NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Rumahhantu / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 001 : Labirin Kematian [Beelitz-Heilstätten]~Jerman Dark Story #1

Bau klorin yang tajam menusuk indra penciuman, namun di bawah aroma kimia itu, ada bau amis yang jauh lebih purba.

Di sebuah sudut sunyi Rumah Sakit Brandenburg, Klaus terbaring dalam dekapan kelambu putih yang kaku.

Ia adalah seorang fotografer urbex yang malang, yang tiga hari lalu nekat memasuki zona terlarang di Beelitz-Heilstätten. Kini, ia hanya raga tanpa penghuni.

Elena duduk di kursi kayu di samping brankar, matanya merah karena kurang tidur. Di luar, badai salju tipis mulai menyelimuti Berlin, namun di dalam ruangan ini, dingin yang terasa justru merambat dari bawah lantai keramik.

Kriet... kriet...

Lampu neon di langit-langit berkedip tidak stabil. Cahayanya yang putih pucat membuat bayangan kelambu di sekitar Klaus tampak seperti tirai nisan yang bergerak sendiri.

"Klaus... kau bisa mendengarku?" bisik Elena, suaranya parau.

Tak ada jawaban. Hanya suara tit... tit... tit... dari monitor jantung yang mendadak melambat.

Tit.......... tit..........

Tiba-tiba, suhu ruangan merosot drastis hingga napas Elena berubah menjadi uap putih yang pekat.

Lampu neon di atas mereka berdengung keras sebelum akhirnya padam total. Dalam kegelapan yang pekat, sebuah suara gesekan logam di atas lantai keramik terdengar pelan namun tajam.

Sreeet... sreeet...

Elena membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Perlahan, cahaya neon itu menyala kembali dengan redup dan berkedip-kedip cepat.

Di balik kelambu putih yang transparan, Elena melihat siluet seorang pria yang sangat tinggi. Tubuhnya membungkuk kaku di atas raga Klaus.

"Si... siapa di sana?" tanya Elena, suaranya bergetar hebat.

Sosok itu tidak menjawab. Tangannya yang panjang dan pucat, dengan kuku-kuku yang menghitam, perlahan menembus rongga dada Klaus seolah raga itu hanyalah air. Elena membelalak.

Ia melihat tangan itu menarik keluar sebuah gumpalan merah yang bercahaya redup—jantung ghaib Klaus yang masih berdenyut penuh ketakutan.

"Tidak... tidak mungkin..." Elena merosot dari kursinya.

Sosok itu menoleh. Di balik kelambu, wajahnya tampak rata tanpa hidung, hanya ada masker kain yang dijahit kasar ke kulit wajahnya yang membusuk.

Mata hitamnya yang cekung menatap Elena dalam diam. Sosok itu mengangkat jantung Klaus tinggi-tinggi, lalu perlahan meremasnya.

"AAAKHHH!" Klaus tersentak di atas ranjang tanpa membuka mata, tubuhnya melengkung kaku seperti busur sebelum akhirnya kembali terkulai lemas.

Elena terpaku, lidahnya kelu. Ia ingin berteriak namun suaranya tertahan di tenggorokan. Saat sosok itu perlahan memudar ke dalam bayangan dinding, Elena merasakan kekuatan kakinya kembali.

Ia berdiri dan lari sekuat tenaga, menyusuri koridor rumah sakit yang gelap dan sepi, melarikan diri dari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat.

Keesokan paginya, di sebuah kafe sibuk di pusat kota Berlin. Televisi di sudut ruangan menyiarkan wajah dua orang asing asal Belanda yang sedang dikerumuni wartawan. Mereka adalah Melissa dan Peterson.

Elena, yang bekerja sebagai pelayan di sana, menjatuhkan nampan yang dibawanya. Brak! Suara denting cangkir pecah menarik perhatian semua orang.

Tanpa memedulikan amarah manajernya, Elena melepas celemeknya dan berlari keluar. Ia tahu ke mana harus pergi. Gedung konferensi pers itu hanya berjarak beberapa blok.

Begitu sampai di sana, Elena merangsek masuk di tengah kerumunan wartawan yang mulai bubar. Ia melihat Melissa dan Peterson sedang berjalan menuju pintu keluar samping.

"Tolong! Saya mohon, dengarkan saya!" jerit Elena sambil menabrak barisan penjaga.

Peterson berhenti, ia menatap Elena yang tampak sangat kacau.

"Ma'am, please calm down. We have a tight schedule—"

(Nyonya, tolong tenanglah. Jadwal kami sangat padat—)

"Dia mengambil jantungnya! Pria bertopeng bedah itu mengambil jantung Klaus!" Elena histeris.

Melissa segera memegang tangan Elena. Ia merasakan dingin yang tidak wajar menyengat telapak tangannya. Melissa menatap Peterson dengan serius.

"Peterson, jangan di sini. Terlalu banyak telinga," bisik Melissa.

Ia kemudian menatap Elena dengan lembut.

"Come with us. There’s a quiet cafe across this building. Tell us everything there."

(Ikutlah bersama kami. Ada kafe tenang di seberang gedung ini. Ceritakan semuanya di sana.)

Mereka bertiga duduk di pojok kafe yang remang-remang. Aroma biji kopi panggang sedikit menenangkan saraf Elena yang tegang.

"Now, tell us slowly,"

(Sekarang, ceritakan perlahan,) ujar Peterson sambil menyesap kopinya.

"Who took whose heart?"

(Siapa yang mengambil jantung siapa?)

"Namanya Klaus," Elena mulai bercerita dengan air mata menetes.

"Kami masuk ke Beelitz-Heilstätten untuk mengambil foto. Tapi sejak kami keluar dari bangsal bedah tua itu, Klaus tidak pernah bangun lagi. Dan semalam... di rumah sakit... saya melihatnya."

"What did you see?" (Apa yang Anda lihat?) tanya Melissa.

"Seorang pria... sangat tinggi. Dia memakai apron bedah kulit yang kotor. Wajahnya tertutup masker kain yang dijahit ke dagingnya. Dia memasukkan tangannya ke dada Klaus dan mengambil jantungnya!" Elena menutup wajahnya, terisak hebat.

Peterson menghela napas panjang.

"Beelitz-Heilstätten. A labyrinth of death for thousands of tuberculosis patients and war soldiers. It's cursed land, Elena."

(Beelitz-Heilstätten. Labirin kematian bagi ribuan pasien TBC dan tentara perang. Itu tanah terkutuk, Elena.)

"Anda mengenalnya?" tanya Elena penuh harap.

"We know it as a dark legend,"

(Kami mengenalnya sebagai legenda gelap,) jawab Peterson.

"But what you described... is the entity locals call 'The Surgeon'. He collects the souls of those who enter his territory."

(Tapi yang Anda deskripsikan... adalah entitas yang disebut warga lokal sebagai 'The Surgeon'. Dia mengoleksi sukma mereka yang masuk ke wilayahnya.)

"Tolong saya, Melissa," rintih Elena.

"Hanya kalian yang saya tahu bisa menghadapi hal-hal ghaib seperti ini."

Melissa tersenyum tipis, lalu menepuk tangan Elena.

"Actually, it's not just us. We are part of a larger family. And they... have just landed in Germany a few hours ago."

(Sebenarnya, bukan hanya kami. Kami adalah bagian dari keluarga besar. Dan mereka... baru saja mendarat di Jerman beberapa jam yang lalu.)

"Keluarga?" Elena bingung.

"The Gautama Family,"

(Keluarga Gautama,) sahut Peterson bangga.

"For two years, their name has crossed oceans. From the heart of Java to the skyscrapers of Sydney. I have spent two years as their English tutor so the world can hear their story clearly."

(Selama dua tahun, nama mereka telah melintasi samudera. Dari jantung Jawa hingga gedung pencakar langit Sydney. Saya menghabiskan dua tahun sebagai guru bahasa Inggris mereka agar dunia bisa mendengar cerita mereka dengan jelas.)

Tepat saat itu, sebuah van hitam besar berhenti di depan kafe. Pintu gesernya terbuka, dan serombongan orang turun dengan aura yang sangat berat.

Rachel Gautama melangkah paling depan. Jaket musim dingin hitamnya tertutup rapat, namun jimat zamrud di lehernya berpendar merah redup.

Di belakangnya, Cak Dika turun dengan wajah datar namun tajam menyapu sekitar. Mas Suhu mengikuti dengan tasbih kayu yang tak berhenti berputar di jarinya.

Bella dan Rara berjalan beriringan dengan waspada, sementara Marsya turun sambil memegang kamera, diikuti oleh Pram dan Teguh yang memanggul peralatan dokumentasi lengkap.

Melissa dan Peterson berdiri menyambut mereka di pintu kafe.

"Rachel! Kalian sampai tepat waktu," sambut Peterson.

"Yes, Peterson. The air in Berlin smells like old blood. I can feel it from the airport,"

(Ya, Peterson. Udara di Berlin berbau darah tua. Aku bisa merasakannya sejak dari bandara,) jawab Rachel dengan bahasa Inggris yang kini sangat lancar.

"Mbak Rachel!" Marsya berbisik kencang dengan logat medoknya.

"Is this the lady? Wah, her face so pale like a wall! Kasihan sekali!"

(Mbak Rachel! Apakah ini wanitanya? Wah, wajahnya pucat sekali seperti tembok! Kasihan sekali!)

"Marsya, don't be rude,"

(Marsya, jangan tidak sopan,) tegur Bella menyenggol adiknya.

Rachel mengabaikan mereka dan mendekati Elena. Di mata batin Rachel, ia melihat Barend, Albert, Gelanda, dan hantu Melissa sudah berkerumun di sekitar Elena.

Hantu Melissa, yang wajahnya sangat mirip Melissa manusia namun tampak lebih dewasa, berbisik pada Melissa manusia,

"Dia benar, Mel. Jantung pria itu sudah berada di ruang bedah bawah tanah. Dingin sekali di sana."

Rachel menatap Elena dalam-dalam.

"Elena, listen to me. Your friend is being unraveled. If we don't go to Beelitz tonight, he will stay silent forever, like the thousands who died there before."

(Elena, dengarkan saya. Temanmu sedang diurai sukmanya. Jika kita tidak ke Beelitz malam ini, dia akan diam selamanya, seperti ribuan orang yang mati di sana sebelumnya.)

"You... you can save him?"

(Anda... Anda bisa menyelamatkannya?) tanya Elena penuh harap.

Rachel meraba jimat zamrudnya yang mulai panas membara.

"We don't just save people, Elena. We close the gates that should have never been opened."

(Kami tidak hanya menyelamatkan orang, Elena. Kami menutup gerbang yang seharusnya tidak pernah dibuka.)

"Cak, Mas Suhu," Rachel menoleh ke arah seniornya.

"Kita punya kasus pertama di Jerman. Ribuan orang mati dalam kesunyian sedang menunggu kita di Beelitz."

Cak Dika mengembuskan napas panjang.

"Ayo berangkat. Nama Gautama sudah sampai di sini, jangan sampai kita dipermalukan oleh hantu luar negeri."

"Pram, Teguh! Prepare everything!"

(Pram, Teguh! Siapkan semuanya!) teriak Marsya semangat.

"This is our international episode! Let's go!"

(Ini episode internasional kita! Ayo jalan!)

Peterson dan Melissa segera memandu rombongan masuk kembali ke van. Elena ikut bersama mereka.

Van hitam itu pun melaju membelah salju Berlin, menuju gerbang Beelitz-Heilstätten yang sudah lama menanti tumbal barunya.

1
Ela Jutek
ternyata kau gak berjodoh dengan Thoriq ya Hel
Ela Jutek: wes gek turu kono wes wengi
total 8 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
luar biasa ceritanya kakak Author. aku sebenarnya kurang suka cerita horor, tapi pas baca ini ternyata beda😁😁, ku kira bakal gentayangan terus hantunya ternyata tidak. malah hantunya ngajak debat juga😁😁, sukses terus kakak karya barunya, semoga berhasil jadi karya yang paling Top 👍👍
Stanalise (Deep)🖌️: 🤣 Maacih kakak, btw di season ini aku lebih fokus ke gerbang sejarah kelam dunia kak. Yang urban legend dan kisah nyata. biar orang2 tahu juga. kalau peristiwa gila di masa lalu itu ada.
total 1 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Wah yang lagi bahagia. Ayo para hantu kalian menepi dulu🤣🤣
Ela Jutek
kerennn sih ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kok diragukan 😁😁. jiwa penyelamat sudah mendarah
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kok di lawan🤣🤣
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Yang lagi takut kenapa napa dengan Rachel ini🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
apa yang dibilang Rachel sangat benar banget lho
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
cieee Adio berani jujur tidak kamu nantinya 😁😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Untung Rachel selamat. semoga nanti bisa bertemu lagi dengan Thoriq kamu
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
tak bisa membayangkan lagi aku, serem banget 🤭🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kamu sangat luar biasa, jiwamu sangat pemberani 👍👍
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Sabar Marsya, kamu harus kuat supaya misi kalian bisa terselesaikan
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
haduuuh dimakan apa ini maksudnya
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
menyeramkan tapi bikin penasaran ingin tahu 😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
uhuk uhuk uhuk .. cie cie cie 🤣🤣
Ela Jutek
ikut petualangan lagi nie
Ela Jutek: ngokeh deh😉
total 4 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Nah baru tahu kan kamu😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Semoga Rachel berhasil mengembalikan sukma klaus ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Ayo Marsya senangat bermain cantik juga ya😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!