NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEHAMILAN PELAYANNYA PANGERAN ALARIC

"Meiden," panggilnya dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.

Gadis itu perlahan mengangkat wajahnya, membuat tatapan mereka bertemu di bawah temaram cahaya lilin yang menari di dinding kamar.

Untuk beberapa menit, suasana menjadi sunyi senyap; hanya suara derak kayu yang terbakar di perapian yang memecah keheningan. Vion merasa dadanya sedikit sesak melihat kesedihan di mata wanita itu.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya, ingatanku masih kacau. Aku belum bisa me—"

"Yang Mulia, aku..." Meiden memotong kalimatnya.

Tangannya yang gemetar perlahan turun dan mengelus perutnya yang tertutup gaun linen sederhana.

"Aku mengandung. Ini anak kita, Alaric."

Seketika, kedua mata vion melotot lebar. Ia tersentak dan beranjak dari kursi berlengan beludrunya dengan gerakan yang sangat cepat hingga kursi itu nyaris terjungkal.

Jantungnya berdegup kencang seperti dipukul genderang perang. Ia menatap ke arah perut Meiden yang masih terlihat rata, namun kata-kata itu terasa seperti ledakan bom di telinganya.

"Apa?! Kau... kau bilang apa tadi?" suara vion hampir menghilang karena syok yang luar biasa.

Dunia vion seakan berputar. Di masa aslinya, ia bahkan belum menikah, dan sekarang, baru beberapa hari terjebak di tubuh pangeran dari abad pertengahan ini, ia tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan bahwa ia akan menjadi seorang ayah—dari seorang pelayan istana pula.

Ini bukan sekadar skandal; di era ini, ini adalah hukuman mati atau pengasingan jika diketahui oleh Raja dan Ratu.

JEDERRR!

Rasanya bukan sekadar petir yang menyambar pohon ek di tengah badai salju. Ini jauh lebih dahsyat, seolah dua kekuatan alam semesta beradu tepat di depan wajahnya, dan ledakannya meluluhlantakkan segala yang ada di sekitarnya. Termasuk mental vion yang kini terasa hancur, kalut, dan benar-benar buntu.

Ia menyambar kedua lengan Meiden, mencengkeramnya cukup kuat sambil menatap tajam ke dalam mata gadis itu.

"Meiden... katakan sekali lagi. Ulangi ucapanmu!" pintanya dengan suara lirih yang bergetar hebat.

Kedua pipi gadis itu kini telah basah kuyup oleh lelehan air mata. Isaknya pecah, membuat bahunya terguncang.

"Yang Mulia... hamba benar-benar sedang mengandung benih Anda. Hamba tidak berbohong," isaknya di sela tangis.

Cengkeraman tangan vion melemah. Ia melepaskan lengan Meiden begitu saja, merasa tenaganya seolah tersedot habis ke bumi.

Ia melangkah tanpa arah di dalam kamar yang luas itu, berkacak pinggang, mondar-mandir seperti singa yang terjebak di dalam sangkar emas.

Pikirannya kalut bukan main. Di dunianya yang asli, jangankan punya anak, "bercocok tanam" saja ia belum pernah! Bagaimana mungkin sekarang ia harus memikul tanggung jawab sebesar ini di tengah konspirasi kerajaan yang sedang mengincar nyawanya?.

Jika Raja Valerius yang keras itu tahu, atau Ratu Isabelle yang licik itu mendengar kabar ini, Meiden bisa berakhir di tiang gantungan, dan vion—atau Alaric—bisa dicopot dari takhtanya.

"Sial... sial sekali!" umpatnya dalam hati. Ia merasa seperti masuk ke dalam lubang jebakan yang tidak ada dasarnya.

Tujuan utama vion sekarang tetap satu: ia harus menemukan cara untuk kembali ke Indonesia.

Perselingkuhan atau kehamilan ini adalah masalah Alaric yang asli, bukan masalahnya. Tapi, ia tidak bisa mengabaikan nyawa manusia di depannya.

"Meiden," ucapnya berat.

Ia menggenggam lengan Meiden, membawanya ke tepi tempat tidur yang megah itu. Gadis itu menurut, ia bersimpuh tepat di depan vion yang duduk di tepi ranjang, mendongak dengan tatapan penuh pemujaan sekaligus kesedihan ke arah wajah pangeran yang tampak begitu maskulin dalam cahaya remang.

"Dengarkan aku baik-baik," vion menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

"Yang Mulia... Anda pernah berjanji," Meiden memotong dengan suara serak akibat isak tangis yang belum reda.

"Anda bilang akan membawaku lari dari kastel ini, melewati perbatasan, demi agar kita bisa hidup bersama tanpa bayang-bayang hukuman dari Baginda Raja. Hamba sangat berharap pada Anda, Yang Mulia... hamba takut."

Melihat gurat ketakutan di wajah gadis itu, vion merasa hatinya mencelos. Rasa tak tega menghantamnya telak.

Namun, ia tidak boleh membiarkan Meiden terjebak dalam kebohongan yang lebih besar.

"Dengarkan aku," ucapnya lagi, kali ini lebih tegas.

"Ada sesuatu yang sangat penting yang perlu kau tahu."

Ia memegang bahu Meiden dan menatap mata biru gadis itu dengan sangat serius, seolah ingin menembus jiwanya.

"Aku... aku bukan Pangeran Alaric Valerius yang kau kenal selama ini. Aku bukan pria yang menjanjikan pelarian itu padamu," vion menelan ludah, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.

"Namaku adalah Vion Reynald. Aku datang dari tempat yang sangat jauh dari sini... dari masa yang berbeda."

Alis Meiden berkerut dalam, wajahnya menampilkan gurat kebingungan yang nyata, seolah-olah vion baru saja berbicara dalam bahasa asing yang tak masuk akal.

"Yang Mulia... apa yang Anda bicarakan? Luka itu... apakah luka itu merusak pikiran Anda?"

"Aku tidak berbohong, Meiden. Dengarkan aku baik-baik. Aku benar-benar tidak mengenalmu," vion berkata dengan nada putus asa namun jujur.

"Jadi, bersabarlah. Tunggulah sampai aku menemukan cara untuk pergi dari raga ini dan mengembalikan Alaric-mu yang asli."

Vion menjeda sejenak, menatap telapak tangannya sendiri yang terasa asing.

"Bukannya aku tidak mau bertanggung jawab atau membawamu pergi mencari kebahagiaan. Masalahnya, aku benar-benar tidak mengenalmu. Aku tidak tahu memori apa yang kau bagi dengan Alaric, atau sedalam apa hubungan kalian dahulu."

Ia memegang bahu Meiden lagi, berusaha menyalurkan keseriusannya.

"Raga ini, kulit ini, memang milik Pangeran Alaric. Tapi jiwaku, kesadaranku... aku adalah Vion Reynald. Aku berasal dari negeri yang sangat jauh, di masa depan yang tidak bisa kau bayangkan, dan aku tersesat di sini. Aku terperangkap di dalam tubuh pria yang kau cintai ini."

Meiden menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya berhenti mengalir bukan karena tenang, tapi karena rasa syok yang luar biasa. Baginya, penuturan Vion terdengar seperti igauan penyihir atau kutukan hitam. Di era Eropa kuno ini, konsep "jiwa yang tertukar" adalah sesuatu yang hanya ada di dongeng atau tuduhan sesat gereja.

Meiden meneguk ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa tercekat. Ia mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya yang pucat.

Ingatannya berputar kembali ke saat pangeran itu pertama kali terbangun dari koma; bicaranya yang aneh, tatapannya yang asing, bahkan sikap dinginnya yang terang-terangan mengaku tidak mengenalnya.

Saat itu Meiden pikir itu hanya efek trauma, namun sekarang pernyataan pria itu terdengar begitu nyata dan menakutkan.

"Yang Mulia... Anda... Anda benar-benar..." Meiden kehilangan kata-kata.

Vion mengangguk mantap, menatapnya dengan rasa iba yang mendalam.

"Aku bukan Pangeran Alaric-mu. Aku Vion."

Seketika, Meiden mencengkeram jubah beludru yang dikenakan Vion dengan kuat, jemarinya memutih karena tekanan yang hebat.

"Lalu... lalu bagaimana dengan nasib anak yang hamba kandung ini, Yang Mulia?!" tangisnya kembali pecah, kali ini lebih histeris karena diliputi keputusasaan.

"Hamba akan diseret ke pengadilan gereja, dicambuk, dan diusir dari kastel ini jika mereka tahu hamba hamil tanpa seorang suami! Hamba akan dianggap wanita pendosa!" Meiden tergugu, wajahnya disembunyikan di lipatan baju vion.

"Hamba harus bagaimana? Siapa yang akan melindungi hamba jika Anda bukan Alaric yang hamba kenal? Yang Mulia... tolonglah hamba..."

Vion membeku. Di dunianya yang asli, masalah seperti ini mungkin bisa diselesaikan dengan diskusi atau dukungan keluarga, tapi di era Eropa kuno yang kolot ini, kehamilan seorang pelayan oleh seorang pangeran adalah skandal maut.

Nyawa Meiden dan bayi itu benar-benar berada di tangannya, meski secara biologis itu bukan perbuatannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!