Safa, wanita dari keluarga sederhana, memberikan makanan pada seorang pria yang dia anggap pengemis – ternyata adalah Riki, CEO perusahaan besar. Terharu dengan kebaikan Safa, Riki menyembunyikan statusnya, mereka jatuh cinta dan menikah.
Ketika Safa bekerja di kantor Riki, dia bertemu "Raka" – teknisi yang ternyata adalah Riki yang berpura-pura. Setelah menemukan kebenaran, Safa merasa kecewa, tapi Riki membuktikan cintanya tulus dengan memperkenalkannya pada keluarga aslinya. Mereka akhirnya memperpublikasikan pernikahan mereka dan hidup bahagia dengan cinta yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan yang Semakin Mendalam
Beberapa minggu telah berlalu sejak Riki membantu keluarga Safa mengatasi masalah ekonomi mereka.
Penjualan produk yang dipasarkan oleh Safa dan kerajinan kayu yang dibuat oleh Ayah Safa terus meningkat dengan pesat.
Kini keluarga Safa sudah bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dengan nyaman dan bahkan mulai menyimpan uang untuk masa depan mereka.
Pada malam kesebelas belas kunjungannya ke Waroeng Mak Ina, Riki datang dengan membawa sebuah kotak kecil yang dibalut dengan kertas kado berwarna merah muda.
Warung tersebut terlihat lebih ramai dari biasanya – bukan hanya karena makanan yang enak, tapi juga karena banyak pelanggan yang datang untuk membeli produk yang dipasarkan oleh Safa atau memesan kerajinan kayu dari Ayah Safa.
Safa langsung menyambutnya dengan senyuman lebar yang semakin ceria dan penuh kehidupan. "Pak Riki! Kamu datang ya. Kamu tahu tidak, hari ini penjualan produk kita sangat bagus sekali. Bahkan ada pelanggan yang memesan untuk dikirim ke luar kota lho!"
Riki merasa sangat senang mendengar kabar tersebut. "Itu kabar yang sangat bagus Safa! Aku tahu bahwa kamu bisa melakukannya dengan sangat baik. Kamu adalah orang yang sangat pandai dan tekun dalam bekerja."
Setelah melayani beberapa pelanggan, Safa duduk bersamanya di meja pojok yang sudah menjadi tempat khusus mereka berdua.
Riki segera memberikan kotak kecil yang dibawanya kepada Safa dengan ekspresi yang sedikit gugup. "Ini untukmu Safa. Sebagai hadiah untuk kesuksesanmu dalam memasarkan produk dan membantu keluarga kamu."
Safa merasa sangat terkejut dan sedikit malu. "Tidak perlu lagi ya Pak Riki. Kamu sudah banyak membantu kami dan tidak perlu memberikan hadiah lagi."
"Tidak apa-apa kok Safa," jawab Riki dengan senyuman lembut. "Ini adalah hadiah kecil dari saya untuk mengenang kesuksesan yang kamu capai. Silakan buka saja."
Dengan hati yang berdebar kencang, Safa membuka kotak tersebut dan menemukan sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga mawar kecil yang sangat cantik.
Liontin tersebut terbuat dari perak dengan ujung yang dihiasi dengan batu permata kecil berwarna putih.
"Cantik sekali Pak!" ucap Safa dengan mata yang bersinar melihat kalung tersebut. "Sangat cantik dan indah."
"Aku memilihkan kalung ini karena aku merasa bahwa kamu seperti bunga mawar – cantik, kuat, dan memiliki keindahan yang tulus dari dalam," ucap Riki dengan suara yang penuh perhatian. Dia kemudian mengambil kalung tersebut dan membantu Safa mengenakannya di lehernya.
Safa merasakan sentuhan lembut tangan Riki di lehernya dan merasa tubuhnya sedikit menggigil.
Ada perasaan hangat yang muncul di dalam hatinya dan membuat wajahnya menjadi sedikit kemerahan.
Dia melihat cermin kecil yang ada di meja dan merasa bahwa kalung tersebut sangat cocok padanya.
"Terima kasih banyak ya Pak Riki," ucap Safa dengan suara yang sedikit lemah karena emosi yang dia rasakan. "Ini adalah hadiah yang paling cantik yang pernah saya terima dalam hidup saya."
Mereka mulai berbincang seperti biasa, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam suasana di antara mereka berdua.
Ada kehangatan dan kedekatan yang semakin dalam yang membuat mereka merasa sedikit canggung tapi juga sangat nyaman bersama.
Riki mulai cerita tentang masa mudanya yang penuh dengan pekerjaan dan kurangnya waktu untuk bersenang-senang, sementara Safa cerita tentang impiannya untuk bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi suatu hari nanti. "Aku selalu ingin bisa kuliah Pak," ucap Safa dengan mata yang penuh harapan. "Namun karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan, aku harus bekerja untuk membantu orang tua dan adik-adikku."
Riki melihatnya dengan ekspresi yang penuh penghargaan. "Kamu tidak perlu khawatir Safa. Aku yakin bahwa suatu hari nanti impianmu untuk kuliah akan terwujud. Kamu adalah orang yang sangat pintar dan berhak mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi."
Safa tersenyum lembut mendengar kata-kata tersebut. "Semoga saja begitu Pak. Tapi bahkan jika tidak bisa kuliah, aku merasa cukup bahagia karena bisa membantu keluarga dan melihat mereka hidup dengan nyaman."
Setelah itu, mereka terdiam sebentar menikmati keheningan malam yang damai. Suara gemericik air dari keran warung dan nyanyian nyamuk yang datang dan pergi menjadi latar suara yang membuat suasana semakin hangat dan intim.
"Aku ingin memberitahu kamu sesuatu Safa," ucap Riki dengan suara yang sedikit bergetar karena kegembiraan dan sedikit kekhawatiran. "Selama beberapa minggu ini, aku telah menghabiskan banyak waktu bersama kamu dan keluarga kamu. Dan aku merasa bahwa kamu adalah orang yang sangat spesial dalam hidupku. Kamu telah mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan, cinta, dan kebaikan hati yang tulus."
Safa melihatnya dengan mata yang penuh perhatian dan rasa ingin tahu. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang penting yang akan dikatakan oleh Riki dan membuat hatinya berdebar kencang.
"Aku mulai merasa sesuatu yang lebih dalam padamu Safa," lanjut Riki dengan suara yang semakin lembut. "Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata yang tepat, tapi aku tahu bahwa kamu telah membawa kebahagiaan dan makna baru dalam hidupku. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu lagi."
Safa merasa sangat terkejut dan emosi mendengar kata-kata tersebut.
Dia juga telah merasakan perasaan yang sama terhadap Riki selama beberapa waktu ini, tapi dia tidak berani menyatakannya karena takut merusak hubungan baik yang mereka miliki.
"Pak Riki..." ucap Safa dengan suara yang penuh emosi. "Aku juga merasakan hal yang sama padamu. Kamu adalah orang yang paling penting dalam hidupku sekarang. Tanpa bantuan dan perhatianmu, keluarga saya tidak akan bisa keluar dari kesulitan yang kita alami. Dan aku juga tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu lagi."
Mereka saling melihat dengan mata yang penuh cinta dan perhatian yang semakin dalam. Riki perlahan-lahan mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Safa dengan lembut.
Safa merasakan sentuhan hangat tangan Riki dan merasa tubuhnya menjadi semakin hangat.
"Aku ingin kamu menjadi milikku Safa," ucap Riki dengan suara yang penuh keyakinan. "Aku ingin bisa melindungimu, menjagamu, dan membuatmu bahagia setiap hari dalam hidupmu. Apakah kamu mau menjadi pacarku?"
Safa merasa sangat bahagia dan tidak bisa berkata apa-apa selain mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca karena air mata bahagia yang ingin mengalir. Riki kemudian menariknya lebih dekat dan memberikan ciuman lembut di dahinya.
Itu adalah momen yang sangat indah dan berharga bagi mereka berdua – momen di mana mereka menyadari bahwa cinta yang tumbuh di antara mereka adalah cinta yang tulus dan penuh makna.
Mereka tahu bahwa perjalanan yang akan mereka lalui tidak akan mudah, terutama dengan rahasia yang masih disembunyikan oleh Riki tentang identitasnya yang sebenarnya.
Namun, mereka percaya bahwa cinta yang mereka miliki akan mampu mengatasi segala rintangan yang ada di depannya.
Setelah itu, mereka kembali berbincang dengan suasana yang semakin hangat dan akrab. Mereka merencanakan masa depan mereka bersama – mulai dari rencana untuk menikah suatu hari nanti hingga impian untuk membangun rumah besar yang bisa menjadi tempat tinggal bagi keluarga mereka dan orang lain yang membutuhkan bantuan.
"Saya berjanji akan selalu ada untukmu Safa," ucap Riki dengan suara yang penuh komitmen. "Aku akan melakukan segala yang bisa aku lakukan untuk membuatmu bahagia dan membantu keluarga kamu hidup dengan lebih baik."
Safa melihatnya dengan mata yang penuh cinta dan rasa terima kasih. "Aku juga berjanji akan selalu mencintaimu dan mendukungmu dalam setiap hal yang kamu lakukan Pak Riki. Kamu adalah orang yang paling berharga dalam hidupku."
Ketika jam menunjukkan pukul tengah malam, mereka memutuskan untuk pulang karena Safa harus bangun pagi untuk bekerja di warung dan membantu Ayahnya membuat kerajinan kayu.
Riki mengantarnya pulang seperti biasa, namun kali ini ada kehangatan dan kedekatan yang berbeda dalam perjalanan mereka.
Saat sampai di depan rumah Safa, mereka berpelukan erat dan saling melihat dengan mata yang penuh cinta. "Sampai jumpa besok ya sayang," ucap Riki dengan senyuman hangat.
"Sampai jumpa sayang," jawab Safa dengan suara yang lembut sebelum memasuki rumahnya.
Setelah Safa masuk, Riki tetap berdiri di depan pintu rumahnya untuk beberapa saat.