NovelToon NovelToon
Kembalikan Cintaku Dokter

Kembalikan Cintaku Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cintapertama / One Night Stand / Konflik etika / Obsesi / Dokter
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LIMA BELAS HARI LAGI.

Udara siang itu terasa gerah, namun bagi Narendra, embusan angin yang masuk melalui jendela angkot yang membawanya pulang terasa seperti oksigen paling murni yang pernah ia hirup. Tujuh hari pascaoperasi besar itu, tubuhnya memang masih lemah. Jahitan di kepalanya terkadang masih terasa berdenyut nyeri, namun semangatnya untuk kembali ke rumah sederhana mereka mengalahkan rasa sakit itu.

Tepat hari ke-15 sejak kontrak gelap itu ditandatangani oleh Melisa, Narendra melangkah masuk ke rumah mereka. Rumah itu kecil, namun baginya, inilah istana yang sesungguhnya. Ia duduk di sofa lusuh, menarik napas panjang, dan memperhatikan Melisa yang sibuk merapikan tempat tidur dan menyiapkan air hangat.

Baru saja Narendra hendak memejamkan mata untuk beristirahat, ketukan pintu terdengar. Melisa membukanya dan mendapati Arneta berdiri di sana. Sahabat mereka dari kampung halaman itu membawa tas jinjing besar berisi pakaian dan perlengkapan medis.

"Arneta? Kok kamu di sini?" tanya Melisa, suaranya mengandung nada kecemasan yang coba ia sembunyikan.

Arneta tersenyum canggung, melirik Narendra sebentar sebelum menarik Melisa ke sudut ruangan. "mbak Mel, Dokter Harvey sendiri yang menugaskanku. Dia bilang, kondisi Mas Rendra belum benar-benar stabil untuk rawat jalan mandiri. Dia membayarku secara pribadi untuk tinggal di sini sementara waktu sebagai perawat pendamping."

Jantung Melisa berdegup kencang. Ia tahu ini bukan sekadar kemurahan hati. Harvey sedang menanam "mata-mata" di dalam rumahnya. Dengan adanya Arneta, Harvey bisa memantau setiap gerak-gerik Narendra, sekaligus memastikan Melisa tidak punya alasan untuk mangkir dari kewajibannya di apartemen karena alasan mengurus suami.

"Tapi Net, ini berlebihan..."

"Aku tahu ini aneh, mbak. Tapi Dokter Harvey bilang ini demi prosedur pemulihan pasien VVIP. Aku tidak bisa menolak tawaran itu, lagipula aku senang bisa menjaga teman sendiri," potong Arneta.

Melisa hanya bisa terdiam. Ia menatap Narendra yang tampak senang melihat kehadiran teman lama. Narendra tidak curiga; ia justru merasa beruntung karena sang dokter begitu perhatian. Di mata suaminya, Harvey adalah malaikat penolong. Di mata Melisa, Harvey adalah iblis yang sedang membangun sangkar emas yang menyesakkan.

*

Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, Melisa bersiap-siap. Ia mengenakan pakaian yang sopan namun rapi, sebuah penyamaran untuk pekerjaan "mengasuh bayi" yang ia gunakan sebagai alibi.

"Mas, aku berangkat kerja dulu ya? Mas Rendra sama Arneta dulu, kalau ada apa-apa langsung telepon aku," ucap Melisa sambil mencium tangan suaminya.

Narendra mengusap kepala Melisa lembut. "Hati-hati, mel. Maaf ya, baru pulang tapi kamu sudah harus banting tulang lagi untuk biaya obat Mas."

Kata-kata itu seperti sembilu yang menyayat hati Melisa. Seandainya kamu tahu, Mas, batinnya. Ia memaksakan senyum, lalu bergegas keluar sebelum air matanya jatuh.

Di ujung gang, mobil sedan hitam milik bayu sudah menunggu. Perjalanan menuju penthouse Harvey terasa lebih singkat dari biasanya, seolah waktu sengaja mempercepat penderitaannya.

Begitu memasuki apartemen, Melisa tidak menemukan Harvey di ruang tamu. Ia melangkah ragu menuju balkon. Di sana, Harvey berdiri membelakangi pintu, menatap cakrawala kota yang mulai dihiasi lampu-lampu.

"Bagaimana rumahmu? Nyaman?" tanya Harvey tanpa berbalik. Suaranya rendah dan tajam.

"Kenapa kau mengirim Arneta ke sana?" Melisa balik bertanya, menuntut penjelasan.

Harvey berbalik, menyesap wiski di tangannya. "Agar kau bisa melayani aku dengan tenang. Aku tidak mau saat kita sedang bersama, pikiranmu terbagi karena takut suamimu jatuh di kamar mandi atau lupa minum obat. Arneta profesional. Dia akan melaporkan setiap denyut nadi suamimu kepadaku."

"Kau gila, Harvey. Kau memperlakukan hidup kami seperti mainan mu."

Harvey mendekat, langkahnya penuh intimidasi. "aku tak peduli itu Melisa. aku membayar mahal untuk semua itu."

Melisa merasa sesak. Obsesi Harvey jauh lebih dalam dan gelap dari yang ia bayangkan. Pria ini tidak hanya menginginkan tubuhnya, tapi ingin menghapus tujuh tahun kehidupannya bersama Narendra dan menggantinya dengan fantasi masa lalu.

"Malam ini," Harvey memulai, tangannya beralih ke tengkuk Melisa, "aku ingin kau memasak untukku. Tanpa embel-embel kontrak, tanpa wajah sedih itu. Lakukan karena kau ingin."

"Aku tidak bisa berpura-pura, Harvey."

"Kau harus bisa. Karena jika aku melihat satu tetes air mata saja malam ini, aku akan menelepon Arneta dan menyuruhnya berhenti memberikan dosis obat pengencer darah pada Narendra. Kau tahu apa akibatnya bagi pasien pascaoperasi, bukan?"

Ancaman itu diucapkan dengan nada yang begitu tenang, seolah ia hanya sedang membicarakan cuaca. Melisa membeku. Ia sadar, di rumah sana, nyawa Narendra benar-benar berada di ujung jari Harvey.

Dengan tangan gemetar, Melisa melangkah ke dapur mewah itu. Ia mulai memotong sayuran, sementara Harvey duduk di kursi bar, memperhatikannya dengan tatapan memuja sekaligus posesif.

"Kau tahu, Melisa," ucap Harvey sambil memutar-mutar gelasnya. "Suamimu itu lemah. Bahkan setelah sembuh pun, dia akan tetap menjadi pria yang bergantung pada belas kasihan orang lain. Sementara aku, aku bisa memberikanmu segalanya tanpa kau harus meminta."

"Narendra memberikan apa yang tidak kau miliki, Harvey," sahut Melisa tanpa menoleh.

"Apa? Cinta? Kesetiaan?" Harvey tertawa sinis. "Cinta tidak bisa membayar biaya rumah sakit. Kesetiaan tidak bisa membeli katup jantung baru. Di dunia ini, hanya kekuatan yang nyata. Dan malam ini, kaulah milikku karena kekuatan itu."

Malam semakin larut. Setelah makan malam yang penuh ketegangan, Harvey mengajak Melisa ke balkon. Ia memeluk Melisa dari belakang, mengabaikan tubuh wanita itu yang kaku seperti patung.

"Tinggal lima belas hari lagi," gumam Harvey. "Setengah jalan lagi menuju kebebasanmu... atau awal dari kehidupan barumu bersamaku. Aku sangat penasaran, apakah setelah sebulan kau masih bisa menatap mata suamimu itu tanpa merasa kotor?"

Melisa memejamkan mata erat-erat. Setiap sentuhan Harvey terasa seperti noda yang sulit dihapus. Namun di balik kegelapan matanya, ia membayangkan wajah Narendra yang sedang tersenyum di rumah mereka. Demi senyum itu, ia bersedia menjadi hancur.

"Kau tidak akan pernah menang, Harvey," bisik Melisa lirih. "Kau bisa memiliki tubuhku, tapi kau tidak akan pernah memiliki aku."

***

Bersambung...

1
Dede Dedeh
oke lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!