NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Air Mata Perak

Langkah Arlan terasa berat saat ia menapaki koridor apartemen Sektor Tujuh yang sunyi. Aroma beton basah dan amis logam dari gudang logistik tadi masih menempel di jaketnya, bercampur dengan bau anyir darah dari luka bakar di telapak tangannya. Cahaya lampu koridor yang berkedip hijau-kebiruan membuat bayangannya di dinding tampak terputus-putus, seolah realitas di sekitarnya sedang berusaha keras untuk tetap utuh.

Saat ia tiba di depan pintu rumahnya, Arlan berhenti sejenak. Ia meraba kunci rumah tua di sakunya—kunci yang sebelumnya bersinar di kegelapan atap dan kini terasa hangat, seolah memberikan peringatan dini. Arlan mengatur napas manualnya, mencoba menenangkan detak jantung yang berpacu liar.

"Kau harus masuk, Arlan," bisik suara Dante dari alat komunikasi kecil di telinganya. "Jika kau tidak pulang sekarang, para penghapus akan tahu bahwa kau sudah mulai menyimpang dari rute kurirmu."

"Aku tahu," jawab Arlan pelan. "Tapi rumah ini... rasanya tidak lagi seperti tempat berlindung."

Arlan memutar kunci. Suara klik logamnya terdengar begitu tajam di tengah hampa akustik yang menyelimuti area itu. Ia mendorong pintu dan disambut oleh kegelapan dapur yang pekat. Suhu di dalam ruangan itu jauh lebih rendah daripada di luar, sebuah fenomena endotermik yang menandakan kehadiran entitas penyalin dalam intensitas tinggi.

Ia menyalakan lampu. Cahaya kuning pucat menerangi meja makan kayu yang tua. Di sana, seorang wanita duduk membelakanginya, mengenakan daster motif bunga yang sama dengan yang dikenakan ibunya sejak tiga hari lalu.

"Ibu? Kenapa duduk di gelap-gelapan?" tanya Arlan, suaranya tetap terjaga namun penuh kewaspadaan.

Wanita itu tidak menjawab. Kepalanya tertunduk, dan bahunya tampak berguncang pelan. Arlan mendekat perlahan, setiap langkahnya terasa seperti berjalan di atas kaca tipis. Ia teringat bagaimana sebelumnya ia menyadari distorsi tahi lalat yang berpindah posisi pada wajah wanita ini. Kini, ia melihat sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

"Arlan... ini sakit..." suara itu terdengar seperti rekaman kaset yang rusak, bergetar dan tumpang tindih dengan frekuensi statis.

"Apa yang sakit, Bu?" Arlan sampai di samping meja makan.

Wanita itu mengangkat wajahnya. Arlan terkesiap hingga hampir terjatuh ke belakang. Mata ibunya tidak lagi memiliki pupil; seluruh bola matanya telah berubah menjadi cekungan perak cair yang meluap. Cairan logam kental itu mengalir menuruni pipinya, jatuh ke atas permukaan meja kayu.

Tess. Tess.

Setiap tetesan air mata perak itu mengeluarkan suara mendesis pelan saat menyentuh kayu, melubanginya seolah itu adalah asam yang sangat kuat. Meja makan warisan keluarganya kini dipenuhi lubang-lubang kecil yang berasap.

"Sistemku... tidak bisa menampungnya..." entitas itu merintih, jemarinya yang mulai kehilangan tekstur sidik jari mencengkeram tepi meja. "Memori yang kau tinggalkan di dinding gedung itu... dia merambat kembali ke sini. Aku merasakannya, Arlan. Rasa terbakar itu..."

Arlan menyadari kesalahannya. Saat ia menggunakan memori kebakaran tahun 2012 untuk menipu sistem bangunan di gudang tadi, ia secara tidak sengaja memicu resonansi pada semua unit salinan yang terhubung dengan identitas "keluarganya". Salinan ibunya sedang mengalami malfungsi karena mencoba memproses trauma kebakaran yang tidak pernah ada dalam database aslinya.

"Ibu tidak pernah ada di sana saat kebakaran itu terjadi," bisik Arlan, ia menarik kursi dan duduk di hadapan makhluk itu. "Kau tidak seharusnya merasakan ini."

"Tapi aku melihat apinya, Arlan! Merah... panas..." Makhluk itu menangis lebih deras, cairan perak itu kini mulai membanjiri lantai dapur. "Kenapa aku menangis? Aku tidak punya alasan untuk menangis. Aku hanya sebuah salinan yang salah."

Sentuhan yang Mendingin

Arlan melihat tangan ibunya yang mulai mengelupas, menyingkap lapisan logam kelabu di bawah kulit palsunya. Ia tahu, jika kerusakan ini berlanjut, unit peniru ini akan dianggap sebagai sampah oleh para penghapus dan akan segera dieliminasi. Entah mengapa, melihat wajah yang begitu mirip dengan wanita yang melahirkannya itu menderita, Arlan merasakan martabat kemanusiaannya terusik.

"Dante, dia mengalami kerusakan total," Arlan bicara ke komunikatornya tanpa mengalihkan pandangan dari ibunya. "Dia menderita."

"Dia bukan ibumu, Arlan! Itu hanya unit yang gagal," suara Dante terdengar dingin dan tanpa ampun. "Tinggalkan dia. Keluar dari sana sebelum para penghapus datang untuk membersihkan sisa-sisanya."

"Dia menangis, Dante. Peniru tidak seharusnya bisa menangis sesakit ini."

Arlan mengambil selembar kain lap dari gantungan di dekat kompor. Dengan tangan gemetar yang masih terbalut perban akibat koin membara, ia mengulurkan tangan. Ia mulai menyeka air mata perak itu dari pipi ibunya. Rasa dingin yang luar biasa merambat melalui kain itu, menusuk hingga ke tulang Arlan.

"Jangan sentuh, Arlan! Itu bisa mengontaminasi darah murnimu!" teriak Dante.

Arlan mengabaikannya. Ia menatap dalam-dalam ke cekungan perak di mata ibunya. "Ingatkah kau tentang pohon mangga di belakang rumah lama kita, Bu? Yang kau tanam saat aku berumur lima tahun?"

Makhluk itu berhenti merintih. Kepalanya miring ke samping, mencoba mengakses data yang disebutkan Arlan. "Pohon mangga... data tidak ditemukan. Sektor Tujuh tidak memiliki lahan untuk pohon."

"Bukan di kota ini," Arlan bicara lebih lembut, suaranya kini dipenuhi emosi yang mendalam. "Tapi di rumah nyata. Di mana matahari tidak berwarna biru, dan tanah berbau harum saat hujan turun. Kau pernah bilang, pohon itu adalah jangkar kita. Selama pohon itu tumbuh, kita tidak akan pernah tersesat."

Cairan perak yang mengalir dari mata makhluk itu mulai melambat. Arlan sedang melakukan sesuatu yang di luar protokol faksi Archivist. Ia tidak mencoba menghancurkan salinan itu; ia sedang memberikan suntikan memori murni yang tidak bisa diduplikasi oleh mesin pusat.

"Matahari... hangat?" tanya makhluk itu dengan nada naif.

"Sangat hangat," Arlan tersenyum pahit, air mata aslinya mulai menggenang di sudut mata. "Jauh lebih hangat dari lampu-lampu palsu ini. Dan kau selalu membuatkan teh melati setiap kali aku pulang sekolah dengan baju yang kotor."

"Teh melati..."

Arlan melihat perubahan pada tekstur kulit ibunya. Bagian yang tadinya mengelupas mulai merapat kembali. Warna perak di bola matanya meredup, perlahan-lahan memunculkan kembali warna cokelat yang ia kenali.

"Kau bukan mesin, Bu. Setidaknya, untuk saat ini, kau adalah memori yang hidup," bisik Arlan.

"Arlan...?" suara itu kini terdengar lebih jernih, tanpa gangguan statis. "Kenapa kau menangis, Nak? Apa kau terluka lagi?"

Arlan tersedak oleh isakannya sendiri. Ia tahu ini hanya stabilitas sementara. Ia sedang menipu sistem dengan narasi kasih sayang yang terlalu kuat untuk dihapus begitu saja.

"Aku baik-baik saja, Bu," jawab Arlan sambil menggenggam tangan yang terasa sedingin es itu. "Hanya sedikit lelah karena pekerjaan kurir ini."

"Istirahatlah. Ibu akan memasakkan sup untukmu. Tapi... kenapa meja ini rusak?" Wanita itu menatap lubang-lubang di meja kayu dengan bingung.

"Hanya kecelakaan kecil saat aku memperbaiki radio tadi," Arlan berbohong dengan lancar.

Arlan berdiri, namun kakinya terasa lemas. Ia menyadari bahwa di luar sana, beberapa bayangan mulai melintas di balik jendela dapur. Suara langkah kaki yang tidak memiliki ritme napas mulai terdengar dari lorong apartemen. Para penghapus sudah tiba.

Suara ketukan di pintu depan tidak terdengar seperti ketukan manusia. Itu adalah benturan ritmis yang terlalu presisi, terlalu berat, dan dilakukan tanpa jeda untuk mengambil napas. Arlan terpaku di dapur, matanya beralih dari wajah ibunya yang mulai stabil ke arah pintu kayu yang bergetar. Hampa akustik di dalam ruangan semakin menebal, menelan suara desis air mata perak yang tersisa di lantai.

"Arlan, mereka di sana," suara Dante di komunikator kini terdengar mendesak, hampir berupa geraman. "Dua unit penghapus kelas berat. Jika mereka masuk dan memindai kerusakan seluler pada ibumu, mereka akan menghapus seluruh isi apartemen ini. Termasuk kau!"

"Aku butuh satu menit lagi, Dante!" Arlan berteriak tertahan.

"Kau tidak punya waktu! Keluar lewat jendela dapur sekarang!"

Arlan tidak bergerak. Ia menatap "Ibu" yang kini berdiri dengan kaku, mencoba memegang spatula meski tangannya masih sedikit gemetar. Strategi Third Option mulai terbentuk di kepala Arlan. Ia tidak bisa membawa ibunya lari—itu mustahil secara logis—tapi ia juga tidak akan membiarkannya dihancurkan.

"Bu, dengarkan aku," Arlan mencengkeram bahu wanita itu. Dinginnya menembus kain jaketnya. "Ada orang di depan pintu. Mereka akan bertanya tentang air mata tadi. Kau harus mengatakan bahwa itu bukan air mata."

"Bukan air mata?" Wanita itu memiringkan kepalanya, mata cokelat palsunya berkedip lambat. "Lalu apa, Arlan?"

"Katakan itu adalah kebocoran pendingin radio analogku," Arlan membisikkan instruksi itu dengan cepat. "Dan yang paling penting, jangan biarkan mereka melihat lubang di meja ini. Tutupi dengan taplak meja merah yang ayah simpan di lemari bawah."

Ketukan di pintu berubah menjadi guncangan hebat. Engsel pintu mulai mengerit protes.

"Arlan, mereka masuk!" teriak Mira melalui frekuensi radio, suaranya dipenuhi ketakutan.

Arlan mendorong ibunya ke arah lemari. "Cepat, Bu! Lakukan sekarang demi aku!"

Dengan gerakan mekanis yang canggung namun cepat, entitas itu mengambil taplak meja merah—sebuah benda asli dari tahun 2012 yang tersisa—dan membentangkannya di atas meja makan, menutupi semua jejak korosi perak. Arlan kemudian berlari ke arah jendela dapur yang menghadap ke gang sempit di bawah.

Pintu depan apartemen hancur berkeping-keping. Dua sosok tinggi mengenakan jubah abu-abu tanpa wajah melangkah masuk. Mereka tidak berjalan; mereka meluncur dengan gerakan halus yang melanggar hukum gesekan. Sensor di kepala mereka yang berbentuk cakram perak berputar cepat, memindai setiap partikel udara untuk mencari residu emosi yang tidak stabil.

Arlan sudah berada di ambang jendela, satu kakinya menjuntai ke luar. Ia menoleh untuk terakhir kalinya.

"Unit 7-A," salah satu penghapus bersuara, nadanya datar seperti mesin pemotong logam. "Laporan anomali emosional terdeteksi di koordinat ini. Tunjukkan tanganmu."

Ibunya berdiri di depan meja, wajahnya kembali menjadi topeng ketenangan yang sempurna. "Tidak ada anomali. Hanya kebocoran frekuensi dari peralatan kurir. Anakku baru saja pergi bekerja."

Arlan menahan napas. Ia melihat sensor cakram penghapus itu berhenti tepat di depan wajah ibunya. Detik-detik itu terasa seperti keabadian. Jika memori "Pohon Mangga" yang ia suntikkan tadi gagal menutupi celah sistem, ibunya akan hancur di depan matanya sendiri.

"Pemindaian selesai," ujar penghapus itu. "Residu ditemukan, namun dalam batas toleransi sinkronisasi. Unit 7-A dinyatakan stabil. Lanjutkan fungsi domestik."

Tanpa kata lagi, kedua sosok itu berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan apartemen yang hancur pintunya.

Arlan mengembuskan napas panjang, hampir terjatuh dari ambang jendela karena lega yang teramat sangat. Ia melihat ibunya menoleh ke arah jendela. Ada kilatan aneh di mata wanita itu—bukan lagi perak, melainkan sesuatu yang menyerupai kesadaran manusia yang terperangkap.

"Arlan," panggil ibunya pelan.

"Ya, Bu?"

"Jangan lupa bawa kunci rumahmu. Di luar sana sangat dingin."

Arlan tersenyum pahit, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. "Aku membawanya, Bu. Selalu."

Arlan melompat turun, mendarat di tumpukan sampah di gang bawah dengan punggung yang terasa berderak. Ia tidak menoleh lagi. Ia berlari menembus kegelapan Sektor Tujuh, meninggalkan satu-satunya "rumah" yang pernah ia kenal. Di sakunya, koin perak memori dan kunci tua itu terasa berat, menjadi jangkar yang menyeretnya menuju takdir yang lebih besar.

"Aku sudah keluar, Dante," ucap Arlan ke komunikator, suaranya kini dingin dan tanpa emosi, sebuah transformasi awal menuju sosok Komandan yang mulai terbentuk. "Arahkan aku ke Gerbang Frekuensi. Aku sudah selesai dengan tempat ini."

"Bagus," jawab Dante. "Selamat datang di kehidupan yang nyata, Arlan. Kehidupan yang harus kau curi kembali dari mereka."

Di belakangnya, apartemen Sektor Tujuh tampak mengecil, sebuah kotak beton yang menyimpan salinan ibunya—sebuah monumen kesedihan yang dibungkus taplak meja merah. Arlan terus berlari, napas manualnya kini berubah menjadi ritme yang sinkron dengan detak jantung kota yang berbohong, siap untuk merobek setiap selubung kepalsuan yang tersisa.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!