Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Taruhan ya?
Pasar malam itu semakin meriah. Aroma cumi bakar, asap dari panggangan kue, dan lampion berwarna-warni menciptakan suasana yang seharusnya hangat.
Namun, Jian Feng berjalan dengan ekspresi datar di balik penutup wajahnya. Di tangannya, terdapat kantong plastik besar berisi berbagai macam manisan—mulai dari gula-gula kapas, manisan buah hawthorn, hingga kue beras berlapis madu.
"Tuan, kau benar-benar aneh," Petir Kecil berbisik dari balik tudungnya. "Kau benci rasa manis karena menurutmu itu merusak ketajaman lidah seorang pendekar, tapi kau memborong semua ini sampai pedagangnya mengira kau sedang merayakan kelahiran cucu."
"Berisik, Laba-laba," balas Jian Feng pelan. Ia menatap manisan-manisan itu dengan pandangan sayu. "Aku hanya sedang mengoleksi kenangan. Lagipula, uang dari Tuan Fang terlalu banyak untuk disimpan dalam perut saja."
Langkah Jian Feng terhenti saat segerombolan orang berkumpul di depan sebuah panggung kecil.
Di sana, seorang pemuda tampan dengan pakaian sutra putih yang berkilauan—Tuan Muda Mo—sedang memegang kipas lipat dan dikelilingi oleh para pengikutnya.
Mo melihat Jian Feng yang tampak misterius dengan cadar dan tudung kayunya. Ia merasa egonya tertantang. Sebagai "Playboy No. 1" di kota ini, ia benci melihat seseorang yang berusaha terlihat lebih keren darinya.
"Heh, kau yang di sana!" teriak Mo sambil menunjuk Jian Feng dengan kipasnya. "Kau terlihat seperti pengembara yang kesepian. Bagaimana kalau kita bertaruh?"
Jian Feng berhenti, menoleh malas. "Taruhan apa, Bocah?"
"Aku lihat kau membawa banyak manisan, pasti kau sedang berusaha mencari perhatian wanita, kan?" Mo tertawa remeh. "Ayo bertaruh. Siapa yang bisa merayu wanita tercantik di pasar malam ini sampai dia mau memberikan barang pribadinya, dialah pemenangnya. Jika kau menang, aku akan memberikan sepuluh keping emas dan pedang perak di pinggangku ini. Tapi jika kau kalah... kau harus sujud dan mencium sepatuku!"
Jian Feng menyeringai di balik cadarnya. "Hanya itu? Bagaimana kalau kita tingkatkan taruhannya? Siapa yang kalah, harus memberikan semua harta yang ada di tubuhnya. Termasuk pakaiannya."
Mo tertawa terbahak-bahak. "Setuju! Lihat dan pelajari, Dasar Amatir!"
Mo mendekati seorang wanita cantik yang tampak dingin di sudut jembatan.
Ia mengeluarkan kata-kata manis, puisi tentang bulan, dan mencoba memamerkan kekayaannya. Namun, wanita itu hanya menatapnya jijik dan berjalan pergi.
"Sekarang giliranmu, Cadar Hitam!" ejek Mo.
Jian Feng berjalan mendekati wanita yang sama. Ia tidak mengeluarkan puisi.
Ia hanya berdiri di samping wanita itu, menatap lampion terbang di langit. Ia mengeluarkan satu tusuk manisan hawthorn merah dari kantongnya.
"Dunia ini pahit, bukan?" suara Jian Feng terdengar sangat dalam, seperti gema dari masa lalu. "Kita semua mencari sesuatu yang manis hanya untuk melupakan bahwa pada akhirnya kita semua akan sendirian."
Jian Feng memberikan manisan itu kepada sang wanita tanpa menatapnya. "Ambillah. Ini bukan rayuan. Ini hanya pengingat bahwa meskipun malam ini dingin, setidaknya gulanya asli."
Wanita itu terpaku. Ada aura kesedihan yang sangat murni dari Jian Feng yang membuatnya tersentuh.
Secara tidak sadar, wanita itu melepaskan sapu tangan sutranya dan memberikannya pada Jian Feng. "Terima kasih... aku belum pernah bertemu pria yang punya pemikiran setua... maksudku, sebijak dirimu."
Jian Feng kembali ke hadapan Mo sambil melambai-lambaikan sapu tangan tersebut. Wajah Mo berubah dari merah menjadi pucat pasi.
"I-itu tidak mungkin! Kau pasti menggunakan sihir!" teriak Mo. Ia segera memerintahkan pengikutnya untuk menyerang. "Hajar dia! Ambil sapu tangan itu!"
Jian Feng mendesah. "Sudah kuduga akan begini."
BUKK! BRAK! DUARR!
Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, para pengikut Mo sudah bergelimpangan di tanah dengan rahang bergeser. Jian Feng kemudian mendekati Mo yang gemetar.
"Janji adalah janji, Bocah." ucap Jian Feng dingin.
Semenit kemudian, pasar malam itu dihebohkan oleh pemandangan luar biasa.
Tuan Muda Mo yang tadinya sangat perlente, kini berdiri di tengah jalan hanya dengan menggunakan celana dalam bermotif bunga, wajahnya bengkak kebiruan karena bogem mentah Jian Feng.
Semua pakaian sutranya, cincin giok, pedang perak, hingga kantong uangnya telah berpindah tangan ke tas Jian Feng.
"Kau keterlaluan, Tuan!" teriak Mo sambil menutupi dadanya yang bidang dengan tangan.
"Anggap saja ini pelajaran tentang rendah hati," ucap Jian Feng sambil melempar sebuah manisan keras ke arah Mo. "Nih, biar kau tidak terlalu pahit."
Jian Feng berjalan menjauh dari kerumunan, membawa gundukan harta baru. Petir Kecil tertawa terpingkal-pingkal di atas tudungnya.
"Hahaha! Tuan, kau benar-benar iblis! Lihat dia, kedinginan seperti ayam sayur! Tapi kau hebat juga, kata-kata 'dunia ini pahit' tadi benar-benar manjur!"
"Aku tidak berbohong, Kecil," Jian Feng menatap sapu tangan sutra di tangannya sejenak sebelum memasukkannya ke cincin penyimpanan. "Dunia memang pahit. Dan orang bodoh seperti dia butuh rasa dingin agar otaknya sedikit encer."
Jian Feng kemudian berhenti di depan sebuah kedai kecil lainnya. "Ayo, dengan uang bocah tadi, kita beli arak paling mahal di kota ini. Aku butuh sesuatu untuk membilas rasa manis yang berlebihan di mulutku."
thor lu kaya Jiang Feng