Kisah seorang wanita bernama Kiko, karena trauma masa lalu nya membuat Ia jijik jika di sentuh oleh seorang pria.
Lebih parahnya akan membuat Ia panik, gemetar bahkan Pingsan.
apalagi Pria itu Tampan.
kemudian Ia bertemu dengan seorang Pria Tampan dan anehnya Ia bisa bersentuhan langsung dengannya, Karena hal itu lah yang membuat Kesalah Pahaman ini Terjadi.
Kiko tidak tahu bahwa Pria tersebut adalah Pria mapan, tampan dan berhati dingin. banyak di Gilai oleh banyak kaum hawa.
Pria tersebut tak lain bernama Dion, pengusaha muda sukses yang memiliki kuasa serta segalanya.
ikutilah Kisah mereka, jangan di lewatkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma Masalalu
Terlihat Dion berjalan terhuyung membawa Kiko yang sudah lepas tak sadarkan diri setelah sekian lama Ia terisak, gemetar serta menggigil ketakutan.
"pria tampan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nina berlari dari kejauhan begitu panik melihat temannya sudah lemas tak sadarkan diri digendongan Dion.
"ceritanya panjang, hayo cepat kita segera bawa Kiko kerumah sakit!"
"tunggu dulu!", Nina menahan Dion yang telah memasukkan Kiko ke dalam mobil dan hendak mengambil alih kendali.
"ada apa? kita harus segera berangkat!"
"Kiko tidak menyukai rumah sakit, sebaiknya kita panggil dokter saja"
"kau serius?" tanya Dion heran
Nina mengangguk, "iya serius"
"baiklah!"
sepanjang perjalanan Dion sangat gelisah, sesekali melirik Kiko yang tenggelam lewat cermin didalam mobil.
****
Dion segera menyuruh dokter pribadinya bernama Seno untuk datang khusus untuk merawat Kiko.
"bagaimana keadaannya?" tanya Dion membuat Seno sedikit tercengang pasalnya Dion baru kali ini memintanya menangani orang lain, terlebih adalah seorang wanita yang dilihat dari sisi manapun dia adalah seorang wanita biasa.
Seno adalah sahabat sekaligus dokter pribadi khusus Dion, walaupun dia jarang bahkan seperti tidak pernah sama sekali bekerja melayani Tuannya karena Dion adalah pria yang tidak mudah jatuh sakit, bahkan kecelakaan tempo hari hanya membutuhkan hitungan hari untuk membuatnya sembuh total.
tapi bayaran yang diterima Seno tetap mengalir setiap bulan dan jumlahnya tak tanggung tanggung.
layaknya memakan gaji buta.
"apa yang baru saja dia alami?" Seno balik bertanya
"hmm cerita panjang, dia baru saja mengalami tindak kekerasan oleh ke dua orang penjahat ketika mencoba mencariku di wahana permainan, tapi untunglah aku datang tepat waktu"
Seno menghembuskan nafasnya perlahan ketika akan menjawab, "dia mengalami syok psikologis atau bisa dinamakan gangguan kecemasan berlebihan, dan ketika dia menyaksikan hal yang baru saja kau katakan, jadi hal itu memicu ingatannya menjadi kilas balik kepada kejadian masa lampaunya yang menyembabkan dia mengalami traumatis"
"apa maksudmu, t r a u m a t i s?" Dion kaget
Seno mengangguk, "iya, sebaiknya kau membawanya untuk berkonsultasi ke psikolog agar bisa membantunya untuk keluar dari traumanya, dan tentu saja aku bisa merekomendasikan mu psikolog ahli jika kau mau"
"aku akan membicarakan hal ini terlebih dahulu dengannya"
"baiklah aku undur dulu, aku sudah memberi resep obat yang harus dia minum secara rutin kepada temannya itu", Seno menepuk bahu Dion dan berbisik, "jaga kekasihmu dengan baik!"
"hei sialan, dia bukan kekasihku" teriak Dion tak terima, "karena aku baik padamu bukan berarti kau bersikap lancang kepadaku"
kali ini Seno tak berkutik dan ciut seketika melihat mata Dion menatap tajam padanya, "he he maaf Tuan, kan cuma bercanda", sahut Seno tertawa kecut, "aku pulang dulu, jaga ya wanita mu baik baik", ucap Seno masih mengatakan hal yang sama tapi kali ini dia sengaja memancing kemarahan Dion.
"huh, kau kurang ajar sekali!"
****
Kini Kiko masih berbaring lemah tanpa sadar ketika Seno menyuntikkan obat penenang padanya, sehingga membuat Kiko jatuh kedalam tidurnya yang terlelap.
"Nina, aku ingin berbicara denganmu", ucap Dion
"pria tampan ingin berbicara apa denganku?"
"jangan memanggilku seperti itu", ucap Dion canggung, "panggil saja aku Dion"
"oh, he he baiklah Dion"
"aku ingin bertanya mengenai Kiko, apa kau sebelumnya tahu kalau Kiko mengalami traumatik yang serius?"
Nina mengangguk, "aku hanya tahu kalau dia itu phobia jika di sentuh oleh pria"
ah pantas saja dia merasa jijik saat aku memakan kuenya
"sejak kapan kau tahu hal itu?"
"ah, waktu itu kita satu kampus kemudian ada kakak angkatan yang menjadi Idola di kampus kami, Kiko juga menyukainya"
cih, idola katanya
"lalu?" Dion makin tidak sabar
"lalu si Kakak angkatan itu menyatakan cinta kepada Kiko dihadapan semua anak anak kampus"
cih kampungan
"lalu setelah kakak kelas berhasil mengatakan cinta dan diterima, dia mulai mendekati ingin mencium Kiko"
Dion mengepalkan tangannya
"tapi belum juga ciuman, Kiko sudah muntah duluan dan karena tersinggung, waktu itu juga kakak kelas langsung memutusi nya"
" hua ha ha ha " Dion tertawa terbahak bahak sampai memegangi perutnya
Nina merengut kesal atas tanggapan Dion.
"jangan menertawainya, ini masalah serius tahu! karena itu juga Kiko sampai sekarang menjadi jomblo abadi" ucap Nina merengut
"ah, he he maaf aku kelepasan", Dion menenangkan dirinya, "jadi kau belum tahu masalah sebelumnya kenapa Kiko sampai phobia terhadap lawan jenis?"
Nina mengangguk, "Kiko tidak pernah bercerita kepadaku, pernah aku menanyakannya tapi dia tampak begitu sedih dan menangis jadi aku tidak menanyakannya lagi sampai sekarang. aku memutuskan untuk menunggunya untuk berbicara sendiri kepadaku"
Dion pun mengerutkan kening memutar otaknya mencoba menerka nerka tapi tak menemukan jawabannya.
"dia sempat bahagia saat setelah menyelamatkan mu waktu kau kecelakaan"
"bahagia?" ulang Dion
Nina mengangguk, "iya, karena dia bisa memegang seorang pria bahkan.." Nina canggung, "mencium pria walau tidak dalam kondisi yang seharusnya tapi bisa diartikan ciuman kan kalau ke dua bibir menyatu he he"
aah iya aku ingat jelas, kenapa setelah aku sadar dia malah lari terbirit birit meninggalkanku
"tapi harapannya untuk keluar dari traumanya pupus sudah ketika dia tahu kalau kau.. bukan pria normal. Hiiikss"
"apa?" Dion kaget berteriak, hingga membuat Nina kaget jantungan
ingin sekali Dion mengatakan bahwa dirinya bukan seorang Gay tapi dia tidak punya pilihan lain, karena awalnya Dion hanya iseng iseng saja untuk tinggal bersama Kiko tapi setelah melewati keseharian bersama.
perasaanya pun mulai tumbuh dan berbeda, dia tidak pernah merasakan kebahagiaan nyata seperti saat bersama Kiko. hari harinya begitu berarti dan ceria hingga membuat Dion tak ingin jauh darinya.
Dion memegang kedua sisi pundak Nina dengan tatapan serius, "aku akan membantunya keluar dari rasa traumanya, aku ber j a n j i "
Nina pun senang mendengarnya serta kegirangan, berharap temannya keluar dari masalahnya yang dia tutup tutupi.
"terimakasih pria tampan" Nina hendak memeluk Dion
dengan sigap Dion mundur dan menunjuk dahi Nina agar menjauh darinya.
"jangan menyentuhku!"
Dion tetaplah Dion, walaupun dia sedikit lembut sekarang tapi dia tetaplah Dion si Pria dingin, angkuh dan tak mau jika tubuhnya di sentuh oleh wanita sembarangan.
Baginya, tubuhnya adalah hal yang berharga. dia mencintai dirinya sendiri dan tak lupa, perusahaannya adalah istrinya. Dia gila kerja.
****
Dion menyuruh Nina untuk pulang karena Dion sendiri yang akan bertugas untuk merawat Kiko yang dalam kondisi masih tenggelam dalam mimpi hingga mengigau.
suhu panasnya pun tak kunjung turun, membuat Dion berjaga sepanjang malam dan mengganti kain basah yang sudah kering yang menempel di dahinya.
****