Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)
Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.
Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.
Full of love,
Author ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunggu... apa yang terjadi?
Aku terbangun dengan kepalaku yang sedikit pusing, seberapa banyak aku minum semalam? Aku mencari ponselku, layar menunjukkan pukul 7.50 am. Masih pagi, kulihat Belva belum kembali ke kamar.
Aku berusaha mengingat kejadian semalam, astaga.... kami berciuman, dan aku membalas ciumannya, kami berciumannnn.... arkkkhhh Jennnnn... kamu sudah gila! Aku menarik selimutku hingga keatas kepalaku. Di bawah selimut aku berusaha mengingat kejadian setelah itu.
Aku ingat, aku mendorongnya menjauh setelah itu, lalu mengusirnya dengan alasan aku ingin tidur, dan kembali duduk minum menyadari kebodohanku. Untuk beberapa saat aku hanya berdiam diri diatas tempat tidur, kemudian lebih baik aku mandi dan beberes koper saja. Sebelum masuk kamar mandi, aku melihat kearah meja tempat kami makan malam kemarin, ternyata 2 botol yang dibawa Belva sudah habis tak bersisa, 'kamu sungguh gila Jen', ucapku pelan.
Bersamaan aku keluar kamar mandi, pintu kamar terbuka.
"Loh Bel, aku pikir kamu masih nanti baru balik kamarnya."
"Ya, aku mau nikmatin kolam air hangat dulu sebentar. Kak Erick ga akan muncul dikamar sepagi ini kan Jen?"
"Aku ga buat janji sama kak Erick kok."
"Ok baiklah", dengan santainya Belva membuka baju dan hanya menyisakan pakaian dalamnya lalu masuk ke kolam.
Aku melihat beberapa tanda cinta Arnold pada dada Belva, yah setidaknya kemarin malam aku cukup waras tidak melakukan lebih dari sekedar ciuman.
"Kamu kenapa pagi-pagi udah melamun duduk disitu Jen?"
"Aku berciuman dengan kak Erick.", ucapku pelan sambil memandang langit.
"Wow cepet juga prosesnya", ucapnya sambil tertawa.
"Apa kamu resmi jadi kakak iparku?"
"Aku mengusirnya pergi setelah itu", jawabku lagi.
"Ooo... kasihan Erick", ucapnya lagi sambil terkekeh pelan.
"Kasihan aku Bel", protesku.
"Ya ya ya....", Belva menggodaku dengan memutar bola matanya.
"Mau sarapan apa Jen?"
"Lagi ga tertarik Bel, aku minta jus jeruk saja kalau kamu mau telepon restoran, terima kasih".
"Aku juga mau jalan makan sama Arnold, jadi aku pesan buah potong sama jus saja ya Jen?"
Aku mengangguk menyetujuinya.
"Bel kamu kok janjian makan sama kak Arnold, katanya kamu pendukungku, sekarang malah ninggalin aku."
"Tadinya aku mau ajak kamu juga, tapi Jen kamu berciuman sama Erick, kamu pikir dia akan melepasmu?"
"Hmmmm.... ", aku menghela nafas panjang, pasrah pada nasibku.
"Setidaknya sekarang kamu tau hatimu condong kemana kan? Selama ini aku juga tau itu, cuma kamu perlu menyadarinya sendiri. Kamu perlu lebih terbuka lagi sama perasaanmu, berbicaralah dengan Erick nanti."
Aku hanya mendengarkan Belva tanpa menanggapinya, lalu menutup mukaku dengan bantal kursi.
"Jen aku mau mandi, kamu ga tidur lagi kan? Takutnya nanti staff hotel datang antar makanan."
"Aku ga tidur kok."
Saat Belva mandi aku membereskan barangku dan beberapa barang Belva, aku sungguh ingin cepat pulang ke rumah.
Mendekati jam check out, bel pintu kamar kami berbunyi. Karena Belva masih sibuk di kamar, jadi akulah yang membuka pintu berharap orang dibalik pintu adalah kak Arnold.
"Kak, Belva ada di kamar", berterima kasih dalam hati karena keinginanku terkabulkan.
"Aku tunggu disini aja, terima kasih Jen".
Aku tersenyum menanggapinya.
"Kita mau makan dimana Jen? apa Belva udah cari tempat?"
"Dia ga makan bareng kita Nold", teriaknya dari dalam kamar, lalu berjalan keluar kamar menuju sofa tempat kami duduk.
"Bel...", protesku.
Kak Arnold tertawa pelan sambil berkata, "wah ada berita menyenangkan rupanya pagi ini atau kemarin malam tepatnya?", tanyanya menggodaku.
"Bel, kamu cerita apa saja sama kak Arnold?", protesku pada Belva tanpa memperdulikan godaan kak Arnold.
"Yah gimana, dia kan calon adik iparmu loh Jen"
"Rupanya status Jeny kakak iparku sekarang, menarik...", ucapnya lagi sambil tersenyum.
"Udah donk jangan godain aku, apalagi kalau depan kak Erick, aku nangis nih", ancamku sambil memelas.
"Arnold... jangan ganggu kakak iparku", ucap Belva berpura-pura memarahi Arnold.
Akhhh... sungguh hari sial ga ada di kalender, aku mau pulang, ucapku dalam hati sambil memberikan tampang kesalku pada Belva dan Arnold lalu menutup wajahku dengan bantal sofa. Aku sungguh ingin menghilang di telan bumi saat ini juga.