Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Setelah semua anak berangkat sekolah. Adeline dan Baskara duduk tenang di sofa ruang tamu mereka akan membahas hal penting lainnya mengenai usulan Aurora..
"Jadi bagaimana menurut Papa?" Adeline memulai pembicaraan.
"Menurut Papa usulan dari Aurora itu ada benarnya, karena Anjani memang seharusnya tinggal bersama kedua orang tua kandungnya!" ucap Baskara ia setuju dengan itu.
"Papa benar, hanya saja Mama kasihan kalau Anjani harus tinggal di sana, sebab Papa tahu sendiri bagaimana keadaan keluarga itu, kan?" jelas Adeline ada rasa tak rela di hatinya jika Anjani kembali ke rumah kedua orang tua kandungnya.
"Tapi ma, bagaimana pun Anjani itu hak mereka, dan lagi jika mereka bisa membesarkan Aurora maka Papa yakin membesarkan Anjani bukan perkara sulit."
"Papa benar, tapi usulan Aurora tak jauh lebih baik," Adeline setuju dengan usulan Aurora tentang keluarga kandung Anjani. Jadi dalam kata lain ia bisa tetap dekat dengan Anjani.
...****************...
Di sisi lain
SRET!
Tarikan kasar di dapat Aurora dari sosok Anjani, dia menaikan sebelah alisnya dengan mata memicing tajam penuh tanya,"Apa?" tanya Aurora, dia melepaskan cekalan tangan itu dengan kasar.
"Kau kenapa berani sekali mengusulkan agar kedua orang kampung itu ke sini? Apa maksud mu sebenarnya?" tanya Anjani dengan penuh selidik dan kecurigaan.
"Apa? Kau tahu aku kasihan padamu Jani, jelas kalau kau kembali ke kampung tak mau kan? Jadi apa salahnya kalau Ibu dan Ayah datang ke kota ini?" jelas Aurora, dia menjawab dengan wajah polos.
Aruna yang mendengar itu hanya diam, dia menatap Aurora yang polos dan seolah tak tahu apapun. Dirinya mulai merasa Aurora tidak buruk dan sepertinya sering kali mengalah.
Sedangkan dalam hati, Aurora tersenyum sinis, dia menggunakan topeng polos demi menutupi apa yang akan ia lakukan pada Anjani juga kedua orang tuanya.
"Kasihan? Jika kau mau kau bisa kembali ke desa!" Anjani justru mengusir Aurora dengan mata mendelik.
"Hey, apa yang kau katakan?" Aruna menyela, bagaimana pun Aurora adalah adik kandungnya.
"Aku benar kan, Kak? Lebih baik dia di kampung jadi hidup kita akan lebih baik seperti dulu," jelas Anjani tanpa rasa bersalah.
"Jani, kau mau aku pergi? Baiklah aku pergi dan akan pamit pada kalian semua!" ujar Aurora, dia menatap sendu Anjani.
"Kau jangan sok polos Aurora! Aku benci wajah munafik mu itu!" seru Anjani.
"Jani, sudah! Kamu ini selalu saja membuat masalah," kesal Aruna.
"Kakak belain dia? Kenapa? Apa karena aku bukan adik kandungmu begitu?" teriak Anjani marah.
"Kau ini tidak jelas sekali, sudahlah aku muak," Aruna berlalu, dia malas menghadapi Anjani yang sering kali tantrum tak jelas.
"Kak, Kak Runa!" panggil Anjani.
Sedangkan Aurora, dia menatap sinis wajah Anjani yang jelas sekali menahan amarah besar, dia menunggu kemarahan itu meledak sebelum nanti dia membunuh keangkuhan Anjani yang tak tahu diri itu.
'Ini memang bukan salahmu, Anjani! Namun, jelas pertukaran itu bukan hanya kesalahan rumah sakit,' batin Aurora dengan tangan terkepal erat dan wajah menahan amarah.
...****************...
Siang harinya.
"Kenapa kamu sudah masuk sekolah? Apa keadaan mu sudah membaik?" Arion bertanya, dia datang ke kelas Aurora karena mendengar gadis itu masuk sekolah hari ini.
"Aku baik-baik saja," jawab Aurora malas.
"Kenapa sih sikapmu jutek sekali? Aku ini salah apa, Aurora?" tanya Arion, dia menatap Aurora frustasi.
"Kau tak salah, hanya saja aku malas saja," jawah Aurora dengan acuh.
"Tapi pasti ada alasannya, kan? Tidak mungkin jika tidak," Arion mendesak agar Aurora jujur.
Aurora malas, dia malah Menelungkupkan wajahnya di atas meja diantara lengannya, dia malas sekali harus menghadapi Arion yang menyebalkan itu.
Arion melihat Aurora justru menelungkupkan wajahnya di atas meja, hanya mampu mengusap wajahnya frustasi.
Dengan suara berat, Arion memanggil, “Seina, bisakah kamu minggir sebentar? Aku perlu bicara dengan Aurora.”
Seina menoleh sekilas ke arah arion, matanya penuh tanya, lalu melirik sekilas ke arah Aurora, dan akhirnya dia bangkit dan pergi menuju ke perpustakaan, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan.
Begitu Seina pergi, Arion duduk perlahan di samping Aurora matanya menatap lekat Aurora. Tangannya terulur mengusap lembut rambut Aurora.
Aurora merasakan usapan di rambutnya, menghembuskan nafas kasar. " singkirkan tanganmu itu, jangan sentuh aku." ucap Aurora dengan suara tertahan.
Arion menarik tangannya mundur, menahan diri agar tak melukai hati yang tampak rapuh itu. Ia meletakkan kepalanya di atas meja, tatapannya tak lepas dari Aurora, seakan mencari jalan untuk menembus dinding beku yang memisahkan mereka.
Beberapa saat terdiam menyelimuti ruang itu, tapi rasa penasaran Arion sangatlah besar, memaksa bibirnya melontarkan pertanyaan yang telah lama bersembunyi dalam dadanya.
“Aurora...jawab jujur kenapa kamu selalu saja jutek setiap kali berhadapan denganku?” suaranya berat, menuntut jawaban yang sudah lama ia nantikan.
Aurora perlahan mengangkat wajahnya, matanya menyiratkan bara yang tak bisa dipadamkan. Tatapannya menancap tajam ke Arion, “Karena kamu playboy. Aku benci itu,” ujarnya dengan nada dingin, lalu menelungkupkan wajahnya kembali dia atas meja.
Arion membeku, matanya membulat lebar saat mendengar jawaban dingin Aurora. Ternyata di balik sikap cuek aurora kepadanya karena dirinya playboy.
Untuk beberapa saat Arion tak tahu harus berkata apa, otaknya tak mampu untuk berfikir di kala sedang krisis.
Aurora yang tak dapat jawaban dari Arion, tersenyum sinis. ' kamu tak bisa menjawab apa-apa kan, sifat playboy itu membuatku muak.' ucap Aurora dalam hati.
Kita tinggalkan kedua orang itu, yang satu tengah berusaha untuk mendekat namun yang satu justru tak mau di dekati.
Entah berapa lama proses untuk Arion bisa mendapatkan Aurora, dan meyakinkan Aurora bahwa dirinya bisa berubah menjadi tak playboy lagi. Tapi itu di cerita nantinya yang akan datang.
...****************...
Di sebuah desa yang sunyi, di balik rumah yang sederhana dan asri itu sepasang suami istri duduk berpelukan dalam kebahagiaan yang hampir tak tertahankan.
Impian lama mereka tinggal di kota besar yang selalu terasa jauh dan tak tergapai akhirnya menjadi nyata.
“Akhirnya, ya, Pak... keinginan kita selama ini terpenuhi juga. Semua ini berkat anak kandung kita,” bisik Bu Sekar, senyum lebar menghiasi wajahnya yang berseri.
Pak Bagas menatap istrinya dengan mata yang sama penuh haru, “Iya, Buk. Pengorbanan kita selama ini tak sia-sia, terbayar sudah.”
Bu Sekar memegang tangan suaminya erat, wajahnya bercahaya penuh harap. “Aku sudah tak sabar ingin bertemu Anjani, buah hati kita... Seperti apa wajahnya, ya? Pasti tumbuh jadi gadis yang cantik dan kuat,” ucapnya lirih, bayangan manis putri kecil mereka melintas dalam pikirannya, menyiram hangat hati yang penuh cinta dan harapan.
Mereka tak tahu bahwa setibanya di kota, kehidupan yang mereka impian jauh dari bayangan mereka.
Tak ada kehidupan mewah, tapi yang ada kesengsaraan atas semua yang telah mereka lakukan di masa lalu.
itu aruna gk ikut liat rekaman cctv, diakan yg paling ambisi..
hshaaa...kenyataan tak sesuai ekspektasi🤣
coba lanjut
btw aku kirimin kopi thor
selalu d berikan kesehatan😄