NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Rebirth For Love / Obsesi / Time Travel / Romansa / Tamat
Popularitas:16.1k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - Hal yang Tidak Lagi Dia Lakukan

Ada hal-hal kecil yang berubah lebih dulu. Bukan keputusan besar. Bukan pertengkaran. Melainkan kebiasaan yang diam-diam hilang.

Nadira Savitri bangun pagi itu tanpa mengecek ponsel.

Dia duduk di tepi kasur, meminum air putih perlahan, menunggu detak jantungnya stabil. Biasanya, di jam segini, tangannya refleks meraih ponsel... mencari pesan dari Raka, atau setidaknya memastikan dia sudah online.

Hari ini tidak.

Salsa memperhatikannya dari balik cermin.

"Kamu yakin nggak apa-apa?" Tanyanya. "Sejak bangun tadi kamu aneh."

Nadira menyisir rambutnya, gerakannya tenang.

"Aneh kenapa?"

'Kamu biasanya panik jam segini. Takut telat balas chat Raka."

Nadira berhenti sesaat. Bayangan lorong kampus itu kembali muncul... dingin, sepi, dan sunyi. Pesan yang tak pernah dibaca.

Dia mengangkat bahu kecil.

"Capek."

Satu kata itu terasa jujur.

Bukan capek fisik. Tapi capek berharap.

Di kampus, perubahan Nadira terlihat samar. Dia tetap datang tepat waktu, tetap sopan, tetap tersenyum jika disapa. Tapi ada jarak baru di matanya... seolah sebagian dirinya mundur satu langkah dari dunia.

Raka tidak menyadarinya.

Di sekretariat BEM, Raka Mahardika sibuk seperti biasa. Rapat belum selesai sejak pagi. Proposal menumpuk. Nama Nadira muncul di notifikasi ponselnya... satu pesan masuk.

[Aku ke kampus agak siang. Jangan tunggu.]

Raka membaca sekilas. Dulu, pesan seperti itu selalu disertai penjelasan panjang. Permintaan maaf. Emoji cemas.

Yang ini tidak.

Raka mengernyit sebentar, lalu meletakkan ponsel kembali.

"Aluna." Panggilnya.

Perempuan di seberang meja itu menoleh dengan senyum cepat.

"Iya?"

"Kamu bisa cek ulang data acara? Aku takut ada yang kelewat."

Aluna bangkit, berjalan mendekat. Rambutnya tergerai rapi, langkahnya ringan.

"Tenang. Aku ada kok."

Kalimat itu bukan sekadar jawaban. Itu janji tak tertulis... yang selalu berhasil membuat Raka merasa aman.

Dari sudut ruangan, Aluna melirik ponsel Raka yang terbuka sebentar tadi. Nama Nadira masih tertera di layar.

Dia tersenyum kecil.

Aluna Prameswari selalu tahu caranya berdiri di tempat yang tepat.

Dia tidak pernah terang-terangan menyerang Nadira. Tidak perlu. Baginya, kesabaran adalah senjata. Dia sudah ada lebih dulu dalam hidup Raka, dalam cerita masa kecilnya, dalam setiap kenangan yang tak bisa disentuh Nadira.

"Nadira belum datang?" Tanyanya ringan, seolah hanya basa-basi.

Raka menggeleng. "Katanya siang."

'Oh." Aluna mencondongkan tubuh sedikit. "Dia kelihatan capek akhir-akhir ini."

Raka mengangkat bahu. "Dia memang gampang capek."

Kalimat itu membuat Aluna hampir tertawa.

Gampang capek, pikirnya.

Atau gampang diabaikan?

Aluna tidak iri pada cinta Nadira. Dia hanya tidak suka kehilangan kendali. Selama ini, Nadira selalu bereaksi... marah, sedih, cemburu. Mudah dibaca. Mudah diarahkan.

Yang berbahaya adalah perempuan yang berhenti bereaksi.

Dan pagi ini, entah kenapa, Aluna merasa sesuatu bergerak keluar dari genggamannya.

Nadira tiba di kampus pukul sepuluh lewat. Dia berjalan melewati halaman fakultas dengan langkah stabil. Beberapa orang menyapanya... Dia membalas singkat, tidak berlama-lama.

Di depan gedung BEM, dia berhenti sebentar.

Dulu, tempat itu selalu memicu kecemasan. Takut mengganggu. Takut dianggap tidak pengertian. Takut Raka kesal.

Sekarang, dadanya tenang.

Dia masuk tanpa mengetuk. Raka mengangkat kepala, refleks tersenyum.

"Kamu akhirnya datang."

Nadira mengangguk. "Iya."

Tidak ada pelukan. Tidak ada pertanyaan. Dia langsung duduk di kursi kosong, membuka tas, mengeluarkan laptop.

Raka menunggu. Biasanya... di titik ini, Nadira akan berkata. 'Maaf aku telat, atau Kamu capek nggak?'

Tidak ada.

Aluna memperhatikan dari balik kacamata. Matanya menyipit tipis.

Raka berdeham. "Kamu nggak apa-apa?"

Nadira menoleh. Tatapannya datar, bukan dingin... lebih seperti netral.

"Apa yang harus nggak apa-apa?"

Raka terdiam sesaat. "Biasanya kamu nanya."

Nadira menatap layar laptopnya. "Kalau kamu butuh ditanyain, bilang."

Kalimat itu jatuh pelan, tapi cukup untuk membuat udara berubah.

Raka tidak marah. Tapi ada rasa asing yang menyusup. Seperti duduk di kursi sendiri yang tiba-tiba dipindahkan setengah meter.

"Oh." Gumamnya. "Ya sudah."

Rapat berlanjut.

Namun sepanjang diskusi, Raka beberapa kali melirik Nadira. Dia fokus, mencatat, sesekali berbicara jika perlu. Tidak mencari persetujuan. Tidak menatap Raka lebih lama dari yang dibutuhkan.

Dan entah kenapa, itu mengganggunya.

Sore harinya, Raka mengirim pesan.

[Kamu pulang bareng aku?]

Biasanya, Nadira akan menjawab cepat. Kali ini, pesan itu dibiarkan terbaca lima menit. Sepuluh.

Aluna melihat perubahan raut wajah Raka.

"Kamu kenapa?"

"Enggak." Jawab Raka cepat. Tapi ia kembali mengecek ponsel.

Balasan akhirnya datang. [Aku ada urusan. Pulang duluan.] Tidak ada emoji. Tidak ada penjelasan.

Raka mengetik ulang beberapa kali, lalu menghapusnya.

"Dia kenapa sih?" Gumamnya tanpa sadar.

Aluna tersenyum tipis. Dia mendekat, menyentuh lengan Raka dengan ringan.

"Mungkin lagi capek. Kamu terlalu mikir."

Benar. Mungkin terlalu mikir.

Tapi saat Nadira benar-benar pulang tanpa menoleh, Raka merasakan sesuatu yang aneh... Seperti kehilangan barang yang biasa ada di saku, baru terasa saat hendak diraih.

Di kos, Nadira duduk di tepi jendela. Senja menumpahkan cahaya oranye ke dinding. Ponselnya tergeletak tak tersentuh di meja.

Salsa masuk sambil membawa dua gelas kopi.

"Raka nyari kamu?"

Nadira mengangguk. "Iya."

"Kamu berantem?"

"Enggak."

Salsa mengernyit. "Terus?"

Nadira menatap ke luar.

"Aku cuma berhenti menjelaskan. Itu saja."

Kalimat itu sederhana. Tapi di baliknya, ada keputusan yang berat. Setiap detik dia menahan diri untuk tidak kembali menjadi Nadira yang lama... yang memohon untuk diperhatikan.

Dadanya sesak, tapi bukan karena cinta. Karena melepaskan kebiasaan lama memang selalu menyakitkan.

Dia tahu, perubahan ini tidak akan langsung terlihat. Tapi dampaknya akan merambat.

Di tempat lain, Aluna sedang mengetik pesan pada seseorang di ponselnya, senyum kecil menghiasi wajahnya.

[Tenang. Dia mulai menjauh sendiri.]

Namun untuk pertama kalinya, Aluna merasa tidak sepenuhnya yakin.

Dan untuk pertama kalinya, Raka Mahardika duduk sendirian di sekretariat BEM. Menatap kursi kosong di seberangnya, dengan perasaan aneh yang belum bisa dia beri nama.

Dia tidak tahu apa itu. Yang dia tahu hanya satu... ada sesuatu yang hilang. Dan dia tidak ingat kapan terakhir kali Nadira membuatnya merasa seperti ini.

1
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
Ridwan01
Terima kasih kak author, ceritanya menarik dan banyak pembelajaran juga dari cerita para tokoh di novel ini 👍🙏☺️
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
ini udah end emang?
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ibu juga ah
total 2 replies
Nada She Embun
makasih Thor... terbaikk.. 😭
Erchapram: Terima kasih, mampir baca yg on going lainnya Kak. 🙏
total 1 replies
Nada She Embun
nadira sudah mulai hidup... 😍... bagi org yg mungkin sedang kalut... tak perlu banyak bicara.. cukup diam dan selalu di sisi nya... itu lebih menenangkan dari sebuah saran... 💜
Nada She Embun
penuh makna novel author nihh. 👍
Kostum Unik
Aku bosan bacanya kk othor.. Maaf ya. Awalnya sangat menarik tapi ini kok kyk baca sajak. Karakter2 nya terlalu kaku.. Tp balik lg ke selera pembaca yaa. /Smile/
Ridwan01
hidup kamu memang milik kamu Nadira, tapi kalau kamu keras kepala, hidup kedua kamu akan sia sia.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
Winer Win: sama loo..aku juga greget..egois banget..keras kepala..sok kuat sok bisa sendiri..🤭🤭
total 2 replies
Dwi Setyaningrum
Nadira diberi kesempatan utk hdp lg tp malah rasanya hidupnya beban berat dan dlm otaknya ga mau mati lg tp langkahnya justru sukses menyiksa diri sndr berujung kematian kalau ego nya ttp dipertahankan..critanya ini saking beratnya smpe komenku juga berat thor🤭🤭
Erchapram: Trauma mati 🤣🤣
total 1 replies
Nada She Embun
trauma nadira😔...
Nada She Embun
terkadang jujur akan d anggap munafik.. 😔
Nada She Embun
cara penulisan novel yg berbeda.. alur cerita yg sulit d tebak... kamu bisa merasakan isi hati tokoh.. dialog yg sedikit tapi bermakna.. terbaik Thor.. 😍
Nada She Embun
novel author yg satu ini.. 👍... benar2 berani mengambil alur yg berbeda dari kebanyakan novel... novel yg sulit d tebak alur nya...

lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...

kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
Erchapram: Terima kasih.
total 1 replies
Winda Widiastuti
maaf Thor ni cerita soal apa ya ko muter2 Mulu
Erchapram: Soal di kampus
total 1 replies
Ita rahmawati
ini cerita apa sih jujur aku tuh gk mudeng yg begini² tuh 😂
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Dew666
🌹🌹💎
Faziana
Jujur sebagai seorang introvert menghadapi intrik2 semacam kisah Othor dalam kehidupan real benar2 menguras energi, itu yg pernah saya rasakan🤭
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍
Erchapram: Terima kasih jika cerita ini menginspirasi untuk tetap kuat. 🙏💪👍
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Soraya
salut dgn bahasanya lanjut thor
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!