Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Bayang-bayang Bulan Hitam
Di dalam ruang meditasi paviliunnya, Chen Kai duduk bersila dengan gulungan Teknik Pedang Arus Surgawi yang terbuka di hadapannya. Udara di sekitarnya berputar aneh; terkadang membeku menjadi kristal tajam, terkadang mengalir lembut seperti air sungai.
Sring!
Chen Kai menarik pedangnya setengah inci. Dalam sekejap, gelombang Qi murni memotong udara secara vertikal, menghancurkan beberapa sasaran latihan kayu tanpa suara. "Teknik ini... ia memanipulasi arus energi lawan menjadi senjata bagi penggunanya. Benar-benar licik dan mematikan." gumamnya.
Keringat bercucuran di pelipisnya. Selama berjam-jam ia terus mengasah koordinasi antara Qi esensinya dengan aliran Arus Surgawi. Namun, latihan itu terhenti saat kepakan sayap terdengar dari jendela.
Seekor burung pipit kecil dengan pita merah di kakinya hinggap di bahu Chen Kai. "Burung pembawa pesan rahasia klan." desis Chen Kai. Ia mengambil gulungan kecil dari kaki burung itu dan membukanya di bawah pilar paviliun.
"Tuan Muda, saya pelayan setia Anda yang masih tersisa, ingin melaporkan pergerakan gelap. Sebuah organisasi bernama Bulan Hitam mulai muncul ke permukaan. Mereka menculik para jenius dengan tubuh spiritual langka. Kabar yang paling mengerikan... salah satu dari tujuh petinggi mereka adalah kakak Anda, Chen Xo."
KRETAK!
Lantai batu di bawah kaki Chen Kai retak seketika. Hawa dingin yang luar biasa meledak dari tubuhnya, membekukan pilar-pilar di sekitarnya. "Bulan Hitam... menculik tubuh spiritual langka? Bukankah aku juga memilikinya? Tubuh Esensi Kristal murni..."
Chen Kai meremukkan surat itu hingga hancur, lalu dengan satu sentuhan Qi api kecil, ia membakarnya hingga menjadi abu. "Apapun yang kau rencanakan, Chen Xo... aku tidak peduli pada organisasimu. Aku hanya ingin melihat kepalamu terpisah dari tubuhmu!"
Belum sempat amarahnya mereda, seekor burung elang emas—simbol kekaisaran—turun dari langit dan mendarat di tangannya. Chen Kai mengambil pesan kedua dengan kasar. "Pergi!" usirnya pada burung itu.
"Chen Kai, datanglah ke istana segera. Aku tahu kau sudah mendengar tentang kakakmu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan, dan putriku, Putri Yue, juga sangat ingin bertemu denganmu."
"Kaisar sialan!" umpat Chen Kai pelan. Ia tahu betul maksud di balik surat itu. Kaisar berusaha mengikatnya melalui pernikahan politik dengan Putri Yue untuk memastikan kekuatan Klan Kristal tetap berada di bawah kendali istana. Baginya, hubungan romantis hanyalah gangguan bagi pedangnya yang haus darah.
Beberapa jam kemudian, Chen Kai berjalan menuju kompleks istana melalui jalur utama akademi. Penampilannya hari ini sangat mencolok; jubah hitam dengan aksen perak, Pedang Kristal Abadi di punggung, dan aura dominan yang tak bisa disembunyikan.
"Lihat! Itu Chen Kai!"
"Dia benar-benar tampan, tapi matanya sangat mengerikan..."
"Kudengar dia membantai ratusan serigala sendirian. Dia adalah idola baru kita!"
Bisik-bisik dari para murid terdengar di setiap sudut. Bahkan, beberapa kelompok murid perempuan tampak memegang bendera kecil dengan simbol kristal—organisasi fanatik yang memujanya secara berlebihan mulai bermunculan. Chen Kai mengabaikan mereka semua seolah-olah mereka adalah lalat.
Di tengah jalan, ia berpapasan dengan Wang He. Murid yang dulu sombong itu kini langsung membungkuk dalam, tubuhnya gemetar setiap kali Chen Kai lewat. Wang He sudah benar-benar "jinak" setelah hampir kehilangan tangannya tempo hari.
Saat Chen Kai melewati gerbang kota menuju istana, ia tidak menyadari bahwa di sebuah kedai mie yang sederhana di pinggir jalan, dua orang berjubah hitam sedang duduk tenang. Salah satu dari mereka menurunkan sedikit tudungnya, memperlihatkan seringai tipis yang yang pasti sangat dikenal oleh Chen Kai.
Pria itu menyesap tehnya, matanya menatap punggung Chen Kai yang menjauh dengan tatapan penuh arti—bukan kebencian, melainkan sesuatu yang jauh lebih gelap dan sulit dibaca.
"Sudah lama sekali aku tidak menghirup udara kota ini," ucap pria itu pelan. "Bagaimana kabarmu sekarang, Adik Kecilku? Apakah dendam itu sudah membuatmu cukup kuat untuk kuhancurkan kembali?"
Rekannya di samping hanya terdiam, aura kegelapan terpancar kuat dari balik jubah mereka. Kehadiran Chen Xo di ibu kota menandakan bahwa badai besar akan segera menghantam Kekaisaran Langit.