Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.
Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenan kembali
Alea sudah membulatkan tekad untuk tidak menginjakkan kaki di kantor hari ini. Luka di hatinya dan rasa lelah setelah pertengkaran hebat kemarin membuatnya ingin menarik diri sejenak. Arkan, yang mungkin merasa sedikit bersalah atau sekadar tidak ingin memicu pemberontakan Alea lagi, hanya mengiyakan keinginan putrinya itu tanpa banyak bicara.
Alea turun ke lantai bawah dengan langkah gontai. Aroma masakan yang sedap mulai tercium dari arah dapur, sedikit membangkitkan selera makannya yang sempat hilang.
"Masak apa, Bi?" tanya Alea lembut saat melihat asisten rumah tangganya sedang sibuk di dapur.
"Masak nasi goreng kesukaan Nona, sama ada ayam suwir juga," jawab Bibi sambil tersenyum ramah.
Alea duduk di meja makan, menyantap sarapannya perlahan. Pikirannya sudah melayang, merencanakan hari ini untuk jalan-jalan sekadar refreshing guna menjernihkan pikiran yang semrawut. Namun, saat ia melangkah menuju teras depan setelah selesai sarapan, langkahnya tiba-tiba terhenti. Jantungnya berdegup kencang.
Di samping mobil yang biasa ia gunakan, berdiri seorang pria tegap dengan setelan jas hitam yang sangat ia kenali. Wajahnya tenang, namun tatapannya tetap tajam seperti biasa.
"Kenan?" Alea terbelalak tak percaya. Belum genap satu hari pria itu dipecat, dan kini ia sudah berdiri di sana seolah tidak pernah terjadi badai kemarin. "Kenapa bisa di sini?"
Kenan sedikit menundukkan kepalanya, memberikan penghormatan formal. "Selamat pagi, Nona. Tuan Arkan meminta saya untuk kembali bekerja mulai pagi ini."
Mendengar kata-kata itu, beban berat yang menghimpit dada Alea selama belasan jam terakhir seolah menguap begitu saja. Rasa senang yang luar biasa membuncah di hatinya. Wajahnya yang semula muram mendadak cerah dengan binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
"Beneran? Papa panggil kamu balik?" Alea bertanya sekali lagi, memastikan telinganya tidak salah dengar.
"Benar, Nona. Saya kembali bertugas menjaga Anda."
Refleks, karena rasa syukur dan kebahagiaan yang meluap, Alea melangkah maju dengan cepat. Ia hampir saja menghambur dan memeluk Kenan untuk menumpahkan segala rasa rindunya yang meski singkat terasa sangat menyiksa.
Namun, baru saja tangannya hendak meraih Kenan, Kenan sedikit mundur setengah langkah. Ia berdehem kecil, mengingatkan Alea akan batasan dan posisi mereka di rumah itu, apalagi dengan mata-mata Arkan yang mungkin saja sedang mengawasi dari balik jendela.
Alea tersadar dan langsung menghentikan gerakannya. Wajahnya sedikit memerah karena malu, namun senyum lebar masih menghiasi bibirnya.
"Maaf... aku cuma... aku cuma senang banget kamu balik," bisik Alea dengan mata berkaca-kaca.
Kenan menatap Alea dengan sorot mata yang sedikit lebih lembut dari biasanya. "Saya juga senang bisa kembali menjamin keamanan Anda, Nona. Jadi, kita mau jalan-jalan ke mana untuk refreshing hari ini?"
"Kenan, aku mau jalan-jalan. Aku mau ke pantai, mau cari udara segar. Kita pergi sekarang, ya?" ajak Alea antusias.
Kenan terdiam sejenak, lalu menatap Alea dengan serius. "Itu ide bagus. Tapi, ada baiknya Anda beri tahu Tuan Arkan dulu lewat pesan atau telepon. Saya tidak ingin kita baru jalan sepuluh menit, lalu Tuan Arkan menganggap saya membawa Anda kabur. Kita butuh izin supaya perjalanan ini benar-benar tenang."
Alea menghela napas, menyadari Kenan benar. Ayahnya sedang dalam mode sangat protektif dan penuh curiga. "Iya juga sih. Sebentar, aku kirim pesan ke Papa."
Setelah menunggu beberapa saat, ponsel Alea bergetar.
Papa: Ya. Pulang sebelum gelap. Jangan buat masalah lagi.
"Sudah dibolehkan!" seru Alea lega.
Kenan tersenyum tipis sangat tipis hingga hampir tak terlihat lalu membukakan pintu mobil untuknya. "Silakan, Nona. Mari kita cari udara segar."
Mobil berhenti tepat di pinggir jalan setapak yang berbatasan langsung dengan hamparan pasir putih. Angin sepoi-sepoi menerbangkan beberapa helai rambut Alea yang terlepas dari kuncirannya.
Begitu pintu mobil terbuka, Alea tidak lagi bisa menahan kegembiraannya. Ia melepas alas kakinya di dalam mobil dan berlari kecil ke arah bibir pantai. Langkah kakinya terasa ringan saat menyentuh butiran pasir yang hangat.
"Kenan, ayo!" serunya sambil menoleh ke belakang.
Alea terus berlari hingga kakinya terendam air laut yang dingin. Ia tertawa lepas. Untungnya, sebelum berangkat tadi, Alea sudah memohon secara tegas kepada Arkan.
"Papa, jangan kirim mata-mata atau supir tambahan untuk menguntitku kali ini. Kalau Papa masih tidak percaya padaku atau Kenan, lebih baik aku tidak pergi sama sekali," ucapnya tadi lewat telepon. Dan sepertinya, kali ini Arkan benar-benar memberinya ruang.
Kenan berdiri beberapa meter di belakang Alea, menjaga jarak yang aman namun tetap bisa mengawasi setiap gerak-gerik gadis itu. Ia membiarkan jas hitamnya terbuka, tertiup angin pantai yang kencang. Matanya tidak pernah lepas dari Alea, Ada sedikit binar kehangatan saat melihat gadis itu kembali bisa tertawa.
"Kenapa diam di situ? Sini!" Alea melambaikan tangan, memberi isyarat agar Kenan mendekat ke arah ombak.
Kenan berjalan perlahan mendekat, namun ia tetap berdiri di batas pasir yang kering. "Saya di sini saja, Nona. Saya harus tetap waspada."
Alea mencebikkan bibir, lalu dengan iseng ia menendang air laut ke arah Kenan. "Sekali-kali lupakan tugasmu, Kenan. Lihat, tidak ada orang di sini. Papa juga sudah janji tidak akan memata-matai kita hari ini. Kita bebas."
Kenan melihat noda air laut di celana kain hitamnya, lalu menatap Alea yang sedang tersenyum menantangnya. Ia menghela napas panjang, sebuah senyum tipis yang tulus akhirnya muncul di wajahnya.
"Anda benar-benar nekat menantang pengawal Anda sendiri, Nona?" tanya Kenan dengan nada bercanda yang jarang ia gunakan.
Alea tertawa lagi. "Kenapa tidak? Kamu tidak akan menangkapku, kan?"
Alea tertawa geli melihat ekspresi kaku Kenan. Tanpa aba-aba, Alea mencipratkan air laut lebih banyak lagi ke arah Kenan, lalu ia berbalik dan berlari menyusuri garis pantai.
"Kejar aku kalau bisa, Kenan!" tantangnya sambil tertawa lepas.
Kenan terpaku sejenak, namun melihat keceriaan Alea yang sudah lama hilang, ia akhirnya luluh. Ia melepas jas hitamnya, menyampirkannya di dahan pohon bakau terdekat, dan mulai melangkah mengejar Alea.
Melihat Kenan benar-benar mengejarnya, Alea berlari semakin kencang. Pasir yang basah membuat langkahnya terasa berat namun menyenangkan. Kenan sengaja tidak langsung menangkapnya; ia mengatur kecepatannya, membiarkan Alea merasa seolah-olah hampir menang, lalu tiba-tiba ia menambah kecepatan dan berada tepat di sampingnya.
"Anda tidak akan bisa lari jauh dari saya, Nona," ucap Kenan dengan napas yang masih sangat teratur, kontras dengan Alea yang sudah mulai terengah-engah.
Mereka terlibat aksi kejar-kejaran kecil yang kekanak-kanakan di sepanjang pesisir. Alea berbelok-belok, berusaha mengecoh Kenan, sementara Kenan mengikuti setiap gerakannya dengan kelincahan.
Setelah beberapa menit berlari dan menghindar, napas Alea mulai habis. Dadanya naik turun dengan cepat, dan kakinya mulai terasa lemas karena beban pasir dan air.
"Udah... udah cukup! Aku lelah, Kenan!" seru Alea sambil terengah-engah.
Alea langsung menjatuhkan dirinya, mendudukkan diri di atas pasir putih yang halus tanpa memedulikan pakaian mahalnya yang kini kotor terkena pasir basah. Ia memegangi perutnya yang kram karena terlalu banyak tertawa dan berlari.
Kenan berhenti tepat di sampingnya. Ia tidak ikut duduk, namun ia berdiri menghalangi sinar matahari yang menyengat agar Alea tetap merasa teduh di bawah bayangannya. Ia mengulurkan sebuah sapu tangan bersih dari saku celananya.
"Anda terlalu memaksakan diri, Nona," ucap Kenan, meskipun nada bicaranya terdengar jauh lebih hangat dari biasanya.
Alea mendongak, menatap Kenan yang tetap terlihat gagah meski kemeja putihnya kini basah oleh keringat dan beberapa kancing atasnya terbuka. Alea menerima sapu tangan itu sambil tersenyum tipis.
"Tapi aku merasa hidup lagi, Kenan. Baru kali ini aku merasa... bebas. Benar-benar bebas," bisik Alea sambil menatap hamparan laut biru di depannya.
Ia menepuk-nepuk pasir di sampingnya, mengisyaratkan Kenan untuk duduk. "Duduklah. Jangan berdiri terus seperti patung. Anggap saja hari ini tidak ada Nona Alea dan tidak ada pengawal Kenan. Cukup kita berdua di sini."
Alea menyandarkan kepalanya ke lutut, menatap profil samping wajah Kenan yang terlihat sangat tenang dengan latar belakang cakrawala. Meskipun kemejanya berantakan dan wajahnya terkena sedikit percikan air laut, aura kepemimpinan dan karisma pria itu tidak hilang sedikit pun. Justru, dalam keadaan seperti ini, Kenan terlihat jauh lebih berkelas.
"Kenan," panggil Alea pelan, masih dengan sisa napas yang belum teratur.
"Iya, Nona?"
Alea menyipitkan mata, menatap Kenan dengan penuh selidik. "Boleh aku tanya sesuatu yang serius? Tapi kamu harus jujur."
"Kenapa pria sepertimu bisa berakhir jadi pengawal? Maksudku, lihat dirimu. Caramu bicara, caramu menangani masalah, bahkan auramu... kamu sama sekali tidak terlihat seperti orang yang bekerja untuk orang lain," Alea menjeda sebentar, lalu menyeringai nakal. "Jangan-jangan kamu ini CEO perusahaan besar yang lagi menyamar ya? Atau ahli waris yang lagi melarikan diri dari perjodohan juga? Iya, kan?"
Kenan terdiam sesaat, lalu sudut bibirnya berkedut. Ia melepaskan tawa kecil tawa pertama yang benar-benar terdengar renyah di telinga Alea.
"Anda kebanyakan nonton drama China, Nona," jawab Kenan sambil menggelengkan kepala, matanya kembali menatap lurus ke arah laut.
Alea tertawa kecil, meski dalam hatinya ia merasa tebakannya tidak sepenuhnya salah. "Habisnya, kamu terlalu sempurna buat jadi pengawal biasa."
Kenan terdiam cukup lama, suasana mendadak berubah menjadi sedikit lebih serius. Ia mengambil segenggam pasir putih, lalu membiarkannya jatuh perlahan dari sela-sela jarinya.
"Dunia ini tidak seindah drama yang Anda tonton, Nona. Saya menjadi pengawal bukan karena sedang menyamar, tapi karena saya tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam semalam. Menjadi pengawal adalah cara saya memastikan orang lain tidak merasakan kehilangan yang sama," ucap Kenan dengan nada yang dalam dan penuh rahasia.
Alea tertegun. Ia menyadari ada luka lama yang tersembunyi di balik ketenangan pria itu. "Kamu... pernah kehilangan seseorang?"
Kenan tidak menjawab secara langsung. Ia justru berdiri dan mengulurkan tangannya pada Alea untuk membantunya bangkit. "Matahari mulai turun, Nona. Kita harus segera kembali sebelum Tuan Arkan mengirim pasukan untuk mencari kita."
Alea menerima uluran tangan Kenan, namun ia tidak melepaskannya begitu saja saat ia sudah berdiri. Ia menatap mata Kenan dengan tulus. "Apapun masa lalumu, Kenan... terima kasih sudah memilih untuk menjagaku."