NovelToon NovelToon
Turunnya Naga Suci: Bangkit Dalam Dendam

Turunnya Naga Suci: Bangkit Dalam Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di Benua Langit Sembilan, Xiao Yuan adalah jenius tak tertandingi yang memegang Sumsum Naga Suci. Namun, di malam pernikahannya, ia dikhianati oleh tunangannya, Ling’er, yang meracuninya dan membedah tulang naganya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya. Xiao Yuan dibuang ke Jurang Keputusasaan dalam kondisi cacat.
Namun, takdir tidak berhenti. Roh Naga Kuno yang tertidur di dasar jurang menyatu dengan jiwanya yang hancur. Dengan bantuan Yun’er, gadis misterius dari klan terbuang, Xiao Yuan merangkak naik dari neraka. Kali ini, ia tidak akan menjadi pelindung dunia, melainkan Dewa Naga yang akan menghancurkan siapa pun yang pernah menginjaknya. "Jika langit menghalangi jalanku, aku akan merobek langit!".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Penghuni Dunia Antara

Bau amis garam yang bercampur dengan aroma logam berkarat menusuk hidung Xiao Yuan. Ia terbatuk, memuntahkan air laut yang terasa pahit dan dingin. Saat ia mencoba membuka matanya, dunia di sekitarnya tampak berwarna abu-abu tidak ada matahari, hanya gumpalan awan tebal yang memancarkan cahaya redup yang stagnan.

Xiao Yuan merangkak di atas pasir hitam yang kasar. Ingatannya berputar kembali ke momen saat ibunya, Ye Ling, melepaskan ledakan energi untuk mengirim mereka ke portal dimensi.

"Yun'er..." gumamnya dengan suara parau.

Ia menemukannya tak jauh dari sisa-sisa kayu kapal yang hancur. Yun’er terbaring pucat, rambut birunya tampak kusam, dan napasnya begitu tipis hingga Xiao Yuan harus menempelkan telinganya ke dada gadis itu untuk memastikan detak jantungnya masih ada. Melalui ikatan jiwa mereka, Xiao Yuan merasakan kehampaan yang mengerikan; seolah-olah sumur energi Yun’er telah dikuras hingga kering demi melindunginya dari tekanan portal tadi.

Namun, Xiao Yuan tidak memiliki waktu untuk berduka.

Insting naganya berteriak. Ia menoleh ke arah hutan bakau yang kering di pinggir pantai. Dari balik akar-akar yang melilit seperti tentakel, muncul selusin sosok. Mereka menyerupai manusia, namun kulit mereka berwarna abu-abu pucat dan bersisik kasar. Yang paling mengejutkan adalah dahi mereka masing-masing memiliki tato 'Tanda Buruan Surga' yang sama dengan yang ada di dada Xiao Yuan.

"Lihat apa yang dibawa ombak kali ini," salah satu dari mereka berbicara. Suaranya kering, seperti suara daun mati yang terinjak. "Seorang pemula... dan seekor phoenix yang hampir mati."

Xiao Yuan berusaha berdiri. Kakinya gemetar, dan rasa sakit dari luka akibat pertarungan dengan Xiao Tian kembali menyerang. Ia menghunus Pedang Keruntuhan Abadi, namun bilahnya hanya mengeluarkan percikan energi hitam yang lemah.

"Jangan mendekat," desis Xiao Yuan. Matanya yang keemasan berkilat penuh ancaman, meski tubuhnya di ambang batas.

Pemimpin kelompok itu, seorang pria jangkung dengan luka parut panjang di lehernya, melangkah maju. Ia tidak membawa pedang, melainkan sebuah tombak yang terbuat dari tulang raksasa yang masih memancarkan aura naga yang samar.

"Simpan pedang tumpulmu itu, anak muda," pria itu mengejek. "Di Dunia Antara, energi naga murni adalah magnet bagi para 'Penyedap Jiwa'. Jika kau melepaskan auramu sekarang, dalam sepuluh napas tempat ini akan dikepung oleh monster yang tidak akan membiarkan tulangmu utuh."

Xiao Yuan mengerutkan kening. "Dunia Antara? Apa tempat ini?"

"Tempat di mana langit membuang sampahnya," jawab pria itu. Ia menatap tanda di dada Xiao Yuan. "Kau membawa Tanda Buruan tingkat tinggi. Berarti kau telah menyinggung seseorang yang sangat penting di Alam Atas. Namaku adalah Baraka. Dan di sini, kami adalah para buangan yang menolak untuk mati."

Baraka memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mendekat. Xiao Yuan sempat tegang, namun mereka tidak menyerang. Dua orang di antara mereka mulai mengangkat tubuh Yun’er dengan hati-hati.

"Apa yang kau lakukan?!" Xiao Yuan mencoba menyerang, namun Baraka dengan mudah menangkis tangannya hanya dengan satu gerakan cepat.

"Gadis ini butuh Esensi Cairan Kelabu jika kau ingin dia bangun. Jika kau membiarkannya di sini, udara beracun Dunia Antara akan mengubah darah phoenix-nya menjadi lumpur dalam satu jam," Baraka menatap Xiao Yuan dengan pandangan yang sulit diartikan. "Ikutlah, atau matilah di pantai ini."

Xiao Yuan tidak punya pilihan. Dengan tertatih-tatih, ia mengikuti kelompok itu menembus hutan bakau menuju sebuah pemukiman yang dibangun di dalam bangkai naga purba yang sudah membatu. Ribuan tulang rusuk naga raksasa itu menjadi atap bagi pondok-pondok kecil yang kumuh.

Di dalam salah satu pondok, Yun’er dibaringkan di atas dipan batu. Seorang wanita tua dengan tangan yang tertutup sisik hijau mulai membasuh luka Yun’er dengan cairan berwarna perak redup.

Xiao Yuan duduk di sudut ruangan, tetap menggenggam pedangnya. "Kenapa kalian menolong kami? Di tempat pembuangan seperti ini, kebaikan biasanya memiliki harga yang sangat mahal."

Baraka duduk di depannya, mengasah mata tombaknya. "Kau benar. Kebaikan adalah kemewahan yang tidak kami miliki. Aku menolongmu karena aku melihat pedangmu. Itu adalah baja yang ditempa di Makam Leluhur, bukan?"

Xiao Yuan terdiam, namun ia sedikit mengangguk.

"Makam itu telah lama hilang," Baraka melanjutkan. "Ada ramalan di antara kami para buangan, bahwa suatu hari seseorang akan datang membawa 'Kunci Hitam' untuk membuka gerbang terbawah Dunia Antara jalan rahasia menuju Alam Atas yang tidak dijaga oleh tentara Kaisar Langit. Kami ingin keluar dari neraka abu-abu ini, Xiao Yuan. Dan kau... kau adalah tiket kami."

"Aku tidak tahu apa-apa tentang kunci itu," kata Xiao Yuan. "Aku hanya ingin menyelamatkan ibuku dan menghancurkan Xiao Tian."

"Xiao Tian?" Baraka tertawa getir. "Putra Mahkota baru yang sombong itu? Dia sering mengirim 'anjing-anjingnya' ke sini untuk berburu kami sebagai latihan. Jika kau ingin menyentuhnya, kau harus lebih dulu bertahan hidup di sini. Dunia Antara tidak memiliki energi alam Qi. Satu-satunya cara untuk memulihkan kultivasimu adalah dengan merebut inti energi dari penghuni lain, atau memakan buah dari Pohon Kesengsaraan."

Malam atau apa pun sebutan untuk waktu yang lebih gelap di sana pun tiba. Xiao Yuan mendekati Yun’er. Ia merasakan denyut kehidupan Yun’er mulai menguat berkat ramuan wanita tua itu. Melalui ikatan jiwa mereka, ia mengirimkan pesan batin.

Yun'er, bangunlah... aku tidak bisa melakukan ini tanpamu.

Tiba-tiba, tangan Yun’er bergerak kecil. Matanya terbuka perlahan, namun warna birunya kini tampak lebih gelap, hampir seperti warna langit malam di Dunia Antara.

"Yuan..." bisik Yun’er. "Tempat ini... aku bisa mendengar suara tangisan di bawah tanah. Ribuan jiwa naga yang terperangkap..."

"Istirahatlah, Yun’er. Kita aman untuk saat ini," ucap Xiao Yuan lembut.

Namun, kedamaian itu pecah saat suara terompet tulang bergema di seluruh pemukiman. Penduduk desa berlarian keluar dengan wajah panik.

"Sial! Penagih Pajak Langit!" Baraka mengumpat sambil menyambar tombaknya.

Xiao Yuan berdiri, rasa sakit di tubuhnya seolah terlupakan oleh amarah yang kembali tersulut. "Siapa mereka?"

"Utusan dari Alam Atas yang datang setiap bulan untuk mengambil 'pajak' berupa esensi kehidupan kami. Mereka yang tidak bisa membayar akan dibawa pergi untuk dijadikan budak atau pakan binatang buas di istana langit," Baraka menatap Xiao Yuan. "Sembunyikan tanda di dadamu! Jika mereka tahu ada buruan tingkat tinggi di sini, mereka akan meratakan tempat ini!"

Xiao Yuan melihat ke langit. Tiga kereta perang yang ditarik oleh kuda-kuda bersayap perak turun dari balik awan abu-abu. Para prajurit yang berdiri di atas kereta itu mengenakan zirah putih mengkilap yang sangat kontras dengan kekumuhan Dunia Antara.

Seorang komandan dengan jubah emas melompat turun. Ia menatap penduduk desa dengan jijik. "Kumpulkan esensi kalian! Dan aku dengar ada kiriman baru dari ombak hari ini. Di mana sampah-sampah baru itu?"

Xiao Yuan mengepalkan tinjunya. Ia melihat seorang anak kecil bersisik ditarik paksa karena ayahnya tidak memiliki cukup esensi untuk diberikan.

"Yuan, jangan..." Yun’er memegang ujung baju Xiao Yuan, ia bisa merasakan kemarahan Xiao Yuan yang meluap.

Namun, Xiao Yuan tidak bisa lagi menahan diri. Melihat kesombongan para prajurit langit itu mengingatkannya pada penghinaan yang ia terima dari Ling’er dan Xiao Tian.

"Baraka, kau bilang kau ingin jalan keluar?" Xiao Yuan bertanya dengan nada yang sangat dingin.

"Ya, tapi bukan dengan cara bunuh diri!" jawab Baraka panik.

Xiao Yuan melangkah keluar dari bayangan rusuk naga, berdiri tepat di depan sang komandan jubah emas. Ia melepaskan tudung kepalanya, membiarkan rambut hitam-emasnya berkibar. Ia tidak menyembunyikan tanda di dadanya; sebaliknya, ia membiarkan tanda itu bersinar terang dengan api naga hitam.

"Kau mencari kiriman baru?" Xiao Yuan mengangkat Pedang Keruntuhan Abadi yang kini mulai diselimuti esensi phoenix biru dari hubungannya dengan Yun'er. "Aku di sini. Tapi pajak yang akan kuberikan hari ini adalah kepala kalian."

Seluruh pemukiman menjadi sunyi senyap. Sang komandan terbelalak melihat tanda di dada Xiao Yuan. "Tanda Buruan Merah?! Kau adalah Xiao Yuan! Hahaha, Dewa keberuntungan sedang memihakku hari ini! Tangkap dia hidup-hidup! Kaisar akan memberiku gelar bangsawan untuk ini!"

Para prajurit langit menyerbu. Xiao Yuan menarik napas dalam-dalam. Meskipun ia tidak memiliki Qi, ia memiliki sesuatu yang lebih purba: Esensi Leluhur yang menyatu dengan darahnya.

"Sembilan Tebasan Neraka: Tebasan Kedelapan

Gerbang Dunia Bawah!"

Xiao Yuan tidak menebas musuhnya; ia menebas lantai bumi. Seketika, tanah terbelah dan uap hitam-biru meledak keluar, membentuk tangan-tangan raksasa dari energi yang menarik prajurit-prajurit langit itu jatuh ke dalam kegelapan.

Ini bukan lagi sekadar pertarungan kultivasi; ini adalah pembantaian.

Saat Xiao Yuan berhasil membantai para prajurit, sang komandan menggunakan sebuah cermin komunikasi untuk mengirimkan citra Xiao Yuan ke Alam Atas. Di saat yang sama, tanah di bawah pemukiman bangkai naga itu mulai berguncang hebat. Baraka pucat pasi melihat sebuah segel raksasa di tanah mulai retak. "Apa yang kau lakukan, bodoh?! Tebasanmu barusan menghancurkan segel 'Penjara Naga Kerangka'!" Dari dalam tanah, sebuah kepala naga yang hanya berupa tulang-belulang dengan api hijau di matanya muncul, mengeluarkan raungan yang membuat Dunia Antara bergetar.

1
Rebeka Saja
keren ka...
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
Nur Aini
lanjut terus Thor
christian Defit Karamoy: siap kak 🙏
total 1 replies
christian Defit Karamoy
mampir yuk di cerita baru thor
perjuangan suamiku:istriku surgaku😍
christian Defit Karamoy
mantap
christian Defit Karamoy
mampir yuk di cerita baru thor
perjuangan suamiku:istriku Surgaku😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!