Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HATINYA MILIK NARENDRA, TUBUHNYA MILIK HARVEY
Lampu kristal di langit-langit kamar penthouse itu berpijar redup, memantulkan bayangan dua orang yang sedang terjebak dalam negosiasi paling hina dalam hidup mereka. Melisa bisa merasakan jantungnya berdegup sangat kencang, seolah ingin menjebol rusuknya. Namun, ia menolak untuk terlihat lemah. Jika tubuh ini adalah satu-satunya mata uang yang tersisa untuk membayar nyawa Narendra, maka ia akan melakukan transaksi ini dengan kepala tegak.
Harvey Andreas berdiri di hadapannya, menyesap wiski dengan gestur yang tenang namun mematikan. "Kau yakin, Melisa? Sekali kau melangkah ke ranjang itu, tidak ada jalan kembali."
Melisa menarik napas panjang, mengabaikan getar di jemarinya. "Tagihan rumah sakit Narendra sudah lunas, kan? Kau sudah berjanji."
Harvey meletakkan gelasnya dengan denting yang tajam. "Aku tidak pernah ingkar janji. Dokter terbaik sudah dikirim ke ruang ICU. Sekarang, giliranmu menepati bagianmu dalam kontrak ini."
Pria itu melangkah maju. Saat Harvey menarik pinggangnya dan menciumnya dengan kasar, Melisa tidak lagi mematung. Sesuatu di dalam dirinya patah, lalu menyambung kembali menjadi keberanian yang nekat. Ia mulai membalas. Ia melingkarkan lengannya di leher Harvey, menarik pria itu lebih dekat, membalas setiap sentuhan dengan intensitas yang provokatif.
"Lihat aku, Harvey," bisik Melisa di sela napas mereka yang menderu. Ia memaksa pria itu menatap lurus ke dalam matanya, memastikan Harvey melihat kekosongan yang mengerikan di sana.
"Oh, aku melihatmu," geram Harvey, tangannya mencengkeram rahang Melisa. "Kau mulai pintar bermain peran."
"Kau ingin aku membalasmu? Kau ingin aku bergerak untukmu? Akan kulakukan," Melisa menyentuh rahang tegas Harvey dengan jemari yang dingin. "Tapi jangan pernah lupa... setiap inci kulit yang kau sentuh malam ini, setiap napas yang kau ambil dariku, semuanya aku lakukan hanya untuk Narendra. Kau mendapatkan tubuhku karena kau membelinya, tapi cintaku? Cintaku tetap di ruang ICU itu, bersama pria yang kau anggap rendah."
Kata-kata itu seperti siraman air es bagi Harvey. Rahangnya mengeras, dan amarah murni berkilat di matanya. Ia menyentak pakaian Melisa hingga wanita itu terekspos sepenuhnya di bawah cahaya remang.
"Kau pikir aku peduli dengan cintamu?" desis Harvey di telinga Melisa. "Aku membeli kepatuhanmu. Dan malam ini, aku akan memastikan kau melupakan namanya, setidaknya saat kau berada di bawahku."
"Coba saja," tantang Melisa, suaranya parau namun stabil. "Puas, Tuan Andreas? Ambil semuanya. Pastikan uang yang kau keluarkan terasa sepadan dengan apa yang kau dapatkan."
Tanpa peringatan, Harvey memisahkan kedua kaki Melisa dengan kasar di atas sprei sutra yang dingin. Tidak ada kata-kata manis. Tidak ada rayuan. Ini adalah penaklukan.
"Ahhh!" Melisa memekik saat Harvey menghujamkan miliknya tanpa persiapan. Tubuhnya menegang hebat, kuku-kukunya nyaris merobek kain mahal di bawahnya. Sensasi itu tajam dan menyakitkan—sebuah pengingat nyata bahwa ia sedang dijual dan dibeli.
Harvey terengah, berhenti sejenak saat merasakan betapa sempit dan hangatnya Melisa menyambutnya. Ia menatap Melisa yang memejamkan mata rapat-rapat dengan air mata yang mengalir ke pelipis.
"Buka matamu," perintah Harvey serak. "Jangan berani-berani membayangkan dia."
Harvey mulai bergerak. Ritmenya menuntut, memaksa tubuh Melisa untuk beradaptasi. Gesekan demi gesekan mulai mengubah rasa perih itu menjadi aliran listrik yang asing. Harvey tahu persis di mana letak kelemahan wanita itu. Ia mencumbu leher Melisa, menghisap kulitnya hingga meninggalkan tanda kepemilikan, sementara pinggulnya terus memacu tempo yang semakin bertenaga.
"Sebut namaku, Melisa! Bukan pria itu!"
Melisa mencoba tetap bungkam, namun tubuhnya mulai mengkhianati pikirannya. Desahan yang awalnya adalah rintihan kesakitan, perlahan berubah menjadi lenguhan yang tak terkendali. Ia mulai terhanyut dalam gelombang kenikmatan primitif yang diciptakan Harvey. Pinggulnya mulai bergerak membalas, seolah mencari pelarian dari kenyataan pahit melalui rasa "sakit yang nikmat" itu.
"Harvey... ahh... Harvey..." akhirnya nama itu lolos dari bibir Melisa di tengah napasnya yang tersengal.
Mendengar namanya disebut, Harvey semakin menggila. Kamar itu kini hanya diisi oleh suara napas yang memburu dan dentuman kulit yang beradu. Melisa merasa dunianya berputar hebat. Air matanya kini bercampur dengan keringat yang membasahi tubuh mereka berdua.
Puncak itu datang seperti ledakan yang membutakan. Harvey mengerang keras saat ia merasakan kontraksi hebat dari dalam diri Melisa yang menjepitnya dengan erat. Di saat yang sama, Melisa melengkungkan punggungnya, matanya membelalak saat rasa nikmat yang luar biasa menyapu seluruh kesadarannya, membawanya ke puncak tertinggi yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
*
Mereka ambruk dalam pelukan yang masih menyatu, saling mencari oksigen di tengah keheningan yang kembali menyerbu. Harvey menyandarkan kepalanya di bahu Melisa, sementara detak jantung mereka perlahan melambat dalam ritme yang sama.
Harvey mengusap helai rambut yang menempel di dahi Melisa. Untuk sesaat, tatapannya melembut. "Kau luar biasa, Melisa."
Melisa tidak membalas pujian itu. Ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Ia meraih selimut untuk menutupi tubuhnya segera setelah Harvey menjauh.
"Transaksinya selesai untuk malam ini?" tanya Melisa datar. Suaranya kembali dingin, seolah gairah panas beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.
Harvey merasa seperti dipukul di wajah. Ia merasa menang secara fisik, namun kalah secara telak sebagai seorang pria. Ia memiliki Melisa di pelukannya, namun wanita itu terasa ribuan mil jauhnya. Di kamar mewah itu, Harvey menyadari satu kenyataan pahit: ia bisa membeli waktu, tubuh, bahkan suara desahan Melisa, namun ia tidak akan pernah bisa membeli cara Melisa menatap Narendra.
***
Bersambung..