NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Berbaikan
Popularitas:117
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: REUNI, REALITA, DAN RASA YANG TAK TERFILTER

Disclaimer: Bab ini mengandung deskripsi tentang rasa tidak cukup yang merayap, performativitas sosial di era digital, dan satu momen jujur yang terlalu berisik untuk diabaikan.

Pukul 18.30. Ardi berdiri di depan sebuah kafe bertema retro di kawasan Kemang, merasa seperti spesimen yang salah habitat. Di sini, setiap orang tampak seperti versi kehidupan yang sudah di render dalam resolusi tinggi. Kaos band vintage, celana cargo tailor made, tawa yang terkandung namun tetap Instagrammable. Dia, dengan kaos polosnya yang sudah agak melar dan sepatu sneakers yang solnya mulai tipis, merasa seperti error dalam kode estetika mereka.

Kinan, di sampingnya, tampak berbeda dari biasanya. Dia masih memakai hoodie nya, tapi dengan riasan natural yang membuatnya terlihat seperti "nobmakeup makeup look" yang justru membutuhkan effort lebih. Dia memegang lengan Ardi sebentar sebuah sentuhan listrik statis yang singkat.

"Gue ada di sini. Santai aja. Mereka cuma temen-temen lama."

"Yang kayaknya hidupnya udah sesuai sama moodboard mereka," sahut Ardi, suaranya rendah.

Mereka masuk. Sorakan langsung menyambut.

"KINANNN! Akhirnya keluar juga dari gua aesthet nya!"

"Whoa, beneran nih bawa +1?"

Ardi disambut oleh tatapan yang cepat sekali memindai: dari sepatu, ke outfit, ke muka, lalu ke Kinan, seolah membandingkan spek. Dia memperkenalkan diri dengan sederhana. "Ardi. Temen Kinan."

"Oh, ARDI yang itu!" seru seorang perempuan bernama Manda, dengan senyum yang terlalu lebar. "Kita udah stalk eh, maksudnya, udah lihat semua thread-nya! Heroik banget, ya!"

Suara itu terdengar tulus, tapi ada nada lain di bawahnya. Seperti pujian untuk sebuah pertunjukan, bukan untuk sebuah hidup.

Sepanjang malam, Ardi merasa seperti sedang menjalani interview kerja yang tidak pernah dia lamar.

"Jadi, lo kerja apa sekarang?" (Ditanyakan oleh Ryan, yang profil LinkedIn nya bertuliskan "Visionary at a Web3 Agency")

"Sekarang lagi fokus ngerjain TA dan bantu usaha temen," jawab Ardi.

"Oh, freelance gitu? Atau passion project?" (Dengan penekanan pada 'passion project' yang terdengar seperti 'pekerjaan tanpa gaji').

"Semacam kolaborasi. Lumayan bagi hasil." Ardi berusaha tidak defensif.

"Kalian rencananya mau bikin konten collab terus? Atau mau monetize personal brand?" (Ditanyakan oleh Tasya, yang bio Instagram nya "Content Architect & Personal Branding Coach").

"Kami…belum kepikiran sejauh itu," jawab Kinan, menyelamatkan. "Masih menikmati fase nggak punya brand."

Tawa kecil. Seperti pernyataan itu lucu. Menikmati fase nggak punya brand.

Ardi memperhatikan bagaimana Kinan berubah di lingkungan ini. Posturnya lebih tegak, senyumannya lebih terkontrol, tawanya tepat pada waktunya. Dia seperti sedang menjalankan program "Kinan_v2.0.exe" — versi yang kompatibel dengan dunia orang-orang sukses 25 tahunannya. Bukan Kinan yang ketakutan di dapur, atau yang menulis "Aku takut" di tanah.

Pukul 20.00. Ardi sedang mengantre di bar untuk pesan air mineral (karena dia tidak sanggup membayar harga segelas kopi yang setara dengan biaya listrik kosannya seminggu), ketika obrolan di belakangnya nyangkut di telinganya.

"Jujur, gue kaget sih Kinan sama… yang itu." (Suara Manda, berbisik tapi tidak cukup pelan).

"Iya, gue juga. Expectation nya kan tinggi, ya. Setelah viral segitu, dapetin endorsemen gampang. Tapi dianya malah… begini."

"Mungkin strategi kali? Biar keliatan humble? Jenis konten 'down to earth' lagi ngetren tuh."

"Atau mungkin emang… ya gitu doang."

Kata-kata itu menusuk seperti jarum es. "Emang ya gitu doang." Meringkas semua kekhawatiran terpendamnya: bahwa di dunia nyata, tanpa narasi viral dan musuh bersama bernama MatchMade, dia memang cuma Ardi. Bukan visionary, bukan founder, bukan creative director. Hanya Ardi.

Dia kembali ke meja dengan air mineralnya, senyuman palsu menempel di wajah.

Pukul 21.15. Saat obrolan sedang ramai tentang fractional NFT dan burn out para digital nomad, tiba-tiba…

BRRRRING!

Suara dering telepon yang keras, kuno, dan memalukan. Itu dari HP barunya yang murah. Ringtone default-nya yang norak, "Opening Symphony", menggema di tengah obrolan tentang minimalism digital.

Semua mata tertuju padanya. Pipinya membara.

"Maaf, maaf," gumamnya buru-buru, merogoh HP. Itu panggilan dari Pak Suryo. Dia tolak.

Tapi kerusakan sudah terjadi. Ryan menyeringai. "Wah, nostalgia nih. HP jadul banget ringtonenya. Sengaja biar analog, ya?"

"Eh, iya… biar nggak ke distract," jawab Ardi, terpaksa ikut narasi yang diberikan.

Kinan memandangnya. Ada sesuatu di matanya bukan malu, tapi… pengertian. Dia tahu.

Pukul 22.00. Mereka akhirnya bisa minggat. Udara malam Jakarta terasa seperti pelukan setelah sekian lama terjebak dalam ruang ber AC yang penuh penilaian.

Di dalam taksi online, mereka diam. Keheningan yang berbeda dengan yang di warung kopi. Ini adalah keheningan yang lelah.

"Lo baik-baik aja?" tanya Kinan akhirnya.

"Gue…nggak cocok, ya?" jawab Ardi, polos. "Dengan dunia lo yang itu."

"Itu bukan dunia gue, Ard. Itu… panggung. Mereka semua lagi perform. Ryan startup nya lagi sekarat, Manda baru di PHK dari startup unicorn. Tasya… 'content architect'-nya itu sebenernya cuma ngelola 3 akun kecil. Semua lagi pamer versi terbaik mereka."

"Tapi lo juga," kata Ardi, berani. "Lo di sana beda. Lo kayak… Kinan versi premium."

Kinan tertawa,tapi getir. "Iya. Karena gue terlatih. Dari kecil diajarin buat tampil baik di depan orang. Tapi lo tahu nggak, yang bikin gue bisa survive malam ini?"

"Apa?"

"Liat lo yang minum air mineral doang, jawab polos pas ditanya, dan… ringtone HP lo yang absurd itu." Kinan memandangnya, matanya jujur di bawah lampu jalan yang berpendar. "Itu ngingetin gue sama sesuatu yang real. Di tengah semua performansi itu, lo cuma… jadi lo. Dan gue pengin pulang."

Kata-kata itu melunakkan sesuatu yang mengeras di dada Ardi.

Taksi berhenti di depan kosan Ardi. Tapi Kinan tidak turut turun. Dia hanya duduk, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Ardi," panggilnya, suara serius.

"Ya?"

"Gue capek."

"Gue juga."

"Bukan capek fisik.Tapi capek mikirin… apa kita cukup. Apa gue cukup. Apa lo cukup. Apa kita cukup buat satu sama lain, di luar semua cerita viral dan musuh bersama itu."

Ini lebih jujur daripada apapun yang mereka bicarakan sepanjang malam. Sebuah ketakutan yang telanjang.

Ardi menarik napas. "Gue nggak tahu, Kin. Gue cuma tahu, malam tadi waktu lo pegang lengan gue, gue nggak peduli sama penilaian siapa-siapa. Waktu ringtone gue bunyi dan lo liat gue, lo nggak malu. Lo malah kayak… lagi liat sesuatu yang familiar. Dan di taksi ini, lo bilang lo pengin pulang. Gue rasa… 'cukup' atau nggak, itu nggak penting. Yang penting, kita pengin pulang ke versi kita yang nggak pakai perform. Dan… kita pengin pulangnya bareng."

Dia berhenti, kaget dengan ucapannya sendiri. Itu adalah monolog terpanjang dan paling tidak terfilter yang pernah dia lontarkan pada Kinan.

Kinan memandangnya lama. Lalu, tanpa kata-kata, dia membuka tas kecilnya. Bukan mengambil lipstik atau HP. Tapi mengambil sebuah kunci.

"Ini kunci kosongan kamar gue,"katanya, suaranya datar. "Gue kasih ke lo. Bukan sebagai simbol komitmen atau apa. Tapi sebagai… tanda kepercayaan. Kalau suatu hari lo atau gue capek dengan semua perform ini, kita punya satu tempat yang nggak perlu kita jadi siapa-siapa. Cuma jadi… kita yang kecapean."

Dia meletakkan kunci itu di tangan Ardi. Dingin. Nyata.

"Gue nggak minta lo balas. Cuma… simpan aja."

Ardi menggenggam kunci itu, terasa berat di telapak tangannya. Lebih berat daripada dadu mana pun.

"Okay," katanya, sederhana.

Kinan tersenyum kecil. "Pulang sana. Besok… kita ketemuan buat bikin konten."

"Konten?Bukannya kita mau berhenti?"

"Bukan konten buat orang lain.Konten buat kita. Gue mau kita rekam podcast, cuma 15 menit. Nggak di upload. Cuma buat dengar ulang kalau kita mulai lupa kenapa kita memilih ini."

"Oke. Judulnya?"

"'Ngobrol Ngalor-Ngidul Dua Orang yang Lagi Mencoba Tidak Membodohi Diri Sendiri'."

Ardi tertawa. "Boleh juga."

"Gue jemput lo besok jam 4."

"Bawa martabak?"

"Bawa diri lo aja."

Taksi melaju pergi. Ardi berdiri di depan kosannya, menggenggam kunci asing yang terasa seperti bagian paling personal dari dirinya malam ini. Dia membuka Twitter sekali lagi. Tagar mereka sudah turun dari trending. Dunia sudah bergerak. Itu baik.

Dia tidak membuat thread. Dia hanya membuat satu tweet sederhana, dari akun pribadinya yang sepi:

@ardinightowl: Malam ini belajar: terkadang, menjadi versi yang paling tidak menarik dari dirimu sendiri adalah hal paling berani yang bisa kamu lakukan. Dan ada orang yang memilih untuk pulang ke versi itu. #BukanThread

Dia mematikan HP. Malam Jakarta merangkulnya dengan semua kebisingan dan kesepiannya. Di sakunya, sebuah kunci dan sebuah dadu merah saling bersentuhan, berbicara dalam bahasa yang berbeda tentang kepercayaan dan kebetulan. Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, Ardi merasa cukup tidak sempurna, tidak viral, tidak cukup tapi tepat.

LAST LINE: Di layar laptop Kinan yang masih menyala, notifikasi muncul untuk tweet Ardi. Dia tidak like, tidak retweet. Dia hanya screenshot, lalu menyimpannya di folder bernama "REAL". Di folder yang sama, ada foto bowl cutnya yang memalukan, screenshot DM panik mereka, dan rekaman suara saat Ardi berkata "ayo coba aja" di air terjun. Malam itu, mereka berdua, terpisah jarak, belajar pelajaran yang sama: bahwa di era di mana segala sesuatu bisa dikurasi, dikemas, dan dijual, barang paling berharga yang bisa kamu berikan pada seseorang bukanlah versi terbaikmu, tetapi akses ke versi terburukmu dan kepercayaan bahwa mereka tidak akan kabur melihatnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!