"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 24
London di musim dingin adalah labirin kelabu yang cantik namun mematikan. Ambulans meluncur membelah kabut pagi menuju St. Mary’s Hospital. Di dalamnya, Alkan menggenggam tangan Sasya, sementara otaknya bekerja lebih cepat dari prosesor mana pun. Email anonim tadi adalah sebuah tes untuk melihat apakah Alkan akan goyah atau tidak.
"Mas, kenapa mukanya tegang lagi?" tanya Sasya pelan. Wajahnya masih tampak lelah, namun matanya yang jeli tak bisa dibohongi oleh topeng ketenangan Alkan.
"Hanya menyesuaikan diri dengan suhu di sini, Sya. Jangan dipikirkan," jawab Alkan sambil mencium punggung tangan istrinya. Ia bersumpah dalam hati, Sasya tidak boleh tahu bahwa "perang" ini belum berakhir.
Sasya langsung ditempatkan di unit perawatan khusus kehamilan risiko tinggi. Kamarnya mewah, menghadap ke deretan bangunan bergaya Victoria yang tertutup salju tipis. Setelah tim medis memastikan kondisi janin stabil, Sasya akhirnya tertidur karena pengaruh obat penguat kandungan.
Saat itulah Alkan beraksi.
Ia duduk di sofa sudut ruangan, membuka laptopnya, dan mengaktifkan protokol keamanan tingkat tinggi yang ia beri nama "Sasya-Shield". Ia melakukan trace-back pada email tadi. Hasilnya mengejutkan: Data center pengirim berada tidak jauh dari kawasan Kensington—sangat dekat dengan lokasi rumah sakit.
"Kalian tidak hanya mengawasi saya, kalian mengikuti saya," desis Alkan.
Jemarinya menari di atas keyboard. Ia tidak hanya bertahan; ia mulai menyerang balik. Ia menyuntikkan trojan pelacak ke dalam server pengirim tersebut. Jika mereka mencoba menyentuh data risetnya lagi, sistem Alkan akan meledakkan "bom logika" yang akan menghapus seluruh database milik lawan.
Menjelang malam, Sasya terbangun. Ruangan itu hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalan di luar. Alkan segera menutup laptopnya dan mendekat.
"Mas... sini," bisik Sasya.
Alkan naik ke sisi tempat tidur yang luas itu, membiarkan Sasya bersandar di dadanya. Kehangatan tubuh mereka menjadi kontras yang tajam dengan salju yang mulai turun di luar jendela.
"Aku takut, Mas. Tempat ini asing. Aku nggak tahu bahasanya kalau nanti tiba-tiba perutku sakit lagi," keluh Sasya, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Alkan.
Alkan memeluknya erat. Rasa posesif yang sempat membuatnya meledak di Jakarta kini berubah menjadi kelembutan yang sangat protektif. Ia mulai menciumi puncak kepala Sasya, turun ke pelipis, lalu ke bibir.
Di tengah suasana rumah sakit yang steril, keintiman mereka terasa jauh lebih berharga. Alkan mencumbu Sasya dengan perlahan, tangannya bergerak lembut mengelus punggung istrinya untuk memberikan ketenangan. Gairah yang muncul malam itu bukan tentang kepuasan fisik semata, melainkan tentang kebutuhan untuk saling memiliki di tempat yang asing ini.
Sentuhan Alkan terasa panas dan menenangkan di saat yang sama. Ia memastikan Sasya merasa dicintai dan diinginkan, meskipun dalam kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih. Setiap ciuman Alkan seolah berkata, “Aku akan menjagamu, tidak peduli seberapa jauh musuh mengejar kita.” Sasya menyambutnya dengan penuh ketergantungan, merasakan bahwa hanya dalam dekapan Alkan-lah ia benar-benar aman dari ancaman digital maupun nyata.
Tengah malam, saat Sasya telah kembali terlelap, laptop Alkan berkedip. Trojan(virus komputer)yang ia kirimkan berhasil memanen data. Alkan membaca satu per satu dokumen yang berhasil ia "curi" dari server lawan.
Tiba-tiba, jantungnya seolah berhenti. Ada sebuah file berjudul
✉️Sasya_Clinical_Record_London.
Alkan membukanya. Isinya adalah data medis Sasya di rumah sakit ini, lengkap dengan nomor kamar dan nama dokter yang menanganinya. Data itu baru saja diperbarui sepuluh menit yang lalu.
"Brengsek! Ada penyusup di dalam sistem rumah sakit ini," Alkan mengepalkan tangan.
Ini bukan lagi soal riset. Mereka sedang menunjukkan bahwa mereka bisa menjangkau Sasya kapan saja, bahkan di tempat paling aman sekalipun. Alkan segera menghubungi kontak kepercayaannya di Imperial College dan pihak kepolisian London (Scotland Yard).
"Saya Profesor Alkan Malik Al-Azhar. Saya butuh evakuasi taktis untuk istri saya malam ini juga. Rumah sakit ini sudah tidak aman secara digital."