Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Kehidupan Awal Pernikahan Arga dan Nabila
Lonceng kecil di sebuah gereja tua di pinggiran Jakarta berdenting lembut. Tidak ada karpet merah sepanjang satu kilometer, tidak ada ribuan undangan, dan tidak ada orkestra megah. Arga dan Nabila memilih untuk mengikat janji suci mereka dalam suasana yang hanya dihadiri oleh keluarga inti dan segelintir sahabat dekat.
Nabila tampak sangat anggun dalam balutan kebaya putih sederhana berbahan brokat. Tidak ada tiara berlian di kepalanya, hanya rangkaian bunga melati segar yang aromanya menenangkan jiwa Arga. Saat mereka berdiri di depan altar, Arga menggenggam tangan Nabila. Tangan itu sedikit kasar karena kesibukan Nabila menyelesaikan tesis hukumnya sambil bekerja paruh waktu, namun bagi Arga, itu adalah tangan yang telah menyelamatkan nyawanya dari jurang maut.
"Aku, Arga Mandala, menerimamu sebagai istriku. Dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin..."
Suara Arga bergetar, bukan karena ragu, tapi karena ia menyadari betapa besarnya anugerah yang ia terima. Ia menatap mata Nabila yang berkaca-kaca. Di sana, ia tidak melihat ambisi yang dingin, melainkan kesetiaan yang hangat. Pernikahan itu menjadi titik balik resmi bagi Arga untuk mengubur semua memori tentang klinik ilegal, beasiswa London, dan air mata di bawah hujan sepuluh tahun lalu.
Setelah menikah, hidup mereka berjalan seperti air yang mengalir tenang. Arga mendapatkan posisi di Airborne Group, sebuah perusahaan konstruksi dan investasi raksasa. Arga bekerja seperti pria kesurupan, bukan karena gila harta, tapi karena ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri dan pada Nabila bahwa kejujuran bisa membuahkan hasil.
Setiap pagi, Nabila menyiapkan bekal makan siang sederhana. Setiap malam, mereka duduk di balkon apartemen kecil mereka, berbagi mimpi tentang memiliki rumah dengan halaman kecil suatu hari nanti. Prestasi Arga di Airborne melesat. Ia dikenal sebagai manajer muda yang paling berintegritas.
"Hidupku sudah sempurna, Nabila," ucap Arga suatu malam sambil memeluk istrinya di bawah cahaya bulan. "Aku tidak butuh dunia jika aku sudah memilikimu."
Di saat yang sama, di belahan bumi lain, suasana jauh berbeda. Cahaya lampu kristal yang menyilaukan memantul di lantai marmer sebuah galeri seni elit di Marina Bay, Singapura. Musik klasik mengalun lembut, bercampur dengan denting gelas sampanye dan obrolan para konglomerat yang aroma parfumnya berbau uang.
Siska berdiri di sudut ruangan, memegang gelas martini. Sepuluh tahun di London telah mengubahnya secara total. Ia bukan lagi gadis pinggiran yang cemas akan masa depan. Ia telah menjadi predator yang halus. Namun, ia menyadari satu hal, kecantikannya memiliki masa kedaluwarsa, dan tabungannya mulai menipis karena gaya hidupnya yang tinggi di Eropa.
Matanya terkunci pada satu target - Pak Roy.
Seorang duda kaya raya, pemilik saham mayoritas Airborne Group, yang baru saja kehilangan istrinya setahun lalu. Pak Roy tampak berdiri sendirian, menatap sebuah lukisan abstrak bertema 'Kehilangan'.
Siska tidak langsung mendekat. Ia menunggu momen yang tepat. Ia telah mempelajari latar belakang Pak Roy selama berbulan-bulan. Ia tahu pria itu menyukai seni yang memiliki jiwa, dan ia tahu pria itu sedang mencari pelipur lara.
Siska melangkah pelan, berdiri di samping Pak Roy tanpa menyapa. Ia menatap lukisan yang sama dengan ekspresi melankolis yang sempurna, hasil latihan berjam-jam di depan cermin.
"Pelukisnya mencoba mengatakan bahwa lubang di hati tidak akan pernah tertutup, hanya bisa ditumbuhi oleh bunga yang baru," ucap Siska dengan suara rendah, nyaris berbisik.
Pak Roy menoleh, terkesiap melihat kecantikan Siska yang tampak begitu berkelas namun rapuh. "Analisis yang menarik. Anda pecinta seni?"
Siska tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata, namun cukup untuk membuat pria seperti Pak Roy terpana. "Saya hanya seseorang yang mengerti arti kehilangan, Pak..."
Malam itu adalah awal dari penaklukan. Siska menggunakan setiap inci pesonanya untuk menjerat Pak Roy. Ia memosisikan dirinya bukan sebagai pemburu harta, melainkan sebagai belahan jiwa yang hilang. Hanya dalam waktu enam bulan, Siska berhasil membuat Pak Roy berlutut dan melamarnya.
Namun, di balik kemesraan palsunya, Siska memiliki agenda lain. Saat ia pindah ke rumah mewah Pak Roy di Singapura, ia mulai memeriksa dokumen-dokumen perusahaan Airborne Group. Matanya terbelalak saat melihat daftar manajer operasional di kantor cabang Jakarta.
Arga Mandala.
Siska menyandarkan tubuhnya di kursi kulit yang mahal, sebuah seringai muncul di wajahnya. Ia melihat foto Arga di profil karyawan. Arga terlihat lebih matang, lebih tampan, dan yang paling membuatnya muak, Arga terlihat bahagia. Ia melihat informasi tentang istri Arga, Nabila, yang kini menjadi pengacara muda.
"Jadi kau sudah bahagia, Arga?" gumam Siska sambil menyulut rokok tipisnya. "Kau membangun hidup di atas puing-puing yang kutinggalkan? Kau pikir kau bisa melupakan apa yang terjadi di antara kita?"
Rasa benci yang selama ini ia tekan bangkit kembali. Siska merasa dihina oleh kebahagiaan Arga. Baginya, Arga seharusnya tetap hancur sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan (pengguguran janin) yang ia lakukan demi kariernya. Siska tidak sudi melihat pria yang dulu ia campakkan justru memiliki kedamaian yang tidak pernah ia rasakan sendiri meski sudah bergelimang harta.
"Roy, Sayang..." Siska menyapa suaminya yang baru pulang ke rumah. "Aku rasa sudah waktunya kita kembali ke Jakarta. Aku ingin mengurus Airborne secara langsung. Aku ingin membawa perusahaan ini ke level yang lebih tinggi."
Pak Roy, yang sudah benar-benar berada di bawah pengaruh Siska, hanya mengangguk setuju. "Tentu, cintaku. Apapun yang kau inginkan. Kau akan menjadi Direktur Eksekutif di sana."
Siska tersenyum puas. Rencana besarnya telah matang. Ia tidak kembali untuk urusan bisnis. Ia kembali untuk mengambil apa yang menurutnya adalah 'mainannya' yang tertinggal. Ia ingin melihat sejauh mana kekuatan cinta Nabila saat berhadapan dengan kekuasaan yang ia miliki.
Di apartemennya, Arga mendadak merasa kedinginan meskipun AC sedang mati. Ia memeluk Nabila lebih erat dalam tidurnya. Ia tidak tahu bahwa ribuan kilometer dari sana, seorang wanita baru saja menutup koper mewahnya, membawa dendam sepuluh tahun yang akan menghancurkan hidupnya dalam hitungan hari.
Pernikahan yang jujur akan segera berbenturan dengan ambisi yang beracun. Dan bagi Arga, masa sempurna yang ia rasakan hanyalah ketenangan sebelum badai paling mematikan dalam hidupnya menghantam.
...----------------...
Next Episode....
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰