Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan dan Bawahan
Jenara tidak menunggu penjelasan apa pun.
Begitu lengannya ditarik, nalurinya bergerak lebih cepat dari pikirannya. Ia menghempaskan pegangan itu dengan keras.
Langkahnya mundur satu tapak sambil merentangkan kedua tangan. Di dalam hati, Jenara merasa curiga bahwa pria ini memiliki niat buruk terhadap suaminya.
“Tidak ada yang bernama Seran di sini,” kata Jenara lantang. Suaranya tegas meski dadanya berdegup kencang.
“Ini rumah saya."
Jenara berdiri di depan Gita dan Gatra, tubuhnya sedikit membungkuk, seolah ingin menutupi mereka sepenuhnya.
Refleks, kedua anak itu bersembunyi di belakang punggung Jenara. Jemari kecil mereka mencengkeram kain bajunya. Nafas Gita terdengar cepat, sementara Gatra menahan diri untuk tidak bersuara.
Jenara bisa merasakan tubuh mereka gemetar. Silakan saja dia yang disakiti—asal bukan anak-anak maupun Seran.
“Silakan Anda pergi. Saya tidak menerima tamu," lanjut Jenara, nadanya kini lebih dingin. Ia memaksa dirinya untuk terlihat berani, meski pikirannya sedang dirundung rasa cemas.
Pria itu tidak segera menjawab. Namun, ia melayangkan pandangan ke sekeliling rumah, berusaha memastikan keberadaan Seran.
“Saya tidak mungkin salah,” katanya kemudian. “Ini rumah Tuan Seran.”
Jantung Jenara berdetak lebih keras. Cara pria itu menyebut nama Seran terlalu yakin, terlalu pasti. Bukan seperti orang yang sekadar bertanya.
Kecurigaan yang sejak awal menggelitik kini berubah menjadi rasa was-was yang nyata.
Jenara berkacak pinggang. “Saya tegaskan sekali lagi, di sini hanya ada saya dan anak-anak saya. Silakan Anda pergi sekarang juga.”
Ada keheningan sesaat di antara mereka, sebelum pria itu merespons.
“Saya tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Tuan Seran," katanya bersikukuh.
Darah Jenara terasa naik ke kepalanya. Ia tidak tahu siapa pria ini dan dari mana asalnya. Namun satu hal yang jelas, orang ini datang dengan tujuan tertentu. Bila hanya ingin bertemu Seran, tidak mungkin ia akan berdiri dengan sikap menekan.
Naluri Jenara berteriak. Ia harus menggunakan cara yang lebih keras untuk mengusir pria ini.
“Kalau Anda memaksa masuk, saya akan memanggil warga," putus Jenara dengan berani.
Ia tidak memberi kesempatan pria itu menyela.
“Tolong! Tolong!” pekik Jenara nyaring, memecah kesunyian desa. “Ada pencuri!”
Wajah pria itu tampak berubah, bukan marah melainkan terkejut. Ia tampak ragu sejenak, seakan tidak menyangka Jenara nekat melakukan ini.
“Saya tidak berniat mencuri,” sanggahnya cepat. “Saya hanya ingin bertemu Tuan Seran."
Penjelasan itu tidak membuat Jenara diam, justru teriakannya semakin kencang.
Suara Jenara menarik perhatian dua pria paruh baya yang sedang melintas di jalan. Mereka saling pandang sebelum berjalan mendekati Jenara.
“Ada apa, Jenara?” tanya salah satu dari mereka.
Jenara segera menunjuk pria itu. “Orang ini, Pak. Saya tidak mengenalnya, tapi dia menerobos masuk."
Kedua pria desa itu langsung berdiri di posisi siaga. Tubuh mereka menghalangi langkah pria asing tersebut.
“Hei, lebih baik kau pergi. Jangan membuat kerusuhan di desa ini," ujar salah satu dari mereka.
Jenara tidak mengendurkan sikapnya sedikit pun. Ia tetap berdiri tegak, bahunya tegang, tubuhnya seperti benteng pelindung bagi Gita dan Gatra.
Di tengah perdebatan itu, terdengar suara langkah kaki dari arah jalan desa. Jenara menoleh. Ia terkejut melihat Seran datang bersama Giri. Sementara di belakang mereka ada seorang pria muda yang mendorong gerobak berisi anak-anak ayam.
Seran berhenti begitu melihat keributan di depan rumahnya. Alisnya mengerut.
“Ada apa ini?” tanyanya.
Begitu suara itu terdengar, pria yang sejak tadi bersikeras mencari Seran langsung bergerak mendekat. Ia membungkukkan badan sedikit. Sikapnya berubah drastis, seolah semua ketegangan sebelumnya lenyap.
“Tuan Seran, ahirnya kita bertemu.”
Dada Jenara berdegup keras. Semula, ia mengira Seran akan segera mengusir pria itu. Atau setidaknya menanyakan maksud kedatangan orang asing itu dengan nada waspada.
Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Seran melangkah maju. Ia melewati Jenara dan anak-anak, lalu menoleh kepada dua pria warga desa yang masih berdiri di depan halaman.
“Terima kasih sudah membantu istri saya, Pak,” ujar Seran dengan tenang. “Sekarang saya sudah di sini. Bapak-bapak bisa kembali bekerja.”
Sebutan "istri saya" membuat dada Jenara tersentak tanpa sebab yang jelas.
Dua pria desa itu saling pandang, lalu mengangguk. Salah satunya sempat melirik Jenara, sebelum akhirnya mereka berbalik dan melanjutkan perjalanan.
Suasana masih terasa tegang. Jenara merangkul Gita dan Gatra, sedangkan Giri yang baru saja datang sudah berdiri di sisi lain. Ia mendekat kepada saudaranya, sambil menatap pria asing itu dengan kecurigaan polos khas anak kecil.
Seran lalu melangkah ke arah pria itu. Gerakannya tidak tergesa, tidak defensif, seolah menganggap kehadiran sang tamu bukanlah sebuah ancaman.
“Madri," sapa Seran. “Aku akan memasukkan anak-anak ayam ini dulu ke kandang. Setelah itu kita bicara.”
Jenara terperangah. Bukan hanya karena Seran menyebut nama pria itu dengan nada akrab, tetapi juga karena reaksinya yang begitu tenang.
Pria yang ternyata bernama Madri itu, mengangguk hormat. “Biar saya bantu Anda di kandang."
Jenara benar-benar tertegun kali ini.
Siapa sebenarnya pria ini dan apa hubungannya dengan Seran? Cara Madri berdiri, cara ia menunggu dan mendengarkan Seran, bahkan cara ia berbicara sangat sopan, semuanya itu menyerupai sikap bawahan kepada atasan.
Merasa penasaran, Jenara coba mengingat kembali kisah novel yang ia baca. Ia memutar ingatan, mencari petunjuk atau detail kecil yang mungkin terlewat.
Akan tetapi, tidak ada petunjuk sama sekali. Memang, ia belum selesai membaca kisah Seran dan Ranisya di dalam novel.
Yang ia tahu hanya satu: Seran bukan lelaki desa biasa, itu jelas. Namun apa tepatnya status Seran, Jenara tidak tahu. Dan, jujur saja, ia sempat berpikir hal itu tidak penting karena mereka akan berpisah.
Ketika Jenara masih terjebak dalam pikirannya sendiri, Seran tiba-tiba berhenti di hadapannya. Ia mengulurkan sebuah bungkusan kain tebal berwarna cokelat muda, tampak baru dan cukup berat.
“Apa ini?” tanya Jenara tanpa sadar.
“Untukmu dan anak-anak,” jawab Seran singkat.
Jenara membuka sedikit sudut kain itu. Matanya melebar pelan.
Di dalamnya ada tepung gandum yang halus, kacang kedelai, serta sekantong bubuk cokelat berwarna pekat. Juga ada madu hutan yang dibungkus dalam wadah tanah liat dan sebotol susu segar.
Barang-barang yang mahal. Setidaknya untuk ukuran rumah mereka saat ini.
“Ini terlalu banyak,” ujar Jenara kaget. “Kau—”
“Gunakan saja,” potong Seran tegas. “Anak-anak membutuhkannya.”
Seran menatap Giri, Gatra, dan Gita sekilas, sebelum kembali memandang Jenara.
“Jaga mereka dulu di kamar. Aku harus menyelesaikan beberapa urusan.”
Permintaan itu sederhana. Namun entah mengapa, jantung Jenara berdetak sedikit lebih cepat.
Tanpa menunggu jawaban istrinya, Seran berbalik dan berjalan menuju kandang ayam bersama Madri. Keduanya berdiri berdampingan, membungkuk untuk memasukkan anak-anak ayam ke dalam kandang.
Jenara masih berdiri di tempatnya dengan bungkusan di tangan. Saat ini, ia belum tahu apa hubungan Seran dengan Madri, tetapi ia akan berusaha menyelidikinya.
mau punya ruang Wiji juga lah 🙏🙏🙏