Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembur
Keesokan harinya, aku kembali berkutat dengan waktu yang semakin dekat. Untungnya mbak Nayla juga sangat membantu. Sia yang lebih berpengalaman juga mengajari aku banyak hal. Bu Zahira juga tak kalah sibuk, dia yang paling semangat dan paling mengerti. Lusa semua harus selesai bahkan sempurna.
Di jam istirahat saat kami tak sempat mencari makan di luar, bu Zahira memesan makanan untuk kami. Dengan lahap kami menyantap semua makanan ini. Selain karena lapar tapi juga karena kami ingin segere lanjut kerja. Supaya cepat selesai. Lebih cepat lebih baik.
Saat kami bertiga sedang menikmati santap siang, tiba tiba muncul seseorang di hadapan kami. Dia seorang laki laki yang mungkin usianya tak beda jauh dengan ku . Berperawakan tinggi dengan kulit tak terlalu putih dan rahang tegas serta postur tubuh yang atletis. Di tambah lagi senyum yang hangat.
"Assalamu'alaikum ma... " ucapan dalamnya yang lembut langsung membuat kami menoleh.
" Wa'alaikumsalam.... Ya Allah nak... kamu sudah datang? " Bu Zahira menyambutnya dengan pelukan. Sangat hangat seperti sedang meluapkan rasa rindu di dada
" Udah dong ma... Maaf baru sempat datang".Wajah bersalah terlihat mendominasi ekspresinya tapi juga ada rindu yang terlihat jelas.
Sepertinya dia anaknya bu Zahira. Tapi kok selama ini tak pernah kelihatan.
" Nggak papa.. Mama senang akhirnya kamu datang".Rasa bahagia jelas terpancar di wajah nya. "Oh iya Amara dan juga Nayla kenalkan ini anak saya. Zuan namanya. Dan Zuan ini Nayla dan Amara. Mereka sedang mama percaya untuk menyelesaikan beberapa gaun yang kemarin sempat ada masalah" Bu Zahira pun memperkenalkan kami pada anaknya.
" Halo mas. Salam kenal" Aku dan mbak Nayla menjawab dengan kompak.
" O iya kamu sudah makan nak? " Tanya bi Zahira begitu perhatian.
Pada kami karyawannya saja dia begitu pengertian apalagi sama anak sendiri. Pasti sangat menyayangi.
" Udah kok ma.. tadi sebelum ke sini udah ke rumah dulu. Terus maka siang deh". Zuan menjawab dengan lembut. Sepertinya kelembutan bu Zahira menurun pada anaknya yang ini. Bahkan anak ceweknya yang masih kuliah juga sangat lembut. Dia sering datang kesini dan dia juga sopan walaupun kepada kami para karyawan. Memang bu Zahira ini juara biasa.
" Ya udah... kamu duduk gih. Kami mau selesaikan makan siang dulu. "
" Siap ma.. " Dia duduk di kurasi kerja ibunya. * Mama hebat ya.... butiknya makin gede aja. Padahal Zuan nggak kesini baru dua tahun".
" Dua tahun itu lama nak. Kamu nggak sempat kesini walaupun sedang di Surabaya.".
" Iya ya ma.... ".
Dari percakapan itu dapat di ketahui kalau Zuan tidak menetap di sini. Mungkin di kota lain.
Makan siang telah usai kamipun lanjut menyibukan diri dengan gaun yang sedang di garap. Dan sepertinya akan lembur lagi. Bu Zahira sempat melarang karena takut kami terlalu capek. Tapi demi target yang harus segera di selesaikan maka kami tetap harus lembur. Zuan pun masih tetap si a ini menemani ibunya. Karena memang mereka sudah lama tak bertemu.
Sebentar lagi aku akan pulang tapi saat aku menghubungi ayah, ponselnya tidak aktif. Padahal aku ingin dia kembali menjemput ku. Aku hampir saja menghubungi Adit meminta untuk di jemput saat tiba tiba Bu Zahira memanggil.
" Amara.. kesini sebentar". Panggilnya.
" Iya bu . Ada apa? "
" Nanti pulang di jemput siapa? ".
" Tadinya saya mau meminta ayah saya untuk menjemput tapi ponselnya tidak aktif. Mungkin nanti saya minta teman saya yang jemput. Memang ada apa bu? ".
" Pulang sama saya aja... nanti saya antar".
" Nggak perlu bu. Takut ngerepotin".
" Sama sekali tidak repot. Lagian saya nanti mau mampir beli nasi goreng di daerah yang nggak jauh dari rumah kamu. Jadi sekalian aja ya? Nggak usah ngerasa nggak enak gitu lah... "
" Baiklah kalau begitu bu... Terima kasih sebelumnya".
Waktu sudah menunjukan jam 8 malam. Amara pun akan segera pulang. mbak Nayla sudah pulang terlebih dahulu. Kini tinggal Amara yang akan pulang bersama bosnya. Walaupun bukan hal pertama dia semobil dengan bu bos tapi kalo ini terasa kaku karena kami juga bersa anaknya. Zuan tidak terlalu banyak bicara Bawaan nya juga tenang. Bahkan sangat tenang. Dia hanya fokus menyetir dan hanya sesekali menanggapi obrolan Amara dan bu Zahira.
"Amara ikut kita makan nasi goreng dulu yuk\* ajak bu Zahira.
" Waduh terima kasih bu, tapi kayaknya tidak perlu. Saya takut sampai rumah terlalu malam" Amara menolak karena merasa tidak enak hati.
" Kamu tenang aja nanti kami antar pulang deh".
" Tapi bu... ".
" Tidak boleh menolak. "
" Baiklah kalau begitu. sekali lagi terima kasih".
Kami tiba di tempat tujuan. Di warung makan pinggir jalan yang sangat ramai pembeli. Memang nasi goreng disini terkenal karena rasanya yang sangat enak. Tak heran jika tempat ini selalu ramai.
Kami memilih duduk si kursi pojok yang memang masih kosong. Kami harus menunggu dengan sabar karena antrean yang panjang.
" Duh masih lama kayaknya ya ma". Zuan yang dari tadi lebih banyak diam akhirnya bicara juga.
" Biasanya juga selalu begini kan? Sabar bentar lagi" ucap u Zahira halus. " Udah nggak sabar ya? ".
" Udah laper... ".
Bu Zahira hanya menanggapi dengan senyuman.
" Anak ku yang ini memang kalau berkunjung ke Surabaya wajib mencicipi nasi goreng di sini Ra. Jadi nggak sabaran deh... haha". Bu Zahira mengajakku ngobrol.
" Benarkah? memang selama ini dia tinggal di mana? Saya tidak pernah ketemu".
"Dia tinggal di Jakarta sama papanya".
"Oh begitu... "
" Jadi waktu dulu saya cerai sama papanya, dia ikut sama papanya ke Jakarta. Sementara Yuana ikut sama saya tinggal disini. ".
Aku menyimak ceritanya seksama. Tidak menyangka cerita keluarga ini menyedihkan
" Zuan ini ke sini paling setahun dua atau tiga kali karena sibuk bantuin papanya setelah selesai kuliah tiga tahun lalu. Jadi hampir nggak pernah ke butik. Dan semua karyawan mungkin nggak tahu kalau dai anak saya". bu Zahira lanjut cerita. Dan Amara hanya menyimak sambil sesekali menanggapi.
Setelah sekitar 20 menit, pesanan pun datang. Kami siga memakannya. Menikmati sejuta rasa dalam sekali suapan. Mang sangat enak. Terlihat Zuan begitu menikmatinya begitupun bu Zahira sementara aku ingin segera menghabiskan nasi goreng ini dan langsung pulang. Karena rasanya sudah sangat lelah.
Setelah selesai akupun langsung di antar pulang. Tak butuh waktu lama kami sampaikan di rumah.
" Terima kasih sudah mengantar saya bu.. Mari mampir dulu".
Ucapku saat hendak keluar dari mobil.
"Kita mampir bentar nggak papa ya Zuan? ".Tanya bu Zahira pada anaknya.
" Ok... bentar aja ya ma".
"Iya"
Kami pun turun dan masuk menuju rumah keluargku yang tak terlalu besar. Kami di sambut oleh ayah yang sedang duduk di teras di temani Lala.
"Assalamu'alaikum".. kami bertiga mengucapkan salam bersama sama.
" Wa'alaikumsalam" Jawab ayah dan Lala.
" Kamu baru pulang nak? Dan mereka siapa? ". Sambung ayah.
"Maaf yah. Amara tadi lembur lagi. Mereka bos Amara yang nganter pulang. Bu Zahira dan anaknya".
" Iya pak. Saya pemilik butik tempat ara kerja. Maaf ya jika Amara jadi lembur lagi". Bu Zahira ikut menjelaskan.
" Tidak apa apa kok bu. Amara sudah jelaskan kejadiannya. Saya malah mengucapkan terima kasih banyak karena sudah mengantar anak saya pulang".
" Sama sama pak. Tidak masalah. Kalau begitu kami pamit ya pak. Sudah malam".
" Oh iya mari... hati hati di jalan bu".
" Sekali lagi terima kasih".
Mereka pun pergi meninggalkan rumah Amara. Kembali ke rumah mereka untuk kembali berkumpul setelah lama tak jumpa. Sementara Amara langsung membersihkan diri dan istirahat.