NovelToon NovelToon
Ada Cinta Di Balai Desa

Ada Cinta Di Balai Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni

Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.

Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.

Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.

Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.

Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"

Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerjasama atau Kerja Hati?

Beberapa hari berlalu, kembali ke Zahwa yang fokus ada bimbingan skripsinya. Zahwa kini sedang berada dalam fase krusial penyusunan skripsinya. Di tengah tumpukan buku dan jurnal, ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam radar pengamatan yang sangat detail dari Ibu Karina.

Ibu Karina, dengan segala insting keibuannya, kini sudah 100% yakin. Berdasarkan ciri-ciri, nama, asal-usul hingga pembawaan Zahwa yang begitu tenang namun cerdas, ia tahu inilah gadis yang telah memenangkan hati Arka. Namun, sebagai wanita yang cerdik, Ibu Karina tidak ingin terburu-buru. Ia ingin mengenal karakter Zahwa dari sisi lain, sisi kemanusiaan dan kepedulian sosialnya.

Ibu Karina kembali mendatangi ruangan Bu Ningrum. Ia menjelaskan tujuannya dengan sangat antusias.

"Ning, kamu tahu kan Yayasan Pelita milikku sedang fokus untuk program anak-anak yang putus sekolah bulan ini? Aku butuh tenaga muda yang punya pemahaman pendekatan spiritual yang baik untuk terjun ke lapangan. Aku melihat Zahwa mahasiswamu itu, punya potensi itu," jelas Ibu Karina.

Bu Ningrum tersenyum simpul, ia senang jika mahasiswanya terlibat kegiatan positif. "Pilihanmu tepat, Rin. Zahwa itu anak Kiai, pendekatannya sangat lembut namun persuasif. Dia pasti bisa membantu program sosialmu."

Tak lama, atas panggilan Bu Ningrum, Zahwa pun datang ke ruangan tersebut Bu Ningrum, kebetulan saat itu Zahwa masih berada di perpustakaan kampus, sedikit revisi untuk lanjutan skripsinya.

Zahwa masuk dengan sopan, sedikit terkejut melihat sosok wanita elegan yang tempo hari ia temui kini duduk kembali di sana bersama Bu Ningrum, awalnya ia kira, ia dipanggil untuk revisi skripsi.

"Zahwa, ini Ibu Karina yang tempo hari. Beliau memiliki lembaga sosial besar yang bergerak di bidang pendidikan. Beliau sedang mencari relawan untuk mendampingi anak-anak putus sekolah. Ibu rasa, ini bisa jadi pengalaman yang luar biasa untukmu sembari menunggu jadwal sidang penelitian" ujar Bu Ningrum.

Ibu Karina menatap Zahwa dengan binar mata yang hangat. "Zahwa, saya butuh bantuanmu. Kami akan menjaring anak-anak di pinggiran Ibu Kota yang tidak mau sekolah karena masalah ekonomi dan mental. Saya butuh seseorang yang bisa bicara dari hati ke hati dengan mereka. Apakah kamu bersedia meluangkan waktu satu atau dua hari dalam seminggu? Asalkan tidak mengganggu skripsi kamu"

Zahwa sempat tertegun. Mengabdi pada masyarakat adalah hidupnya sejak di pesantren. "Suatu kehormatan bagi saya, Bu. Jika memang ilmu saya yang sedikit ini bisa bermanfaat untuk anak-anak tersebut, saya dengan senang hati bersedia membantu."

Sepanjang sore itu, Ibu Karina mengajak Zahwa berdiskusi mengenai modul pembelajaran dan cara pendekatan kepada anak-anak. Semakin lama berbicara, Ibu Karina semakin terpesona. Zahwa tidak hanya bicara soal teori, tapi ia bicara soal empati.

"Anak-anak itu tidak butuh dikasihani, Bu. Mereka butuh dihargai bakatnya," ucap Zahwa dengan mata berbinar saat memberikan usul.

Dalam hati, Ibu Karina membatin, "Pantas saja Arka begitu keras kepala mempertahankannya. Gadis ini bukan sekadar cantik wajahnya, tapi juga cantik jiwanya."

Sejak saat itu, setiap akhir pekan, Ibu Karina menjemput Zahwa, tentu saja tanpa memberi tahu bahwa ia adalah ibu Arka. Mereka mengunjungi pemukiman kumuh, mengajar di kolong jembatan, dan berbagi makanan.

Dalam setiap perjalanan di mobil, Ibu Karina sering melontarkan pertanyaan pancingan.

"Zahwa, kamu sudah punya calon pendamping? Wanita sehebat kamu pasti banyak yang menunggu ya..?"

Zahwa biasanya hanya tersenyum malu. "Zahwa masih fokus skripsi, Bu.."

Ibu Karina hanya tersenyum penuh arti. Ia merasa sudah memegang restu di tangannya sendiri bahkan sebelum Arka memintanya. Ia kini hanya tinggal menunggu momen yang tepat untuk menyatukan potongan teka-teki ini di depan Arka dan suaminya, Pak Baskara.

***

Kedekatan antara Zahwa dan Ibu Karina tumbuh begitu saja, seolah-olah semesta memang sedang merangkai kasih sayang untuk mereka. Di sela-sela kesibukan program sosial Yayasan Pelita, keduanya sering menghabiskan waktu bersama di kafe kecil setelah kunjungan lapangan atau sekadar duduk di taman panti asuhan.

Ibu Karina benar-benar menjadi sosok pelindung bagi Zahwa di Ibu Kota. Sifat keibuan Ibu Karina yang elegan namun hangat membuat Zahwa merasa memiliki rumah di tengah hiruk-pikuk ibu kota.

Suatu sore, setelah mereka selesai memberikan motivasi kepada anak-anak di pinggiran rel kereta api, Zahwa tampak sangat kelelahan. Di dalam mobil menuju jalan pulang, Zahwa secara tidak sadar menyandarkan kepalanya di bahu Ibu Karina.

"Ibu... terima kasih ya sudah mengajak Zahwa hari ini. Melihat senyum anak-anak tadi, rasa rindu Zahwa ke pesantren di Sukamaju jadi sedikit terobati," bisik Zahwa dengan nada manja yang sangat tulus.

Ibu Karina tersenyum lebar, ia mengusap lembut kepala Zahwa yang tertutup khimar. "Sama-sama, Sayang. Ibu yang berterima kasih karena kamu sudah mau meluangkan waktu di tengah revisi skripsimu yang menumpuk."

Zahwa tiba-tiba tersentak. Ia menyadari posisinya yang sedang bermanja-manja dan langsung membenarkan duduknya dengan wajah yang memerah karena malu. "Astagfirullah, maafkan Zahwa, Bu. Zahwa jadi tidak sopan... Zahwa tiba-tiba merasa Ibu seperti Ummi di rumah."

Ibu Karina tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat bahagia. Ia menarik kembali bahu Zahwa agar bersandar padanya. "Kenapa harus minta maaf? Ibu justru sangat senang, Zahwa. Ibu ini hanya punya satu anak laki-laki, dan dia sangat kaku. Ibu selalu bermimpi punya anak perempuan yang bisa diajak curhat, diajak jalan-jalan, dan manja seperti ini."

Zahwa memberanikan diri menatap mata Ibu Karina. " Ibu tidak merasa terganggu?"

"Sama sekali tidak. Malah, Ibu merasa sangat cocok denganmu. Ceritakan apa saja pada Ibu, Zahwa. Masalah skripsi, masalah rindu rumah, atau... mungkin masalah seseorang?" Ibu Karina menggoda.

"Seseorang itu... Sudah Zahwa lukai hatinya Bu..." Zahwa tertunduk.

"Kenapa?"

Zahwa menghela nafas dalam.

"Ada seseorang yang sempat datang ke rumah abah dan ummi, dia mengutarakan maksudnya, awalnya Zahwa menerima ketulusan nya, abah dan ummi juga menerima dengan baik, lalu dia menjanjikan untuk datang kembali bersama kedua orangtuanya"

Deg

Ucapan Zahwa membuat Bu Karina terdiam. Pikirannya seolah berputar mundur saat Arka datang ke rumah, untuk meminta kedua orangtunya melamar Zahwa, namun diakhiri perdebatan sengit antara Arka dan Pak Baskara.

"Lalu?" tanya Bu Karina penasaran.

"Lalu.. Dia datang kembali, ke abah dan Ummi, tapi tidak dengan kedua orangtuanya, dia datang sendiri dan ternyata restu dari Ayah nya itu belum ada, Zahwa meminta dia mundur, walaupun pada saat itu, dia tidak ingin mundur, tapi Zahwa tidak mau, menjalani hubungan tanpa restu dari orangtua".

Ibu Karina menatap Zahwa dengan tatapan yang sangat dalam. Hatinya merasa teriris, ternyata bukan hanya menyakiti hati Arka, penolakan suaminya saat itu menyakiti hati gadis di hadapannya dan juga kedua orangtuanya.

"Maafkan Ibu Zahwa.." batin Bu Karina.

"Zahwa," panggil Ibu Karina lembut. "Kalau suatu saat seseorang itu tiba-tiba ada dihadapan kamu, dan dia membawamu ke keluarganya, kamu siap?"

Zahwa terdiam sejenak, lalu mengangguk pasti. "Jika niatnya karena Allah dan restu itu sudah ada, Zahwa siap Bu".

Mendengar jawaban itu, Ibu Karina hampir saja meneteskan air mata. Ia memeluk Zahwa erat-erat.

"Arka, maafkan Mama.. dan sekarang Mama akan menebus kesalahan Mama dan Papa mu.. Mama akan membawa Zahwa untuk kamu.." batin Bu Karina.

Zahwa perlahan melepaskan pelukannya.

"Bu, maafkan Zahwa, Zahwa jadi curhat.."

"Tidak apa-apa Nak.. Anggap Ibu ini, Ummi kamu juga"

Dalam perjalanan Zahwa melihat jalan yng dilalui berbeda, ini bukan jalan menuju pesantren Al Munawar.

"Bu, kita mau kemana lagi ya? Ini bukan jalan ke pesantren?" tanya Zahwa sambil melihat ke arah luar melalui jendela.

"Kita makan dulu yuk.. Sebelum kamu pulang ke pesantren dan kembali ke kesibukan kamu mengolah skripsi" ujar Bu Karina.

Bu Karina sengaja mengajak Zahwa makan di sebuah restoran favorit keluarga mereka. Saat mereka sedang asyik berbincang, ponsel Ibu Karina bergetar. Sebuah kiriman foto dari Arka di Provinsi masuk ke pesan singkatnya.

Foto itu memperlihatkan Arka yang sedang makan mie instan di kantornya dengan tumpukan berkas yang menggunung. Arka menulis keterangan, "Ma, doakan Arka. Sedang lembur perencanaan wilayah. Kangen masakan Mama.."

Ibu Karina tersenyum lembut. Ia secara sengaja meletakkan ponselnya di atas meja dalam keadaan layar menyala, tepat di hadapan Zahwa yang sedang meminum jus jeruknya.

Zahwa yang tidak sengaja melihat foto itu langsung tersedak. Ia mengenali wajah itu wajah Arka yang tampak lelah namun tetap tampan.

"Lho, Zahwa, kenapa? Hati-hati minumnya," ujar Ibu Karina pura-pura tidak tahu, sambil menahan tawa melihat wajah Zahwa yang mendadak berubah warna menjadi merah padam.

...🌻🌻🌻...

1
Suherni 123
akhirnya up juga ya thor, sehat selalu ya
Ayuni (ig/tt : author.ayuni ): makasih kak.. 😍 terima kasih sudah selalu nunggu kelanjutannya..
total 1 replies
Suherni 123
gak lanjut thor,,,sehat kan....
Suherni 123
gak nongol nongol ini
Suherni 123
masih aman belum ada gebrakan dari Andini
Suherni 123
masih belum aman ka,,, selama Andini masih ada di sekitar mu
Suherni 123
arka kalah set sama Andini
Suherni 123
mewek...mewek😭😭😭
Suherni 123
mboh ah Ka,, kelamaan kamu keduluan Andini
Suherni 123
hmm... arka kurang tegas lah,,
Suherni 123
ada aja badai yang menerjang
Bun cie
waduh tambah runyam nih..sapie..sapie eh andini untuk ke 2 kalinya mau menghancurkan arka..
berharap zahwa bijaksana tdk termakan fitnah kejam andini
Elia Rossa
jahat banget si Andini 😠
Bun cie
duh sedih deh..2 hati yg hrsnya bersatu terhalang beda pemahaman..smoga ada titik temunya..
lanjut kak thor🙏
nanik sriharyuniati
Luar biasa
Suherni 123
agak mumet di part ini😅
Suherni 123
ayo ibu dan satukan mereka
Suherni 123
aku padamu Arka
Suherni 123
ikut deg degan juga Lo aku Bu Karina...
Bun cie
mama karina mmg top👍 bikin surprise u arka dan zahwa😍
smoga restu pak baskara segera turun
Suherni 123
lanjut,,, tetep Istiqomah pak kades banyak yang mendukung mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!