Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pagi itu Nara bangun dengan dada yang masih berat, ia melihat di sisi kiri ranjang, kosong dan masih terlihat rapi, Nara sudah terbiasa dengan ketidak hadiran suaminya.
Tangannya meraba seprei yang dulu selalu menjadi tempat berbagi kehangatan, entah di tahun ke berapa kehangatan itu mulai pudar dengan sendirinya.
Nara melangkah turun, kaki telanjangnya menempel ke lantai keramik, terasa dingin, sedingin hatinya yang sudah lama dibekukan oleh keadaan, bahkan dia tidak tahu, kapan masalah ini akan berakhir.
"Ya Allah begitu percayakah Engkau memilih kedua pundakku memikul beban ini," gumam Nara.
Wanita itu langsung melangkah ke dapur, menyeduh teh hangat tawar yang barusan saja ia buat sendiri, hanya satu. Ya cuma satu, biasanya ia membuat dua, satu manis satunya tawar.
Ia menarik nafas panjangnya, di saat suara langkah terdengar dari pintu kamar lain, dan ternyata suaminya keluar dengan pakaian yang sudah rapi dan rambut yang masih basah.
Namun disaat suaminya itu hendak melangkah pergi, Nara langsung berdiri di dekat meja makan, tidak menyuguhkan apa-apa dan juga tidak menyiapkan bekal yang biasa ia lakukan.
“Kita bisa ngomong sebentar?” katanya pelan.
Suaminya berhenti. Ragu. Lalu mengangguk.
Mereka duduk berhadapan. Tanpa piring. Tanpa gelas. Hanya dua orang yang sudah lama saling mengenal, tapi tak lagi tahu harus memulai dari mana.
“Aku minta maaf,” ucap Nara duluan. Suaranya tenang, tapi matanya berkaca. “Kalau aku bikin kamu capek.”
Suaminya menatap meja. Tidak menyela, mencoba mendengarkan.
“Aku tahu aku berlebihan,” lanjut Nara. “Aku tahu aku sering nanya, sering nunggu, sering khawatir.”
Ia mengepalkan tangan di pangkuannya. “Tapi itu bukan karena aku nggak percaya kamu.”
“Lalu kenapa?” tanya suaminya pelan.
Karena itu. Pertanyaan yang selalu ia hindari.
Nara menelan ludah. “Karena aku takut.”
Suaminya mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia benar-benar menatap Nara.
“Aku takut ditinggalkan,” Nara berkata jujur. “Aku tumbuh dengan orang-orang yang pergi tanpa pamit. Jadi setiap kali kamu diam, setiap kali kamu pulang lebih malam, pikiranku langsung ke mana-mana.”
Ia tersenyum kecil, pahit. “Aku nggak tahu cara mencintai yang santai. Aku cuma tahu cara mencintai dengan berjaga.”
Hening, menyelimuti keduanya, Nara masih menunduk tangan kirinya mencoba mengusap bulir bening yang mulai lolos.
Suaminya menghela napas, kali ini lebih pelan. “Kamu tahu, kan… aku bukan mereka.”
“Aku tahu,” jawab Nara cepat. “Tapi rasa takut itu nggak dengar logika.”
Ia mendongak. “Aku nggak minta kamu berubah. Aku cuma pengin kamu ngerti.”
Suaminya menyandarkan punggung ke kursi. Ada lelah, tapi juga ada sesuatu yang lain, bingung, harus menghadapinya seperti apa, sikap sang istri yang justru membuatnya tidak nyaman berada di dekatnya.
“Nara,” katanya akhirnya. “Aku mau jadi tempat pulang. Tapi aku juga manusia. Aku juga butuh dipercaya.”
Nara mengangguk. Air matanya jatuh kembali.Ia mengusapnya cepat, seolah itu kesalahan.
“Aku mau belajar,” katanya lirih. “Pelan-pelan. Tolong… jangan pergi dulu.”
Kalimat terakhir itu hampir tak terdengar. Suaminya terdiam lama. Terlalu lama. Lalu ia berdiri.
“Aku berangkat dulu,” katanya. Tidak dingin, tapi jauh, tidak ada salaman ataupun cium tangan seperti satu tahun yang berlalu, kali ini dua insan yang berada satu lingkup ruangan benar-benar merasa asing.
Nara menatap punggung itu melangkah pergi. Pintu tertutup tanpa suara keras, tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut terkunci.
Ia duduk kembali, menatap kursi kosong di depannya. Pengakuannya sudah keluar. Luka sudah ia tunjukkan. Tapi ia tak tahu apakah itu cukup.
Karena ketakutan paling besarnya bukan ditinggalkan. Melainkan, mengakui ketakutannya, lalu tetap ditinggalkan, itu yang benar-benar membuatnya takut.
"Aku sudah mengakui semuanya, aku mau belajar untuk tidak membuatnya bingung atau merasa selalu dituntut, aku akan menjadi istri yang normal saja," ucapnya sampai berani mengecap dia bukan istri yang normal, terlalu berlebihan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sepeninggalan suaminya tadi, Nara memutuskan pergi ke makam neneknya, beliau merupakan satu-satunya orang yang peduli saat Nara kecil, dan di saat masalah mulai menerjang rumah tangganya ia merasa sudah tidak punya tempat lagi untuk bercerita.
Orang tuanya masih utuh, masih sehat, namun Nara sudah tidak terbiasa melibatkan keduanya, bukan karena mereka jahat, tapi terlalu banyak beban baru, sehingga membuat mereka lupa jika anak perempuannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Nara tidak butuh di temani ataupun dilindungi, Nara cuma butuh didengar, ditanya, apa harinya benar-benar baik, tapi semuanya itu hanya angan yang terlalu jauh untuk digapai.
Tanpa terasa kaki Nara terhenti di depan pusara sang Nenek, ia merunduk menaburkan bunga diatasnya, setelah itu ia berbicara seolah jasad yang terpendam tanah itu bisa mendengarnya.
"Selamat siang Nek, Nara datang lagi, maaf ya, jika kedatanganku ini mengganggu Nenek," ucapnya dengan nada bergetar.
"Nara sedang takut Nek ... Nara tidak tahu harus bercerita sama siapa selain sama Nenek, andai saja Nenek masih hidup, pasti Nara tidak akan secapek ini," ungkapnya akhirnya.
Nara menangis sekencang-kencangnya dihadapan pusara sang Nenek, sebagai anak yang mengalami trauma seperti ini, seharusnya orang-orang terdekatnya merangkul dalam segala hal.
Namun kenyataan justru terbalik, mereka merasa jika hati yang lemah itu merupakan beban hingga wanita itu belajar bangkit meskipun limbung, belajar sembuh meskipun terluka, dan untuk pertama kalinya Nara sadar, jika tidak ada yang mencintai dirinya dengan tulis selain dirinya sendiri.
"Tuhan ... aku kuat, aku bangkit, tapi .... jika suatu hari nanti aku lelah, bolehkah aku menyerah," ucap Nara sebelum akhirnya meninggalkan pusara sang Nenek.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sesampainya di rumah, karena terlalu lelah, akhirnya Nara langsung tertidur di dalam kamarnya. Di dalam tidurnya ia bermimpi, seperti berada di sebuah tempat yang begitu indah, setiap halaman rumah selalu dipenuhi dengan bunga-bunga indah, rasanya Nara sudah pernah tinggal di tempat ini.
Namun banyak perubahan di tempat ini, suasana semakin sejuk dan asri, setiap halaman dipenuhi dengan bunga-bunga membuat Nara betah berlama-lama duduk diantara bunga-bunga yang bermekaran.
"Ya Tuhan .... untuk pertama kalinya aku merasa lega merasa tenang," gumamnya, tanpa beban.
Nara masih menikmati sejuknya pemandangan ini yang seolah menyejukkan matanya, dan ketika ia termenung tiba-tiba saja Almarhum neneknya tiba menghampiri, ia tidak berkata apa-apa, namun beliau hanya mengangguk seolah setuju jika Nara ada ditempat ini.
Namun di saat langkah Nara mulai mengejar bayangan neneknya semakin jauh, terus menghilang dan hal itu benar-benar membuat Nara berteriak.
"Nenek ... Nenek ....." Hingga terbangun Nara masih dalam keadaan berteriak.
Ketika menyadari itu hanya mimpi, Nara pun segera duduk di tepi ranjang, keringan dingin mengalir di tubuhnya, nafasnya membersihkan seolah habis di kejar hantu.
"Astaga aku hanya mimpi, tapi kenapa rasanya seperti nyata," gumamnya, lalu menata ke arah luar jendela dan ternyata sore mulai turun.
Bersambung ...
Selamat siang semoga suka ya