Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.
Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.
Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELARIAN KE PARIS.
Pesawat yang membawa mereka kembali ke Jakarta mendarat di tengah guyuran hujan lebat. Suasana dingin di luar seolah mewakili dinding es yang kembali dibangun oleh Aurel di sekeliling hatinya. Meski Adam terus mencoba menggenggam tangannya atau sekadar melempar senyum hangat, Aurel tetap bergeming. Bayangan Maya yang "segar" dan ejekan Doni di kafe itu telah berubah menjadi parasit yang menggerogoti rasa percaya dirinya.
"Aurel, kita langsung pulang ke apartemen ya? Kamu terlihat sangat lelah," ucap Adam lembut saat mereka berjalan di area kedatangan bandara.
Aurel melepaskan kaitan tangannya dari lengan Adam secara halus, berpura-pura merapikan letak tasnya. "Aku ada urusan mendadak di kantor, Adam. Kamu pulang saja dulu sendiri. Aku sudah minta Siska menjemput."
Adam menghentikan langkah, menatap istrinya dengan tatapan nanar. "Kantor? Ini sudah jam tujuh malam, Adel. Dan kita baru saja mendarat. Apa kamu masih mencoba menghindariku karena kejadian di Surabaya itu?"
Aurel memalingkan wajah, tak sanggup menatap mata tajam suaminya. "Jangan berlebihan, Adam. Pekerjaanku menumpuk selama seminggu ini. Aku hanya ingin profesional."
"Profesional atau lari?" suara Adam merendah, sarat akan kekecewaan. Aurel tidak menjawab ia malah langsung masuk ke mobil meninggalkan Adam.
Siksaan dalam jarak.
Hari-hari berikutnya di Jakarta menjadi siksaan bagi keduanya. Di kantor AA Cosmetic, Aurel menjadi semakin tertutup. Setiap kali ia berjalan di koridor dan melihat karyawan-karyawan mudanya berbisik atau melirik ke arahnya, ia merasa mereka sedang menertawakan perbedaan usianya dengan Adam.
"Bu Aurel sekarang selalu pakai hijab ya, makin cantik. Tapi apa benar suaminya itu brondong yang dulu anak magang?" sayup-sayup Aurel mendengar bisikan itu di kantin.
Aurel mempercepat langkahnya, masuk ke dalam ruangan CEO dan menguncinya. Di dalam, ia menemukan Adam yang sedang menunggunya dengan membawa kotak makan siang.
"Adel, makanlah dulu. Aku membawakan masakan Mbak Arumi yang dibekukan kemarin," ajak Adam, mencoba mencairkan suasana.
Aurel duduk di meja kerjanya tanpa menatap Adam. "Letakkan saja di sana. Aku masih harus memeriksa laporan keuangan. Dan tolong, Adam... di kantor, panggil aku 'Ibu'. Aku tidak ingin ada gosip tidak enak."
Adam mengepalkan tangan di samping tubuhnya. "Sampai kapan, Adel? Sampai kapan kamu membiarkan mulut orang asing mengatur kebahagiaan rumah tangga kita? Aku suamimu, bukan sekadar bawahanmu!"
"Justru karena kamu suamiku, aku tidak ingin kamu terlihat konyol bersamaku!" balas Aurel dengan nada tinggi. "Kamu pantas mendapatkan seseorang yang energik, yang tidak perlu merasa malu saat diajak reuni. Pergilah, Adam. Aku sedang sibuk."
Adam menatapnya lama, lalu berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pintu tertutup dengan dentuman pelan yang terasa menyakitkan di hati Aurel.
Rasa sesak itu mencapai puncaknya saat Aurel menyadari bahwa menjaga jarak dari Adam justru membuatnya semakin menderita. Ia merindukan imaman Adam saat subuh, ia merindukan obrolan ringan mereka, namun ketakutannya akan penuaan dan penilaian orang jauh lebih besar.
Malam harinya, Aurel mengemasi kopernya dengan terburu-buru.
"Mau ke mana kamu malam-malam begini?" tanya Adam yang muncul di ambang pintu kamar.
Aurel tidak berhenti melipat pakaiannya. "Aku harus dinas ke Paris selama dua minggu. Ada kerja sama baru dengan laboratorium kecantikan di sana. Ini mendadak."
Adam tertawa sinis, sebuah tawa yang sarat akan luka. "Dinas? Atau kamu mau kabur lagi? Kenapa Paris? Kenapa tidak sekalian saja ke ujung dunia agar kamu tidak perlu melihat wajah suamimu yang 'terlalu muda' ini?"
"Hentikan, Adam! Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku merasa tercekik di sini," ucap Aurel sambil menutup ritsleting kopernya.
"Baik. Pergilah," jawab Adam dingin. "Tapi ingat satu hal, Adel. Jarak tidak akan pernah menyelesaikan masalahmu jika kamu sendiri tidak mau berdamai dengan hatimu."lanjut Adam lagi, lalu ia pergi ke kamarnya sendiri.
Aurel berangkat tanpa berpamitan pada Adam. Ia sengaja mengambil keberangkatan malam. Penerbangan belasan jam membawanya ke Paris, kota yang selalu disebut sebagai tempat paling romantis di dunia, namun bagi Aurel terasa begitu sepi. Begitu mendarat, ia langsung menuju sebuah apartemen mewah di kawasan Le Marais. Di sana, ia disambut oleh seorang pria muda dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
"Kak Adel! Ya Tuhan, kenapa tidak bilang kalau mau datang? Aku kan bisa jemput di bandara!" seru pria itu sambil memeluk Aurel erat.
Dia adalah Arfan Faris, adik sepupu Aurel yang sedang menempuh pendidikan desain mode di Paris. Bagi Aurel, Faris adalah tempat bercerita yang paling aman selain adik kandungnya sendiri.
"Aku hanya ingin memberikan kejutan, Faris," jawab Aurel lemah, ia menjatuhkan dirinya di sofa apartemen Faris yang berantakan dengan sketsa baju.
Faris memperhatikan wajah kakaknya yang tampak kusam dan sembap. "Kakak ada masalah dengan suamimu? Siapa namanya? Adam? Aku dengar dia tampan dan sholeh."
Aurel menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Dia terlalu sempurna, Faris. Dan aku... aku merasa seperti barang antik yang dipajang di samping berlian baru. Aku malu. Di Surabaya kemarin, teman-temannya memanggilku tante-tante."
Faris duduk di samping Aurel, ia memberikan segelas cokelat hangat. "Kak, dengerin Faris ya. Di Paris ini, orang tidak peduli berapa usiamu. Mereka peduli pada kelas dan karaktermu. Kalau Adam memilihmu, itu karena dia melihat sesuatu yang tidak dimiliki gadis-gadis seusianya. Kamu itu hebat, kamu itu CEO sukses. Kenapa harus minder hanya karena kerutan yang bahkan belum ada?"
Aurel menyeruput cokelatnya, air matanya menetes lagi. "Aku takut dia bosan, Faris. Aku takut sepuluh tahun lagi dia akan menyesal."
"Penyesalan itu datang kalau kita tidak menghargai apa yang kita punya sekarang," ujar Faris bijak. "Kakak pergi ke sini untuk lari dari Adam, tapi lihatlah dirimu. Kamu pakai hijab biru pemberiannya, kamu pakai cincin darinya, dan kamu terus-menerus melihat ponsel berharap dia meneleponmu, kan?"
Aurel terdiam. Apa yang dikatakan Faris benar. Di tengah gemerlap kota Paris, hatinya tetap tertinggal di sebuah apartemen di Jakarta, bersama pria yang selalu memanggilnya 'Kak Adel' dengan penuh cinta.