Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Jahat Kamu hanya Terluka
Hari-hari di kantor berubah menjadi beban yang menekan dada.
Tak ada lagi sapaan pagi tak ada kursi yang ditarikkan di ruang rapat obrolan berhenti setiap kali Ririn lewat. Semua menjauh, seolah keberadaannya membawa aib.
Ririn duduk menatap layar kosong, jemarinya kaku.
“Gue kalau miskin makin diinjak-injak,” gumamnya lirih senyum pahit tersungging. “Kalau ini bisa bikin gue kaya, sekalian aja gue ikut permainan si brengsek Baskara.”
Keputusan itu datang tiba-tiba, tapi rasanya mantap tanpa pikir panjang, Ririn berdiri dan melangkah ke arah ruang direksi dia mengetuk pintu sekali tegas.
“Masuk,” terdengar suara Baskara, pelan tapi berwibawa.
Ririn masuk. Wajahnya tenang, tapi matanya merah. Ada air mata yang ditahan keras-keras Baskara mendongak dari berkas di tangannya.
“Ada apa?” tanyanya, datar. “kamu baik-baik aja kan?” kali ini Baskara terlihat cemas.
Ririn mengangguk pelan dia menelan ludah.
“Saya, mau nikah sama Bapak.”
Kalimat itu menggantung di udara Baskara tersenyum tipis. “Tapi?”
“Tapi pastikan rumah saya kembali,” lanjut Ririn cepat, suaranya mulai bergetar. “Dan saya minta sejumlah uang, banyak biar saya nggak perlu kerja lagi seumur hidup.”
Kalimat terakhir runtuh bersama tangisnya. Air mata akhirnya jatuh, tak terbendung Baskara berdiri, melangkah mendekat dia mengusap pipi Ririn, menyeka air mata dengan ibu jarinya.
“Akhirnya si naif ini berubah,” katanya pelan, nyaris berbisik.
Ririn tertawa kecil di sela tangis.
“Itu gara-gara Anda.”
“Saya cuma membantu,” jawab Baskara ringan.
“Membantu saya jadi penjahat,” balas Ririn, menatap tajam.
Baskara menggeleng. “Belum. Kamu masih belum jahat kamu cuma sedang terluka.” dia menatap Ririn lekat. “Kalau kamu serius, buktikan.”
“Caranya?” tanya Ririn lirih masih terisak.
Baskara mendekatkan wajahnya, lalu menunjuk bibirnya.
Tanpa pikir panjang, Ririn mencondongkan tubuh dan mengecup bibir itu singkat sekadar sentuhan Baskara tersenyum kecil.
“Hmm, bukan begitu caranya.”
Dia menarik Ririn mendekat, lengannya melingkar mantap. Bibir mereka bertemu lagi, kali ini lebih lama. Terlalu lama hingga Ririn kehilangan napas dan pikirannya kacau antara marah, takut, dan sesuatu yang tak ingin dia akui.
Saat akhirnya terlepas, Ririn terengah, matanya basah.
“Anda gila,” bisiknya.
Baskara menatapnya tenang Baskara menatap Ririn lama, lalu berkata pelan,
“Pindah ke apartemenku.”
Ririn langsung menggeleng.
“Kita harus menikah dulu,” katanya tegas.
Baskara tertawa pendek.
“Kamu tuh nggak berubah.”
Ririn menatapnya tajam, tanpa senyum.
“Kamu yang berubah, Baskara.”
Tawa Baskara menghilang. Rahangnya mengeras.
“Itu karena nenek ku. Keluarga ku luka yang mereka kasih ke aku ke ibu ku,"
“Kamu lemah,” potong Ririn dingin.
Baskara tersenyum miring.
“Dan kamu sok kuat? Prinsip kamu juga akhirnya runtuh.”
Baskara mendekat selangkah. “Lihat perlakuan orang-orang itu, nggak ada yang bela kamu, nggak ada yang percaya kamu.”
Ririn menahan napas dadanya terasa panas.
“Selama kamu nggak punya apa-apa. Selama kamu dianggap lemah,” lanjut Baskara, suaranya rendah tapi tajam,
“Mereka lebih simpati sama Lola. Cantik, kaya, latar belakang sempurna. Itu menyakitkan, kan?”
Ririn mengepalkan tangan.
“Jadi karena aku bakal kasih kamu uang,” kata Baskara ringan,
“Nggak masalah dong kalau kita tidur bareng malam ini?”
Ririn menampar pipi Baskara, baskara terhuyung.
“Kurang ajar,” kata Ririn gemetar, matanya basah tapi penuh amarah. “Aku bukan perempuan seperti itu,”
Dia berbalik dan pergi tanpa menoleh.Baskara berdiri terpaku beberapa detik, lalu tertawa kecil sambil memegangi pipinya
“Dasar naif,” gumamnya pelan, senyum tipis tersungging di bibirnya.
“Selamat datang di permainan, Ririn.”