"Menikah denganku."
Risya Wicaksono, berusia 27 tahun.
Atau lebih di kenal dengan panggilan Icha, melotot terkejut, saat kalimat itu terlontar dari mulut lelaki yang sangat tidak ia sangka.
Arnold Adiguna.
Lelaki berusia 33 tahun. Yang juga masih merupakan salah satu kakak sepupunya.
Lelaki itu mengajaknya menikah. Semudah lelaki itu mengajak para sepupunya makan malam.
Icha tidak menyangka, jika lelaki itu akan nekat mendatanginya. Meminta menikah dengannya. Hanya karena permintaan omanya yang sudah berusia senja.
Dan yang lebih gilanya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk menolak.
Bagaimanakah Icha menjalani pernikahan mereka yang sama sekali tidak terduga itu?
Mampukah ia bertahan hidup sebagai istri sang Adiguna? Lelaki yang dikenal sebagai CEO sekaligus Billionaire dingin nan kejam itu.
Mampukah mereka mengarungi pernikahan tanpa saling cinta?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Hasibuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mansion Adiguna
"Ayo masuk."
Arnold menarik tangan Icha memasuki mansion Adiguna. Membawa wanita itu ikut bersamanya.
"Kenapa kita kemari kak Ar?" Icha bergumam pelan.
Meaki ia dan Arnold sudah menikah, tapi ia tidak menduga sedikitpun jika ia akan di bawa tinggal di mansion ini.
"Kamu tidak suka mansionnya?" Arnold berhenti di depan lift dan menoleh pada Icha.
"Bukan seperti itu." Icha meralat.
"Tapi kan pernikahan kita tidak seperti pernikahan biasanya. Berada di sini, bukankah akan membuat tante Queen dan juga om Alex bingung nanti?" Icha memilih menyampaikan pikirannya.
"Mama dan papa." Arnold mengingatkan.
"Mereka akan marah jika kamu masih memanggil mereka seperti itu." Arnold juga menambahkan.
"Baiklah. Tapi menurutku lebih baik kota tidak tinggal bersama mereka." Icha meralat ucapannya.
"Kamu ingin aku bawa tinggal di apartement?" Arnold menebak isi pikiran Icha.
"Aku rasa itu lebih bagus." Icha mengangguk dan membenarkan.
"Pertama. Icha, aku sudah lama tidak tinggal di apartement. Kesibukanku di luar negeri, membuatku jarang ada di negara ini." Arnold menarik Icha memasuki lift.
"Kedua. Aku sudah berjanji pada mama dan papa, jika akan tinggal di mansion ini bersama mereka." Arnold menyampaikan.
"Mama dan papa jarang ada di mansion. Demikian juga aku yang sering ke Thailand. Karena itu mansion ini kerap sepi tanpa kami. Dan hanya di huni oleh para pelayan."
Icha mendengarkan semua penjelasan itu dengan diam. Tidak bersuara sedikitpun.
Ia paham maksud Arnold. Tapi menurutnya ini terlalu berlebihan.
"Jadi kita akan tinggal di sini sekarang. Bersamaan dengan mama dan papa. Mereka tidak memiliki anak lain Icha. Apakah kamu keberatan tinggal bersama mereka?" Arnold merapikan rambut Icha yang terjulur ke wajahnya.
"Mereka adalah om dan tante mu. Bukan orang asing. Bukankah kamu juga dekat dengan mereka?" Arnold bertanya.
"Bukan karena itu kak Ar." Icha membantah cepat.
'Ting!'
Lift terbuka di lantai 3. Arnold langsung menarik tangan Icha ikut bersamanya. Berjalan di lorong menuju kamar miliknya di mansion ini.
"Akan susah bersikap seperti pasangan suami istri biasanya di hadapan mereka. Aku tidak ingin membuat mereka kecewa." Icha tidak berani menatap Arnold.
"Tidak masalah Icha. Mama dan papa mengerti jika pernikahan kita karena oma Jasmine. Jadi mereka akan paham jika kita perlu penyesuaian. Dan mereka akan maklum jika kita tidak bisa langsung dekat seperti suami istri umumnya." Arnold memaklumi maksud Icha.
'Klek!'
Icha tersentak melihat kamar itu. Ia tahu jika ini kamar Arnold. Dan ia semakin tidak nyaman dengan ini.
"Sebaiknya aku tidur di kamar lain." Ia menelan ludah. Merasa gugup untuk pertama kalinya setelah mereja resmi melakukan akad nikah.
"No." Arnold menolak permintaan Icha.
"Tapi kak Ar." Icha berusaha membantah.
"Dengar Icha. Kamu adalah istriku sekarang. Aku tidak ingin kamu di gosipkan oleh siapapun. Termasuk para pelayan di mansion ini." Arnold menunduk dan memegang pundak Icha.
"Dengan kamu menempati kamar lain. Maka akan menimbulkan gosip di antara papa pekerja di mansion ini. Mereka akan berpikir jika kamu adalah istri yang tidak di harapkan. Dan aku tidak ingin itu terjadi." Ia memberi pemahaman pada Icha.
"Kamu adalah istriku. Yang berarti kamu juga adalah kehormatanku. Jika mereka membicarakan hal yang tidak baik tentangmu. Itu artinya mereka tidak menghormatiku. Apa kamu mau suami sekaligus kakak sepupumu ini, tidak di hormati di mansionnya sendiri?" Ia mengunci tatapan Icha.
"Tidak." Icha langsung menjawab.
Ia sungguh tidak berpikir sampai ke sana. Menurutnya dengan menempati kamar lain, maka mereka tetap memiliki kehidupan pribadi masing - masing.
Tapi Arnold malah memikirkan kehormatan mereka berdua. Lelaki ini berpikir lebih jauh tentang pandangan orang lain terhadap mereka.
Ia paham sekarang. Ini juga sebagai salah satu bentuk perlindungan untuknya. Jika berita mengenai pisah kamar tersebar, maka bisa saja orang akan menganggap sebelah mata keberadaannya sebagai istri Arnold Adiguna.
"Good. Sekarang bersihkan dirimu. Itu kamar mandinya." Arnold menunjuk pintu kamar mandinya.
"Aku sudah meminta Vina mengirimkan beberapa bajumu." Ia juga menambahkan.
"Mandilah. Untuk malam ini kamu bisa pakai baju kaos milikku di walk in closet." Arnold juga menambahkan.
"Kak Ar nggak mandi?" Icha bertanya dengan ragu.
"Setelah kamu mandi." Arnold menjawab.
Icha akhirnya berbalik menuju kamar mandi. Seperti perkataan Arnold.
Ia memerlukan mandi agar otaknya kembali fresh. Hari ini sungguh sangat melelahkan baginya. Berendam sepertinya akan membuat ia jauh lenih rileks.
"Icha." Arnold kembali memanggil sebelum Icha hilang di balik pintu.
"Ya?" Icha berbalik dan menatap Arnold bingung.
"Ini sudah terlalu malam. Jangan berendam. Nanti sakit." Arnold mengingatkan.
Bola mata Icha membulat mendengar ucapan itu. Bagaimana bisa lelaki itu tahu apa yang sedang ia pikirkan.
"Mandi sebentar, sebelum kamu tidur." Arnold kembali memperingatkan.
Dari reaksi Icha, ia tahu jika tebakannya benar. Ia hanya asal menebak. Entah mengapa Arnold tiba - tiba memanggil Icha yang ingin mandi.
Alhasil ia mengingatkan agar wanita itu tidak berendam. Namun ternyata tebakannya tepat sasaran.
"Icha?" Arnold kebali memanggil.
"Baiklah." Icha mengangguk dan mengalah.
Ia berbalik ke kamar mandi dan mandi sebentar seperti perkataan lelaki itu. Icha merasa tubuhnya lebih segar setelah mandi.
Tatapannya menemukan sebuah bathrobe di sebuah rak kecil di kamar mandi itu. Bathrobe berwarna navy. Milik lelaki.
Hal yang wajar. Mengingat jika ini adalah kamar Arnold. Jadi sudah pasti semua barang di sini adalah milik lelaki itu.
Tidak ada pilihan lain. Icha mengenakan bathrobe itu untuk membungkus tubunya. Ia keluar dari kamar mandi, dan melihat kamar itu kosong.
Sepertinya lelaki itu keluar. Icha tidak ingin berpikir lebih jauh. Ia memasuki walk in closet. Menemukan jejeran lemari besar di ruangan itu. Dan berisi pakaian Arnold semuanya.
Ia melangkah menuju tempat beberapa baju kaos lelaki itu berada. Tangannya meraih sebuah kaos dengan asal.
Ia tidak ingin memilih saat ini. Sudha jelas jika ukuran semua kaos ini kebesaran di tubuhnya. Memgingat tubuh Arnold yang jauh lebih besar darinya.
Ia mengenakan kaos itu tanpa dalaman. Sedikit tidak nyaman jika harus mengenakan underwear yang tadi.
Icha melepas bathrobe dan mengenakan kaos tersebut. Kebesaran. Bahkan menyentuh hingga pertengahan pahanya. Sungguh ukuran Arnold jauh lebih besar dari tubuhnya.
Ia tidak mungkin seperti ini sepanjang malam bukan? Sepertinya ia akan meminjam celana pendek Arnold sekalian.
Mengangguk memikirkan itu. Ia berbalik menuju tempat keberadaan celana. Bertepatan saat pintu ruangan itu terbuka.
'Klek!'
"Icha!"
Arnold terpaku melihat Icha mengenakan kaos miliknya yang terlihat kebesaran di tubuh Icha. Keduanya terdiam untuk beberapa saat.
"Maaf. Aku kira kamu tidak menemukan tempat kaos." Arnold bergumam. Mengusir kecanggungan di antara mereka.
"Aku masih ingin mencari letak celana pendek kak Ar." Icha menjawab lirih.
"Ada di sana." Arnold menunjuk lemari yang lain.
Icha mengangguk dan berbalik menuju lemari yang di tunjuk Arnold. Berdehem memberikan kode agar lelaki itu keluar.
Mengerti dengan kode itu. Arnold segera keluar. Memberikan ruang untuk Icha.
"Memalukan sekali."
Icha bergumam begitu Arnold tidak ada di ruangan itu lagi. Arnold melihatnya hanya mengenakan kaos!
Dan Icha bersyukur karena kaos itu menutupi hampir separuh pahanya.
Jika tidak, entah akan se akward apa suasana di antara mereka.
..........................
apa yg kamu lakukan ituu .... jahat buat babang Ar...
Sejauh ini ceritanya menarik