Starla, putri kandung seorang pengusaha kaya yang tidak disayang memutuskan menerima tawaran seorang pria untuk dijadikan simpanan. Setelah empat tahun berlalu, Starla pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak diantara mereka lagi. Starla meninggalkan Nino begitu saja. Hingga pada akhirnya, Nino ternyata berhasil menemukannya dan mulai terus membayanginya dengan cara mendekati Kanaya, kakak tiri Starla. Nino, pria yang terbiasa dipuja-puja oleh banyak wanita, jelas tidak terima dengan perbuatan Starla. Seharusnya, dia yang meninggalkan wanita itu. Namun, justru malah Starla yang meninggalkannya.
Berbekal dendam itu, Nino awalnya berniat untuk mempersulit Starla. Siapa sangka, di tengah rencananya mendekati Kanaya, Nino menemukan sebuah fakta bahwa selama ini Starla tak pernah merasakan bahagia. Sedari kecil, hidupnya selalu dirundung kesusahan. Hak-haknya bahkan direbut.
Berawal dari rasa penasaran, Nino justru mendapati bahwa perasaannya terhadap Starla ternyata sudah berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjenguk Starla
Starla pulang dengan hati yang hancur. Sampai di rumah, tangisnya bahkan belum mereda. Dia sudah meminta diri sendiri untuk berhenti menangis. Tapi, tetap saja cairan bening itu terus mengalir tanpa bisa dihentikan.
"Nona Starla... ada apa?" tanya Bibi Wirda dengan perasaan khawatir. Dia berusaha mengejar langkah Starla yang tampak buru-buru memasuki kamar.
Brak!
Starla tiba-tiba menutup pintu dan tidak membiarkan Bibi Wirda untuk ikut masuk. Hal tersebut membuat perempuan tua itu jadi semakin khawatir.
"Non Starla! Buka!" teriak Bibi Wirda sambil mengetuk pintu.
"Bi, aku sedang tidak ingin bicara. Bisa tolong biarkan aku sendiri dulu?" lirih suara Starla dari dalam kamar.
"Tapi, Non Starla baik-baik saja, kan?"
"Aku baik-baik saja, Bi. Aku hanya ingin sendiri dulu," jawab Starla sembari menggigit bibir bawahnya.
Hatinya sudah remuk, sulit untuk diperbaiki lagi. Starla benar-benar tak habis pikir. Demi anak tirinya, sang Ayah tega menghancurkan putri kandungnya sendiri.
"Papa... kamu benar-benar kejam."
Tatapan Starla penuh kebencian. Foto terakhir sang Ayah yang masih dia simpan dengan rapi kini telah dibakar hingga menjadi abu.
Pelan, dia mulai berbaring. Matanya terasa sangat berat. Botol obat tidur disampingnya tampak menumpahkan isinya. Beberapa detik kemudian, Starla tak ingat apa-apa lagi. Semuanya mendadak gelap. Seolah-olah, jiwanya disedot ke dalam lubang hitam tanpa ujung.
***
"Ada kabar tentang Starla?" tanya Nino kepada sang asisten.
Dia tak bisa bekerja dengan tenang selama dua hari ini. Firasatnya selalu tak enak. Jantungnya terus berdebar dengan perasaan nyeri yang mengiringi.
"Tuan..." panggil Dika ragu-ragu.
"Ada apa?" tanya Nino. "Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Nona Starla... Dia..." Dika terlihat ragu.
"Dia kenapa?"
"Nona Starla bunuh diri."
"Apa!?" pekik Nino sambil berdiri dari kursinya.
Pria dewasa itu terlihat panik bukan main. Tidak. Bukan ini yang dia inginkan. Bukan kabar seperti ini yang mau dia dengar.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Nino sambil menyambar kerah jas Dika. "Dia baik-baik saja, kan?"
"Nona Starla masih belum sadarkan diri. Dia..."
"Kita ke rumah sakit sekarang!" kata Nino seraya melepaskan kerah jas Dika lalu berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.
Dibelakangnya, Nino segera mengikuti dengan langkah yang tak kalah cepat. Dia tahu seberapa besar arti seorang Starla bagi sang atasan.
Nino saja yang terlalu bodoh. Pria itu terus mengelak dan berusaha mengingkari perasaannya sendiri. Nino sudah jatuh cinta pada Starla, hanya saja enggan untuk mengakui.
"Kenapa bisa seperti ini?" gumam Nino sambil mengusap wajahnya kasar. "Dika, bisa menyetir lebih cepat?"
"Jalanan sedang macet, Tuan. Sepertinya, ada kecelakaan di persimpangan depan."
"Fvck!" Nino meninju permukaan jok di sampingnya.
Pikirannya sangat buntu. Satu-satunya yang bisa dia pikirkan saat ini hanya tentang kondisi Starla.
Apakah gadis itu baik-baik saja? Dia... tidak akan mati, kan? Kalau dia menghilang dari dunia ini, lantas apa yang harus Nino lakukan?
Pikiran penuh ketakutan itu terus Nino bawa hingga ke rumah sakit. Langkahnya tidak lagi membawa wibawa seperti biasanya. Hari ini, pria berparas tampan itu menanggalkan semua aura kekuasaan yang dia miliki dan tampak seperti manusia biasa yang juga takut kehilangan seseorang.
"Kalian... siapa?" tanya Bibi Wirda kaget saat dua orang pria asing tiba-tiba menerobos masuk.
"Bagaimana keadaan Starla?" Nino balik bertanya. Wajahnya diselimuti kekhawatiran.
"Anda.... temannya Nona Starla?"
"Aku..."
"Ya, betul," sambar Dika cepat. "Kami teman Nona Starla saat beliau kuliah di negara A."
"Ah, benarkah?" sahut Bibi Wirda dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah jadi senang. "Ternyata... Nona Starla juga punya teman di sana. Itu artinya, dia tidak kesepian. Syukurlah." Perempuan tua itu tampak menghela napas lega.
"Jadi, bagaimana keadaan Starla?" tanya Dika yang berpura-pura begitu akrab dengan Starla.
Dika sebisa mungkin tidak membiarkan sang atasan angkat bicara. Bagaimana kalau Nino tak sengaja membeberkan soal hubungannya dengan Starla? Bukankah, itu akan gawat?
Tentu, dampaknya tidak akan baik untuk Nino dan Starla sendiri.
"Untungnya, situasinya tidak mengancam nyawa. Nona Starla baik-baik saja. Hanya saja, belum sadarkan diri."
Nino menghela napas lega. Tungkainya langsung merasa lemas. Dia jatuh berlutut di lantai sambil mengusap wajahnya.
"Syukurlah," lirihnya sambil tersenyum kecil.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Dika khawatir.
"Aku baik-baik saja," jawab Nino. Dia kembali berdiri dengan usahanya sendiri. Setelah itu, dia mendekat ke arah Starla lalu duduk di kursi yang berada di samping ranjang pasien gadis cantik itu.
"Hanya dalam beberapa hari, kenapa kamu jadi sekurus ini?" lirih Nino dengan mata berkaca-kaca.
Dia menyentuh punggung tangan Starla dengan lembut. Rasanya sangat jauh berbeda, dengan punggung tangan yang selalu dia sentuh dan dia cium dengan sepenuh hati.
Kini, punggung tangan itu terlihat sangat rapuh. Tulang-tulangnya terlihat dengan jelas. Hal itu membuktikan, bahwa tubuh Starla benar-benar mengalami penurunan berat yang sangat signifikan.
"Belakangan ini, Nona Starla selalu menolak untuk makan. Dia hanya terus mengurung diri di dalam kamar dan menolak untuk diajak bicara. Puncaknya, tadi malam. Nona Starla tiba-tiba pulang dalam keadaan menangis. Saat saya ingin bertanya kenapa, Nona Starla malah buru-buru masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu serta meminta saya untuk tidak mengganggunya."
Bibi Wirda tampak menghela napas panjang. Raut wajahnya dipenuhi penyesalan. Tanpa diminta, dia menceritakan semuanya pada Nino dan juga Dika.
"Tadi pagi, saat saya mengetuk pintu kamar Nona Starla, tidak ada sahutan sama sekali. Karena merasa khawatir, akhirnya saya mengambil kunci cadangan dan membuka pintu kamarnya. Lalu..."
Air mata Bibi Wirda perlahan menetes. "... Saya melihat Nona Starla sedang terbaring di lantai dengan obat tidur yang tumpah disampingnya. Saat saya bangunkan, Nona Starla..."
Bibir Wirda menghela napas sesak. Dirinya diliputi rasa bersalah. " Jika terjadi sesuatu pada Nona Starla, saya pasti tidak akan memaafkan diri saya sendiri. Nyonya sudah menitipkan Nona Starla kepada saya sebelum meninggal. Jika saya tidak bisa memenuhi wasiatnya, maka saya akan menjadi orang yang paling merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi janji."
"Memangnya, kemarin Starla darimana?" tanya Nino. Dia terus menggenggam tangan Starla sambil menatap wajah pucat gadis itu.
"Dia pergi ke rumah Ayahnya, Tuan Arlo."
Degh!
Kelopak mata Nino sedikit bergetar. Tangannya makin menggenggam erat tangan milik Starla.
"Apa jangan-jangan... Starla dengar pembicaraan kami?" gumam Nino dalam hati.
Rasa takut kini merajai hati Nino. Jika, Starla benar-benar mendengar pembicaraan mereka kemarin, maka Starla akan ikut membenci dirinya.
Tepat disaat Nino sedang ketakutan membayangkan seberapa besar Starla akan membencinya gara-gara pembicaraan kemarin, sepasang mata sayu gadis itu akhirnya terbuka.
"Starla... kamu sudah sadar?" tanya Nino dengan perasaan senang sekaligus gugup.
Starla menoleh ke arahnya. Tatapan itu awalnya terlihat kosong. Selang beberapa saat, tatapan itu malah berubah diliputi kebencian.
"Pergi!" ucap gadis itu dengan ekspresi datar.
Buang laki² yang demi gengsi & ego tinggi hanya untuk merendahkan dirimu😠
Nino pikir di dunia hanya ada dia saja tanpa ada orang lain yang masih baik untuk menolongmu Starla 💪
Starla bangkit & cari kebahagianmu tanpa Arlo & Nino, masih banyak orang yang baik padamu Starla 💪