Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Tamu Tak Diundang di Tengah Prahara
Debu jalanan Desa Makmur Jaya beterbangan saat sebuah mobil travel berhenti tepat di depan gerbang Balai Desa. Dari dalam mobil, Arum Ayundari menarik napas panjang. Aroma tanah kering dan sisa pembakaran jerami menyambut indra penciumannya. Inilah tempatnya sekarang. Sebuah desa yang tampak tenang dari luar, namun sebenarnya menyimpan api dalam sekam.
Arum turun dari mobil, merapikan blus putih tulang yang mulai sedikit kusut setelah perjalanan empat jam dari kota. Ia menyeret koper peraknya dengan langkah mantap. Sebagai seorang lulusan terbaik Fakultas Ekonomi dari universitas ternama, Arum memiliki pembawaan yang tenang namun penuh wibawa. Matanya yang jernih menyapu sekeliling, dan telinganya langsung menangkap suara riuh rendah yang tidak beres dari arah pendopo.
“Mana Pak Kades?! Jangan sembunyi di balik meja!”
“Kami sudah bayar iuran, tapi bibit yang sampai malah busuk semua!”
Suara-suara makian itu terdengar jelas. Arum menghentikan langkahnya sejenak. Ia membenarkan letak kacamatanya. Baru sampai sudah disuguhi drama, batinnya. Namun, alih-alih merasa takut, adrenalinnya justru sedikit terpacu. Baginya, kekacauan adalah sebuah pola yang belum dirapikan.
Arum melangkah masuk ke pendopo. Kehadirannya seolah membelah kerumunan warga yang sedang memerah wajahnya. Di ujung sana, di balik meja kayu jati yang besar, berdiri Baskara Aditama—sang Kepala Desa sekaligus laki-laki yang baru seminggu lalu mengucap ijab kabul di depan ayahnya.
Baskara tampak kacau. Kemeja batiknya basah oleh keringat, rambutnya yang biasanya rapi kini sedikit berantakan karena ia terus-menerus menyisirnya dengan jari karena frustrasi.
“Bapak-Bapak, saya mohon tenang! Kami sedang mengusahakan komplain kepada pihak vendor CV Tunas Mulia,” suara Baskara terdengar parau. Ia mencoba bersikap tegas, namun matanya memancarkan kelelahan yang luar biasa.
“Komplain apa? Sudah dua minggu bibit itu di sini, tapi tidak ada ganti rugi! Kami ini petani, Pak! Kalau bibit busuk, kami makan apa?” teriak Pak Darmo, salah satu tokoh tani yang paling vokal.
Arum terus berjalan mendekat. Ia tidak langsung menghampiri Baskara. Perhatiannya justru teralih pada sebuah meja di sudut ruangan. Di sana duduk seorang pria paruh baya dengan perut buncit yang sedang sibuk mengelap keringat di dahi dengan sapu tangan kumal. Itu adalah Pak Sabar, Bendahara Desa. Di depannya, tumpukan map berserakan.
Arum berdiri tepat di samping meja Pak Sabar. Pria itu terlalu panik untuk menyadari kehadiran Arum. Arum menunduk, matanya yang secepat kilat mulai memindai lembaran-lembaran angka di dalam map yang terbuka. Sebagai orang yang terbiasa bekerja dengan data, Arum memiliki kemampuan photographic memory untuk angka-angka.
Dalam hitungan detik, ia melihat ada yang tidak beres.
Harga satuan bibit unggul: Rp45.000. Jumlah pesanan: 2.000 kantong. Total: Rp90.000.000.
Tapi tunggu... stempel pengiriman dari CV Tunas Mulia ini menunjukkan kode grade 'C-3'.
Arum tersenyum tipis. Sangat tipis hingga hampir tak terlihat. Ia tahu persis kode itu. Dalam standar pertanian, C-3 adalah bibit kualitas sisa yang seharusnya dihancurkan atau dijual dengan harga maksimal Rp10.000 per kantong.
“Pak Bendahara,” suara Arum lembut, namun di tengah kericuhan itu, suaranya memiliki frekuensi yang membuat Pak Sabar terlonjak hingga kacamata bulatnya hampir jatuh.
“Eh, iya? Siapa ini? Mbak mau cari siapa? Di sini sedang ada rapat penting, jangan main masuk saja!” sentak Pak Sabar mencoba menutupi kegugupannya.
Baskara yang mendengar suara asing itu menoleh. Matanya membelalak kaget saat melihat sosok yang berdiri di sana. “Arum? Kamu... kamu sudah sampai?”
Kerumunan warga seketika menoleh. Suasana yang tadinya panas mendadak hening karena penasaran.
“Istri baru Pak Kades?” bisik-bisik mulai menjalar.
“Cantik sekali, ya. Tapi sayang, suaminya lagi diujung tanduk.”
Arum mengabaikan bisikan itu. Ia berjalan mendekati Baskara, namun matanya tetap tertuju pada Pak Sabar. “Maaf mengganggu rapatnya, Mas. Tapi sepertinya ada sedikit 'salah ketik' yang sangat fatal di laporan Pak Sabar ini.”
Baskara mengerutkan kening. “Salah ketik apa, Arum? Ini urusan teknis desa, sebaiknya kamu tunggu di rumah dulu. Aku akan menyusul setelah ini selesai.”
Arum menggeleng perlahan. Ia mengambil satu map dari meja Pak Sabar tanpa izin. Pak Sabar mencoba merebutnya, namun Arum dengan sigap menghindar.
“Mas Baskara, masalah warga ini tidak akan selesai dengan janji-janji komplain. Masalahnya adalah...” Arum mengangkat map itu tinggi-tinggi. “Anggaran yang keluar adalah untuk bibit Grade A+, tapi yang dipesan secara nyata oleh oknum di kantor ini adalah bibit Grade C-3 yang sudah kadaluarsa.”
“Apa?!” Suara warga kembali meledak, kali ini lebih keras dan penuh amarah yang terarah.
Pak Sabar berdiri dengan wajah pucat pasi. “Jangan bicara sembarangan, Nyonya! Anda orang baru di sini, tahu apa soal urusan bibit?”
Arum menatap Pak Sabar dengan tatapan dingin yang menusuk. “Saya tahu bahwa CV Tunas Mulia adalah milik sepupu Anda, Pak Sabar. Dan saya tahu bahwa selisih Rp35.000 per kantong dikalikan dua ribu kantong adalah tujuh puluh juta rupiah. Pertanyaan saya, di mana sisa uang itu sekarang? Di rekening desa, atau di cicilan mobil baru yang saya lihat terparkir di belakang balai desa tadi?”
Skakmat.
Ruangan itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. Baskara menatap Pak Sabar dengan wajah yang perlahan memerah karena amarah. Ia selama ini sangat memercayai bendaharanya itu. Ia pikir Pak Sabar adalah mentornya dalam mengelola desa.
“Sabar... apa benar yang dikatakan istri saya?” tanya Baskara dengan nada rendah yang bergetar.
Pak Sabar gemetar hebat. Ia tidak menyangka bahwa wanita cantik yang baru datang ini bisa membongkar permainannya dalam waktu kurang dari lima menit. Ia mengira istri Pak Kades hanyalah "pajangan" yang akan sibuk dengan urusan dapur.
Warga mulai merangsek maju. Pak Darmo sudah menunjuk-nunjuk wajah Pak Sabar.
Arum segera berdiri di depan meja, menghalangi warga agar tidak melakukan tindakan anarkis. “Bapak-Bapak, harap tenang! Jika Bapak-Bapak menggunakan kekerasan, Bapak akan berurusan dengan polisi dan masalah bibit ini tetap tidak selesai. Serahkan pada Pak Kades. Saya menjamin, dalam tiga hari, bibit pengganti yang asli akan sampai di rumah Bapak-Bapak tanpa dipungut biaya sepeser pun.”
“Bagaimana caranya, Mbak Kades?” tanya warga ragu.
Arum melirik Pak Sabar yang sudah terkulai lemas di kursinya. “Caranya sederhana. Pak Sabar akan 'menyumbangkan' kembali uang selisih itu secara sukarela untuk membeli bibit baru, atau kita biarkan tim audit dari kabupaten yang datang besok pagi untuk memeriksa seluruh pembukuan desa dari tiga tahun terakhir.”
Mendengar kata 'audit' dan 'tiga tahun terakhir', Pak Sabar hampir jatuh pingsan. Ia tahu banyak borok lain yang tersimpan.
Baskara menarik napas panjang, mencoba menguasai keadaan. Ia melihat istrinya dengan tatapan yang bercampur antara takjub, malu, dan kagum. “Marno!” Baskara memanggil ajudannya. “Bawa Pak Sabar ke ruang dalam. Amankan semua dokumen. Dan Bapak-Bapak, tolong beri saya waktu. Saya janji, apa yang dikatakan istri saya tadi akan saya laksanakan.”
Satu per satu warga mulai membubarkan diri dengan perasaan yang sedikit lebih lega, meski masih ada gumaman ketidakpuasan. Namun, perhatian mereka kini teralih sepenuhnya pada sosok Arum.
Setelah pendopo mulai kosong, Baskara mendekati Arum. Ia berdiri kaku di depan istrinya.
“Bagaimana kamu bisa tahu soal kode bibit dan hubungan keluarga Pak Sabar?” tanya Baskara heran.
Arum tersenyum sambil merapikan kembali kerah baju Baskara yang miring. “Mas, sebelum aku memutuskan setuju menikah denganmu dan pindah ke sini, aku sudah melakukan riset. Aku membaca semua profil perangkat desamu di website kabupaten. Dan soal kode bibit? Aku pernah magang di perusahaan distribusi pertanian terbesar di kota.”
Baskara terdiam. Ia merasa sedikit terintimidasi, namun juga merasa beban di pundaknya mendadak ringan. “Terima kasih, Arum. Tapi... tindakanmu tadi sangat berisiko. Kamu baru saja menciptakan musuh di hari pertamamu.”
Arum hanya mengangkat bahu kecil, lalu mengambil kembali kopernya. “Lebih baik punya musuh yang ketahuan daripada punya teman yang diam-diam menusuk dari belakang, Mas. Sekarang, bisa tunjukkan di mana rumah kita? Aku butuh mandi dan secangkir teh panas.”
Baskara menatap punggung istrinya yang berjalan mendahuluinya. Ia sadar, hidupnya di Desa Makmur Jaya tidak akan lagi membosankan. Istri cerdiknya ini baru saja memulai sebuah revolusi, dan Baskara hanya bisa berharap ia mampu mengimbangi langkah wanita itu.
menegangkan ..
lanjut thor..