NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - Hal yang Tidak Lagi Dia Lakukan

Ada hal-hal kecil yang berubah lebih dulu. Bukan keputusan besar. Bukan pertengkaran. Melainkan kebiasaan yang diam-diam hilang.

Nadira Savitri bangun pagi itu tanpa mengecek ponsel.

Dia duduk di tepi kasur, meminum air putih perlahan, menunggu detak jantungnya stabil. Biasanya, di jam segini, tangannya refleks meraih ponsel... mencari pesan dari Raka, atau setidaknya memastikan dia sudah online.

Hari ini tidak.

Salsa memperhatikannya dari balik cermin.

"Kamu yakin nggak apa-apa?" Tanyanya. "Sejak bangun tadi kamu aneh."

Nadira menyisir rambutnya, gerakannya tenang.

"Aneh kenapa?"

'Kamu biasanya panik jam segini. Takut telat balas chat Raka."

Nadira berhenti sesaat. Bayangan lorong kampus itu kembali muncul... dingin, sepi, dan sunyi. Pesan yang tak pernah dibaca.

Dia mengangkat bahu kecil.

"Capek."

Satu kata itu terasa jujur.

Bukan capek fisik. Tapi capek berharap.

Di kampus, perubahan Nadira terlihat samar. Dia tetap datang tepat waktu, tetap sopan, tetap tersenyum jika disapa. Tapi ada jarak baru di matanya... seolah sebagian dirinya mundur satu langkah dari dunia.

Raka tidak menyadarinya.

Di sekretariat BEM, Raka Mahardika sibuk seperti biasa. Rapat belum selesai sejak pagi. Proposal menumpuk. Nama Nadira muncul di notifikasi ponselnya... satu pesan masuk.

[Aku ke kampus agak siang. Jangan tunggu.]

Raka membaca sekilas. Dulu, pesan seperti itu selalu disertai penjelasan panjang. Permintaan maaf. Emoji cemas.

Yang ini tidak.

Raka mengernyit sebentar, lalu meletakkan ponsel kembali.

"Aluna." Panggilnya.

Perempuan di seberang meja itu menoleh dengan senyum cepat.

"Iya?"

"Kamu bisa cek ulang data acara? Aku takut ada yang kelewat."

Aluna bangkit, berjalan mendekat. Rambutnya tergerai rapi, langkahnya ringan.

"Tenang. Aku ada kok."

Kalimat itu bukan sekadar jawaban. Itu janji tak tertulis... yang selalu berhasil membuat Raka merasa aman.

Dari sudut ruangan, Aluna melirik ponsel Raka yang terbuka sebentar tadi. Nama Nadira masih tertera di layar.

Dia tersenyum kecil.

Aluna Prameswari selalu tahu caranya berdiri di tempat yang tepat.

Dia tidak pernah terang-terangan menyerang Nadira. Tidak perlu. Baginya, kesabaran adalah senjata. Dia sudah ada lebih dulu dalam hidup Raka, dalam cerita masa kecilnya, dalam setiap kenangan yang tak bisa disentuh Nadira.

"Nadira belum datang?" Tanyanya ringan, seolah hanya basa-basi.

Raka menggeleng. "Katanya siang."

'Oh." Aluna mencondongkan tubuh sedikit. "Dia kelihatan capek akhir-akhir ini."

Raka mengangkat bahu. "Dia memang gampang capek."

Kalimat itu membuat Aluna hampir tertawa.

Gampang capek, pikirnya.

Atau gampang diabaikan?

Aluna tidak iri pada cinta Nadira. Dia hanya tidak suka kehilangan kendali. Selama ini, Nadira selalu bereaksi... marah, sedih, cemburu. Mudah dibaca. Mudah diarahkan.

Yang berbahaya adalah perempuan yang berhenti bereaksi.

Dan pagi ini, entah kenapa, Aluna merasa sesuatu bergerak keluar dari genggamannya.

Nadira tiba di kampus pukul sepuluh lewat. Dia berjalan melewati halaman fakultas dengan langkah stabil. Beberapa orang menyapanya... Dia membalas singkat, tidak berlama-lama.

Di depan gedung BEM, dia berhenti sebentar.

Dulu, tempat itu selalu memicu kecemasan. Takut mengganggu. Takut dianggap tidak pengertian. Takut Raka kesal.

Sekarang, dadanya tenang.

Dia masuk tanpa mengetuk. Raka mengangkat kepala, refleks tersenyum.

"Kamu akhirnya datang."

Nadira mengangguk. "Iya."

Tidak ada pelukan. Tidak ada pertanyaan. Dia langsung duduk di kursi kosong, membuka tas, mengeluarkan laptop.

Raka menunggu. Biasanya... di titik ini, Nadira akan berkata. 'Maaf aku telat, atau Kamu capek nggak?'

Tidak ada.

Aluna memperhatikan dari balik kacamata. Matanya menyipit tipis.

Raka berdeham. "Kamu nggak apa-apa?"

Nadira menoleh. Tatapannya datar, bukan dingin... lebih seperti netral.

"Apa yang harus nggak apa-apa?"

Raka terdiam sesaat. "Biasanya kamu nanya."

Nadira menatap layar laptopnya. "Kalau kamu butuh ditanyain, bilang."

Kalimat itu jatuh pelan, tapi cukup untuk membuat udara berubah.

Raka tidak marah. Tapi ada rasa asing yang menyusup. Seperti duduk di kursi sendiri yang tiba-tiba dipindahkan setengah meter.

"Oh." Gumamnya. "Ya sudah."

Rapat berlanjut.

Namun sepanjang diskusi, Raka beberapa kali melirik Nadira. Dia fokus, mencatat, sesekali berbicara jika perlu. Tidak mencari persetujuan. Tidak menatap Raka lebih lama dari yang dibutuhkan.

Dan entah kenapa, itu mengganggunya.

Sore harinya, Raka mengirim pesan.

[Kamu pulang bareng aku?]

Biasanya, Nadira akan menjawab cepat. Kali ini, pesan itu dibiarkan terbaca lima menit. Sepuluh.

Aluna melihat perubahan raut wajah Raka.

"Kamu kenapa?"

"Enggak." Jawab Raka cepat. Tapi ia kembali mengecek ponsel.

Balasan akhirnya datang. [Aku ada urusan. Pulang duluan.] Tidak ada emoji. Tidak ada penjelasan.

Raka mengetik ulang beberapa kali, lalu menghapusnya.

"Dia kenapa sih?" Gumamnya tanpa sadar.

Aluna tersenyum tipis. Dia mendekat, menyentuh lengan Raka dengan ringan.

"Mungkin lagi capek. Kamu terlalu mikir."

Benar. Mungkin terlalu mikir.

Tapi saat Nadira benar-benar pulang tanpa menoleh, Raka merasakan sesuatu yang aneh... Seperti kehilangan barang yang biasa ada di saku, baru terasa saat hendak diraih.

Di kos, Nadira duduk di tepi jendela. Senja menumpahkan cahaya oranye ke dinding. Ponselnya tergeletak tak tersentuh di meja.

Salsa masuk sambil membawa dua gelas kopi.

"Raka nyari kamu?"

Nadira mengangguk. "Iya."

"Kamu berantem?"

"Enggak."

Salsa mengernyit. "Terus?"

Nadira menatap ke luar.

"Aku cuma berhenti menjelaskan. Itu saja."

Kalimat itu sederhana. Tapi di baliknya, ada keputusan yang berat. Setiap detik dia menahan diri untuk tidak kembali menjadi Nadira yang lama... yang memohon untuk diperhatikan.

Dadanya sesak, tapi bukan karena cinta. Karena melepaskan kebiasaan lama memang selalu menyakitkan.

Dia tahu, perubahan ini tidak akan langsung terlihat. Tapi dampaknya akan merambat.

Di tempat lain, Aluna sedang mengetik pesan pada seseorang di ponselnya, senyum kecil menghiasi wajahnya.

[Tenang. Dia mulai menjauh sendiri.]

Namun untuk pertama kalinya, Aluna merasa tidak sepenuhnya yakin.

Dan untuk pertama kalinya, Raka Mahardika duduk sendirian di sekretariat BEM. Menatap kursi kosong di seberangnya, dengan perasaan aneh yang belum bisa dia beri nama.

Dia tidak tahu apa itu. Yang dia tahu hanya satu... ada sesuatu yang hilang. Dan dia tidak ingat kapan terakhir kali Nadira membuatnya merasa seperti ini.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!