NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Langkah kaki Arlan menghantam aspal desa yang retak saat berita tentang kepungan preman itu membakar telinganya. Ia berlari meninggalkan kantor Mitra Desa tanpa memedulikan teriakan Maya yang memintanya untuk menunggu. Ponsel di genggamannya masih terhubung dengan saluran telepon rumah yang kini hanya menyisakan suara gaduh dan teriakan asing.

"Pak Haris, siapkan mobil pick-up paling cepat yang Anda punya sekarang juga!" teriak Arlan sambil melambaikan tangan ke arah gudang.

"Mobil itu belum selesai diperbaiki bannya, Mas Arlan!" jawab Pak Haris dengan nada suara yang sangat panik.

"Pakai ban serep atau apa saja, saya harus sampai di rumah dalam lima menit!" perintah Arlan dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Maya dan Siska berlari mengejar Arlan ke arah mobil yang mesinnya mulai menderu kasar. Siska segera melompat ke kursi penumpang depan sambil memegang erat kotak logam pemberian Pak Pratama.

"Aku ikut denganmu, Arlan, karena kotak ini adalah satu-satunya pelindungmu sekarang!" kata Siska dengan ekspresi wajah yang sangat serius.

"Mbak Maya, tetap di sini dan pastikan server Mitra Desa tidak mati saat aku pergi!" perintah Arlan sebelum membanting pintu mobil.

Mobil pick-up tua itu melesat membelah jalanan desa yang berdebu dengan kecepatan yang melampaui batas kewajaran. Arlan memutar kemudi dengan kasar saat melewati tikungan tajam menuju rumah kontrakannya yang berada di pinggiran sawah. Pandangan matanya tertuju pada sekumpulan motor besar yang terparkir sembarangan di depan pagar kayu rumahnya.

"Siska, siapkan rekaman video dari ponselmu sekarang juga!" perintah Arlan sambil menginjak pedal rem hingga ban mobil berdecit panjang.

"Aku sudah menyalakannya sejak kita keluar dari gerbang kantor tadi, Arlan!" jawab Siska sambil mengarahkan kamera ke arah kerumunan preman.

Arlan melompat keluar dari mobil bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati sempurna. Ia melihat pintu rumahnya sudah terbuka paksa dengan bekas hantaman benda tumpul pada bagian engselnya.

"Berhenti di sana atau aku akan mengirimkan lokasi koordinat ini langsung ke markas kepolisian daerah!" teriak Arlan dengan suara yang menggelegar di tengah kesunyian desa.

Tiga orang pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam menoleh secara serempak ke arah Arlan. Salah satu dari mereka sedang memegang pergelangan tangan Ibu Arlan yang terus menangis ketakutan di pojok teras.

"Lepaskan tanganmu dari Ibu saya sekarang juga atau kamu akan menyesal seumur hidup!" ancam Arlan sambil melangkah maju dengan kepalan tangan yang sangat keras.

"Bocah ini punya nyali juga, ya!" kata pria besar yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok tersebut.

"Siapa yang mengirim kalian ke sini? Apa Pak Wirawan yang memerintahkannya?" tanya Arlan sambil menatap tajam ke arah pemimpin preman itu.

"Kami tidak butuh menyebutkan nama bos kami untuk mengurus sampah sepertimu!" jawab pria itu sambil mendorong Ibu Arlan hingga jatuh terduduk.

Arlan merasakan kemarahan yang luar biasa membakar dadanya saat melihat ibunya diperlakukan secara kasar. Ia segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak logam kecil yang tadi ia bawa dari mobil.

"Siska, aktifkan sensor pemindai kotak ini ke arah mereka sekarang!" perintah Arlan dengan nada yang sangat dingin.

Siska segera mendekat dan menekan sebuah tombol kecil di samping kotak logam tersebut. Sebuah laser merah tipis keluar dari kotak itu dan menyisir wajah ketiga preman tersebut secara bergantian.

"Apa-apaan benda mainan itu?" tanya salah satu preman dengan nada meremehkan.

"Benda ini baru saja memindai wajah kalian dan mencocokkannya dengan database catatan kriminal kepolisian pusat!" sahut Siska dengan nada suara yang sangat percaya diri.

Tiba-tiba ponsel pemimpin preman itu berdering dengan sangat nyaring. Ia mengangkat telepon tersebut dengan wajah yang awalnya penuh kemenangan namun mendadak berubah menjadi sangat pucat pasi.

"Iya, Bos... tapi kami baru saja sampai di sini!" ucap pemimpin preman itu dengan suara yang mendadak gemetar.

"Katakan pada bosmu bahwa Arlan Corp memiliki data tentang penggelapan pajak Logistik Nusantara selama lima tahun terakhir!" teriak Arlan agar terdengar oleh orang di seberang telepon.

Pemimpin preman itu mematikan ponselnya dan menatap Arlan dengan tatapan yang sangat tidak percaya.

"Ayo pergi dari sini sekarang juga sebelum semuanya terlambat!" perintah pemimpin preman itu kepada kedua anak buahnya.

Mereka bertiga segera menaiki motor masing-masing dan pergi meninggalkan rumah Arlan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Arlan segera berlari memeluk ibunya yang masih gemetar hebat di lantai teras.

"Ibu tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?" tanya Arlan dengan nada suara yang penuh dengan kekhawatiran.

"Ibu takut sekali, Lan, mereka mencari dokumen tentang tanah sawah kita!" jawab Ibu sambil terisak di pelukan anaknya.

"Semuanya sudah aman sekarang, Bu, Arlan sudah memegang dokumen itu di tangan yang benar!" kata Arlan sambil menenangkan ibunya.

Siska berdiri di samping mereka sambil terus memegang kotak logam yang ternyata berisi alat enkripsi data tingkat tinggi.

"Pak Pratama benar-benar tidak main-main dengan perlindungannya, Arlan!" ucap Siska sambil menarik napas lega.

"Ini bukan perlindungan gratis, Siska, beliau baru saja menunjukkan bahwa nyawa keluargaku ada di bawah kendalinya!" sahut Arlan sambil membantu ibunya berdiri.

"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang setelah Wirawan mulai menggunakan kekerasan fisik?" tanya Siska dengan wajah yang penuh kecemasan.

"Aku akan mengubah Mitra Desa menjadi benteng yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun, termasuk Pak Pratama!" jawab Arlan dengan tekad yang semakin kuat.

Mereka membawa Ibu Arlan masuk ke dalam rumah untuk beristirahat sejenak sebelum kembali ke kantor Mitra Desa. Arlan duduk di ruang tamu sambil membuka kembali laptopnya yang kini sudah terhubung dengan sistem Arlan Corp.

"Siska, tolong hubungi Pak Haris dan katakan padanya untuk mengumpulkan semua warga desa yang lahannya pernah diserobot Wirawan!" perintah Arlan.

"Kamu mau melakukan aksi massa di depan gudang Logistik Nusantara?" tanya Siska dengan nada terkejut.

"Bukan aksi massa, Siska, aku akan membeli semua lahan sengketa itu menggunakan dana dari Arlan Corp malam ini juga!" jawab Arlan sambil mengetikkan instruksi transfer modal.

"Dari mana kamu punya uang sebanyak itu untuk membeli seluruh lahan sengketa di desa ini?" tanya Siska dengan mata yang terbelalak lebar.

"Paten teknologi jalur darat yang kita amankan tadi nilainya jauh lebih besar dari sekadar uang tunai, Siska!" sahut Arlan tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

[Pesan Sistem: Transaksi Pembelian Lahan Kolektif Dimulai] [Status: Memproses 12 Sertifikat Lahan di Wilayah Selatan Desa]

Satu jam kemudian, Maya menelepon Arlan dengan suara yang terdengar sangat bersemangat melalui pengeras suara ponsel.

"Arlan! Kamu harus lihat berita lokal sekarang juga!" teriak Maya dari ujung telepon.

"Ada berita apa lagi, Mbak Maya?" tanya Arlan sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kayu.

"Seluruh armada Logistik Nusantara di perbatasan desa sedang ditahan oleh warga karena mereka tidak punya izin melintas di lahan pribadi!" jelas Maya dengan nada penuh kemenangan.

Arlan tersenyum tipis mendengar kabar tersebut. Ia menyadari bahwa strategi pemblokiran jalur darat menggunakan kepemilikan lahan jauh lebih efektif daripada perang hukum di pengadilan.

"Itu baru tahap pertama, Mbak Maya, pastikan semua kurir kita sudah siap di jalur alternatif yang sudah terenkripsi!" perintah Arlan.

"Semua sudah siap, Bos Arlan, pengiriman pertama Arlan Corp akan dimulai dalam tiga puluh menit!" jawab Maya dengan penuh semangat.

Arlan menutup teleponnya dan menatap Siska yang masih duduk di depannya dengan wajah yang penuh kekaguman.

"Kamu benar-benar sudah berubah menjadi orang yang berbeda dalam waktu kurang dari seminggu, Arlan!" ucap Siska dengan suara pelan.

"Dunia yang kita hadapi tidak memberikan kesempatan bagi orang yang sama untuk bertahan hidup dua kali, Siska!" sahut Arlan sambil menutup laptopnya.

Ia melangkah keluar menuju teras rumah dan menatap hamparan sawah yang kini sudah menjadi milik perusahaannya secara sah. Di kejauhan, ia melihat lampu-lampu truk logistik mulai bergerak beriringan masuk ke wilayah desa. Namun, sebuah mobil jip militer tua mendadak berhenti di depan pagar rumah Arlan, menghalangi jalan keluar mereka.

Seorang pria dengan seragam lengkap dan tanda pangkat yang tinggi turun dari jip tersebut dengan wajah yang sangat dingin.

"Saudara Arlan Dirgantara? Saya mendapat laporan bahwa Anda sedang melakukan aktivitas monopoli lahan secara ilegal di wilayah ini!" kata pria berseragam itu sambil mengeluarkan surat perintah penangkapan.

Arlan tertegun sejenak melihat kemunculan pihak otoritas yang sama sekali tidak ada dalam perhitungannya.

"Monopoli lahan ilegal? Saya punya semua sertifikat resminya di dalam rumah ini, Pak!" jawab Arlan dengan nada suara yang tetap tenang.

"Sertifikat itu sudah dinyatakan batal demi hukum oleh pengadilan negeri pagi ini atas permohonan konsorsium Logistik Nusantara!" ucap pria itu sambil memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk memborgol tangan Arlan.

Siska berteriak protes namun ia segera ditahan oleh salah satu tentara yang menjaga gerbang pagar. Arlan menatap ke arah kotak logam yang ada di tangan Siska, namun kotak itu mendadak mengeluarkan suara denging panjang dan lampunya berubah menjadi merah mati.

"Sistemnya... sistem kotaknya mati total, Arlan!" teriak Siska dengan wajah yang penuh ketakutan.

Arlan menyadari bahwa ia baru saja dikhianati oleh orang yang selama ini ia anggap sebagai pelindungnya. Pak Pratama ternyata telah mematikan dukungannya tepat saat Wirawan menggunakan kartu truf terakhirnya melalui jalur pemerintahan.

"Bawa dia sekarang juga ke markas pusat untuk pemeriksaan lebih lanjut!" perintah pria berseragam itu tanpa memberikan kesempatan bagi Arlan untuk bicara.

Saat Arlan diseret masuk ke dalam jip, ia melihat sosok Tegar berdiri di kejauhan sambil melambaikan tangan dengan seringai kemenangan yang paling menjijikkan. Perang bisnis ini baru saja berubah menjadi perang hidup dan mati di balik jeruji besi yang dingin.

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!