Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 - Hal yang Tidak Lagi Dia Lakukan
Ada hal-hal kecil yang berubah lebih dulu. Bukan keputusan besar. Bukan pertengkaran. Melainkan kebiasaan yang diam-diam hilang.
Nadira Savitri bangun pagi itu tanpa mengecek ponsel.
Dia duduk di tepi kasur, meminum air putih perlahan, menunggu detak jantungnya stabil. Biasanya, di jam segini, tangannya refleks meraih ponsel... mencari pesan dari Raka, atau setidaknya memastikan dia sudah online.
Hari ini tidak.
Salsa memperhatikannya dari balik cermin.
"Kamu yakin nggak apa-apa?" Tanyanya. "Sejak bangun tadi kamu aneh."
Nadira menyisir rambutnya, gerakannya tenang.
"Aneh kenapa?"
'Kamu biasanya panik jam segini. Takut telat balas chat Raka."
Nadira berhenti sesaat. Bayangan lorong kampus itu kembali muncul... dingin, sepi, dan sunyi. Pesan yang tak pernah dibaca.
Dia mengangkat bahu kecil.
"Capek."
Satu kata itu terasa jujur.
Bukan capek fisik. Tapi capek berharap.
Di kampus, perubahan Nadira terlihat samar. Dia tetap datang tepat waktu, tetap sopan, tetap tersenyum jika disapa. Tapi ada jarak baru di matanya... seolah sebagian dirinya mundur satu langkah dari dunia.
Raka tidak menyadarinya.
Di sekretariat BEM, Raka Mahardika sibuk seperti biasa. Rapat belum selesai sejak pagi. Proposal menumpuk. Nama Nadira muncul di notifikasi ponselnya... satu pesan masuk.
[Aku ke kampus agak siang. Jangan tunggu.]
Raka membaca sekilas. Dulu, pesan seperti itu selalu disertai penjelasan panjang. Permintaan maaf. Emoji cemas.
Yang ini tidak.
Raka mengernyit sebentar, lalu meletakkan ponsel kembali.
"Aluna." Panggilnya.
Perempuan di seberang meja itu menoleh dengan senyum cepat.
"Iya?"
"Kamu bisa cek ulang data acara? Aku takut ada yang kelewat."
Aluna bangkit, berjalan mendekat. Rambutnya tergerai rapi, langkahnya ringan.
"Tenang. Aku ada kok."
Kalimat itu bukan sekadar jawaban. Itu janji tak tertulis... yang selalu berhasil membuat Raka merasa aman.
Dari sudut ruangan, Aluna melirik ponsel Raka yang terbuka sebentar tadi. Nama Nadira masih tertera di layar.
Dia tersenyum kecil.
Aluna Prameswari selalu tahu caranya berdiri di tempat yang tepat.
Dia tidak pernah terang-terangan menyerang Nadira. Tidak perlu. Baginya, kesabaran adalah senjata. Dia sudah ada lebih dulu dalam hidup Raka, dalam cerita masa kecilnya, dalam setiap kenangan yang tak bisa disentuh Nadira.
"Nadira belum datang?" Tanyanya ringan, seolah hanya basa-basi.
Raka menggeleng. "Katanya siang."
'Oh." Aluna mencondongkan tubuh sedikit. "Dia kelihatan capek akhir-akhir ini."
Raka mengangkat bahu. "Dia memang gampang capek."
Kalimat itu membuat Aluna hampir tertawa.
Gampang capek, pikirnya.
Atau gampang diabaikan?
Aluna tidak iri pada cinta Nadira. Dia hanya tidak suka kehilangan kendali. Selama ini, Nadira selalu bereaksi... marah, sedih, cemburu. Mudah dibaca. Mudah diarahkan.
Yang berbahaya adalah perempuan yang berhenti bereaksi.
Dan pagi ini, entah kenapa, Aluna merasa sesuatu bergerak keluar dari genggamannya.
Nadira tiba di kampus pukul sepuluh lewat. Dia berjalan melewati halaman fakultas dengan langkah stabil. Beberapa orang menyapanya... Dia membalas singkat, tidak berlama-lama.
Di depan gedung BEM, dia berhenti sebentar.
Dulu, tempat itu selalu memicu kecemasan. Takut mengganggu. Takut dianggap tidak pengertian. Takut Raka kesal.
Sekarang, dadanya tenang.
Dia masuk tanpa mengetuk. Raka mengangkat kepala, refleks tersenyum.
"Kamu akhirnya datang."
Nadira mengangguk. "Iya."
Tidak ada pelukan. Tidak ada pertanyaan. Dia langsung duduk di kursi kosong, membuka tas, mengeluarkan laptop.
Raka menunggu. Biasanya... di titik ini, Nadira akan berkata. 'Maaf aku telat, atau Kamu capek nggak?'
Tidak ada.
Aluna memperhatikan dari balik kacamata. Matanya menyipit tipis.
Raka berdeham. "Kamu nggak apa-apa?"
Nadira menoleh. Tatapannya datar, bukan dingin... lebih seperti netral.
"Apa yang harus nggak apa-apa?"
Raka terdiam sesaat. "Biasanya kamu nanya."
Nadira menatap layar laptopnya. "Kalau kamu butuh ditanyain, bilang."
Kalimat itu jatuh pelan, tapi cukup untuk membuat udara berubah.
Raka tidak marah. Tapi ada rasa asing yang menyusup. Seperti duduk di kursi sendiri yang tiba-tiba dipindahkan setengah meter.
"Oh." Gumamnya. "Ya sudah."
Rapat berlanjut.
Namun sepanjang diskusi, Raka beberapa kali melirik Nadira. Dia fokus, mencatat, sesekali berbicara jika perlu. Tidak mencari persetujuan. Tidak menatap Raka lebih lama dari yang dibutuhkan.
Dan entah kenapa, itu mengganggunya.
Sore harinya, Raka mengirim pesan.
[Kamu pulang bareng aku?]
Biasanya, Nadira akan menjawab cepat. Kali ini, pesan itu dibiarkan terbaca lima menit. Sepuluh.
Aluna melihat perubahan raut wajah Raka.
"Kamu kenapa?"
"Enggak." Jawab Raka cepat. Tapi ia kembali mengecek ponsel.
Balasan akhirnya datang. [Aku ada urusan. Pulang duluan.] Tidak ada emoji. Tidak ada penjelasan.
Raka mengetik ulang beberapa kali, lalu menghapusnya.
"Dia kenapa sih?" Gumamnya tanpa sadar.
Aluna tersenyum tipis. Dia mendekat, menyentuh lengan Raka dengan ringan.
"Mungkin lagi capek. Kamu terlalu mikir."
Benar. Mungkin terlalu mikir.
Tapi saat Nadira benar-benar pulang tanpa menoleh, Raka merasakan sesuatu yang aneh... Seperti kehilangan barang yang biasa ada di saku, baru terasa saat hendak diraih.
Di kos, Nadira duduk di tepi jendela. Senja menumpahkan cahaya oranye ke dinding. Ponselnya tergeletak tak tersentuh di meja.
Salsa masuk sambil membawa dua gelas kopi.
"Raka nyari kamu?"
Nadira mengangguk. "Iya."
"Kamu berantem?"
"Enggak."
Salsa mengernyit. "Terus?"
Nadira menatap ke luar.
"Aku cuma berhenti menjelaskan. Itu saja."
Kalimat itu sederhana. Tapi di baliknya, ada keputusan yang berat. Setiap detik dia menahan diri untuk tidak kembali menjadi Nadira yang lama... yang memohon untuk diperhatikan.
Dadanya sesak, tapi bukan karena cinta. Karena melepaskan kebiasaan lama memang selalu menyakitkan.
Dia tahu, perubahan ini tidak akan langsung terlihat. Tapi dampaknya akan merambat.
Di tempat lain, Aluna sedang mengetik pesan pada seseorang di ponselnya, senyum kecil menghiasi wajahnya.
[Tenang. Dia mulai menjauh sendiri.]
Namun untuk pertama kalinya, Aluna merasa tidak sepenuhnya yakin.
Dan untuk pertama kalinya, Raka Mahardika duduk sendirian di sekretariat BEM. Menatap kursi kosong di seberangnya, dengan perasaan aneh yang belum bisa dia beri nama.
Dia tidak tahu apa itu. Yang dia tahu hanya satu... ada sesuatu yang hilang. Dan dia tidak ingat kapan terakhir kali Nadira membuatnya merasa seperti ini.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍