Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 ( Season 2 )
Keesokan harinya, suasana terasa berbeda bagi Wakasa.
Pagi itu ia berdiri di depan cermin, merapikan pakaiannya untuk kesekian kali. Tangannya bergerak pelan, membetulkan kerah, merapikan lipatan, lalu berhenti sejenak untuk menatap bayangannya sendiri.
"…Apa pakaianku sudah rapi?"
Ia menarik napas dalam.
"Sebenarnya… ada apa raja itu memanggilku…"
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sejak semalam. Ia mencoba menebak-nebak, namun tidak ada jawaban pasti yang bisa ia temukan.
Dengan sedikit rasa gugup yang ia tekan, akhirnya ia berangkat menuju istana.
—
Sesampainya di depan gerbang istana, langkah Wakasa terhenti.
Dua penjaga berdiri tegak di sana, tombak di tangan, tatapan tajam mengawasi setiap orang yang mendekat.
Saat Wakasa hendak melangkah masuk—
"Berhenti."
Salah satu penjaga mengangkat tangannya.
"Kau tidak diizinkan lewat lebih dari titik ini."
Wakasa langsung berhenti. Ia terlihat sedikit panik, namun berusaha tetap tenang.
"Maaf… uumm… namaku Wakasa. Aku diundang oleh raja… dan ini surat undangannya."
Ia mengeluarkan surat itu dengan hati-hati, lalu menunjukkannya.
Kedua penjaga itu awalnya hanya melihat sekilas.
Namun begitu mereka mendengar nama "Wakasa"—
Ekspresi mereka langsung berubah.
Mata mereka membesar, tubuh mereka menegang.
"Wa—Wakasa-sama?!"
Nada suara mereka berubah drastis.
Mereka segera menundukkan kepala dengan panik.
"Maafkan kami! Kami tidak menyadari!"
Wakasa hanya berkedip bingung melihat reaksi itu.
"Ah… tidak apa-apa…"
Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, gerbang sudah dibuka lebar untuknya.
—
Ia melangkah masuk ke dalam area istana.
Bangunan megah itu berdiri dengan kokoh, lorong-lorongnya luas dan bersih, dengan ornamen yang menunjukkan kekuasaan dan kemegahan kerajaan.
Belum jauh ia berjalan—
Seorang pria tua menghampirinya.
Meski rambutnya sudah memutih, tubuhnya tetap tegap, dan aura yang ia pancarkan menunjukkan bahwa ia bukan orang biasa.
"Syukurlah… ternyata kau sampai juga."
Suaranya dalam, namun hangat.
"Aku kira bakal butuh waktu lama."
Wakasa menatapnya sejenak sebelum menjawab.
"Aku berpikir lebih baik datang lebih awal."
Pria itu tersenyum tipis.
"Bagus. Disiplin seperti itu jarang dimiliki orang seusiamu."
Ia berbalik sedikit.
"Baiklah, tolong lewat sini."
Wakasa mengangguk dan mulai berjalan di belakangnya.
Mereka melewati beberapa lorong panjang.
Di sepanjang jalan, para penjaga dan pelayan yang mereka lewati langsung menundukkan kepala dengan hormat.
Pemandangan itu membuat Wakasa semakin canggung.
Kenapa semua orang bersikap seperti ini…
Akhirnya, ia membuka percakapan.
"Ngomong-ngomong… ada perlu apa raja memanggilku?"
Pria tua itu menjawab tanpa menoleh.
"Aku juga tidak tahu soal itu."
"Kau bisa menanyakannya langsung saat bertemu dengannya nanti."
Langkah Wakasa melambat sesaat.
"Tunggu… aku benar-benar akan bertemu dengan raja?"
Nada suaranya mulai panik.
"Aku tidak tahu apa-apa tentang etika kerajaan…"
Pria tua itu akhirnya berhenti dan menoleh.
"Namaku Owen."
Ia menatap Wakasa dengan tenang.
"Dan kau tidak perlu khawatir."
Ia melangkah lagi.
"Cukup ikuti gerakanku. Jangan melakukan hal yang aneh, dan semuanya akan baik-baik saja."
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah pintu besar.
Pintu itu tinggi, dihiasi ukiran rumit yang menunjukkan kemegahan kerajaan.
Owen berdiri tegak di depan pintu itu.
Lalu dengan suara lantang, ia mengumumkan—
"~ Yang Terhormat Wakasa-sama telah tiba ~"
Pintu besar itu perlahan terbuka.
Di dalam ruangan itu—
Suasana langsung terasa berbeda.
Barisan prajurit berdiri rapi di kedua sisi, menciptakan jalan menuju singgasana.
Di ujung ruangan, seorang pria duduk di kursi megah—raja.
Di sisi kanannya, seorang wanita dengan aura anggun—ratu.
Dan di sisi kirinya, seorang putri dengan tatapan lembut namun tajam.
Tak jauh dari sana—
Wakasa melihat dua wajah yang ia kenal.
Fannisa… dan Silka.
Begitu memasuki ruangan, Owen langsung berlutut.
Wakasa, yang sedikit perlambat menyadari, segera menirunya.
Owen membuka suara.
"Yang Mulia, saya telah membawa Tuan Wakasa."
Keheningan menyelimuti ruangan.
Raja mengamati mereka berdua beberapa saat.
Tatapannya tajam, namun tidak sepenuhnya dingin.
Akhirnya, ia berbicara.
"Angkat kepalamu."
Suaranya berat dan berwibawa.
Wakasa perlahan mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka bertemu.
"Apakah kau… yang telah menyelamatkan Fannisa dan Silka?"
Ruangan terasa semakin sunyi.
Semua orang menunggu jawabannya.
Wakasa menarik napas pelan.
"Benar."