Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Keputusan Rani
Hari Senin kembali tiba. Rani akhirnya turun ke lantai satu, di mana ibunya sudah menyiapkan sarapan. Rani duduk di depan meja makan berhadapan dengan sang ibu.
"Mah, Rani pengen ambil paket C," ucap Rani akhirnya. Ibu Rani menghentikan makannya.
"Kenapa, Nak?" tanya sang ibu. Rani tersenyum simpul dan menggeleng pelan.
"Ingin aja, Rani akan tetap sama Mamah kok." Senyum Rani, ibunya tampak terdiam.
"Mah, Mamah nggak mau pulang ke rumah Kakek. Aku kangen Kakek, Mah," ucap lagi Rani. Bagaimana reaksi Kakeknya bila tahu semua itu?
"Iya, nanti kita ke rumah Kakek ya. Tapi Mamah juga banyak yang harus diselesaikan terlebih dahulu," ucap ibu Rani. Dia berjalan menuju ke arah kamarnya dan mengambil sebuah kertas.
"Mamah nggak mau bawa kamu dalam urusan Mamah dan Papah kamu, Nak. Tapi, sepertinya ini memang harus diputuskan." Ibu Rani menyerahkan sebuah surat pada Rani.
"Mamah masih berpikir, apakah kamu setuju atau tidak? Nak, hiks..." Akhirnya air mata ibu Rani jatuh juga. Rani pun ikut menangis dia menghapus air matanya dengan kasar setelah tahu kertas apa yang dibawa ibunya.
"Mamah akan pulang ke rumah Kakek. Mamah tidak akan berpisah dengan Papahmu, Nak. Pernikahan hanya cukup sekali, dan perceraian amat dibenci Allah. Nak, Papahmu sudah menikah lagi. Hiks... hiks..." Tangis terdengar dari bibir sang ibu. Rani menghela napasnya kasar. Ternyata ibunya sudah tahu itu. Dia memeluk ibunya dan keduanya terisak berpelukan.
"Kamu sudah besar. Dengan siapa kamu tinggal, Mamah tak akan melarang kamu. Bagi Mamah, kebahagiaan kamu adalah yang paling penting bagi Mamah," ucap ibu Rani lagi. Rani memeluk ibunya dengan bibir bergetar hebat.
Rasanya hancur, hancur sekali. Setelah kisah cintanya hancur, kini keluarga yang dicintainya, tempat dia pulang, juga harus hancur.
"Mah, Rani akan bersama Mamah. Rani akan selalu bersama Mamah..." ucap Rani dengan isaknya lagi. Kedua wanita itu akhirnya berpelukan erat, menumpahkan air mata dan saling mencurahkan perasaan mereka lewat pelukan.
Mereka keluar rumah pukul delapan pagi, kesiangan untuk ukuran sekolah. Namun Rani masih menggunakan seragamnya di hari Senin itu. Rani membonceng ibunya ke sekolah, tak ada pembicaraan di jalan.
Setelah sampai di gerbang sekolah, seorang satpam menatap Rani yang kesiangan.
"Oy, Pak, nggak kesiangan kok. Aku bawa Mamah buat alasan, muheheh..." Rani cengengesan, namun sudut matanya masih memerah.
"Rani, Rani... silakan masuk," ucap satpam itu. Ibu Rani juga ikut masuk.
"Ke sini, Mah." Rani mempersilakan ibunya ke lantai dua, di mana ruang kepala sekolah berada.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pak," ucap Rani salam dan diikuti ibunya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa ini, Rani?" tanya kepala sekolah merasa bingung.
"Mamah yang bilang, Pak," ucap Rani duduk bersama sang ibu.
"Saya datang ke sini ingin menyampaikan keinginan putri saya, Pak. Dia ingin mengambil paket C dan dia tidak bisa melanjutkan sekolah. Hari ini kami datang ingin berpamitan," ucap ibu Rani. Rani mengangguk membenarkan.
"Mah, aku juga belum memberi tahumu tentang ini. Aku lupa, heheh..." Rani tersenyum, lalu mengambil ponselnya.
"Kakek beberapa minggu lalu mengatakan bila kuota ke Al-Azhar sudah dia siapkan untukku, asal aku sudah tahfidz Al-Qur'an. Dan insyaallah aku tahfidz. Tapi dulu aku tak butuh pengakuan itu. Namun sekarang, aku akan mengikuti tesnya yang akan dilakukan sekitar satu bulan lebih lagi. Dan meski Kakek sudah memberikan satu kuota untukku, aku juga harus membuktikan kemampuanku." Rani menghela napas terlebih dahulu.
"Jadi, Pak, saya berhenti sekolah bukan karena berhenti tanpa alasan. Saya ingin meraih masa depan saya dan ingin mewujudkannya dengan cepat," ucap Rani lagi. Kepala sekolah mengangguk paham.
"Jadi keputusanmu sudah bulat, Nak?" tanya kepala sekolah lagi. Rani mengangguk. Kepala sekolah akhirnya menyetujui keinginan Rani.
Di sana memang tidak menyediakan paket C, namun Rani akan mendapatkan ijazah di tempat lain. Rani tersenyum dan mereka pun berpamitan. Saat melintas ruang guru, sejenak dia melihat Adimas dengan kondisi tampak tidak baik-baik saja. Perlukah dia pamitan?
Rani menggigit bibir bawahnya sejenak. Dia akhirnya berjalan ke arah ruang guru. Adimas yang melihat sontak terkejut. Dia juga melihat ibu Rani di sana.
"Kamu kenapa tidak masuk kelas, Ran?" tanya Adimas. Rani tersenyum dan menghela napas.
"Pak, bisakah saya meminta waktu Anda sebentar?" ucap Rani lagi. Ibu Rani mengangguk pada Adimas. Adimas akhirnya mengangguk menyetujui keinginan Rani.
Rani membawa Adimas dan ibunya ke sebuah kantin yang masih sepi, tentu saja. Rani duduk berhadapan dengan Adimas, di sampingnya ada ibunya yang akan mendengarkan.
"Apa ya saya manggilnya sekarang?" Rani terkekeh kikuk, lalu menghela napas kasar.
"Ada apa ini sebenarnya, Ran?" tanya Adimas lagi. Rani melepaskan sebuah gelang yang sejak kecil dia pakai.
“Itu kokka warisan,” suara Rani lirih namun tegas.
“Dari kecil selalu aku pakai. Katanya, kayu ini tumbuh dari tanah suci, dipakai orang-orang untuk mengingat Allah… dan untuk menjaga hati agar tidak tersesat.” Rani melepaskan gelang itu dan memberikannya pada Adimas.
Rani memakaikan gelang itu ke tangan kanan Adimas. Rani tersenyum, senyuman yang hambar namun juga penuh keyakinan. Ibu Rani ikut terkejut. Itu adalah pilihan Rani, itu adalah keinginan Rani. Dan Adimas adalah kebahagiaan Rani, masa depan Rani, dan cinta yang dipilih hati Rani.
"Semoga kita bertemu lagi, Mas." Senyum Rani terlihat dipaksakan. Adimas membelalakkan matanya.
"Kamu mau ke mana, Ran?" tanya Adimas lagi. Rani menghela napas kasar dan tersenyum tulus.
"Aku ada, tapi Mas. Boleh kan selesaikan dulu urusan Mas, dan aku akan diam?" Adimas tersenyum, lalu mengangguk.
"Oke," jawab Adimas cepat. Rani menghela napas kasar dan berdiri.
"Ayo, Mah, kita pulang," ucap Rani. Mereka pun pamit pada Adimas dan pulang ke rumah.
Setelah hari itu, sebuah kabar duka diterima Rani dari Elyra. Elyra mengalami keguguran, dan sebabnya adalah mantan guru mereka sendiri.
[Bisa baca langsung di novelnya dah]
Rani selama satu minggu penuh terus mencoba menghibur Elyra. Dia juga sambil terus menghafalkan Al-Qur'an dengan giat. Hingga akhirnya, ujian paket C dilakukan dan semuanya berjalan sangat baik.
Tentu saja, karena orang belakang dan orang dalam yang bekerja sama. Buktinya saja, paket C dilakukan di luar ujian nasional. Jadi mereka memang melakukan ujian, namun tidak pada waktunya.
Nilai yang didapat Rani juga sangat memuaskan. Selama itu pula, Adimas tak pernah menemui dirinya, tidak mengganggu Rani meski nomornya sudah dibuka dari blokiran.
Selama satu bulan penuh, Rani terus belajar. Meski dia tetap ke warnet, dia juga terus belajar. Dia bahkan sudah menghafal sebagian hadis dan makna Al-Qur'an, hingga keputusannya untuk berhijab akhirnya bulat.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang