menghindar dengan gerakan yang sangat dingin.

     ​Saliha bangkit, menggendong Kaffara yang sudah mulai tenang, lalu menatap Daviko dengan sorot mata yang penuh dengan kekecewaan dan kemarahan yang tertahan.

     ​"Puas, Bapak melihat saya dihina dan difitnah seperti tadi?" tanya Saliha lirih namun tajam.

     ​"Saliha, aku tidak tahu kalau mereka masih berani datang ke sini, setelah kejadian beberapa hari yang lalu, aku hanya membelamu...."

     ​"Membela saya dengan cara membiarkan saya dihina sebagai wanita jalang?" Saliha memotong dengan suara bergetar. "Harusnya semalam saya tetap turun. Dan Bapak tidak perlu menahan saya di sini. Sekarang, karena keegoisan Bapak yang ingin saya tidur di sini, harga diri saya kembali diinjak-injak."

     ​"Aku tidak akan membiarkan mereka kembali, Saliha. Aku bersumpah," janji Daviko dengan wajah memelas.

     ​Saliha menggelengkan kepala. "Sumpah Bapak tidak ada artinya bagi saya. Setiap kali Bapak mencoba mendekat, justru masalah yang selalu datang. Saya mohon, Pak... mulai sekarang, biarkan saya menjalankan tugas saya sesuai kontrak. Jangan pernah panggil saya ke kamar ini lagi."

     ​Saliha melangkah keluar kamar dengan kepala tegak, meski hatinya hancur berkeping-keping. Sikapnya kini menjadi berkali-kali lipat lebih dingin dari sebelumnya. Ia merasa sangat kesal setiap kali Daviko mencoba menunjukkan perhatian. Baginya, perhatian Daviko hanyalah racun yang dibungkus dengan madu.

     ​Daviko hanya bisa berdiri mematung di tengah kamarnya yang kini terasa sangat sesak dan hampa. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan, usahanya untuk melindungi Saliha justru semakin memperlebar jurang di antara mereka.

     Saliha kini bukan lagi sekadar menghindar, wanita itu mulai membencinya karena situasi yang ia ciptakan sendiri.

     ​"Maafkan aku, Saliha... Aku hanya tidak tahu cara lain untuk menunjukkan bahwa aku membutuhkanmu," bisik Daviko pada ruangan kosong itu.

     ​Sepanjang hari itu, rumah Daviko dipenuhi dengan keheningan yang mencekam. Saliha mengunci diri di kamar bawah bersama Kaffara, hanya keluar jika benar-benar diperlukan.

     Setiap kali Daviko berpapasan dengannya dan mencoba menyapa, Saliha hanya menjawab dengan anggukan formal dan tatapan mata yang membeku.

     ​Tembok yang dibangun Saliha kini telah diperkuat dengan semen kebencian dan kekecewaan. Dan Daviko, sang perwira yang biasanya memenangkan setiap misi, kini merasa benar-benar kalah di tangan wanita yang paling masih ia cintai.

1
cecla9
sukaaa
Nasir: Mksh banyak Kak.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
Berbahagialah Saliha..❤️
Ai Oncom
koq blm up kak..?
Nasir: Nanti agak siang ya Kak. Kmrn bentrok sama kesibukan di rumah. Maaf ya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Anonymous
greget dengan alur yang mendayu-dayu..... bagus bgttttt.....lain dari yang lain.semangat thorrrr..... sekuelnya sampai Kafarra married ya
Nasir: Iya Insya Allah ya Kak... doakan idenya lancar..... 😄😄🙏🙏
total 1 replies
Eva Tigan
Habis ini Kapten Daviko pasti candu sama tubuh istrinya..ternyata Pak Kapten yg bekas..kal9 Saliha masih perawan..menang banyak kan Pak Kapten😄
Nasir: Banyak bgt dia Kak. Belum lagi pernah berpikir hasutan Huda. Dia memang kayak dpt durian runtuh dpt Saliha.
total 1 replies
Ai Oncom
jangan tamat dulu ya kak.. ceritanya lanjut sampe Saliha punya anak..🙏🤭
Nasir: Wkwkwkw.... takut bosan. Doakan sy idenya byk ya... 🙏🙏
total 3 replies
Eva Tigan
Eeehhh...malah tidur..aku kira ada malam pertama yg indah dan berbunga bunga🥰
kalo mau bulan madu ke Bali dan Lombok.. sekalian bawa bi tita dan kaffra ..biar sekalian jalan2 keluarga 😊
Eva Tigan: okey👍🙏
total 2 replies
Arin
Akhirnya sah......
Ayo..... kondangan. Jangan lupa amplopnya🤭🤭🤭🤭
cecla9: mantan mertua Dan mantan ipar Di undang Kan ...wajib biar pingsan wkwkwkwkw
total 3 replies
Ai Oncom
Alhamdulillah..❤️
Siti Maimunah
yaa sakit hati lah,di sumpahin emg lw.siapa viko???!!! TUHAN??!!!
Ai Oncom
❤️❤️❤️
Arin
Sebelum sampai hari H.... perlu diamankan dulu tuh mantan mertua sama mantan adik ipar biar tak mengacaukan pernikahan
Ariany Sudjana
memang seperti itu peraturan menikah dengan anggota TNI, saya tahu, karena saya juga anak anggota TNI
Nasir: Iya Kak.... 🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Farid Atallah
doubel up dong Thor 😥
Ariany Sudjana
dasar jalang murahan ga tau diri kalian berdua itu, harus dibinasakan
Nasir: Setuju Kak...
total 1 replies
Arin
Kan mana pernah jera mereka..... Sebelum mereka mendapat kan apa yang mereka ingin kan. Yaitu Tari harus bersanding dengan Daviko. Menggantikan Amara sebagai ibu sambung Kaffara
Eva Tigan
saatnya berbahagia..sudah cukup drama sedih dan luka nya selama ini
Nur Haswina
penantian 2 bulan serasa 2 tahun lama dan pasti banyak rintangannya, semoga saja mbak author tdk kasih rintangan yg menguras tenaga
Nur Haswina: masih slalu menunggu bab selanjutnya thor
total 2 replies
Arin
Jangan sampai menjelang pernikahan ada gangguan dari si Nenek Sihir dengan anaknya datang mengacau. Karena kurang setuju Daviko menikahi Saliha. Karena yang merasa berhak bersanding dan pantas adalah adik dari Amara
Arin: Soalnya yang bikin rumah Daviko rame selain tangisan Kaffara, ya itu si Ibu Ratna😁😁😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!