Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Benang Emas yang Menyentuh Kegelapan.
[PoV Shen Yu]
Tiga hari berlalu sejak Yu Yan pertama kali datang ke rumah kami.
Sekarang, setiap pagi setelah Ibu selesai bermeditasi dan memberiku ASI yang masih menjadi ritual paling absurd sekaligus paling menenangkan dalam hidup baruku, Yu Yan akan muncul di pintu pagar kayu kami.
Dia selalu membawa keranjang kecil anyaman bambu kosong saat datang, penuh sayuran atau hasil kebun saat pulang.
"Selamat pagi, Ibu Shen," suaranya selalu pelan, hampir seperti bisikan angin.
"Selamat pagi, Yu Yan. Masuklah."
Ibu selalu menyambutnya dengan senyuman, tapi aku bisa melihat lebih dalam. Di balik senyuman itu, ada perhatian yang tajam. Matanya yang berwarna madu mengamati aura Yu Yan, sama seperti aku.
Dan setiap kali, simpul gelap di meridian Ren Mai Yu Yan berdenyut lebih kuat saat dia mendekat.
Seperti mengenali bahaya.
Atau seperti menantikan sesuatu.
Hari ini, Ibu harus pergi ke pasar desa untuk membeli beberapa kebutuhan. Dia menggendongku erat-erat, mencium keningku.
"Shen Yu, Ibu akan pergi sebentar. Yu Yan akan menjagamu. Jadilah bayi baik, ya?"
Aku mengoceh tak jelas, tapi dalam hati, aku berpikir.
Ini kesempatanku.
Yu Yan duduk di bangku kayu di teras, sambil mengupas kacang panjang. Aku dibaringkan di atas selimut tebal di sampingnya, diberi mainan kerincingan kayu yang tentu saja tidak menarik bagiku.
Mataku mengikutinya.
Dengan mata spiritualku, aku bisa melihat aliran Qi di tubuhnya dengan jelas. Simpul gelap itu seperti gumpalan awan hitam di tengah sungai perak yang seharusnya jernih. Setiap kali dia bergerak, mengupas kacang, atau sekadar bernapas, simpul itu bergetar.
Dan itu pasti sakit.
Tapi Yu Yan tidak pernah mengeluh. Wajahnya selalu tenang untuk gadis kecil berusia lima tahun, meski kadang bibirnya menggigit saat gerakan tertentu membuatnya nyeri.
"Kamu selalu menatapku, Shen Yu," bisiknya tiba-tiba, tanpa menoleh. "Seperti kamu tahu sesuatu yang tidak aku tahu."
Aku menggerakkan tangan kecilku.
"Aah ... goo ..."
Dia akhirnya menoleh, dan untuk pertama kalinya, senyuman kecil muncul di bibirnya. Bukan senyuman bahagia, tapi senyuman lemah.
"Kamu bayi aneh. Ibu Shen bilang kamu spesial. Mungkin kamu memang bisa melihatnya."
Lihat apa?
Ingin kukatakan.
Tapi tentu tidak bisa.
Yu Yan sangat dewasa dibandingkan usia dan penampilannya.
Mungkin karena keadaan yang memaksa tubuh mungil itu.
Dia kembali mengupas kacang. Tapi kali ini, napasnya sedikit tersendat. Tangannya gemetar.
Aku melihatnya. Simpul gelap itu berdenyut lebih kuat. Warna merah tua—rasa sakit—menyebar dari sana ke meridian sekitarnya.
Tanpa berpikir, tangan kecilku meraih ke arahnya.
Bukan menyentuh fisiknya, tapi mengarah ke titik di dadanya tepat di mana simpul gelap itu berada.
Yu Yan terkejut. Dia menatapku dengan mata membesar.
Apa yang kulakukan? Aku bahkan tidak bisa duduk sendiri, apa lagi menyembuhkan.
Tapi sesuatu terjadi.
Seperti matahari kecil yang terbangun.
Biji cahaya di dahiku berdenyut sekali, lalu sekali lagi, ritmenya tenang, pasti, seolah telah menunggu momen ini sejak lama. Kehangatan menyebar dari titik di antara alisku, mengalir ke seluruh kepalaku, lalu terkumpul kembali, padat dan jernih.
Aku tidak mengerti caranya.
Aku hanya tahu.
Dari dahiku, seberkas cahaya keemasan tipis menyembur keluar.
Bukan kilatan kasar. Bukan ledakan. Cahaya itu halus, nyaris selembut napas, setipis benang sutra yang ditarik dari matahari. Bagi mata biasa, mungkin tak lebih dari bias cahaya siang. Tapi bagiku dan bagi dunia Qi, itu terang, murni dan hidup.
Sinar itu meluncur lurus, tanpa ragu, dan menyentuh dada Yu Yan.
Tepat di pusat simpul gelap itu.
Saat kontak terjadi, dunia bergetar.
Tidak ada suara keras. Tidak ada angin. Tapi aliran Qi di sekitar kami tersentak, seolah sungai besar tiba-tiba dipaksa berhenti lalu berbalik arah. Simpul gelap itu bereaksi seketika, ia berdenyut liar, warnanya mengental dari hitam menjadi merah tua, seperti darah beku yang dipaksa bergerak.
Yu Yan terengah.
Tubuh kecilnya menegang, punggungnya melengkung, dan kacang panjang di tangannya jatuh berserakan ke lantai kayu.
“Ah!”
Dia mencengkeram dadanya, bukan karena luka fisik, tapi karena sesuatu di dalamnya disentuh.
Cahaya keemasanku tidak menyerang.
Ia menembus.
Seperti sinar matahari pagi yang menyusup ke kabut dingin, cahaya itu masuk ke simpul gelap, menyelip di antara retakan-retakan Qi yang rusak. Tidak memaksa, tidak menghancurkan melainkan mengungkap.
Dan di sanalah aku melihatnya.
Akar.
Simpul itu bukan sekadar gumpalan Qi hitam. Ia memiliki serabut-serabut halus, mencengkeram meridian Ren Mai Yu Yan, menempel seperti parasit yang telah lama bersarang. Setiap denyutnya adalah rasa sakit yang ditahan. Setiap tarikan napas adalah kompromi tubuh mungilnya dengan penderitaan.
Cahaya keemasanku berdenyut lebih kuat.
Hangatnya meningkat, tapi tidak membakar.
Akar-akar itu mulai melemah.
Bukan hancur, belum. Tapi mereka kehilangan pegangan. Warna hitamnya memudar, tergerus oleh kilau emas yang stabil dan sabar. Aliran Qi perak di sekitar simpul yang sebelumnya tersumbat mulai bergerak kembali, ragu-ragu pada awalnya, lalu semakin lancar.
Yu Yan terjatuh berlutut.
Napasnya terputus-putus, matanya terbelalak, bukan oleh rasa sakit, melainkan oleh sensasi asing yang belum pernah ia rasakan.
Ringan.
Untuk pertama kalinya sejak ia bisa mengingat tubuhnya sendiri.
“Apa … ini …?” bisiknya, suaranya gemetar.
Cahaya itu bertahan beberapa detik lagi.
Lalu, seperti matahari yang kembali bersembunyi di balik awan, sinar itu menarik diri. Biji cahaya di dahiku meredup, kembali menjadi kehangatan tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Aku terkulai lemah di atas selimut.
Lelah.
Sangat lelah.
Di hadapanku, Yu Yan masih berlutut, satu tangan di dada, satu tangan menopang lantai. Napasnya masih berat, tapi tidak lagi tersendat oleh rasa sakit. Simpul gelap itu masih ada namun lebih kecil, lebih tenang, dan … tak lagi mengancam.
“Shen Yu …” bisiknya pelan, hampir takut suaranya akan merusak momen itu.
Dia menatapku.
Bukan seperti menatap bayi.
Tapi seperti menatap sesuatu yang tidak seharusnya ada namun nyata.